
Waktu berlalu, keadaan Andi semakin membaik setiap harinya. Namun masih berada di rumah sakit dan dalam pengawasan Dokter. Jika dalam satu minggu ke depan keadannya sudah stabil, ia akan diperbolehkan pulang tapi belum diperbolehkan untuk melakukan banyak kegiatan.
Setiap harinya ibu Andi masih menjaga Andi dan sesekali ditemani oleh mama Siska. Hubungan ibu Andi dan mama Siska mulai membaik seiring dengan berjalannya waktu.
Entah apa yang ada dalam hati dan pikiran mereka, hanya mereka sendiri dan Tuhan lah yang tau. Keadaan psikis mama Siska juga sudah membaik karena ia sering menemui Andi di rumah sakit bersama Lukman atau Adit.
Sore itu, setelah menyelesaikan pekerjaannya, Adit segera meninggalkan kantor. Bukan untuk menemui sang mama atau Andi, melainkan untuk menemui perempuan yang sudah sangat dirindukannya.
"Rud, kamu pulang aja ya, saya mau bawa mobil sendiri," ucap Adit pada Rudi.
"Baik Pak, saya permisi," balas Rudi.
Adit hanya menganggukkan kepalanya lalu segera membawa mobilnya ke arah tempat tinggal Ana. Tak lupa ia membeli beberapa makanan kesukaan Ana sebelum ia sampai di sana. Ia juga membeli untuk semua pekerja di rumah itu.
Sesampainya di sana, ia segera turun dan memberikan satu bungkus besar makanan pada Agus.
"Tolong bagi sama yang lainnya ya pak," ucap Adit.
"Baik mas," balas Agus.
Adit lalu masuk dan mendapati rumah yang tampak sepi.
"Ana!" panggil Adit sambil berjalan masuk.
Tak seperti biasanya, Ana selalu menyambutnya dengan pelukan ketika Adit datang. Namun hari itu, ia bahkan tidak melihat keberadaan Ana.
"Eh, mas Adit, mbak Ana lagi ke pasar sama ibu," ucap Lisa yang sedang menyetrika pakaian Ana.
"Ke pasar? naik apa? kok pak Agus ada di rumah?"
"Jalan kaki mas, deket kok pasarnya," jawab Lisa.
Adit lalu segera keluar untuk menjemput Ana, namun saat akan masuk ke mobil, ia melihat Ana dan Bu Desi yang baru saja memasuki gerbang rumah.
"Adiiiittt!!" teriak Ana memanggil Adit.
Aditpun segera menghampiri Ana dan membantu membawa barang belanjaan Ana.
"Kamu belanja apa aja An?" tanya Adit.
"Banyak, aku mau masak buat kamu," jawab Ana.
"Kenapa nggak minta antar pak Agus aja sih bu Desi? Ana kan....."
"Jangan marahin bu Desi, aku yang maksa ngajak jalan kaki," ucap Ana dengan cepat.
"Kenapa harus jalan kaki? pak Agus akan siap antar kamu kemana aja An!"
"Aku pingin jalan jalan Adit!"
"Ya udah, tapi jangan jauh jauh ya!"
"Iya bawel!" balas Ana dengan bersuara pelan.
Setelah membantu Bu Desi membereskan barang belanjaan, Ana dan Adit duduk di ruang tengah.
Ana duduk di depan Adit dengan menyandarkan dirinya di dada Adit. Sedangkan Adit memeluk Ana dari belakang.
"Lebih dari dua minggu kamu nggak pernah ke sini, apa masalah kamu udah selesai sekarang?" tanya Ana.
"Mmmm.... mungkin 70% selesai," jawab Adit.
"30% nya?"
"Pasti akan selesai dengan sendirinya, aku udah berusaha sejauh yang aku bisa An, 30% nya aku berserah sama Tuhan," jawab Adit.
"Aku yakin semuanya akan baik baik aja," ucap Ana.
"Mudah mudahan," balas Adit.
"Mama gimana? mama pasti seneng kan udah bisa ketemu adik kamu?"
"Seandainya dia mau tinggal sama kita mungkin mama akan lebih bahagia, tapi kayaknya nggak mungkin, dia lebih pilih buat tetep tinggal sama orangtua nya yang sekarang, jadi aku masih harus hadapi kemarahan mama yang tiba tiba datang," jawab Adit.
"Apa mama ngelakuin itu lagi?" tanya Ana sambil memutar badannya, melihat dengan teliti wajah Adit.
Benar saja, ia baru menyadari jika ada bekas luka di kening Adit.
"Apa ini karena mama?" tanya Ana sambil memegang bekas luka Adit.
__ADS_1
Adit hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis.
"Kenapa dia nggak mau tinggal sama kalian? apa kamu sama mama udah jelasin semuanya sama dia?"
"Udah, mama udah jelasin semuanya, tapi dia cuma minta maaf dan masih panggil mama 'tante'," jawab Adit.
"Iiiisshh, jahat banget sih adik kamu itu, padahal mama kan punya alasan yang jelas!"
"Kamu nggak bisa nyalahin dia An, dia juga pasti bimbang sama pilihannya, dia tinggal dan dibesarkan dengan penuh cinta sama dua orang yang sudah dia anggap keluarganya dari kecil, lalu mama tiba tiba datang dengan semua rahasia masa lalu yang harus dia terima, dia pasti kaget!"
"Iya sih, aku nggak bisa bayangin gimana rasanya ada di posisisnya saat itu, memilih orangtua yang merawat dia dari kecil atau mama yang melahirkan dia."
"Udah, jangan dibahas lagi, yang penting sekarang mama masih bisa ketemu dia kapanpun mama mau, walaupun nggak bisa tinggal bareng, setidaknya mama bisa ketemu dia."
"Tapi sampe kapan mama akan memperlakukan kamu kayak gitu Dit? aku nggak mau kamu terluka lagi."
"Aku akan selalu siap terluka An, asal bukan mama yang terluka, aku tau gimana rasa sakitnya hidup dalam penyesalan yang selama ini mama rasain, jadi aku akan terima semua ini asal mama selalu baik baik aja," ucap Adit.
Ana hanya terdiam lalu memeluk Adit manja.
Jam sudah menunjukkan pukul 6 petang, Ana mulai bersiap siap untuk memasak di dapur.
Dengan dibantu Bu Desi dan Lisa, Ana memasak makan malam untuk semua orang di rumah itu.
Setelah makanan selesai, Ana memanggil pak Candra dan Pak Agus untuk ikut makan bersama di dalam rumah, bersama Bu Desi dan juga Lisa.
"Maaf mbak, bukannya saya menolak, nanti siapa yang jaga gerbang kalau saya di sini," ucap Candra menolak dengan sopan.
"Oh iya, kalau gitu biar disiapin bu Desi aja, pak Candra tunggu di luar," ucap Ana.
"Saya juga makan di luar aja mbak, sama pak Candra," sahut Agus.
"Hmmmm, ya udah deh, tolong siapin ya bu Desi."
"Baik mbak."
Setelah makan malam selesai, Adit mengobrol dengan Ana di meja makan sebelum ia pulang.
"Aku pingin ajak kamu liburan, tapi aku harus pastiin dulu kalau keadaan kamu udah cukup sehat buat diajak liburan," ucap Adit.
"Aku sehat kok, kamu mau ajak aku kemana?"
"Aku belum kepikiran tempatnya sih, kamu pingin kemana?"
"Nanti aku kabari lagi kalau udah ada waktunya," ucap Adit.
Ana lalu mengantarkan Adit ke depan rumah, karena Adit harus pulang.
"Kapan kamu ke sini lagi?" tanya Ana.
"Aku nggak tau, tapi pasti aku usahain secepatnya," jawab Adit.
Ana hanya mendengus kecil saat Adit akan memasuki mobilnya. Ia ingin menahan Adit, tapi ia tidak berhak untuk itu.
Adit lalu mendekat ke arah Ana dan memeluknya.
"Jaga kesehatan kalian, aku akan usahain buat sering ke sini," ucap Adit sambil mengusap perut Ana.
"Aku selalu nunggu kamu di sini," ucap Ana yang dibalas kecupan singkat di kening Ana.
Adit lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah Ana.
**
Di tempat lain.
Dini sedang menemani Andi di rumah sakit.
"Kapan aku boleh pulang Din?" tanya Andi yang sudah sangat bosan berada di sana.
"Sabar Ndi, kalau keadaan kamu udah stabil, Dokter pasti izinin kamu pulang kok."
"Din, apa Adit pernah cerita sesuatu sama kamu, tentang mamanya?"
Dini terdiam beberapa saat untuk berpikir.
"Tentang mama Siska ya? banyak deh kayaknya, tapi aku lupa hehe...."
"Apa kamu tau sesuatu tentang keadaan psikis mamanya?"
__ADS_1
Dini kini tau kemana arah ucapan Andi, ia pun menganggukkan kepalanya tanpa ragu.
"Aku pernah liat waktu mama Siska kambuh, aku nggak tau gimana awalnya, yang aku tau saat itu mama Siska marah banget dan lempar semua yang ada di sekitarnya sampe ngelukai kak Adit, kak Adit bilang itu hal yang biasa kalau mama lagi sedih, kak Adit bahkan udah sering keluar masuk rumah sakit dari kecil karena hal itu," jelas Dini.
Andi terdiam mendengarkan penjelasan Dini. Dalam hatinya ia merasa sedih atas apa yang terjadi pada Adit.
"Kak Adit sayang banget sama mama Siska Ndi, dia selalu nemenin mama Siska waktu lagi kayak gitu biar mama Siska nggak ngelukai dirinya sendiri dan kamu pasti tau apa yang bikin mama Siska kayak gitu, kesedihan dan penyesalan yang mama Siska rasakan seumur hidupnya karena udah bikin anak keduanya jauh darinya," ucap Dini.
"Sekarang aku harus gimana Din?"
"Ikuti kata hati kamu Ndi, aku tau ini pilihan yang sulit buat kamu, tapi satu yang pasti keadaan psikis mama Siska akan terus seperti ini dan kak Adit nggak akan berhenti dapat kekerasan dari mama," jawab Dini.
"Aku nggak mau ninggalin ibu sama ayah Din," ucap Andi pelan.
"Aku tau banyak hal yang akan berubah dari hidup kamu setelah ini, kamu harus menerimanya dan menjalaninya, cuma itu yang bisa kamu lakuin, setiap pilihan kamu punya konsekuensi, aku yakin kamu bisa memilihnya dengan bijak."
"Setelah tau semua ceritanya, aku nggak tau, aku harus bilang kalau aku beruntung atau Adit yang beruntung," ucap Andi.
"Ndi, dari kak Adit kecil dia udah hidup susah sama keluarganya dan menurutku kamu beruntung karena kamu saat itu ada di rumah ibu dan ayah kamu, ibu dan ayah yang selalu berusaha memberikan yang terbaik buat kamu dan menurutku juga mama Siska udah ngelakuin hal yang bener karena mama Siska nggak mau kamu ngerasain penderitaan yang kak Adit rasain sampe sekarang," ucap Dini.
Andi terdiam. Dalam hatinya ia membenarkan ucapan Dini. Jika saja saat itu Adit yang dibawa oleh ibu dan ayahnya, maka ia yang akan hidup bersama mamanya yang sering menyakitinya secara fisik.
"Din, kalau aku pergi dari ibu dan ayah, apa menurut kamu ibu dan ayah akan menyesal karena udah anggap aku anaknya selama ini?"
"Enggak Ndi, pasti enggak, aku yakin mereka pasti mengerti dan menghargai apapun keputusan kamu, kamu anak kebanggaan mereka Ndi, selamanya kamu tetep bisa jadi anak kebanggaan ayah dan ibu kamu."
Andi lalu mendongakkan kepalanya dan memejamkan matanya erat erat. Ia bingung, ia bimbang dan ragu. Pilihan yang ada dihadapannya akan membuat seseorang bersedih, akan membuat seseorang merasa tersakiti dan ia tidak ingin hal itu terjadi.
Dini lalu menarik tangan Andi dan menggenggamnya.
"Jangan dijadikan beban Ndi, mama sama kak Adit, ayah dan ibu kamu, mereka semua keluarga kamu," ucap Dini berusaha menenangkan sahabatnya itu.
**
Di tempat lain, Dimas sedang melakukan meeting dengan timnya di divisi pemasaran. Dimas yang baru saja bergabung dengan perusahaan itu kini sudah dipercaya untuk menjadi ketua tim.
Bagi Dimas, satu langkah telah ia lalui. Ia akan bekerja dengan keras agar ia bisa mendapatkan posisi yang diincarnya dengan cepat. Semakin cepat ia mendapatkan posisi itu, semakin cepat pula ia akan dipindahkan ke perusahaan utama sang papa.
Setelah selesai meeting, Dimas mendapat panggilan dari manajer pemasaran. Ia pun segera menemuinya.
"Selamat Dimas, darah pebisnis hebat memang sudah mengalir dalam diri kamu sejak kamu masih kecil," ucap sang manajer.
"Terima kasih pak," balas Dimas.
"Saya sudah lihat kinerja kamu selama beberapa bulan ini dan saya yakin kamu bisa lebih daripada ini, bulan depan akan ada meeting besar antar divisi, saya mau. kamu siapkan materinya dan buat saya terkesan dengan presentasi kamu!"
"Mohon maaf pak sebelumnya, apa yang akan saya dapat dari sesuatu yang bukan merupakan job desk saya itu?"
"Tentu saja bukan hal kecil, kamu tau meeting itu adalah meeting penting yang menunjukkan seberapa kompeten kita dalam hal pemasaran, jadi itu akan menjadi penilaian khusus dari Direktur nantinya, kamu paham maksud saya kan?"
"Apa Bapak memberikan kesempatan ini karena papa?"
"Tentu tidak, ada beberapa kandidat yang saya pilih untuk membuat materi meeting bulan depan, salah satunya kamu, saya akan menilai semuanya dengan terbuka saat meeting internal divisi nanti, siapapun yang materinya memuaskan akan saya pilih untuk mewakili meeting antar divisi dan mendapat hadiah yang layak untuk itu."
"Saya akan lakukan yang terbaik untuk meeting bulan depan pak," balas Dimas penuh keyakinan.
"Bagus, lakukan yang terbaik dan jangan kecewakan saya!"
"Baik pak."
"Silakan kembali ke tempat kamu!"
"Baik pak, saya permisi," ucap Dimas lalu segera keluar dari ruangan manajernya.
Dimas kembali ke meja kerjanya dengan penuh semangat. Ia harus bisa mempersiapkan materinya dengan sempurna.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, namun Dimas masih berada di tempat kerjanya. Beberapa map tampak bertumpuk di meja kerjanya.
Tiba tiba seseorang datang dan berdiri di sampingnya. Dari bau parfumnya, Dimas sudah bisa menduga siapa yang ada di sampingnya tanpa ia menoleh ke arah sampingnya.
"Tolong jangan ganggu aku, aku sibuk!" ucap Dimas sambil membaca beberapa berkas di tangannya.
Sebuah foto lalu diletakkan di atas keyboard Dimas, membuat Dimas segera membawa pandangannya pada seseorang di sampingnya.
"Maksud kamu apa?" tanya Dimas.
"Makan malam sama aku dan aku akan jamin kalau foto ini nggak akan tersebar di media!" jawab Chelsea.
Dimas menghembuskan napasnya kasar dan mengambil foto itu lalu merobeknya. Kedatangan Chelsea benar benar membuat semangat bekerjanya menghilang.
__ADS_1
Chelsea hanya terkekeh melihat Dimas yang tampak sangat kesal padanya.
"Aku tunggu kamu di rumahku, 30 menit lagi, jangan telat sayang!" ucap Chelsea lalu pergi begitu saja.