
Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang, Dini sudah berada di kantornya dan sedang sibuk dengan tumpukkan pekerjaan yang harus segera ia selesaikan.
Saat jam pulang kantor tiba, Dini segera mengemasi barang barangnya. Baru saja ia akan masuk ke ruangan Adit, Adit sudah berjalan keluar meninggalkan ruangannya dengan terburu buru.
Dinipun berlari kecil mengejar Adit.
"Kak Adit baik baik aja?" tanya Dini.
"Iya," jawab Adit singkat.
"Gimana keadaan mama kak?"
"Mama baik, kakak duluan ya Din!"
Dini menganggukkan kepalanya dengan banyak tanya dalam otaknya.
"akhir akhir ini kak Adit nggak pernah fokus kerja, nggak semangat dan selalu pulang cepet, kalau mama baik baik aja, terus apa yang bikin kak Adit kayak gitu?" batin Dini bertanya tanya.
Dini lalu berjalan ke arah jalan raya dan menunggu bus di halte.
Ia mengambil handsfree dari dalam tasnya dan mendengarkan lagu lagu favoritnya sambil menunggu bus datang.
Tiba tiba, matanya menangkap seorang laki laki berjaket kulit dan menggunakan masker berdiri tepat di sebrang halte tempat Dini duduk.
Dini lalu meraba raba ke dalam tasnya, mencari botol yang berisi cairan merica dan bubuk cabai yang selalu ia bawa.
Entah karena panik atau botol itu memang tidak ada, Dini tak bisa menemukan botol itu di dalam tasnya.
Dini masih mengawasi laki laki yang mencurigakan itu, ia tidak ingin lengah. Setelah beberapa lama mencari dan tak menemukan botol itu, Dinipun berdiri dari duduknya dan berniat untuk berlari kembali ke kantor.
Namun karena matanya hanya fokus pada laki laki di seberangnya ia tidak menyadari kehadiran seseorang di dekatnya.
Dini menabraknya dengan keras, membuatnya hampir saja terpental jika laki laki itu tidak segera menangkap tubuhnya.
"Kamu nggak papa?" tanya Andi sambil membantu Dini berdiri.
"Aaa.... aku.... aku nggak papa," jawab Dini terbata bata.
"Kamu kenapa sih? aku dari tadi panggil kamu loh, tapi kamu asik banget ngelamunnya!"
"Aku..... aku tadi......"
Andi lalu membawa pandangannya ke arah mata Dini memandang, ke sebrang jalan yang padat kendaraan dan tak ada seorangpun yang berdiri di sana.
"Ayo masuk dulu," ajak Andi sambil membukakan pintu untuk Dini.
"Minum dulu," ucap Andi sambil memberikan satu botol minuman pada Dini, Dinipun menerimanya dan meminumnya hingga habis tak bersisa.
"Haus banget ya?" tanya Andi yang hanya dibalas anggukan kepala Dini.
Andi lalu menyentuh pipi Dini dan membawa pandangan Dini ke arahnya. Ia menatap dalam dalam sahabatnya itu.
"Kamu kenapa Din? apa yang bikin kamu ketakutan kayak gini?" tanya Andi yang kini menyadari jika sahabatnya itu sedang ketakutan.
Dini hanya menggeleng dengan masih menatap kedua mata Andi.
Andi lalu mendekat dan menarik Dini ke dalam pelukannya. Andi tak berkata dan bertanya apapun pada Dini, ia hanya ingin menenangkan Dini saat itu.
Dini lalu melepaskan dirinya dari pelukan Andi.
"Kita pulang Ndi," ucap Dini.
"Oke," balas Andi.
Andi lalu menjalankan mobilnya ke arah rumah.
"Dimas minta aku jemput kamu karena dia bilang dia nggak bisa jemput kamu," ucap Andi.
"Makasih Ndi," balas Dini.
Tiba tiba Dini teringat sikap Adit yang berubah akhir akhir ini, ia pun memutuskan untuk mengajak Andi ke rumah mama Siska untuk memastikan jika keadaan mama Siska memang baik baik saja.
"Ndi, kamu buru buru pulang nggak?" tanya Dini.
"Enggak, kenapa?"
"Kamu mau nggak ikut aku ke rumah mama Siska?"
"Ada perlu apa kamu kesana?" balas Andi bertanya.
"Beberapa hari ini kak Adit itu aneh banget, dia kayak nggak fokus kerja, nggak semangat kerja gitu, biasanya dia selalu pulang telat tapi sekarang enggak, jam 4 tepat dia udah keluar ruangannya," jelas Andi.
"Terus?"
"Aku takut kalau kak Adit kayak gitu karena terjadi sesuatu sama mama Siska!"
"Kenapa kamu nggak tanya langsung sama Adit?"
"Udah, kak Adit bilang sih mama baik baik aja, tapi aku nggak percaya, pasti ada sesuatu yang terjadi yang bikin kak Adit kayak gitu!"
"Kamu yakin?"
"Aku nggak tau makanya aku mau cari tau, kita kesana sekarang ya!"
Andi menganggukkan kepalanya lalu berputar arah ke arah rumah mama Siska. Meski dalam hatinya yakin jika mama Siska baik baik saja, namun ia rasa tidak ada salahnya untuk memastikannya.
Sesampainya di rumah mama Siska, Dini dan Andi masuk ke halaman rumah setelah diizinkan oleh satpam.
"nggak ada mobilnya kak Adit," batin Dini dalam hati.
__ADS_1
Setelah memencet bel, pintu terbuka, mama Siska sendiri yang membuka pintu.
"Dini, Andi, ayo silakan masuk!" ucap mama Siska yang begitu terkejut dengan kedatangan Dini dan Andi.
"Ini kue buat mama, kak Adit pernah bilang kalau mama suka kue ini," ucap Dini sambil memberikan bingkisan kue yang baru saja ia beli beberapa waktu yang lalu.
"Waaahhh, makasih ya sayang, mama seneng kamu sama Andi mau main ke sini, apa kalian cari Adit?"
"Enggak kok ma, Dini sama Andi ke sini cuma mau ketemu mama, kita kangen," jawab Dini.
"Mama juga kangen banget sama kalian," balas mama Siska dengan pandangan ke arah Andi.
"Gimana keadaan mama sekarang? mama masih suka melukis?"
"Mama baik sayang, seperti yang kamu tau kegiatan mama sehari hari cuma melukis, mama nggak nyalahin Adit kalau dia selalu sibuk karena memang cuma dia yang bisa pertahanin perusahaan peninggalan papanya."
"Kak Adit kerja keras buat mama juga, mama pasti bangga punya kak Adit," balas Dini.
"Iya sayang, maaf mama jadi curhat sama kalian."
"Oh ya, kalian dateng kan di acara ulang tahun mama bulan depan?" lanjut mama Siska bertanya.
"Pasti ma, Dini pasti dateng sama Andi," jawab Dini.
"Mama seneng banget kalian mau dateng, mama jadi nggak sabar nunggu hari itu!" ucap mama Siska bersemangat.
Tampak kebahagiaan tergambar dengan jelas di wajah cantik wanita paruh baya itu.
Setelah mengobrol banyak hal, Andi dan Dinipun berpamitan pulang.
"Kenapa kamu diem aja sih dari tadi? nggak suka aku ajak kesini?" tanya Dini pada Andi ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Suka," jawab Andi dengan tersenyum tipis tanpa menoleh ke arah Dini.
Entah kenapa dalam hatinya lega karena melihat mama Siska tampak bahagia dan baik baik saja.
"Ternyata nggak cuma kak Adit yang aneh, kamu juga!" ucap Dini kesal.
Andi hanya terkekeh mendengar Dini menggerutu.
**
Di tempat lain, Adit sedang berada di super market untuk membeli susu ibu hamil, buah buahan, sayur dan makanan lain yang baik untuk dikonsumsi oleh ibu hamil.
Setelah membayar semua belanjaannya, ia segera membawa semua itu ke rumah Ana.
Tooookk Tooookk Tooookk
Adit mengetuk pintu rumah Ana sampai Ana membuka pintu rumahnya untuk Adit.
"Aku bawa banyak barang buat kamu, aku juga mau masak buat kamu, kamu tinggal duduk dan makan buahnya, aku akan siapin sup buat kamu!" ucap Adit yang langsung masuk begitu saja.
"Kamu lagi ngapain? tutup pintunya!" ucap Adit pada Ana.
Ana lalu menutup pintunya dan duduk di depan Adit yang sedang mengupas dan memotong apel.
"Kamu makan ini, aku masak bentar!" ucap Adit lalu masuk ke dapur.
Ana hanya diam membiarkan Adit melakukan apapun yang ingin ia lakukan saat itu.
"aku? kamu? sejak kapan?" batin Ana dalam hati.
Setelah beberapa lama menunggu, Ana menghampiri Adit di dapur.
"An, kayaknya aku emang nggak bisa masak deh, aku udah ikutin semua petunjuk dari yutub tapi rasanya aneh, kita pesen makanan aja ya!" ucap Adit yang ragu dengan rasa masakannya.
Ana hanya menggeleng lalu merebut sendok di tangan Adit dan mencicipi sup buatan Adit.
"Enak kok," ucap Ana.
"Serius? ini aneh An, nggak kayak yang direstoran!"
"Seenggaknya nggak beracun," balas Ana lalu membawa sup itu ke meja makan dan menyantapnya.
Adit hanya tersenyum kecil lalu menyiapkan susu ibu hamil untuk Ana.
"Abis itu minum ini," ucap Adit sambil menaruh susu di hadapan Ana.
Selama Ana menikmati makannya, Adit sibuk membereskan dapur Ana yang sudah berantakan karenanya.
Adit lalu menyimpan semua yang ia beli ke dalam kulkas dan duduk di samping Ana setelah semuanya kembali rapi.
"Dit, gue...."
"Kita ke dokter ya!" ajak Adit memotong ucapan Ana.
"Kenapa?"
"Buat periksa keadaan kamu, buat pastiin kalau kalian baik baik aja," jawab Adit.
"Kalian?"
"Iya, kamu sama bayi kamu," jawab Adit.
Ana hanya diam, air matanya tiba tiba kembali menggenang dikedua sudut matanya. Entah kenapa ia jadi lebih sering menangis akhir akhir ini.
Adit lalu mendekat dan memeluk Ana.
"Dave tau tentang ini?" tanya Adit yang hanya dibalas anggukan kepala Ana.
__ADS_1
"Jadi kapan kalian akan menikah?" lanjut Adit bertanya yang hanya dibalas gelengan kepala Ana.
"Maksud kamu?" tanya Adit dengan melepaskan Ana dari pelukannya.
Ana hanya diam, air matanya benar benar sudah jatuh saat itu.
"Dia pergi Dit, dia.... nggak mau tanggung jawab sama apa yang udah kita lakuin," ucap Ana dengan terisak.
Adit lalu kembali menarik Ana ke dalam pelukannya, kini ia tau apa yang membuat Ana benar benar terpuruk pada keadaannya.
Setelah Ana lebih tenang, Ana melepaskan dirinya dari pelukan Adit.
"Gue mau ke kamar mandi," ucap Ana.
"Hati hati," balas Adit.
Adit lalu mengambil ponselnya dan mengirimkan sebuah foto pada seseorang.
"Cari tau semua hal tentang laki laki itu, sedetail mungkin dan secepat mungkin!" ucap Adit ketika ia menghubungi seseorang itu.
"Baik pak."
Tak lama kemudian Ana kembali dan duduk di samping Adit.
"Everything will be okay An," ucap Adit sambil mengusap sisa air mata di pipi Ana.
"Kenapa lo lakuin ini Dit?" tanya Ana.
"Aku nggak tau, aku cuma nggak mau liat kamu terpuruk," jawab Adit.
"Lo kasian sama gue?" tanya Ana yang dibalas gelengan kepala Adit.
"Aku tau kamu perempuan yang tegar. kuat dan tangguh An, aku yakin kamu bisa lewati semua ini!"
Ana hanya menganggukkan kepalanya dengan raut wajah datar.
"Aku ambil buah lagi ya buat kamu!" ucap Adit yang balas anggukan kepala Ana.
Drrtttzzzz Drrtttzzzz Drrtttzzzz
Ponsel Adit yang berada di kursi bergetar, sebuah pesan masuk. Ana yang tak berniat untuk membaca pesan itu melihat ke arah layar ponsel Adit yang menyala.
Saya sudah menemukan informasi tentang Dave pak
"Dave? apa Adit nyari tau tentang Dave?" batin Ana bertanya tanya.
"Aku bikin jus alpukat buat kamu," ucap Adit sambil menaruh jus yang baru saja ia buat.
"Kenapa lo cari Dave?" tanya Ana dengan raut wajah emosi.
Adit tak segera menjawab, ia lalu mengambil ponselnya dan melihat pesan yang baru saja masuk.
"Kamu tanya kenapa aku cari cowok brengs*k itu? kenapa lagi kalau bukan buat hancurin dia, selama ada aku di sini, dia nggak akan bisa hidup tenang, aku pastiin kalau dia akan hancur setelah dia ninggalin kamu kayak gini!"
"Lo nggak punya hak buat ngelakuin itu Dit dan lo jangan ikut campur sama masalah gue!"
"Aku emang nggak berhak ikut campur masalah kamu, tapi aku berhak buat bikin dia menderita karena udah ninggalin kamu kayak gini!"
"Lo nggak tau apa apa Dit, jangan karena lo berkuasa lo bisa ngelakuin apapun yang lo mau, kalau lo ngelakuin itu lo nggak ada bedanya sama bokapnya Jenny!"
"Aku nggak peduli kamu mau anggap aku gimana, aku tau apa yang harus aku lakuin, aku tau aku harus....."
Adit menghentikan ucapannya ketika ia melihat Ana yang terduduk dengan memegangi perutnya dan merintih kesakitan.
"Kamu kenapa An? kita ke rumah sakit ya!"
"Pergi Dit, jangan peduliin gue lagi!" ucap Ana dengan mendorong tubuh Adit menjauh.
"Tapi An....."
"Aaahhh....."
Ana semakin merintih bersama darah yang kembali membasahi pakaiannya.
Tanpa banyak bertanya lagi, Adit segera membawa Ana ke rumah sakit.
**
Di sisi lain, di sebuah kafe dengan nuansa pink dan lampu lampu temaram itu membuat kesan romantis yang semakin memanjakan para pengunjungnya.
Ditambah lagi alunan musik merdu dari home band di sana membawa para pengunjung semakin terbuai dengan nada nada cinta yang mengalun indah menyusup ke dalam hati mereka.
Tampak para pengunjung adalah mereka yang berpasangan. Namun tidak pada gadis cantik yang duduk tepat di hadapan panggung itu. Dengan mini dress berwarna putih yang ia kenakan malam itu. membuat kecantikannya semakin terpancar meski dalam cahaya yang temaram.
Sayangnya, ia hanya duduk seorang diri dengan sesekali memainkan ponselnya karena bosan. Ia sudah beberapa kali menghubungi kekasihnya, namun tak pernah ada jawaban, hingga tiba tiba denting piano dari atas panggung berhenti.
Seorang laki laki tampan dengan hoodie putihnya mulai menggantikan posisi pianis di atas panggung.
Perlahan namun pasti, ia menyanyikan lagu romantis dari Shane Filan yang berjudul Beautiful in White. Seketika para pengunjungpun membawa pandangan mereka ke arah panggung, termasuk gadis yang duduk seorang diri itu.
Senyum manis tergambar dari sudut bibirnya, alunan nada dan lirik yang sangat menyentuh itu membuat kedua matanya berkaca kaca.
Jika saja bisa, ia ingin segera berlari dan memeluk laki laki yang berada di panggung itu.
Di akhir lagunya, laki laki itu berdiri dengan memegang mic ditangannya.
"As long as i live, i love you, i will have and hold you, Andini Ayunindya Zhafira," ucap Dimas yang disambut riuh tepuk tangan semua pengunjung yang ada di sana.
Dinipun tak dapat menahan dirinya lagi, ia berdiri dari duduknya lalu berlari menghampiri Dimas dan memeluknya dengan erat.
__ADS_1
Dunia seakan hanya milik mereka berdua saat itu.