Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Memulai Kerja Sama


__ADS_3

Andi masih terdiam mendengar ucapan mamanya. Ia tidak mengerti kenapa sang mama tiba tiba mengatakan hal itu padanya. Sejauh yang ia tau, ia cukup pandai dalam hal menyembunyikan perasaannya pada Dini.


"Dini gadis yang baik Ndi, dia pasti nggak mau persahabatan kamu dan Dimas hancur, dia juga nggak mau hubungan baik kamu dan dia akan berubah, tapi sampe kapan kamu mau sembunyikan perasaan kamu?"


"Maksud mama apa? Andi sama Dini cuma sahabat kok," balas Andi.


"Kamu yakin?"


Andi menganggukkan kepalanya pelan.


"Dini udah milih Dimas ma dan Andi yakin kalau Dimas yang terbaik buat Dini, sebagai sahabat Andi cuma bisa dukung hubungan mereka," ucap Andi.


"Tapi kamu....."


"Andi ke kamar dulu ma, ada yang harus Andi selesaiin," ucap Andi yang berusaha menghindar dari obrolannya bersama mama Siska.


Maka Siska hanya menganggukkan kepalanya membiarkan Andi pergi.


"mungkin mama memang baru bertemu kamu Ndi, tapi kamu anak mama, mama tau apa yang ada di pikiran kamu, tapi mama mengerti kalau kamu masih belum bisa terbuka sama mama, mama nggak akan maksa, mama akan kasih kamu waktu," batin mama Siska dalam hati.


Di sisi lain, Andi yang berada di kamar sedang memikirkan cara untuk mendapatkan modal yang cukup untuk memperluas clothing arts nya.


Beberapa lembar proposal tampak berserakan di mejanya.


Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu, membuat Andi segera merapikan mejanya, namun Adit sudah masuk sebelum Andi memintanya untuk masuk.


"Lagi sibuk?" tanya Adit lalu memungut selembar kertas yang terjatuh di lantai.


"Enggak," jawab Andi sambil merebut kertas di tangan Adit.


Sebelum Andi merebutnya, Adit sudah membaca sekilas header dari kertas yang diambilnya di lantai.


"Lo butuh modal?" tanya Adit.


"Lo ada perlu apa ke sini?" tanya Andi menghindar dari pertanyaan Adit.


"Apa gue harus punya alasan buat masuk ke kamar lo?" balas Adit bertanya.


"Kalau lo cuma mau ganggu, mending lo keluar, gue lagi sibuk," ucap Andi.


"Mama tau soal masalah lo?" tanya Adit.


"Masalah apa? gue nggak punya masalah apa apa!"


"Oke, berarti mama belum tau, gue bisa kasih modal buat lo, gimanapun juga lo adik gue, lo bisa minta tolong sama gue kalau lo ada masalah!"


"Gue bisa usaha sendiri!"


"Udah gue duga, lo pasti nggak mau terima bantuan gue gitu aja!"


"Lo nggak akan ketawain gue?"


"Kenapa gue harus ketawain lo? gue tau lo lagi rintis usaha lo sendiri dan itu hal yang membanggakan, jadi apa yang harus gue ketawain?"


"Tapi gue nggak punya pengalaman apa apa tentang ini, selama ini Dimas yang handle semuanya, gue cuma bikin desain," ucap Andi.


"Lo bisa tanya apapun sama gue, gue akan bantuin lo!"


Andi diam beberapa saat. Ia sudah salah menduga tentang respon yang akan Adit berikan saat tau jika ia sedang kesusahan menjalankan usahanya.


"Kalau lo butuh modal, gue bisa kasih, berapapun, kalau lo ada pertanyaan, gue jawab, apapun itu!" ucap Adit.


"Sebenarnya gue butuh modal, tapi gue nggak mau nerima uang dari lo cuma cuma, gue...."


"Gue ngerti, siapin proposalnya sekarang, besok lo ke kantor sama Rudi!"


"Ke kantor lo?"


"Iya, lo mau minta bantuan gue secara profesional kan? bukan sebagai adik dan kakak?"


"Iya sih, tapi kayaknya proposal yang gue buat bermasalah," jawab Andi.


"Tunggu bentar!" ucap Adit lalu keluar dari kamar Andi.


Tak lama kemudian Adit kembali ke kamar Andi dengan beberapa buku di tangannya.


"Ini beberapa buku yang bisa lo baca, gue tau lo pinter, sayangnya lo nggak kuliah di bisnis kayak Dimas, jadi lo harus banyak banyak baca biar lebih ngerti dunia bisnis!" ucap Adit.


"Cuma ini? nggak ada yang lain?"


"Lo suka baca juga ya ternyata, kalau gitu ikut gue!"


Adit lalu mengajak Andi ke kamarnya. Di dalam kamar Adit ada sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, namun penuh dengan buku, terutama buku tentang bisnis.


"Gila, lo punya perpustakaan pribadi di kamar lo?" tanya Andi yang cukup takjub dengan apa yang ia lihat.


"Kalau lo juga suka baca, kita bisa bikin ruang baca yang lebih besar dengan buku buku yang lebih lengkap!"


"Itu salah satu hal yang gue pingin dari dulu, punya perpustakaan sendiri di rumah!"


"Lo bisa pake ruangan ini sepuas lo, gue jamin lo pasti betah di sini!" ucap Adit yang dibalas anggukan kepala Andi penuh semangat.


"Apa gue bisa naruh beberapa buku gue di sini?" tanya Andi.


"Bisa, sekalian susun aja biar gampang nyarinya!"


"Oke, thanks!"


Setelah melihat lihat ruang baca Adit, Andi lalu kembali ke kamarnya dan membaca buku yang baru saja Adit berikan padanya.


Malam itu, Andi tidak bisa tertidur. Ia membaca buku pemberian Adit sampai lewat tengah malam. Setelah ia lebih mengerti, ia pun kembali membuat proposal untuk ia serahkan pada Adit.


Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari saat Andi baru saja menyelesaikan proposal nya. Ia lalu merebahkan badannya di ranjang dan terlelap.

__ADS_1


**


Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, Andi, Adit dan mama Siska sedang sarapan bersama.


"Gue ke kantor jam berapa nanti?" tanya Andi pada Adit.


"Jam 11 aja, sebelum makan siang, gue ada meeting pagi soalnya," jawab Adit.


"Oke."


"Kamu mau ke kantor?" tanya mama Siska pada Andi.


"Iya ma, nggak papa kan?"


"Nggak papa dong, sama Rudi kan?"


"Iya ma," jawab Andi.


Setelah selesai sarapan, Aditpun berangkat ke kantor. Sedangkan Andi masuk ke kamarnya untuk melanjutkan desainnya yang sempat tertunda.


Tak lupa ia membaca buku yang Adit berikan padanya. Ia baru sadar jika membaca buku bisnis sangat menyenangkan baginya.


Ada sedikit rasa penyesalan dalam dirinya karena lebih memilih fakultas Seni daripada Bisnis.


Tak lama kemudian pintu kamar Andi di ketuk, mama Siska pun masuk.


"Lagi sibuk?" tanya mama Siska.


"Cuma baca baca ma," jawab Andi.


"Buku bisnis? kamu mau serius belajar bisnis?" tanya mama Siska.


"Iya ma, Andi baru tau kalau baca buku tentang bisnis ternyata menyenangkan," jawab Andi.


"Kalau kamu mau, kamu bisa lanjut S2 sayang, kamu bisa kuliah di tempat Adit selesaiin S2 nya, di Amerika," ucap mama Siska.


"Di Amerika?"


"Iya, atau kamu mau di negara lain? mama bisa urus semuanya!"


"kuliah di luar negri? aku bahkan nggak pernah membayangkannya, bisa lulus S1 aja aku udah bersyukur banget, apa lagi bisa S2 di luar negri," batin Andi dalam hati.


"Kapanpun kamu mau lanjutin S2 kamu, kasih tau mama, mama akan urus semuanya!"


"Dini? enggak, aku nggak bisa ninggalin Dini, udah Ndi, jangan rakus, semua yang kamu dapet ini udah lebih dari cukup," batin Andi dalam hati.


"Gimana sayang?" tanya mama Siska yang hanya melihat Andi melamun.


"Makasih ma, tapi Andi belajar bisnis bukan buat masuk ke perusahaan kok ma, Andi belajar bisnis biar Andi bisa bawa clothing arts Andi makin berkembang, jadi Andi akan belajar dari buku buku ini dan dari pengalaman yang akan Andi dapat nantinya," jawab Andi.


"Kamu nggak mau jauh dari Dini kan?" tanya mama Siska.


"Andi juga nggak mau jauh dari mama," jawab Andi dengan memeluk sang mama.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 siang, Andi sudah menghubungi Rudi untuk mengantarnya ke kantor Adit.


Setelah menyiapkan proposalnya, ia pun pergi ke kantor Adit bersama Rudi.


**


Di tempat lain, Dini dan Adit baru saja menyelesaikan meeting mereka di perusahaan lain.


"Kakak punya kejutan buat kamu," ucap Adit.


"Kejutan apa?" balas Dini bertanya.


"Lihat aja nanti di kantor," jawab Adit.


"Di kantor?"


"Iya, jadwal kakak setelah ini apa?"


"Nggak ada, free sampe nanti sore," jawab Dini.


"Nyampe kantor nanti kamu langsung ke ruang meeting ya, ada meeting dadakan!" ucap Adit.


"Materinya?"


"Udah kakak siapin, kamu tunggu di ruang meeting aja!"


"Oh, oke."


Sebelumnya Adit sudah memberi tahu Andi jika Andi harus menunggunya di ruang meeting.


Tak lama kemudian, Adit dan Dini sampai di perusahaan. Dini segera pergi ke ruang meeting, sedangkan Adit ke ruangannya.


"Saya ambil berkasnya dulu, kamu tunggu di ruang meeting!" ucap Adit pada Dini.


"Siap pak," balas Dini.


Saat Dini baru saja membuka pintu ruang meeting, ia begitu terkejut karena melihat Andi di sana.


"Andi!"


Seketika Andi yang sedang duduk segera membawa pandangannya pada seseorang yang memanggil namanya.


Andi segera berdiri dari duduknya saat Dini berjalan ke arahnya. Dini lalu memeluk Andi yang ada di hadapannya. Ia sudah lupa jika ia sedang berada di tempat kerja saat itu.


"Ehem!!"


Dini segera melepaskan pelukannya pada Andi saat mendengar seseorang berdehem di dekatnya.


"Maaf pak," ucap Dini sambil merapikan pakaiannya.

__ADS_1


"Duduk!" ucap Adit yang tampak serius. Ia sedang dalam mode bekerja saat itu.


Dini yang duduk di sebelah Adit tak bisa berhenti menahan senyumnya karena melihat Andi di hadapannya.


Sahabatnya itu tampak begitu tampan dengan setelan jas hitam yang dikenakannya.


"Din, kamu bisa serius?" tanya Adit yang menyadari sikap Dini.


"Maaf pak," balas Dini malu karena ketahuan oleh Adit.


"Kamu bawa proposal pengajuannya kan?" tanya Adit pada Andi.


"Bawa, pak..." jawab Andi ragu saat memanggil Adit dengan sebutan "pak".


Seketika Adit berusaha keras menahan tawanya mendengar jawaban Andi.


Dini yang menyadari hal itu hanya saling pandang dengan Andi.


Adit lalu membaca proposal yang Andi serahkan padanya.


Andi hanya bisa berharap jika Adit menerima proposalnya, mengingat bagiamana sikap Adit saat berada di kantor, membuat Andi cukup gugup.


"Kalau mbak Ana bilang, pak Adit itu orangnya perfeksionis dan pemikir, jadi pak Adit nggak mau ada kesalahan sedikitpun!"


Andi mengingat dengan jelas apa yang Rudi pernah ucapakan padanya. Hal itu membuat Andi semakin gugup.


Adit yang membaca proposal di hadapannya di buat terkesima oleh kemajuan Andi. Dalam waktu satu malam, Andi sudah banyak belajar hanya dari buku yang ia pinjamkan padanya.


Ia ingat malam itu ia membaca proposal Andi yang begitu banyak kekurangan, namun siang itu ia benar benar mengerti jika sang adik memiliki kecerdasan yang cukup luar biasa baginya.


Alhasil, tak ada alasan bagi Adit untuk menolak proposal Andi.


Andipun lega karena hasil kerja keras nya sampai lewat tengah malam tidak sia sia.


Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, waktunya untuk makan siang. Adit mengajak Andi dan Dini untuk makan siang bersama di kedai mie ayam langganan Adit.


Mereka berangkat dengan menggunakan mobil Andi bersama Rudi sebagai supirnya.


"Kak Adit sering ngajak aku makan di sini loh!" ucap Dini pada Andi saat mereka sudah sampai.


"Jadi kalian sering makan siang bareng?" tanya Andi.


Dini hanya tersenyum dengan memamerkan deretan giginya, menyadari jika ia salah bicara.


"Gue kan udah bilang, gue sekarang lebih sering sama Dini daripada lo sama Dimas hehe..." sahut Adit.


"Enggak juga kok, kak Adit jangan ngarang cerita dong!"


"Ada Rudi tuh saksinya, apa kakak harus panggil Rudi sekarang?" balas Adit.


"Enggak, nggak usah!"


"Kamu harus cerita sama aku Din kalau dia macem macem sama kamu, walaupun dia lebih tua dari aku, aku nggak akan ragu kasih pelajaran buat dia!" ucap Andi dengan menggenggam tangan Dini di atas meja.


"Tenang aja, aku bisa jaga diri kok," balas Dini dengan ikut menggenggam tangan Andi yang menggenggam tangan kiri Dini.


Melihat hal itu, Adit hanya tersenyum tipis. Ia yakin hubungan yang dimiliki Andi dan Dini lebih dari sekedar sahabat.


Entah Andi atau Dini yang menyangkal perasaan dalam hati mereka, namun bahasa tubuh mereka sangat menunjukkan jika hati mereka saling memiliki.


**


Setelah selesai makan siang, Andi mengantarkan Dini dan Adit untuk kembali ke kantor.


Saat dalam perjalanan, ponsel Dini berdering, sebuah panggilan dari Dimas.


"Halo sayang, lagi dimana?" tanya Dimas saat Dini sudah menerima panggilannya.


"Aku.... abis makan siang," jawab Dini.


"Aku mau minta bantuan kamu sayang," ucap Dimas.


"Bantuan apa?" tanya Dini.


"Aku udah kerjain materi meeting nya, kalau kamu lagi nggak sibuk, aku minta tolong kamu buat cek apa ada yang salah atau kurang dari materi yang aku buat!" jawab Dimas.


"Oh, oke oke, kamu kirim lewat email aja!"


"Siap, makasih sayang, love you!"


Dini lalu membawa pandangannya pada Andi yang ada di sampingnya, ia terlalu malu untuk mengucapakan "i love you too" karena ada Andi dan Adit dalam mobil itu.


"Sayang," panggil Dimas.


"Iya, halo, maaf aku....."


"Aku hubungin kamu lagi nanti, ada yang panggil aku, bye sayang!"


"Bye!"


"huufftt, untung aja," batin Dini lega.


Dini lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.


"Dimas?" tanya Andi.


"Iya," jawab Dini singkat.


Suasana canggung setelah itu membuat Adit semakin yakin tentang apa yang ia pikirkan tentang hubungan Andi dan Dini.


"Kalian ini kenapa nggak pacaran aja sih, betah banget temenan doang!" ucap Adit yang membuat Andi dan Dini lalu saling pandang.


Mereka sama sama diam, tidak menyangka akan mendapat tembakan pertanyaan seperti itu dari Adit.

__ADS_1


__ADS_2