
Hari demi hari telah terlewati, bulan bulan berlalu dengan penuh bahagia.
Tak hanya Andi dan Dini yang merasakan kebahagiaan dalam rumah tangga mereka, kabar kehamilan Dini turut membawa kebahagiaan untuk banyak orang, seperti ibu Dini, mama Siska, ibu dan ayah Andi, Adit dan Ana, serta mama dan papa Dimas.
Selamat dan do'a kebaikan mereka ucapkan pada Dini agar bisa menjalani kehamilannya dengan baik sampai waktunya melahirkan.
Sore itu, dengan perut buncitnya Dini bersiap untuk mengantarkan Alana ke tempat les bersama pak Yusman.
Setelah mengantar Alana, Dini meminta pak Yusman untuk mengantarnya ke home store Andi.
"Pak Yusman pulang aja, nanti saya balik sama Andi sekalian jemput Alana," ucap Andi pada pak Yusman saat ia sudah sampai di depan home store.
Setalah pak Yusman pergi, Dini segera membawa langkahnya masuk ke dalam home store.
"Selamat datang ibu negara," sapa Rama pada Dini.
"Andi ada?" tanya Dini pada Rama.
"Ada di atas, baru selesai meeting," jawab Rama.
Dinipun membawa langkahnya ke lantai dua untuk menghampiri Andi. Saat ia baru saja sampai, ia melihat Andi yang sedang mengobrol dengan seorang perempuan.
Perempuan dengan pakaian mini itu terlihat cukup dekat dengan Andi, mereka tampak sedang tertawa dan tak jarang perempuan itu menatap Andi dengan senyumnya yang menggoda.
Dini yang melihat hal itu seketika merasa udara di sekitarnya terasa begitu panas.
"kamu lihat Dimas, sejak kapan temen kamu itu jadi genit sama cewek?" batin Dini kesal.
Dini kemudian membawa langkahnya menghampiri Andi dan menggelayut manja pada Andi.
"Sayang," panggilnya manja dengan tersenyum manis pada sang suami.
"Kamu disini? dianter pak Yusman?" tanya Andi yang terkejut dengan kedatangan Dini, terlebih saat Dini memanggilnya "sayang" di depan kliennya.
"Iya, apa aku ganggu kamu? apa kamu masih sibuk?" tanya Dini dengan menatap mata Andi, seolah tak ingin Andi berpaling darinya.
"Enggak sayang, kamu nggak ganggu, ini aku udah mau pulang kok," jawab Andi.
"Ayo pulang sayang, aku nggak bisa lama lama berdiri," ucap Dini sambil mengusap perut buncitnya.
Andi menganggukan kepalanya dengan mengusap perut Dini.
"Jadi gimana pak?" tanya perempuan itu pada Andi.
Ia terlihat kesal karena Andi mengabaikan dirinya.
"Oh iya, maaf, saya akan diskusikan dulu dengan tim saya dan kita bisa bahas lagi di meeting selanjutnya Minggu depan," jawab Andi.
"Baik pak kalau gitu, terima kasih atas waktunya, saya permisi," ucap perempuan itu dengan senyumnya yang menggoda.
Andi hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum kemudian membawa Dini masuk ke ruangannya.
"Aku beresin berkas berkas ini bentar, abis itu kita pulang," ucap Andi pada Dini.
__ADS_1
Dini hanya menganggukkan kepalanya dengan raut wajah kesal. Andi yang menyadari hal itu segera menghampiri Dini dan duduk di sebelahnya.
"Kenapa? kamu marah?" tanya Andi.
"Menurut kamu?" balas Dini bertanya.
"Apa yang bikin kamu marah? cewek itu tadi?" tanya Andi menerka.
"Sejak kapan kamu jadi genit? pake senyum senyum lagi, Andi yang aku kenal nggak gitu ya!"
"Sayang....."
"Jangan panggil sayang!" ucap Dini memotong ucapan Andi.
Andi hanya tersenyum tipis kemudian meraih tangan Dini dan menggenggamnya.
"Dia klien aku dari perusahaan X, kita akan melakukan kerja sama mulai bulan depan, aku senyum sama dia bukan karena aku genit, aku cuma berusaha bersikap ramah aja, aku harus bisa profesional dalam pekerjaan aku Din, aku nggak mungkin cuek sama dia karena aku juga butuh perusahaan dia," ucap Andi menjelaskan.
"Tapi dia genit sama kamu Ndi? masak kamu nggak tau? apa kamu emang suka dia genit sama kamu?"
"Dia emang suka senyum, dia...."
"Aku tau ya mana yang ramah mana yang genit!" ucap Dini yang semakin kesal.
Andi menghela nafasnya kemudian membawa Dini ke dalam dekapannya.
"Aku minta maaf kalau kejadian tadi bikin kamu kesel, aku akan minta Rama buat gantiin aku setiap meeting sama perusahaan itu!" ucap Andi berusaha meredakan kekesalan Dini.
"Apa itu artinya kamu nggak profesional?" tanya Dini dengan mendongakkan kepalanya menatap Andi.
"Terima kasih," ucap Dini.
Andi hanya tersenyum kemudian mendaratkan kecupan singkatnya di bibir Dini.
"Andi!" ucap Dini terkejut dengan apa yang Andi lakukan.
"Aku belajar dari Dimas hehe....."
Dini hanya tersenyum tipis lalu kembali membenamkan dirinya dalam dekapan Andi.
Mereka kemudian meninggalkan home store, berjalan jalan di taman beberapa saat sebelum akhirnya menjemput Alana di tempat les.
**
Hari yang ditunggu telah tiba, Andi sedang berada di salah satu ruangan di rumah sakit bersama Dini.
Tangan kanan Dini mencengkram dengan kuat tangan Andi bersama teriakan dan dorongan yang ia keluarkan untuk sang buah hati yang sudah siap melihat dunia barunya.
Dalam rasa sakit yang Dini rasakan saat itu, ia bisa merasakan genggaman hangat di tangan kirinya.
Sebuah senyum dari laki laki yang pernah mengisi hari harinya dengan kebahagiaan terlihat jelas di hadapannya.
"Dimas!" batin Dini di tengah rasa sakit yang dirasakannya.
__ADS_1
Senyum dan genggaman hangat yang Dimas berikan seolah memberikan Dini kekuatan lebih yang membuatnya memberikan dorongan terakhirnya dengan kuat.
Tepat pada jam 8 pagi, suara tangis bayi terdengar memenuhi ruangan itu. Dengan berlinang air mata bahagia Dini memberikan ASI pertamanya pada sang buah hati.
"Kamu perempuan yang hebat Din, terima kasih," ucap Andi dengan memberikan kecupannya di kening Dini.
Setelah beberapa hari berada di rumah sakit, Dinipun pulang bersama bayi mungilnya yang tampan.
Semua orang menyambut kedatangannya dengan bahagia.
"Yeeeyyy, adik tampan pulang," ucap Alana bersorak.
Alana menyentuh tangan mungil adiknya yang saat itu berada di ranjang mama dan papanya. Seketika jari jari mungil itu menggenggam dengan kuat jari Alana, seolah mengenal kakak yang akan menjaga dan menyayanginya.
Tak hanya keluarga Dini dan Andi, mama dan papa Dimaspun menyambut dengan bahagia bayi mungil Dini dan Andi.
Setelah mendapat izin dari mama dan papa Dimas, Andi dan Dini memutuskan untuk memberi nama bayi tampan mereka "Dimas".
Ya, sampai kapanpun Dimas akan menjadi bagian dari Dini dan Andi. Itulah cara mereka untuk tetap mempertahankan Dimas dalam hidup mereka.
Pada akhirnya, kebahagiaan akan selalu datang pada mereka yang mau bersabar dan ikhlas menerima takdir yang sudah ditetapkan untuknya.
Tuhan akan selalu memberikan apa yang terbaik untuk kita meski melewati banyak duri dan luka yang menyakitkan.
Percayalah, rencana Tuhan jauh lebih indah daripada harapan kita.
.
.
.
.
Alhamdulillah Akhir Kisah Dini sudah Tamat 🥰
.
.
Author sangat berterima kasih pada semua reader yang sudah memberikan dukungannya pada Dini, Andi dan Dimas.
Author mohon maaf jika banyak kekurangan di dalam cerita Dini, Andi dan Dimas 🙏🙏
Author akan terus belajar agar bisa menulis dengan lebih baik lagi, sekali lagi author mengucapkan "Terima kasih" 🙏🙏😘
.
.
.
Author tunggu kehadirannya di novel author yang baru "Nerissa, Story of Mermaid"
__ADS_1
Jangan lupa memberikan dukungannya agar author semakin semangat untuk menulis dengan lebih baik lagi 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA, LOVE YOU ALL 😘