
Hari hari berlalu penuh dengan kebahagiaan. Alana tumbuh menjadi gadis cantik yang baik berkat didikan Andi dan Dini serta orang orang disekitarnya yang menyayanginya.
Sedangkan Dini dan Andi, meski sudah bersahabat lama, nyatanya masih banyak hal hal yang harus mereka pelajari selama mereka menjadi suami istri.
Perdebatan kecil masih terjadi namun mereka bisa menyelesaikannya dengan baik tanpa ada pertengkaran yang berarti.
Setiap satu minggu sekali, Andi, Dini dan Alana selalu menyempatkan waktu mereka untuk mengunjungi makam Dimas dan Anita.
Bahkan foto pernikahan Dini dan Dimas masih terpajang di meja kamar yang sekarang di tempati Dini dan Andi.
Andi sama sekali tidak mempersalahkan hal itu, Dinipun bisa membatasi dirinya dengan hanya menaruh satu foto itu di meja kamarnya.
Sedangkan di tempat lain dipenuhi dengan foto dirinya dan Andi juga Alana.
Pagi itu, seperti biasa Dini bangun pagi pagi sekali untuk memasak di dapur bersama sang ibu.
Setelah selesai memasak, ia segera membangunkan Andi yang masih terlelap di ranjangnya.
Dini duduk di tepi ranjang dengan menggoyangkan tangan Andi agar Andi segera bangun. Namun Andi terlalu lelap dalam tidurnya sehingga tidak menggerakkan badannya sedikitpun.
Dini kemudian mendekatkan kepalanya di telinga Andi, lalu membisikkan sesuatu yang ia yakin akan segera membangunkan Andi.
"Sayang, bangun," ucap Dini berbisik.
Benar saja, Andi segera membuka matanya saat ia mendengar suara Dini. Setelah beberapa bulan pernikahan mereka, mereka masih memanggil nama mereka satu sama lain karena terbawa oleh kebiasaan mereka sejak lama.
Mereka bahkan belum melakukan hubungan suami istri karena kecanggungan diantara mereka yang terjadi setiap malam.
Jika pada awalnya ada Alana yang memecah kecanggungan diantara mereka, kini Alana memilih untuk tidur di kamar yang lain.
Setiap malam Dini dan Andi hanya akan membicarakan hal hal random sampai mereka tertidur dengan sendirinya.
Itu kenapa saat Dini memanggilnya "sayang", Andi segera membuka matanya untuk memastikan pendengarannya dan kesadarannya.
Melihat Andi yang tiba tiba bangun membuat Dinipun terkekeh.
"Ayo bangun, aku udah siapin baju kerja kamu," ucap Dini lalu beranjak dari ranjang, namun Andi menarik tangan Dini dengan cepat, membuat Dini kembali terjatuh di ranjang.
"Kamu panggil aku apa tadi?" tanya Andi dengan menatap mata Dini.
"Enggak, aku nggak manggil kamu," jawab Dini dengan membawa pandangannya ke arah lain.
Andi hanya tersenyum tipis kemudian mendaratkan kecupan singkatnya di bibir Dini, membuat Dini salah tingkah.
Untuk pertama kalinya ia mendapatkan ciuman di bibirnya selain dari Dimas dan itu cukup untuk membuat jantungnya berdetak sangat cepat saat itu juga.
Dini segera beranjak dan keluar dari kamar. Sedangkan Andi hanya tersenyum tipis lalu segera beranjak dan masuk ke kamar mandi.
Setelah Andi selesai mandi dan Dini selesai memandikan Alana, mereka pun sarapan bersama ibu Dini.
__ADS_1
"Ndi, besok kan hari pertama Alana sekolah, kamu bisa anter jemput nggak? cuma besok aja, selanjutnya biar aku sama pak Yusman," tanya Dini pada Andi.
"Bisa kok, selagi aku punya waktu pasti aku antar jemput kamu sama Alana Din," jawab Andi.
"Kalian ini udah menikah kok masih panggil nama aja, apa nggak ada panggilan lain?" tanya ibu Dini menggoda.
"Panggilan apa Bu? sayang?" balas Andi bertanya yang membuat Dini tiba tiba tersedak.
"Minum dulu ma," ucap Alana menggeser minuman miliknya untuk Dini.
"Terima kasih sayang," balas Dini.
**
Bulan berganti, waktu bagi Dini dan Andi untuk berbulan madu. Mereka sengaja menunda bulan madu mereka karena kesibukan pekerjaan Andi.
Karena Alana tidak ingin meninggalkan sekolahnya, ia memilih untuk tetap tinggal di rumah bersama ibu Dini, sedangkan Dini dan Andi menghabiskan waktu mereka berdua di Korea selama satu Minggu.
Hari pertama mereka di Korea disambut dengan salju tipis yang membuat Dini begitu antusias untuk menikmati pengalaman pertamanya berjalan jalan di bawah salju.
Mereka pergi ke berbagai tempat yang ingin Dini kunjungi, termasuk Namsan Tower. Mereka juga mencicipi berbagai makanan khas Korea kesukaan Dini.
"Kayaknya aku nggak mau ke tempat yang tadi lagi deh!" ucap Andi saat mereka baru saja meninggalkan restoran.
"Kenapa? makanannya kan enak!"
"Lidah kamu emang Indonesia banget, besok kita nggak akan kesini lagi, kita coba tempat lain aja, oke?"
Andi hanya menganggukkan kepalanya tak bersemangat, membuat Dini semakin gemas pada Andi.
Malam yang semakin larut dan udara yang semakin dingin membuat Dini dan Andi kembali ke hotel.
"Di sini jauh lebih hangat daripada di luar," ucap Andi sambil melepas jaket tebalnya.
"Coba Alana ada disini, dia pasti seneng banget bisa main salju!" ucap Dini yang memikirkan Alana.
"Nanti kita cari waktu lagi biar bisa ngajak Alana sama ibu kesini," balas Andi sambil memeluk Dini dari belakang.
Dini hanya menganggukkan kepalanya dan bersandar di dada Andi.
"Ndi, mmmmm..... ada yang mau...... aku tanyain," ucap Dini yang terdengar ragu.
"Apa?"
"Kenapa kamu nggak pernah minta..... itu.... mmmm....... aku....."
"Aku nggak akan maksa kamu Din, aku akan nunggu sampai kamu siap," ucap Andi yang mengerti maksud Dini.
"Sampai kapan?"
__ADS_1
"Sampai kapanpun," jawab Andi tanpa ragu.
Dini kemudian membalikkan badannya, mendongakkan wajahnya dan menatap kedua mata Andi.
"Apa kamu masih memikirkan Anita?" tanya Dini.
"Sampai kapanpun aku hanya anggap dia sebagai ibu yang udah melahirkan Alana, nggak lebih dari itu, kenapa kamu tanyain itu?"
"Aku... aku cuma berpikir apa mungkin selama ini kamu masih mikirin dia, itu kenapa kamu nggak pernah......"
CUUUUPPPPP
Sebuah kecupan mendarat di bibir Dini, bukan hanya kecupan singkat seperti biasanya. Andi melakukannya dengan hangat dan penuh kelembutan.
Di bawah langit malam bersalju, Andi dan Dini memasuki dunia baru mereka, menyelami dalamnya keindahan dan kenikmatan dunia dengan penuh cinta.
Bulir keringat mulai membasahi kening meski udara cukup dingin malam itu, sampai akhirnya kuncup mawar merah telah merekah membaurkan wanginya.
Andi menjatuhkan dirinya di samping Dini, mereka terlelap setelah mencapai puncak keindahan surga yang mereka ciptakan.
**
Pagi telah datang, Dini menutup seluruh tubuhnya dengan selimut saat melihat Andi yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Kemana kita hari ini?" tanya Andi setelah memberikan kecupan singkatnya di kening Dini.
Dini hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Andi. Semua rencana yang sudah ia siapkan tiba tiba menghilang begitu saja dari kepalanya.
"Kamu nggak mau mandi?" tanya Andi pada Andi.
"Kamu.... kamu keluar dulu," jawab Dini dengan memegang erat selimut di dadanya.
Andi hanya terkekeh lalu mengambil handuk dan memberikannya pada Dini tanpa melihat ke arah Dini.
Dinipun menerimanya dan memakai handuk yang hanya menutup dada dan paha bagian atasnya.
Dengan cepat Andi berbalik lalu menggendong Dini dan membawanya ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Andi tidak segera menurunkan Dini.
Ia masih menatap mata Dini dengan dalam lalu menurunkan Dini di bathtub yang sudah diisi dengan air hangat.
"Makasih," ucap Andi dengan senyum manisnya lalu memberikan kecupan singkatnya di kening Dini.
Dini hanya diam dengan detak jantung yang tak beraturan, sedangkan Andi segera keluar dari kamar mandi.
Setelah selesai mandi, Andi dan Dini menghabiskan waktunya dengan berjalan jalan dan mencoba banyak makanan yang Dini inginkan.
Meski Andi enggan mencoba makanan yang Dini pilih, pada akhirnya ia tetap memakannya karena Dini memaksanya.
Satu Minggu telah berlalu, merekapun meninggalkan Korea dan kembali pulang.
__ADS_1