Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Kemarahan Mama


__ADS_3

Waktu yang sudah berlalu tidak dapat diputar kembali. Andi sudah melakukan kesalahan yang tentu saja mengecewakan sang mama.


Mama Siska merasa telah gagal mendidik Andi dengan baik. Emosinya memuncak saat mendengar penjelasan dari Andi, membuatnya tidak bisa mengendalikan emosi yang sudah memenuhi dirinya.


Saat vas bunga sudah melayang dan siap untuk dilemparkan pada Andi, seseorang tiba tiba datang dan menahan tangan mama Siska.


"Stop ma, tahan emosi mama," ucap Adit dengan memegang tangan sang mama dan mengambil vas bunga di tangan mamanya.


"Dia udah keterlaluan Adit, dia udah mempermalukan keluarga kita," ucap mama Siska dengan emosi yang masih menggebu.


Seketika Andi menjatuhkan dirinya dan memegang kaki sang mama untuk meminta maaf. Ia tau kesalahan yang sudah dilakukannya sangat fatal dan ia siap menerima semua kemarahan sang mama padanya.


"Andi minta maaf ma, maafin Andi," ucap Andi memohon dengan bersimpuh di kaki sang mama.


"Pergi kamu dari rumah ini! jangan pernah menginjakkan kaki kamu lagi di sini!" ucap mama Siska lalu menarik kakinya dengan kasar kemudian pergi meninggalkan kamar Andi.


Adit segera mengejar sang mama untuk menenangkan mamanya meski ia sendiri tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.


Sedangkan Ana yang ada disana hanya bisa diam, tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Namun mendengar suara tangisan bayi, membuat Ana segera membawa langkahnya ke kamar Andi.


"Ada apa Ndi? kenapa mama marah sama kamu?" tanya Ana pada Andi.


Andi hanya diam dengan membawa pandangannya pada bayi mungil yang sedang menangis di ranjangnya.


Ana lalu menghampiri bayi itu dan menimangnya.


"Halo cantik, namanya siapa?" tanya Ana dengan suara lembutnya.


Ana masih menimang baby Alana yang tidak berhenti menangis bahkan setelah diberi botol susunya.


Andi lalu berdiri dan mengambil baby Alana dari gendongan Ana, ia menimangnya, berusaha untuk menenangkannya.


"Namaku Alana tante," ucap Andi dengan tersenyum tipis pada baby Alana.


"Nama yang cantik," balas Ana.


Setelah beberapa lama menangis, baby Alana akhirnya tertidur. Andipun kembali menaruhnya di ranjangnya.


"Ada apa Ndi? kamu bisa cerita sama mbak," tanya mbak Ana pada Andi.


"Andi udah ngelakuin kesalahan besar mbak, Andi udah kecewain mama karena kesalahan Andi ini," jawab Andi.


"Apa dia beneran anak kamu?" tanya Ana yang hanya dibalas anggukan kepala Andi.


"Siapa ibunya?" lanjut Ana bertanya.


"Anita," jawab Andi singkat.


"Lalu sekarang dia dimana? kenapa kamu cuma kesini sama Alana?"


Andi menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Ana.


"Semuanya terlalu rumit buat Andi jelasin mbak, tapi yang pasti Andi yang akan jaga dan rawat dia sendiri, kalau emang Andi harus pergi dari rumah ini, Andi akan pergi," jawab Andi.


"Jangan pergi dulu Ndi, mama pasti nggak bermaksud kayak gitu, mama cuma lagi emosi aja!" ucap Ana mencoba menahan Andi.


"Mama udah kecewa sama Andi mbak, Andi juga udah siap dengan semua kemungkinan terburuk ini," ucap Andi.


"Kamu harus jelasin semuanya sama mama Ndi, kasih tau mama apa yang sebenarnya terjadi, bisa jadi mama marah karena kamu nggak cerita sama mama sebelumnya," ucap Ana.


Andi hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Ana.


Di sisi lain, Adit sedang berada di kamar sang mama berusaha untuk menenangkan mamanya.


"Dengerin penjelasan Andi dulu ma, jangan sampai mama menyesal karena udah minta Andi pergi dari rumah!" ucap Adit pada sang mama.


"Dia udah keterlaluan Dit, dia udah mencoreng nama baik keluarga kita yang sudah susah payah papa kamu bangun!"


"Adit kenal Andi ma, Andi nggak mungkin ngelakuin hal itu dengan sengaja, kasih waktu Andi buat jelasin semuanya," ucap Adit berusaha membujuk sang mama.


"Apa lagi yang harus dia jelasin Dit, dia udah bilang semuanya sama mama, apa yang dia lakukan itu salah, kesalahannya udah nggak bisa ditolerir lagi, kamu jangan belain dia terus!"


"Adit juga akan marah kalau emang dia ngelakuin hal yang salah ma, tapi Adit belum tau seperti apa cerita sebenarnya, jadi Adit mohon sama mama kasih kesempatan Andi buat jelasin semuanya, setelah itu terserah mama, apa mama mau minta dia pergi dari rumah ini atau enggak," ucap Adit berusaha memberikan pengertian pada sang mama.


Mama Siska hanya diam. Hatinya terasa sakit, ia merasa gagal menjadi seorang ibu.


"Hati mama sakit Dit, Andi udah mengecewakan mama," ucap mama Siska dengan air mata yang membasahi pipinya.


Adit lalu membawa sang mama ke dalam dekapannya.

__ADS_1


"Adit mengerti ma, sekarang tenangin diri mama dulu, setelah ini kita denger penjelasan Andi tentang semua yang udah dia sembunyikan dari kita," ucap Adit yang hanya dibalas anggukan kepala sang mama.


Adit lalu keluar dari kamar sang mama, ia membiarkan sang mama untuk menenangkan diri terlebih dahulu.


Sedangkan Adit membawa langkahnya ke lantai dua untuk menghampiri Andi.


Dilihatnya Andi yang sedang duduk bersama Ana dan seorang wanita paruh baya di dekat seorang bayi mungil yang cantik.


Jika boleh jujur, Adit juga kecewa pada Andi yang menyembunyikan hal besar itu darinya.


"Lo udah kecewain kita semua Ndi," ucap Adit pada Andi.


"Gue minta maaf kak," balas Andi yang merasa bersalah karena sudah mengecewakan orang orang disekitarnya.


"Gue harap lo bisa jelasin semuanya tanpa ada yang lo tutupi, kalau mama tetep minta lo pergi, gue nggak bisa apa apa lagi!"


Andi hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Adit.


"Mbak harap kamu bisa tetap disini Ndi," ucap Ana pada Andi.


"Makasih mbak," balas Andi.


Waktu berlalu, setelah dirasa sang mama sudah lebih tenang, Adit meminta Andi untuk menemui sang mama dan menjelaskan semuanya yang sudah Andi sembunyikan selama ini.


"Mbak yakin mama akan maafin kamu," ucap Ana yang hanya dibalas anggukan kepala Andi.


Sebelum meninggalkan kamar Andi, Ana menahan tangan Adit.


"Tolong bujuk mama Dit, aku yakin mama cuma emosi sesaat," ucap Ana pada Adit.


"Kita nggak tau apa yang sebenarnya Andi sembunyiin dari kita An, apapun itu kalau dia emang salah, aku nggak bisa belain dia lagi," balas Adit.


"Kamu pasti mengenal Andi dengan baik Dit, aku yakin ada alasan yang tepat kenapa semua ini terjadi," ucap Ana.


"Iya aku tau, aku akan coba bicarain baik baik sama mama."


"Tolong kamu bujuk mama biar nggak minta Andi pergi Dit, mama udah pernah kehilangan Andi, jangan sampe mama kehilangan Andi untuk kedua kalinya, bagiamanapun juga Alana cucu pertama mama," ucap Ana memohon pada Adit.


Meski Ana hanya berstatus sebagai menantu di keluarga itu, tapi ia tidak ingin keluarga itu hancur karena satu kesalahan besar yang Andi lakukan.


Ia berharap mama Siska dan Adit bisa memahami dan menerima apa yang sudah terjadi.


"Mama pasti nggak mau ketemu gue," ucap Andi pada Adit.


Adit hanya diam lalu membuka pintu kamar mamanya, menarik tangan Andi untuk masuk ke dalam kamar sang mama.


Dilihatnya sang mama sedang duduk di tepi ranjang dengan menatap nanar ke arah jendela kamar yang terbuka.


Adit lalu duduk di kursi yang ada di sana, sedangkan Andi duduk bersimpuh di kaki sang mama.


"Andi minta maaf ma, Andi sama sekali nggak bermaksud buat mempermalukan keluarga kita," ucap Andi mengawali penjelasannya.


Mama Siska hanya diam dengan masih menatap taman bunga dari jendela kamarnya.


Andi lalu menjelaskan tentang apa yang terjadi malam itu, tapi Andi tidak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi karena tidak ingin mama dan kakaknya mengetahui permasalahan yang sebenarnya terlalu jauh.


Andi menjelaskan jika saat opening cabang clothing arts nya, Andi mabuk dan tanpa sadar melakukan hal yang diluar batas pada Anita.


Diluar kesadarannya, ia memaksa Anita untuk melakukan hal itu sampai mengakibatkan Anita hamil.


Andi berjanji akan bertanggung jawab atas apa yang sudah ia lakukan, tetapi Anita menolaknya. Andi juga bercerita jika Anita sempat ingin menggugurkan bayinya, namun Andi mencegahnya.


Pada akhirnya mereka membuat kesepakatan, Anita akan melahirkan bayi itu tapi ia tidak ingin berurusan dengan bayi itu setelahnya, ia juga tidak ingin ada pernikahan diantara mereka.


Andi terpaksa menyetujui kesepakatan itu agar Anita tetap mempertahankan bayi dalam kandungannya.


"Andi tau apa yang Andi lakukan adalah kesalahan besar, tapi Andi nggak mau melakukan kesalahan kedua kalinya dengan membiarkan Anita menggugurkan bayinya, itu kenapa Andi menyetujui kesepakatan itu," ucap Andi di akhir penjelasannya.


Mama Siska masih diam dengan mata berkaca-kaca. Meski tidak mengucapkan apapun, mama Siska mendengar dengan jelas setiap detail cerita yang Andi jelaskan.


"Kamu menyakiti hati mama," ucap mama Siska dengan suara bergetar.


"Andi minta maaf ma, Andi minta maaf," ucap Andi dengan memohon dan menggenggam kedua tangan mamanya, namun mama Siska melepaskan tangan Andi darinya.


"Andi akan pergi kalau memang itu permintaan mama, Andi sangat berterima kasih dan bersyukur karena bisa menjadi bagian dari keluarga ini, Andi sayang sama mama, Andi minta maaf," ucap Andi lalu beranjak dan melangkah pergi meninggalkan mama Siska.


Sedangkan Adit segera menghampiri sang mama, berusaha membujuk sang mama untuk menahan Andi agar tidak pergi.


"Ma, apa yang Andi lakukan sekarang adalah bentuk tanggung jawabnya sebagai laki laki, dia...."

__ADS_1


"Pergi!" ucap mama Siska singkat.


"Ma......"


"Pergi Dit, mama butuh waktu sendiri," ucap mama Siska.


Adit menghela napasnya lalu keluar dari kamar sang mama.


Di kamar Andi, Andi mengambil koper dan memasukkan beberapa barang yang dianggapnya penting.


"Kita harus pergi dari sini mbak Asih," ucap Andi yang hanya dibalas anggukan kepala mbak Asih.


"Kamu udah jelasin sama mama Ndi?" tanya Ana pada Andi.


"Udah mbak, Andi udah menyakiti hati mama, Andi harus pergi dari rumah ini," jawab Andi.


"Mbak Asih tolong jaga Alana dulu, saya mau ambil beberapa buku di ruang baca," ucap Andi pada mbak Asih.


"Baik mas," jawab mbak Asih.


Andi lalu keluar dari kamarnya, bersamaan dengan itu Adit masuk ke kamar Andi.


"Lo mau kemana?" tanya Adit dengan menahan tangan Andi.


"Ambil buku," jawab Andi singkat lalu segera berjalan menuruni tangga.


"Adit, gimana?" tanya Ana pada Adit.


Adit hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Apa kamu akan biarin Andi pergi dari sini?" tanya Ana pada Adit.


"Aku udah coba ngomong sama mama An, tapi mama emang udah bener bener kecewa sama Andi," jawab Adit.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Andi nggak mungkin ngelakuin hal buruk itu dengan sengaja kan?"


Adit lalu menjelaskan semuanya pada Ana, mulai dari Andi yang mabuk dan memaksa Anita sampai kesepakatan yang Andi buat dengan Anita.


"Jadi mereka nggak akan menikah?" tanya Ana.


"Enggak, Anita nggak mau menikah sama Andi, dia juga nggak mau tau lagi tentang anaknya," jawab Adit.


Ana lalu membawa pandangannya ke arah bayi mungil yang sedang bergerak gerak di ranjang Andi.


"Kamu liat dia Dit, apa yang dilakukan Andi memang salah, tapi dia nggak tau apa apa, dia bahkan nggak bisa memilih untuk dilahirkan oleh siapa dan dalam keadaan seperti apa," ucap Ana pada Adit.


Ana lalu mengambil baby Alana dan menggendongnya.


"Saya bawa sebentar ya mbak, kalau Andi tanya, bilang aja saya bawa dia ke kamar mama," ucap Ana pada mbak Asih.


"Baik non," balas mbak Asih.


"Kamu mau ngapain An?" tanya Adit pada Ana yang menggendong baby Alana turun ke lantai satu.


"Setidaknya mama harus liat cucu pertamanya Dit," jawab Ana.


Ana berdiri di depan kamar mama Siska.


"Ma, Ana masuk sebentar ya!" ucap Ana karena ia tidak bisa mengetuk pintunya.


Adit lalu membantu Ana untuk membuka pintu, Anapun masuk dan menghampiri mama Siska.


Tanpa ragu, ia duduk di samping mama Siska.


"Halo Oma, namaku Alana," ucap Ana dengan membuat suara lucu.


"Apa yang kamu lakukan An?" tanya mama Siska dengan menatap sekilas ke arah bayi mungil dalam gendongan Ana.


"Ana mungkin nggak tau seberapa besar rasa kecewa mama karena Andi, tapi Ana yakin Andi nggak akan melakukan hal yang mengecewakan mama dengan sengaja," ucap Ana pada mama Siska.


"Berhenti belain dia, dia udah menyakiti hati mama," balas mama Siska.


"Ana minta maaf kalau Ana ikut campur masalah Andi dan mama, sedikit banyak Ana tau bagaimana usaha Adit buat temuin adiknya dari dulu, Ana juga tau gimana mama menyesal karena pernah kehilangan Andi, Ana cuma berharap mama nggak akan menyesal untuk kedua kalinya karena meminta Andi buat pergi," ucap Ana yang membuat mama Siska membawa pandangannya pada Ana.


"Maaf kalau Ana lancang ma, ini adalah cucu pertama mama, walaupun kehadirannya tidak diharapkan oleh semua orang, dia tetap bayi kecil yang nggak berdosa ma, dia nggak tau apa apa, jadi rasanya akan sangat tidak adil kalau dia mendapat kebencian dari mama," ucap Ana.


Mama Siska hanya diam dengan menatap bayi mungil dalam gendongan Ana.


"Kalaupun mama tetap meminta Andi pergi, mama harus liat cucu mama dulu, dia sangat cantik ma, hidung, mata dan bibirnya mirip banget sama Andi," ucap Ana dengan harapan mama Siska akan merubah keputusannya.

__ADS_1


__ADS_2