
Jam makan siang belum berkahir. Dimas masih berada di pantry bersama Chelsea. Ia lalu mengambil kotak P3K dan mengoleskan obat berbentuk krim ke tangan Chelsea yang tampak memerah.
"Kamu mau aku anter ke rumah sakit?" tanya Dimas.
"Nggak perlu," jawab Chelsea dengan masih menatap Dimas.
"Kalau gitu aku balik kerja dulu!" ucap Dimas lalu mengembalikan kotak P3K, namun Chelsea menahannya.
"Tangan kamu juga harus diobati," ucap Chelsea.
"Nggak perlu," jawab Dimas lalu segera keluar dari pantry.
Chelsea hanya tersenyum tipis lalu mengambil obat di kotak P3K dan membawanya.
Chelsea lalu menghampiri Dimas di meja kerjanya dan menaruh obat itu di meja kerja Dimas.
"Jangan lupa diobati," ucap Chelsea dengan senyumnya yang menggoda, lalu pergi begitu saja.
Dimas hanya diam, tak mempedulikan kedatangan Chelsea sama sekali.
"Hati hati Dim, dia kayaknya beneran suka sama lo!" ucap Feri pada Dimas.
"Gue nggak peduli," balas Dimas tanpa menoleh ke arah Feri.
Dimas yang sibuk dengan pekerjaannya, tak menyadari jika jam sudah menunjukkan pukul 6 petang. Ia lalu menghubungi Dini.
"Halo sayang, udah pulang?"
"Udah, kamu udah pulang?" balas Dini bertanya.
"Belum, masih di kantor, masih banyak yang harus aku kerjain," jawab Dimas.
"Kamu juga harus jaga kesehatan Dimas, jangan terlalu maksain diri kamu!"
"Iya sayang, setelah semuanya beres aku pasti pulang!"
Tiba tiba, suara langkah berjalan mendekati Dimas. Ia tau suara itu berasal dari sepatu seorang perempuan.
"Aku lanjut dulu ya sayang, nanti aku hubungin kamu lagi!" ucap Dimas.
"Oke, bye!"
"Bye sayang, love you!"
Dimas lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Dimas!" panggil seseorang yang sudah Dimas terka kedatangannya.
"Ada apa lagi Chelsea? aku masih sibuk!"
"Anterin aku pulang, aku nggk bawa mobil tadi!" jawab Chelsea sambil berbisik di telinga Dimas.
"Kamu bisa pesen taksi kan? kamu juga bisa hubungin supir kamu!"
"Nggak bisa, HP ku lowbatt!"
"Tunggu bentar," ucap Dimas lalu pergi ke toilet.
Setelah beberapa lama di toilet, Dimaspun keluar.
"Taksi kamu udah nunggu di depan!" ucap Dimas pada Chelsea.
"Taksi? aku....."
"Aku udah pesen taksi buat kamu, buruan keluar, kasian supirnya kalau harus nunggu lama!"
"Apa sebegitu cintanya kamu sama tunangan kamu itu?"
Dimas tak menjawab, ia berusaha untuk tetap fokus pada pekerjaannya.
"Apa kamu yakin kalau dia juga akan setia sama kamu?" tanya Chelsea lagi, namun tak mendapat jawaban dari Dimas.
"Cewek itu nggak suka hubungan jarak jauh Dimas, dia pasti cari pelampiasan, dia....."
"Itu kamu, bukan tunanganku!" ucap Dimas lalu beranjak dari duduknya setelah membereskan pekerjaannya.
"Dimas, tunggu!" teriak Chelsea, namun diabaikan oleh Dimas.
Chelsea mengikuti Dimas sampai Dimas masuk ke dalam mobil. Namun ia tak membiarkan Chelsea masuk, ia pergi begitu saja meninggalkan Chelsea yang masih kesal dibuatnya.
Dimas segera pulang ke apartemen, melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena kehadiran Chelsea yang mengganggu konsentrasinya.
**
Di tempat lain, Dini sedang berada di rumahnya bersama Andi.
"Kenapa dia nggak besar besar sih Din? nggak pernah kamu kasih makan ya?" tanya Andi sambil memberi makan ikan di akuarium Dini.
"Emang ikan ****** bisa sebesar apa Ndi?"
"Sebesar cintaku padamu, hehehe....."
"Ada ada aja kamu, kamu udah dapet temen kerja baru?"
"Aku masih bingung Din, udah ada beberapa yang aku interview, ada beberapa yang aku suka juga, tapi masih bimbang mau pilih yang mana!"
"Yang penting dia niat kerja Ndi!"
"Iya Din, aku harus pilih yang bener biar nggak jadi masalah di home store!"
Andi lalu duduk di depan rumah Dini dengan diikuti Dini.
"Aku tau kamu bohong sama aku," ucap Andi.
"Bohong, soal apa?"
__ADS_1
"Aku tau kamu ke apartemen Dimas kemarin!"
"Dimas yang bilang?"
Andi menganggukkan kepalanya.
"Aku tau sebelum aku tanya sama Dimas, kamu jangan salahin dia, aku tanya dia cuma buat mastiin aja!" ucap Andi.
"Maaf Ndi," ucap Dini.
"Kenapa kamu bohong Din?" tanya Andi.
"Aku nggak mau kamu berpikir yang enggak enggak karena tau aku tidur di apartemen Dimas," jawab Dini.
"Aku ini sahabat kamu Din, aku percaya sama kamu, aku juga percaya sama Dimas, kalaupun ada sesuatu yang terjadi, aku nggak berhak buat ikut campur, asalkan kamu baik baik aja!"
"Makasih udah percaya sama aku dan Dimas, dia selalu jaga aku kok, dia tau batasannya!"
Andi hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Dini.
Dini lalu menyandarkan kepalanya di bahu Andi.
"Ndi, apa kamu pernah berpikir kenapa banyak orang yang ngira kita pacaran?" tanya Dini.
"Mereka yang berpikir kayak gitu cuma meraka yang baru kenal kita, mereka belum tau seberapa deket hubungan kita!" jawab Andi.
"Emang hubungan kita sedeket apa?" tanya Dini dengan menatap sahabatnya itu.
"Buat aku, kamu adalah aku," ucap Andi dengan membalas tatapan mata Dini.
"Maksudnya?" tanya Dini tak mengerti.
"Kamu adalah aku, kebahagiaan kamu itu kebahagiaan aku, begitu juga kesedihan kamu itu kesedihan aku juga, kamu itu dunia ku Din, selama kamu bahagia, dunia ku akan baik baik aja," ucap Andi yang terdengar begitu tulus.
"apa kamu nggak bisa rasain apa yang aku rasain Din? rasa indah ini bisa jadi rasa yang sangat menyakitkan buat aku, aku nggak pernah tau sampe kapan aku bisa bertahan, yang aku tau aku nggak akan pernah berhenti mencintai kamu," batin Andi dalam hati.
Dini hanya diam. Entah kenapa jantungnya berdebar. Sebuah rasa yang tidak ia mengerti hinggap dalam hatinya. Seperti embun pagi yang menyegarkan, rasa itu menebarkan kebahagiaan dalam hatinya.
Untuk sesaat ia terlena, hatinya terbawa terbang bersama rasa yang indah dan membahagiakan. Dalam hati kecilnya, ia merasa ucapan Andi seperti sebuah ungkapan perasaan cinta dari seorang laki laki pada gadis yang dicintainya.
"apa mereka bener? apa emang nggak ada ikatan persahabatan antara laki laki dan perempuan tanpa melibatkan perasaan yang lebih dalam? atau..... atau aku cuma salah mengartikan ucapan kamu? apa memang sebegitu dalamnya persahabatan kita? sadar Dini, dia sahabat kamu, ada Dimas yang sudah menjadi pilihan hati kamu!" batin Dini dalam hati.
Biiiiippp Biiiiippp Biiiiippp
Ponsel Dini tiba tiba berdering, sebuah panggilan dari Dimas, namun Dini mengabaikannya.
"Dimas?" tanya Andi yang dibalas anggukan kepala Dini.
"Angkat aja, aku mau pulang dulu!" ucap Andi lalu beranjak dari duduknya.
Dini lalu segera berdiri dan memeluk Andi dari belakang. Ia tidak berkata apapun, ia hanya memastikan apa yang ia rasakan saat itu.
"Kenapa Din?" tanya Andi.
"kita bertemu dan bersama sejak kecil, wajar jika perasaan aneh itu muncul, dalam hidupku selalu ada kamu, dalam semua waktu yang aku jalani selalu ada kamu, kita bersahabat dan selamanya akan tetap bersahabat," ucap Dini dalam hati.
"Kamu nggak papa?" tanya Andi.
"Enggak, hati hati ya, aku masuk dulu!" jawab Dini lalu segera masuk ke dalam rumahnya.
Andi hanya mengernyitkan dahinya melihat sikap Dini, lalu pulang meninggalkan rumah Dini.
Di dalam kamar, Dini segera menghubungi Dimas dan berbincang melalui panggilan video.
"Dari mana sayang?" tanya Dimas.
"Dari luar sama Andi, HP nya di dalem," jawab Dini.
"Aku iri deh sama Andi, dia selalu bisa nemenin kamu!" ucap Dimas sambil mengeluarkan beberapa map dari dalam tasnya.
"Itu tangan kamu kenapa? luka?" tanya Dini yang melihat tangan Dimas tampak merah.
"Oh ini, ini.... kena air panas di kantor tadi," jawab Dimas.
"Kamu pasti nggak hati hati, udah diobati?"
"Udah kok," jawab Dimas berbohong.
"Jaga diri kamu baik baik Dimas, aku nggak ada di sana buat obatin luka kamu, jangan sampe ada cewek lain yang obatin luka kamu!"
"Kenapa?"
"Aku akan iri sama dia, karena dia bisa sentuh tangan kamu!"
Dimas hanya tersenyum tipis. Mereka melakukan panggilan video itu sampai larut malam, sampai Dini tertidur sebelum mereka mengakhiri panggilan video itu.
**
Hari berganti. Pekerjaan kantor sudah siap untuk segera di sentuh.
Seseorang dengan pakaian rapi masuk ke dalam ruangan Adit. Mereka tampak berbincang sebelum seseorang itu memberikan sebuah map transparan pada Adit. Tak lama kemudian seseorang itu keluar dari ruangan Adit.
"siapa? nggak pernah ketemu sebelumnya," batin Dini penasaran.
Dini lalu melanjutkan pekerjaannya dan memberikannya pada Adit setelah siap.
"Permisi pak, ini file yang Pak Adit minta!" ucap Dini sambil menaruh file di meja Adit.
Tanpa sengaja Dini melihat sebuah map yang berada di meja Adit. Karena map itu transaparan, Dini bisa membaca sekilas isi dari map itu.
"Andi Putra Prayoga?" batin Dini dalam hati.
Adit yang menyadari kelalaiannya itu segera menutup map itu dengan map lain, membuat Dini tersadar dari lamunannya.
"Kak Adit......"
__ADS_1
"Silakan keluar dan lanjutkan pekerjaan kamu!" ucap Adit tegas.
"Baik pak, saya permisi," balas Dini lalu keluar dari ruangan Adit.
Di dalam ruangannya, Dini tidak bisa berhenti memikirkan apa yang baru saja dilihatnya.
"ada apa sebenarnya? apa mereka saling kenal? apa jangan jangan Andi itu adiknya kak Adit? enggak, nggak mungkin, aku kenal dia dari kecil, nggak mungkin dia anaknya mama Siska kan? tapi......"
Kriiiiing Kriiiiing
Telepon di hadapan Dini berdering, membuat Dini membuyarkan lamunannya.
"Cepat selesaikan pekerjaan kamu, jangan buang waktu untuk memikirkan hal hal di luar pekerjaan!"
"Baik pak," jawab Dini.
"sensitif banget bos satu itu!" batin Dini dalam hati.
Dini lalu melanjutkan pekerjaannya sampai jam makan siang tiba.
Sebelum Adit keluar, Dini segera berlari ke ruangan Adit.
"Dini butuh penjelasan!" ucap Dini pada Adit.
"Soal apa?"
"Kak Adit jangan pura pura nggak tau deh, Dini tadi liat map yang ada namanya Andi di sini!"
"Kamu salah lihat!"
"Enggak kak, Dini yakin kalau di map itu ada namanya Andi!"
"Apa kamu akan cerita sama Andi kalau kakak kasih tau kamu yang sebenarnya?"
"Tergantung situasinya, kalau itu membahayakan Andi, Dini akan cerita sama dia!"
"Ini rahasia, kamu nggak perlu tau!"
"Andi sahabat Dini kak, Dini nggak mau kak Adit rencanain sesuatu yang buruk buat Andi!"
"Kamu pikir kakak orang jahat?"
Dini menggeleng.
"Lalu apa yang kamu takutkan?"
"Dini tau hubungan kak Adit sama Andi nggak baik, Dini cuma takut kalau kak Adit...."
"Kamu terlalu banyak liat drama di tv," ucap Adit memotong ucapan Dini.
"Kalau kamu bisa jaga rahasia ini, kakak akan ceritain semuanya sama kamu, sekarang kakak mau pergi dulu!" ucap Adit lalu meninggalkan ruangannya.
"apa yang sebenarnya kak Adit rencanain? apa aku harus bilang sama Andi? atau aku tunggu penjelasan kak Adit dulu? tapi gimana kalau terjadi sesuatu sama Andi? enggak, kak Adit bukan orang jahat, aku harus nunggu penjelasan kak Adit dulu," batin Dini dalam hati.
**
Di tempat lain, Adit sedang menemui seseorang di sebuah kafe.
"Kamu pastikan kebenaran data data ini, saya nggak akan ceritain hal ini sama mama kalau semua ini belum terbukti kebenarannya!" ucap Adit pada seseorang di hadapannya.
"Apa pak Adit sudah membaca semuanya?"
"Sudah, tapi saya tetap ingin kepastian kebenarannya, jangan sampai mama kecewa karena kesalahan data yang kamu berikan!"
"Baik pak, saya akan pastikan lagi kebenaran data data ini, tapi pak, saya ada saran barangkali pak Adit mau mendengarkan!"
"Saran apa?"
"Bagaimana kalau kita tes DNA Andi dan tante Siska secara diam diam, bukannya hasilnya akan valid jika sudah ada hasil tes DNA?"
Adit diam beberapa saat sebelum ia menjawab. Apa yang dikatakan orang suruhannya memang benar, hasil tes DNA tidak akan diragukan lagi kebenarannya.
Namun dalam hatinya, ia ragu. Apakah ia siap menerima kehadiran seseorang yang telah lama hilang untuk datang lagi dalam hidupnya? apakah semuanya akan menjadi lebih baik jika jawaban itu sudah ia temukan?
"Bagaimana Pak Adit? saya bisa ambilkan sampel Andi untuk tes DNA nya!"
"Saya akan pikirkan saran kamu, tapi kamu selesaikan dulu kepastian data data itu!"
"Baik pak Adit, kalau begitu saya permisi!" ucap seseorang itu yang dibalas anggukan kepala Adit.
Saat seseorang itu keluar dari kafe, tanpa sengaja ia menabrak Andi dan menjatuhkan map yang bertuliskan nama Andi di sana.
"Maaf pak, maaf," ucap Andi sambil membantu membereskan kertas kertas yang tercecer.
Sekilas Andi melihat namanya tertulis di salah satu kertas itu, namun seseorang itu segera merebutnya dari tangan Andi.
"Maaf mas," ucap seseorang itu lalu segera pergi.
"apa aku tadi salah lihat? iya, mungkin cuma salah liat, lagian nama Andi kan nggak cuma aku," batin Andi dalam hati.
Adit yang melihat kejadian itu segera pergi ke toilet untuk menghindari Andi, ia lalu segera menghubungi orang suruhannya itu.
"Halo, apa Andi tadi liat isi file itu?" tanya Adit cemas.
"Sepertinya tidak pak," jawab seseorang itu.
"Kamu jangan ceroboh, kamu harus lebih berhati hati!"
"Iya pak, saya minta maaf, saya akan lebih berhati hati lagi."
"Jangan sampe Andi...."
Adit menghentikan ucapannya saat ia melihat Andi masuk ke toilet. Ia panik, jantungnya berdegup kencang.
Sedangkan Andi masih terdiam di tempatnya. Ia mendengar dengan jelas saat Adit menyebut namanya.
__ADS_1
Untuk sesaat waktu terasa berhenti. Detik jam seolah tak terdengar lagi. Dua hati itu sedang merasakan detakan asing dalam diri mereka.