Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Nostalgia


__ADS_3

Malam mengantarkan Dimas untuk segera menemui kekasih hatinya, perempuan yang sangat dicintainya yang membuatnya tidak berhenti berjuang untuk memilikinya.


Karena kunci mobilnya tertinggal di apartemen, Dimas memutuskan menaiki bus dan taksi untuk sampai di rumah Dini.


Entah Anita masih ada di apartemennya atau tidak, ia tidak akan mencari taunya, mengingat Dokter Dewi yang belum pulang kemungkinan besar Anita masih berada di apartemen nya.


Untuk pertama kalinya Dimas menaiki bus selama lebih dari 3 jam lamanya demi bertemu gadis yang dicintainya.


Sesampainya di rumah Dini, Dimas segera mengetuk pintu dan tak lama kemudian pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya menyambutnya.


"Dimas, Dini belum pulang, mungkin bentar lagi, ayo masuk!"


Dimas menganggukkan kepalanya dan melangkahkan kakinya masuk ke rumah Dini.


"Dini tau kamu ke sini?" tanya ibu Dini.


"Andini nggak tau Bu, Dimas sengaja nggak kasih tau Andini," jawab Dimas.


"Apa kamu mau ibu telfon dia?"


"Jangan Bu, mungkin bentar lagi dia pulang, Dimas akan tunggu di sini!"


Tak lama kemudian suara mobil berhenti di depan rumah Dini, Dimas lalu berdiri dari duduknya dan melangkah ke arah pintu.


Dilihatnya gadis yang dicintainya sedang tertawa lepas bersama seorang laki laki yang mengatasnamakan sahabat dibalik rasa cintanya.


Dimas tersenyum tipis menahan hatinya yang terasa perih. Ia lalu melangkahkan kakinya dengan pasti ke arah Andi dan Dini yang belum menyadari kehadirannya.


"Sayang," panggil Dimas yang membuat Andi dan Dini kompak menoleh ke arahnya.


"Dimas, kamu di sini?"


Dimas hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Dini.


"Hai Ndi, apa kabar?"


"Baik, sorry gue ajak Dini ke rumah sakit dulu tadi," jawab Andi.


"Nggak papa, thanks udah jemput Andini," balas Dimas.


"Aku balik dulu ya Din, gue balik Dim!" pamit Andi pada Dini dan Dimas.


"Hati hati, salam buat mama sama kak Adit," balas Dini dengan melambaikan tangannya.


Andi hanya menganggukkan kepalanya lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah Dini.


Dimas dan Dini masih berdiri di tempat mereka sampai Andi menghilang dari pandangan mereka.


"Jadi, kamu udah baikan sama Andi?" tanya Dimas sambil memeluk Dini dari belakang.


"Dimas, jangan di sini," ucap Dini dengan melepaskan dirinya dari pelukan Dimas.


"Kenapa?" tanya Dimas yang masih memeluk Dini dengan erat.


"Nanti ibu liat, aku......"


"Din, masuk dulu!" ucap ibu Dini yang membuat Dimas segera melepaskan Dini dari pelukannya.


"Ii... iya Bu," balas Dini gugup.


Dini lalu memukul lengan Dimas dan berjalan masuk ke dalam rumah diikuti oleh Dimas.


"Aku mau mandi dulu, kamu tunggu bentar ya!" ucap Dini pada Dimas.


"Aku juga belum mandi," balas Dimas yang seketika membuat ibu Dini membawa pandangan nya pada Dimas.


"Dimas tadi langsung ke sini, jadi nggak sempet mandi hehe....." ucap Dimas memperjelas ucapannya.


Dini hanya tertawa kecil lalu segera mandi. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Dini segera menghampiri Dimas di ruang tamu.


"Ibu kemana?" tanya Dini pada Dimas.


"Udah ngantuk katanya," jawab Dimas.


"Kamu nggak bawa mobil?" tanya Dini.


"Mmmm.... mobilnya..... nanti aku jelasin, jangan bahas itu dulu," ucap Dimas yang tidak memberikan jawaban atas pertanyaan Dini.


Dini lalu menaikkan kedua kakinya ke atas sofa dan mendekatkan dirinya pada Dimas. Dimas lalu membawa Dini ke dalam dekapannya.


"Kenapa kamu nggak kasih tau aku kalau mau ke sini?" tanya Dini.


"Mau kasih kamu kejutan, aku akan usahain buat pulang tiap weekend sayang," jawab Dimas.


"Kalau kamu kasih tau aku, aku akan pulang cepet dan nggak jadi ikut Andi tadi," ucap Dini.


"Kalian udah baikan ya?"


Dini menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Dimas.


"Aku nggak bisa lama lama marah sama dia," ucap Dini.


"Andi bilang tadi ngajak kamu ke rumah sakit, buat apa?" tanya Dimas.


"Ketemu psikiater, beberapa hari ini Andi sering konsultasi sama salah satu psikiater di rumah sakit itu," jawab Dini.


"Soal apa?"


"Dia sempet trauma buat naik bus gara gara kecelakaan waktu itu, tapi sekarang dia udah bisa atasi ketakutannya," jawab Dini.


"Kamu gimana?" tanya Dimas.


"Maksud kamu?" balas Dini bertanya dengan melepaskan dirinya dari dekapan Dimas.


"Ombrophobia kamu sayang, kamu juga harus mengatasinya," jawab Dimas.

__ADS_1


"Nggak semudah itu Dimas, hampir seluruh hidupku aku selalu hidup dengan rasa takut itu, beda sama Andi yang baru aja ngerasain ketakutannya," ucap Dini.


"Justru itu sayang, kamu....."


"Lebih baik kamu pulang kalau kamu cuma mau bikin aku kesel," ucap Dini yang sudah berdiri dari duduknya.


Dimas lalu ikut berdiri, memegang kedua bahu Dini dan menariknya ke arahnya. Dengan cepat kecupan mendarat di bibir Dini.


Tangan Dimas beralih memegang tengkuk Dini seakan tidak membiarkan Dini melepaskan tautannya.


"Aku minta maaf," ucap Dimas saat ia sudah mengakhiri nya.


Dini hanya diam lalu menjatuhkan dirinya di sofa.


"Jangan bahas itu lagi," ucap Dini.


"Iya, aku minta maaf," balas Dimas lalu membawa Dini ke dalam dekapannya.


Mereka lalu membicarakan banyak hal sampai larut malam.


"Kamu belum bilang aku mobil kamu kemana? kenapa?" tanya Dini.


"Besok aku ceritain, aku janji," jawab Dimas.


"Berarti sekarang kamu pulang pake taksi?"


"Kalau aku nggak mau pulang gimana?" balas Dimas bertanya.


"Kamu harus pulang Dimas, kamu bau!" ucap Dini dengan menutup hidungnya.


"Aku ke sini naik bus sayang dan aku belum mandi, wajar kalau aku bau kan?"


"Kenapa kamu naik bus Dimas? kamu bahkan bisa naik pesawat kalau kamu mau!"


"masalahnya dompetku juga ketinggalan di apartemen, uang cash ku habis buat bayar hotel, cuma cukup buat naik bus dan taksi biar nyampe ke sini," jawab Dimas dalam hati.


Dimas hanya tertawa kecil tanpa menjawab pertanyaan Dini.


"Sekarang kamu pulang, besok pagi aku ke rumah kamu," ucap Dini dengan menarik tangan Dimas agar berdiri.


"Tapi aku masih kangen Andini," rengek Dimas seperti anak kecil.


"Besok kita ketemu Dimas," balas Dini yang masih berusaha menarik Dimas.


Dengan malas Dimas berdiri dan keluar dari rumah Dini.


"Kamu yakin mau aku pulang?" tanya Dimas yang masih tak ingin pergi.


"Yakin Dimas, sekarang kamu pesen taksi, aku akan temenin kamu nunggu taksinya di sini," jawab Dini.


Dimas lalu memesan taksi dan segera meninggalkan rumah Dini saat taksinya sudah sampai.


Di dalam taksi, Dimas merogoh semua kantong yang ada di pakaiannya dan hanya menemukan satu lembar uang 20 ribu yang tentu saja tidak cukup untuk membayar taksi.


Sesampainya di rumah, Dimas meminta si supir taksi untuk menunggunya karena ia akan meminjam uang pada satpam rumahnya.


"Makasih pak, nanti saya bilang mama biar diganti," ucap Dimas pada satpam rumahnya.


Dimas lalu masuk ke dalam rumahnya.


"Dimas, mama nggak denger suara mobil kamu!" ucap mama Dimas yang selalu terkejut dengan kedatangan anak semata wayangnya yang tiba tiba.


"Dimas nggak bawa mobil ma," jawab Dimas sambil menghampiri sang mama dan memeluk sang mama.


"Kamu kok bau sih? kamu kenapa berantakan gini? ada apa sayang?"


"Besok aja ya ma ceritanya, Dimas capek banget," jawab Dimas lalu berjalan menaiki tangga.


"Oh ya, Dimas tadi pinjem uang pak satpam buat bayar taksi," ucap Dimas sebelum menghilang dari pandangan sang mama.


Mama Dimas hanya diam dengan mengernyitkan dahinya melihat sikap Dimas yang tidak seperti biasanya.


"Dimas ma?" tanya papa Dimas yang baru saja keluar dari kamar.


"Iya, tapi dia aneh," jawab mama Dimas.


"Aneh kenapa?"


"Dia nggak bawa mobil, dia bau, dia berantakan dan kayaknya nggak punya uang, anak kita nggak punya uang pa!" ucap mama Dimas menjelaskan.


Papa Dimas hanya tersenyum tipis lalu menarik tangan sang istri untuk diajak masuk ke kamar.


"Mungkin Dimas butuh adik ma," ucap papa Dimas yang segera mendapat pukulan dari sang istri.


**


Malam telah pergi, mentari telah kembali.


Dimas sudah berada di meja makan bersama mama dan papanya.


"Kamu kenapa sayang? ada apa?" tanya mama Dimas khawatir.


"Biar dia sarapan dulu ma," sahut papa Dimas.


"Pa, anak kita bahkan nggak punya uang buat bayar taksi, pasti terjadi sesuatu, ada apa Dimas?"


"Dimas nggak papa ma, dompet Dimas ketinggalan, itu aja," jawab Dimas santai.


"Mobil kamu?"


"Sarapan dulu ya ma, Dimas belum makan dari semalem," jawab Dimas yang segera melahap makanan di hadapannya.


Setelah selesai sarapan, Dimas lalu memberi tahu sang mama apa yang sebenarnya terjadi padanya dan sudah bisa ditebak sang mama sangat murka pada Anita.


"Dia pasti cuma pura pura Dimas, kamu jangan mau dipermainkan lagi sama dia!"

__ADS_1


"Mama tenang aja, Dimas nggak akan terpengaruh lagi sama dia," balas Dimas.


"Dini tau tentang hal itu?" tanya papa Dimas.


"Belum, tapi Dimas pasti cerita sama Andini," jawab Dimas.


Tak lama kemudian salah satu asisten rumah tangga memberi tahu jika Dini sedang menunggu di ruang tamu.


Dimas, mama dan papanya pun meninggalkan meja makan untuk menemui Dini.


"Dini, akhirnya mama ketemu kamu lagi," ucap mama Dimas sambil memeluk Dini.


"Pa, Dimas pinjam mobil ya!" ucap Dimas pada sang papa.


Papa Dimas hanya menganggukkan kepalanya sambil melemparkan kunci mobilnya ke arah Dimas.


"Makasih pa, ayo sayang!"


Saat Dimas dan Dini baru saja melangkah keluar, Dimas menghentikan langkahnya dan kembali pada sang mama.


"Bentar sayang, tunggu di sini ya!" ucap Dimas pada Dini.


Dini mengangguk, membiarkan Dimas kembali masuk untuk menghampiri mamanya.


"Ma, Dimas nggak punya uang sama sekali," ucap Dimas dengan memamerkan deretan giginya di hadapan sang mama.


Mama Dimas hanya menggelengkan kepalanya lalu mengambil dompet dan memberikan beberapa lembar uang cash serta kartu kredit pada Dimas.


"Makasih ma," ucap Dimas lalu mencium pipi sang mama.


Dimas lalu mengendarai mobil sang papa dan mengajak Dini ke salah satu pusat perbelanjaan yang sedang mengadakan event.


"Aku akan ngajak kamu buat nostalgia," ucap Dimas saat mereka sudah sampai di tujuan.


"Nostalgia?"


"Iya, liat di sana!" jawab Dimas sambil menunjuk ke arah kerumunan.


Dimas lalu menarik tangan Dini dan membawanya membaur diantara kerumunan di sana.


"Kamu inget?" tanya Dimas.


Dini menganggukkan kepalanya. Memori membawanya kembali pada masa beberapa tahun yang lalu saat ia masih SMA.


Dimas membawanya ke mall dan melihat pameran yang ada di sana. Berbagai macam miniatur dekorasi pelaminan terpajang di hadapannya.


Tak hanya yang bertema modern, tapi juga ada beberapa yang bertema tradisional dan semi modern.


"Dulu aku pernah tanya kamu, apa kamu mau ada di pelaminan sama aku? kamu jawab enggak, kalau sekarang aku tanya pertanyaan yang sama apa jawaban kamu juga akan sama?" tanya Dimas.


"Coba aja," balas Dini.


"Andini, apa kamu mau ada di pelaminan itu sama aku?" tanya Dimas.


"Iya aku mau, nggak cuma ada di pelaminan itu tapi di seluruh hidup kamu, aku mau selalu ada di samping kamu," jawab Dini dengan senyum manisnya.


"Kamu bikin aku pingin cium kamu," ucap Dimas berbisik.


"Jangan nakal," ucap Dini dengan memukul lengan Dimas.


Dimas hanya terkekeh lalu menggandeng tangan Dini untuk diajak berkeliling mengamati satu per satu berbagai macam dekorasi yang ada di sana.


Setelah puas menghabiskan waktu di sana, Dimas lalu mengajak Dini membeli ice cream.


Merekapun duduk di salah satu bangku yang ada di sana.


"Hari ini kamu mau kemana?" tanya Dimas pada Dini.


"Terserah kamu, aku ikut aja," jawab Dini.


"Aku pingin ke tempat yang cuma ada aku sama kamu di sana," ucap Dimas.


"Aku tau dimana, tempatnya terpencil dan nggak banyak orang yang kesana."


"Dimana sayang?"


"Ayo berangkat sekarang!" ajak Dini.


Dimas dan Dini lalu meninggalkan mall dan pergi ke arah yang Dini tunjukkan.


Mereka berjalan melewati jalan berbatu di pinggiran hutan bakau. Setelah memarkirkan mobilnya, Dimas dan Dini berjalan memasuki jembatan yang ada diantara pohon bakau.


Di sana sudah ada beberapa orang yang siap mengantarkan Dini dan Dimas untuk menuju ke pulau kecil dengan menaiki perahu.


Sesampainya di sana, mereka segera turun. Ada beberapa warung makanan dan toilet di sana, namun tak ada pengunjung selain Dini dan Dimas.


Itu karena pemerintah kota belum turun tangan untuk membangun tempat wisata itu sehingga kurangnya fasilitas dan akses jalan membuat tempat wisata itu jarang pengunjungnya.


"Ini tempat apa sih sebenarnya? cuma ada pohon bakau dan jembatan kayu!"


"Ssssttt.... jangan protes dulu!" ucap Dini dengan berjalan menggandeng tangan Dimas sampai mereka tiba di salah satu ujung jembatan.


Sebuah dermaga kayu yang di kanan dan kirinya di tumbuhi pohon bakau dan di hadapannya bentang laut yang tenang serta sinar senja yang siap menyapa saat sore hari.


Mereka duduk di ujung dermaga bersama terpaan angin yang membelai mesra.


Biiiippp Biiiiiipppp biiiipppp


Ponsel Dini berdering, sebuah pesan dari Anita yang memperlihatkan sebuah foto Anita berada di suatu ruangan yang Dini kenal.


Tolong bilangin Dimas, dompetnya ketinggalan ^_^


Dini sangat mengenal ruangan itu karena ada foto dirinya dan Dimas yang terpajang di sana.


Dini hanya tersenyum tipis lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.

__ADS_1


__ADS_2