
Waktu terus berjalan sesuai dengan apa yang sudah digariskan. Takdir yang tidak bisa ditebak kemana akhirnya akan tetap memberikan alurnya seperti yang sudah digambarkan.
Pagi itu adalah hari dimana Adit benar benar merasa gugup. Meski ia sudah sering bertemu dengan klien penting, namun pagi itu adalah hari paling menegangkan bagi Adit.
Detak dalam jantungnya seperti tak bisa diajak untuk berkompromi, raut wajahnyapun tidak bisa menyembunyikan ketegangan dalam dirinya.
"Santai, cuma beberapa detik doang!" ucap Andi dengan menyenggol lengan Adit.
Adit hanya membawa pandangannya dengan tajam ke arah Andi, membuat Andi semakin terkekeh melihat raut wajah sang kakak yang tampak tegang.
"Jangan ganggu kakak kamu!" ucap mama Siska dengan memukul pelan bahu Andi.
"Hehehe..... kak Adit keliatan tegang banget ma!" balas Andi yang tak bisa menahan tawanya.
"Lo akan ngerasain ini juga nanti, liat aja!" ucap Adit kesal.
"Udah udah, jangan dengerin adik kamu, minum dulu!" ucap mama Siska lalu memberikan Adit segelas air minum.
"Apa Adit keliatan tegang ma?" tanya Adit pada sang mama.
"Banget hahahaha......." sahut Andi menjawab lalu segera pergi sebelum sang mama memukulnya lagi.
"Tenangin diri kamu sayang, wajar kalau kamu tegang, tapi kamu harus bisa menguasai diri kamu biar nggak ada kesalahan," ucap mama Siska.
"Adit takut ma, ini lebih menegangkan daripada meeting sama klien besar!" ucap Adit.
"Mama kasih waktu 10 menit buat kamu tenangin diri kamu, setelah itu kamu harus turun kalau kamu nggak mau terlambat!" ucap mama Siska lalu keluar dari kamar Adit.
Adit hanya menganggukkan kepalanya lalu kembali meminum air di mejanya sampai habis tak bersisa.
Ia berusaha keras untuk bisa mengendalikan dirinya saat itu.
"tenang Adit, jangan buat kesalahan sedikitpun," batin Adit dalam hati.
Di sisi lain, sebuah mobil memasuki halaman rumah mama Siska. Dini dan Dimas turun dari mobil dan berjalan menghampiri mama Siska.
"Bumil cantik udah dateng," ucap mama Siska lalu memeluk Dini.
"Kak Adit mana ma?" tanya Dini.
"Dia masih di kamar buat tenangin diri," jawab mama Siska.
"Akhirnya kalian dateng, ikut gue Dim!" ucap Andi yang baru saja keluar.
"Kemana?" tanya Dimas.
"Kasih wejangan buat yang lagi gugup!" jawab Andi.
Dini dan mama Siska hanya saling pandang lalu duduk di kursi yang ada di teras rumah, sedangkan Andi dan Dimas masuk ke kamar Adit.
Andi sengaja mengajak Dimas untuk menemui Adit agar membantu Adit menenangkan dirinya.
Namun bukannya menenangkan Adit, mereka malah membuat Adit semakin gugup.
Mama Siska yang merasa Adit sudah terlalu lama di kamar akhirnya memutuskan untuk menemui Adit, meninggalkan Dini di teras seorang diri.
Tak lama setelah mama Siska masuk, Anita datang.
"Hai Din, kamu di sini?" sapa Anita lalu memeluk Dini.
"Iya, kamu nggak bawa mobil?" jawab Dini sekaligus bertanya.
"Enggak, aku bisa ikut mobil kamu nggak? kamu sama Dimas kan?"
"Iya, aku sama Dimas," jawab Dini.
"Nggak papa kan aku ikut kalian?" tanya Anita.
"Iya nggak papa," balas Dini.
"Kandungan kamu udah berapa bulan Din? kenapa belum keliatan besar perutnya?" tanya Anita.
"Baru masuk 3 bulan, Dokter bilang kandungan aku sehat kok dan nggak ada masalah," jawab Dini.
Setelah beberapa lama menunggu, Adit akhirnya keluar dari kamarnya. Andi dan Dimas tak berhenti mengganggu Adit yang membuat mama Siska berkali kali memukul bahu Andi karena kesal.
Merekapun segera meninggalkan rumah. Adit, Andi dan mama Siska berada dalam satu mobil dengan Pak Lukman sebagai supirnya, mereka akan menjemput ibu dan ayah Andi.
Sedangkan Dini, Dimas dan Anita berada di mobil lain, mereka akan menjemput ibu Dini.
Setelah semuanya siap, merekapun segera berangkat ke tempat tujuan.
Sesampainya di sana, Adit melangkahkan kakinya dengan raut wajah yang semakin gugup. Bukan karena ia tidak yakin dengan keputusannya, namun karena ia takut melakukan kesalahan.
"Ini cuma akan terjadi satu kali dalam hidup lo, jadi hilangin pikiran negatif lo dan nikmati setiap detik prosesnya," ucap Dimas sambil menepuk bahu Adit.
"Gue yakin lo bisa," ucap Andi yang ikut menepuk bahu Adit yang lain.
Adit lalu menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan. Ia menganggukkan kepalanya penuh keyakinan dan kepercayaan diri yang tinggi.
__ADS_1
Akhirnya Adit duduk di kursi sakral yang sudah menunggunya.Tak lama kemudian perempuan cantik datang dengan balutan pakaian adat yang membuatnya semakin mempesona di mata Adit.
Adit menatap setiap langkah Ana yang berjalan ke arahnya tanpa berkedip sampai akhirnya Ana duduk di sampingnya.
Setelah semuanya sudah siap, penghulu pun mulai menjabat tangan Adit, detik detik paling sakral dalam hidup Aditpun dimulai.
Dengan satu tarikan nafas Adit bisa mengucapkan janji sucinya dengan sempurna. Semuanya berdo'a untuk kebaikan dan kebahagiaan rumah tangga Adit dan Ana.
Tak banyak yang hadir di sana, karena Adit tidak ingin melibatkan banyak orang yang akan membuatnya semakin gugup.
Namun saat resepsi tiba, banyak tamu yang datang termasuk beberapa reporter yang diizinkan Adit untuk meliput acara resepsinya dengan persetujuan Ana pastinya.
Semua tampak larut dalam kebahagiaan. Pernikahan impian Ana telah berhasil Adit wujudkan. Setelah semua kepahitan yang ia rasakan, akhirnya ia bisa merasakan manis madu kehidupan.
Di sisi lain, Dini sedang duduk seorang diri ketika Dimas menemui rekan kerjanya. Dimas sengaja meminta Dini untuk duduk agar tidak kelelahan karena terlalu lama berdiri.
"Dimas dimana Din?" tanya Anita yang tiba tiba menghampiri Dini.
Dini hanya menunjuk ke arah Dimas berdiri tanpa mengucapkan apapun.
Tak lama kemudian Andi juga datang dan duduk di dekat Anita.
"Kamu makin cantik deh sekarang, apa karena bawaan ibu hamil ya!" ucap Anita pada Dini.
Dini hanya tersenyum mendengar ucapan Anita.
"Eh, aku ke toilet dulu ya!" ucap Anita lalu berdiri dari duduknya.
Kini hanya ada Andi dan Dini di sana.
"Anita bener, kamu makin cantik," ucap Andi pada Dini yang membuat Dini tersipu.
"Gimana kuliah kamu?" tanya Dini.
"Lancar, aku juga banyak belajar dari kak Adit buat bisa tetep kuliah sambil kelola clothing arts!" jawab Andi.
"Aku seneng kamu bisa jalanin semuanya dengan baik," ucap Dini.
Tiba tiba raut wajah Dini berubah sambil memegangi perutnya.
"Kamu kenapa Din?" tanya Andi khawatir dan segera mendekat ke arah Dini.
"Perutku kram Ndi," jawab Dini dengan masih memegang perutnya.
Andi lalu menggeser posisi duduknya dan memberikan Dini air minum.
"Kamu minum dulu, aku pernah denger kalau perut kram waktu hamil itu bisa jadi karena dehidrasi!" ucap Andi.
"Gimana? udah baikan?" tanya Andi dengan raut wajah yang masih begitu khawatir.
"Kamu khawatir?" balas Dini bertanya.
"Kenapa kamu tanyain itu? aku pasti khawatir kalau terjadi sesuatu sama kamu!"
Dini tersenyum senang mendengar jawaban Andi. Ia merasa sudah sangat lama tidak bercengkerama secara dekat dengan Andi.
"Aku kangen sama kamu," ucap Dini dengan menatap mata Andi.
"Aku juga, tapi aku seneng karena kamu bisa jalani hidup kamu dengan bahagia sama Dimas, apalagi sebentar lagi kamu akan jadi ibu, pernikahan kalian akan semakin sempurna!" ucap Andi.
Di sisi lain, Anita berdiri di antara toilet laki laki dan perempuan. Ia memegangi kepalanya dan menjatuhkan dirinya tepat di hadapan seorang laki laki yang baru saja keluar dari toilet.
"Anita, kamu kenapa Nit?" tanya Dimas yang segera menangkap tubuh Anita dengan sigap.
Anita mengernyitkan keningnya dan memeluk Dimas dengan erat agar dirinya tidak terjatuh ke lantai.
"Kepalaku.... pusing," jawab Anita.
Dimas lalu mengalungkan satu tangan Anita ke lehernya dan memegang pinggang Anita untuk membawanya duduk di bangku yang ada di depan toilet.
"Tunggu di sini, aku ambilin kamu minum!" ucap Dimas lalu segera mencarikan minum untuk Anita.
"Kamu minum dulu!" ucap Dimas sambil memberikan Anita minuman.
"Makasih Dimas," balas Anita sambil memijit keningnya.
"Aku anter pulang sekarang ya, Andi nggak mungkin ninggalin acara kakaknya sekarang!" ucap Dimas.
"Aku.... aku bisa pulang sendiri kok, aku bisa pesen taksi!" ucap Anita sambil mengeluarkan ponselnya dari tas kecilnya, namun ponselnya terjatuh.
Dimaspun mengambilnya dan memberikannya pada Anita.
"Aku akan antar kamu pulang, ayo!"
"Enggak Dimas, aku nggak mau Dini cemburu nanti!" tolak Anita.
"Andini pasti ngerti kok, keadaan kamu lagi nggak baik baik aja sekarang!" ucap Dimas.
Anita diam beberapa saat dengan masih memijit keningnya.
__ADS_1
"Kamu bisa jalan sendiri kan? apa mau aku panggilin Andi buat antar kamu keluar?" tanya Dimas.
"Aku bisa jalan sendiri kok," jawab Anita.
"Oke, ayo pulang sekarang!"
Anita menganggukan kepalanya lalu berjalan mengikuti Dimas dan menghampiri Dini.
"Sayang, kita pulang sekarang ya!" ucap Dimas pada Dini.
"Iya, aku juga udah capek," balas Dini.
"Kita anter Anita pulang dulu nggak papa kan?" tanya Dimas pada Dini.
"Iya, nggak papa," jawab Dini.
Setelah berpamitan, Dini, Dimas dan Anita pun meninggalkan gedung resepsi.
"Makasih Dimas, hati hati di jalan ya!" ucap Anita setelah mereka sampai di depan rumah Anita.
Dimas hanya menganggukkan kepalanya lalu melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke rumahnya.
"Kamu udah deket lagi sama Anita?" tanya Dini pada Dimas.
"Enggak, sampai kapanpun aku nggak akan lupa semua kejahatannya, tapi sekarang aku memilih buat berhenti benci sama dia," jawab Dimas.
"Kenapa?"
"Karena aku udah dapetin kamu sekarang, kamu udah jadi milikku dan aku udah jadi milik kamu, aku nggak mau buang energiku buat benci sama dia, walaupun aku belum bisa bersahabat kayak dulu lagi sama dia tapi karena dia teman kamu jadi aku juga akan memperlakukan dia seperti teman!" jawab Dimas menjelaskan.
Dini hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Dimas.
"Kamu nggak cemburu kan? apa kamu lebih suka kalau aku tetep jauhin dia?" tanya Dimas pada Dini.
"Enggak kok, kayak gini aja nggak papa, aku nggak mau kamu menyimpan kebencian kamu terlalu lama," jawab Dini.
"Kamu emang istri yang baik sayang," ucap Dimas dengan membelai rambut Dini.
Sesampainya mereka di rumah, mereka segera merebahkan badan di ranjang setelah membersihkan diri.
**
Di tempat lain, setelah acara resepsi selesai, Adit dan Ana berpamitan pada mama Siska untuk menempati rumah baru yang sudah Adit siapkan.
Dengan mata berkaca kaca, mama Siska melepaskan kepergian Adit dari rumah untuk memulai kehidupan rumah tangganya yang baru bersama perempuan yang dicintainya.
"Semoga rumah tangga kalian selalu diberkahi kebahagiaan sayang," ucap mama Siska dengan memeluk Adit dan Ana bergantian.
"Makasih ma," balas Adit dan Ana bersamaan.
Andi juga memeluk Adit dan Ana bergantian, ada rasa bahagia dan haru dalam hatinya melihat sang kakak yang pada akhirnya bisa mendapatkan perempuan yang dicintainya setelah begitu banyak rintangan yang mereka lalui.
Adit dan Anapun meninggalkan rumah mama Siska.
Adit mengendarai mobilnya memasuki kawasan perumahan mewah. Setelah sampai di depan sebuah rumah dengan pagar menjulang tinggi, Adit menghentikan mobilnya dan masuk ke dalam setelah gerbang terbuka.
Adit dan Ana keluar dari mobil disambut dengan orang orang yang sudah Ana kenal dengan baik.
Di sana ada Bu Desi, Lisa, Candra dan Agus. Adit sengaja mempekerjakan mereka di rumah barunya karena ia tau mereka sudah cukup dekat dengan Ana.
Mereka semua bergantian memberikan selamat dan do'a do'a baik pada Adit dan Ana.
Setelah meminta Bu Desi dan Lisa untuk mengambil barang barang di dalam mobil, Adit dan Anapun masuk ke kamar mereka.
Meski sebelumnya mereka sudah pernah tidur di atas satu ranjang, mereka masih merasa gugup saat kembali tidur di atas satu ranjang sebagai suami istri.
"Kamu mandi dulu, aku mau ambil beberapa buku di ruang baca!" ucap Adit pada Ana.
Adit memang sudah menyiapkan rumah itu sebelum mereka menikah, jadi saat mereka menempatinya, semua barang barang keperluannya sudah berada di sana.
Adit lalu kembali ke kamarnya untuk mandi setelah Ana selesai mandi.
Selama Adit mandi, Ana hanya diam di bawah selimut di atas ranjang. Sebagai seorang perempuan matang, ia tau apa yang seharusnya ia lakukan dengan Adit malam itu.
Namun ia masih ragu, bukan karena perasaannya pada Adit, tapi karena ia masih belum siap untuk memulai kembali apa yang pernah menyakitkannya dulu.
Ana lalu beranjak dan duduk di tepi ranjang dengan gelisah. Ia takut mengecewakan Adit yang sudah memberinya banyak kebahagiaan untuknya.
Tak lama kemudian Adit keluar dari kamar mandi dan duduk di samping Ana. Ia menatap ke dalam mata Ana dengan penuh kebahagiaan.
"Kamu tidur dulu, kamu pasti capek!" ucap Adit dengan membelai rambut Ana.
"Adit.... aku.... aku minta maaf, aku...."
CUUUUUPPPPP
Kecupan singkat dengan tiba tiba mendarat di bibir Ana, membuat Ana begitu terkejut. Sedangkan Adit hanya tersenyum tipis melihat keterkejutan Ana.
"Aku nggak akan maksa kamu An, aku akan nunggu kamu jadi tolong jangan membuatnya menjadi beban buat kamu!" ucap Adit.
__ADS_1
Ana lalu mendekat dan memeluk Adit, ia benar benar bersyukur karena takdir membawanya ke dalam pelukan laki laki yang mencintainya dengan tulus.