Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Tanggal yang Ditentukan


__ADS_3

Waktu berlalu, tak terasa hari telah berganti menjadi minggu. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore saat Andi masih berada di meja kerjanya.


Andi menatap desain gaun pengantin yang ada di hadapannya. Ia tersenyum tipis saat mengingat Dimas yang memintanya untuk memberikan desain gaun itu pada dini.


Bukan karena tak ingin membantu Dimas tapi Andi merasa gaun itu memiliki nilai yang jauh lebih berharga dari yang Dimas tahu.


Tooookkk tooookkk tooookkk


Pintu ruangan Andi diketuk oleh seseorang dari luar.


"Masuk," ucap Andi mempersilakan seseorang yang berada di luar ruangan nya untuk masuk.


Andi masih menatap gaun yang ada di hadapannya karena ia pikir yang akan masuk ke ruangannya adalah Rama.


"Serius banget, liatin apa sih?" tanya Dini lalu duduk di hadapan Andi.


Seketika Andi membawa pandangannya pada Dini dan tersenyum senang saat melihat Dini datang.


"Apa aku ganggu kamu?" tanya Dini ada Andi.


"Enggak, aku malah seneng kamu kesini," jawab Andi.


"Kamu sendirian atau sama Dimas?" lanjut Andi bertanya pada Dini.


"Sendirian, aku udah bilang Dimas kalau aku mau ke sini jadi nanti dia jemput aku setelah dia selesaiin kerjaannya," jawab Dini.


Andi lalu mengajak Dini untuk keluar dari ruangannya dan naik ke balkon, Andi juga meminta Rama untuk menyiapkan dua gelas minuman dan membawanya ke balkon.


"Aku lagi bingung banget Ndi," ucap Dini.


"Ada apa?" tanya Andi.


"Sampai sekarang aku belum tau gaun pengantin apa yang aku mau sedangkan mama Dimas hampir setiap hari nanyain aku tentang gaun itu," jawab Dini menjelaskan.


"Kamu mau aku yang buatin desain nya?" tanya Andi menawarkan diri.


"Bisa?"


"Kamu meragukan aku?" tanya Andi dengan mengerutkan dahinya.


Dini hanya tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.


"Kasih tau aku apa yang ada di kepala kamu tentang gaun pernikahan kamu, aku akan berusaha bikin desain sesuai dengan apa yang kamu mau," ucapan di pada dinding.


Dini menggeleng dan menundukkan kepalanya pelan. Ia benar-benar tidak tau gaun pengantin seperti apa yang sebenarnya ia inginkan.


Andi lalu mengambil ponselnya dan menunjukkan pada Dini hasil dari designer gaun pengantin dari berbagai negara.


"Coba kamu perhatiin satu-satu pasti ada salah satu yang akan menarik perhatian kamu," ucap Andi pada Dini.


Dini hanya diam menerima ponsel Andi yang diberikan padanya. Selama beberapa hari ini Dimas selalu sibuk dengan pekerjaannya dan membiarkan Dini menentukan semuanya sendiri bersama mama Dimas.


Dalam hatinya Dini ingin mempersiapkan semuanya bersama Dimas namun pernikahan yang berdekatan dengan hari kepindahan Dimas ke perusahaan utama membuat Dimas begitu sibuk sehingga tidak bisa menyempatkan waktunya untuk menemani Dini menentukan pilihan tentang rencana pernikahan mereka.


"aku percayain semuanya sama kamu sayang,"


1 kalimat yang selalu Dimas ucapkan ketika Dini menanyakan pendapat Dimas.


"Ada apa Din? Apa ada yang mengganggu pikiran kamu?" tanya Andi yang melihat Dini tampak tak bersemangat.


"Dimas selalu sibuk Ndi, semuanya aku sendiri yang nentuin walaupun aku dibantu sama mama Dimas tapi Dimas gak pernah ngasih keputusan apapun tentang pilihan yang aku kasih tentang pernikahan kita nanti!" jawab Dini menjelaskan.


"Kamu tau dia baru pindah dengan posisi yang baru di perusahaan utama, jadi dia pasti sangat sibuk yang penting dia masih menyempatkan waktunya buat kamu dan kasih kepercayaan kamu untuk memutuskan semuanya."


"Tapi ini kan pernikahan kita berdua Ndi, kenapa rasanya cuma aku yang semangat buat mempersiapkan pernikahan ini," balas Dini dengan nada kesal.


"Kalau Dimas nggak semangat, dia nggak mungkin akan melakukan pernikahan itu dalam waktu dekat, kamu tahu itu kan?"


Dini menghembuskan nafasnya kasar dan menganggukkan kepalanya. Ada beberapa saat yang membuat Dini merasa Dimas mengabaikannya, namun ia tahu Dimas tidak bermaksud demikian dan yang bisa ia lakukan adalah berusaha untuk mengerti keadaan Dimas.


Ia tidak akan menjadi beban bagi Dimas.


"Aku akan bantuin kamu buat pilih gaun pengantin yang sesuai sama kamu," ucap Andi dengan membelai rambut Dini.


Dini menganggukan kepalanya dengan tersenyum senang lalu melihat ponsel Andi di tangannya untuk mencari gaun pengantin yang menarik baginya.


Tak lama kemudian Rama datang dengan membawa 2 gelas minuman untuk Dini dan Andi.


"Minum dulu Din," ucap Andi sambil menggeser minuman milik Dini ke arah Dini.


"Rasanya yang mau nikah kayak aku sama kamu deh hehehe...." ucap Dini yang membuat Andi salah tingkah.


"Ke... kenapa?" tanya Andi.

__ADS_1


"Harusnya aku milih gaun ini sama Dimas, tapi yang ada aku milih gaun ini sama kamu, kamu juga bantuin aku buat cari tema dekorasi waktu resepsi nanti," jawab Dini.


"Aku cuma bantuin kamu sebisa aku Din," ucapan Andi.


"Makasih Ndi, kamu memang selalu ada buat aku, aku nggak tahu gimana jadinya aku kalau nggak ada kamu," ucap Dini dengan menatap wajah sahabatnya itu.


"Kamu punya Dimas Din, aku yakin dia bisa kasih semuanya buat kamu, aku percaya dia bisa bahagiain kamu lebih dari kebahagiaan yang kamu dapat selama ini," ucap Andi.


Mereka lalu kembali memilih gaun pengantin yang ada di media sosial designer designer ternama namun tak ada satupun yang menarik perhatian Dini.


Saat matahari mulai mengarah ke arah tempatnya untuk tenggelam, Dimas datang. Dimas menghampiri Dini dan Andi di balkon


Seperti biasa Dimas memberikan pelukan dan kecupan singkat di kening Dini saat ia baru saja tiba.


"Maaf sayang meetingnya tadi lama banget," ucap Dimas pada Dini.


"Iya nggak papa, nanti malam kita jadi kan ke toko bunga buat pesan bunga?"


"Kayaknya hari ini nggak bisa deh, gimana kalau besok?"


"Apa kamu masih sibuk?" balas Dini bertanya pada Dimas.


"Aku harus siapin presentasi buat besok pagi sayang, jadi aku harus siapin semuanya dengan baik," jawab Dimas.


Dini menghembuskan nafasnya pelan dan menganggukkan kepalanya.


"Maafin aku ya, besok aku janji akan sempetin waktuku," ucap Dimas yang merasa bersalah.


"kamu kemarin juga mengatakan hal yang sama Dimas," batin Dini dalam hati.


Dini hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum, ia berusaha mengerti kesibukan Dimas dan tidak ingin memperburuk keadaan dengan membiarkan egonya menang.


Andi yang melihat hal itu hanya diam, ia tahu Dini sedang kecewa saat itu. Namun sebagai sahabat, ia hanya bisa berusaha menghalau kekecewaan Dini dengan tetap menjaga batas yang sudah ada di antara persahabatan mereka.


"Sebenarnya gue sama Andini kesini mau ngasih tau lo sesuatu Ndi," ucap Dimas pada Andi.


"Ada apa?" tanya Andi membawa pandangannya pada Dini dan Dimas.


"Kamu kasih tahu Andi sayang, aku yakin kamu udah nggak sabar buat kasih tau dia," ucap Dimas pada Dini.


Dini lalu tersenyum malu sebelum memberi tahu Andi apa yang ingin ia dan Dimas beritahukan.


"Tanggal pernikahan kita udah ditentukan Ndi," ucap ini dengan senyum di wajahnya.


Dia berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya dihadapan Dini dan Dimas. Ia tidak ingin Dini tahu sehebat apa rasa sakit yang ia rasakan saat itu.


"Kapan Din?" tanya Andi.


"Dua minggu lagi, aku udah siapin undangannya dan kamu adalah orang pertama yang mendapatkan undangan ini," jawab Dini lalu mengeluarkan sebuah undangan pernikahan dan memberikannya pada Andi.


Andi tersenyum canggung saat menerima undangan itu.


"Makasih Din, aku cuma bisa berdoa semoga semuanya lancar sampai hari pernikahan kalian nanti," ucap Andi yang dibalas anggukan kepala dan senyum Dini.


"Aku anter pulang sekarang sayang!" ucap Dimas pada Dini.


"Iya, aku pulang dulu ya Ndi!"


"Iya, hati hati," balas Andi.


Dimas dan Dinipun turun dari balkon dan meninggalkan home store.


Sedangkan Andi masih berada di tempatnya, menatap nanar undangan pernikahan di hadapannya.


Andi lalu membawa undangan itu dan keluar dari home store. Andi mengendarai mobilnya ke arah rumah sang ibu.


Ia sengaja tidak pulang ke rumah mama Siska karena sang mama dan Adit yang berada di rumah Ana.


Sesampainya di rumah sang ibu, Andi segera turun dari mobilnya dan disambut oleh ibu dan ayahnya yang mendengar suara mobil berhenti di halaman rumah mereka.


"Nggak biasanya kamu ke sini malem malem, apa ada masalah?" tanya ibu Andi.


"Nggak ada apa apa Bu, Andi pingin tidur di sini malam ini, nggak papa kan?"


"Kamu nggak perlu tanya Ndi, pintu rumah ini selalu terbuka untuk kamu," sahut ayah Andi menjawab.


Andi menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu membantu sang ibu yang sedang menjahit baju.


Malam semakin larut, Andi pergi ke kamarnya, membuka jendela kamar dan menatap ke arah kamar Dini yang berada di sebrang rumahnya.


"Aku harus gimana Din, apa yang harus aku lakuin sekarang?"


Tooookk tooookkk tooookk

__ADS_1


"Kamu udah tidur?" tanya sang ibu dari luar pintu kamar Andi.


"Belum Bu," jawab Andi tanpa beranjak dari tempatnya.


Ibu Andi lalu membuka pintu dan berjalan menghampiri Andi.


"Cerita sama ibu, ada masalah apa?"


Andi menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum.


"Tentang Dini?" terka ibu Andi.


"2 minggu lagi Dini akan menikah Bu, nggak tau kenapa rasanya berat buat Andi relain hal itu terjadi, apa Andi sekarang jadi sahabat yang jahat Bu?"


"Kamu sahabat terbaik yang pernah Dini miliki Ndi, ibu yakin itu," jawab sang ibu.


"Andi bohong kalau Andi bahagia liat pernikahan Dini Bu, Andi bohong kalau Andi bahagia liat Dini sama Dimas, selama ini Andi udah bohong sama diri Andi sendiri Bu, Andi cuma berusaha nutup luka di hati Andi dengan kebahagiaan Dini, tapi Andi nggak pernah bener bener bahagia," ucap Andi dengan suara bergetar.


Untuk pertama kalinya ia meluapkan isi hatinya pada sang ibu. Semua rasa yang ia tahan selama ini ia tumpahkan pada sang ibu.


"Andi cinta sama Dini Bu, Andi nggak mau kehilangan Dini," ucap Andi lalu memeluk sang ibu dengan air mata yang berusaha ia tahan.


Ibu Andi hanya diam dengan mengusap punggung Andi. Ia bisa merasakan rasa sakit yang saat itu menyiksa hati Andi.


Biiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Andi berdering, sebuah panggilan dari Dini.


Andi lalu melepaskan pelukannya pada sang ibu dan membawa pandangannya pada sang ibu.


Ibu Andi hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu keluar dari kamar Andi.


Andi lalu menggeser tanda panah hijau dan menerima panggilan Dini.


"Halo Ndi, kamu di rumah ibu kamu? aku liat mobil kamu di depan!"


"Iya, aku di rumah ibu," jawab Andi.


"Kamu kenapa? lagi batuk?" tanya Dini yang mendengar suara Andi sedikit serak.


"Enggak.... ehhhmmm.... aku nggak papa, cuma....."


"Kamu bisa ke sini? atau aku yang kesana?" tanya Dini memotong ucapan Andi.


"Aku yang kesana," jawab Andi lalu segera beranjak dari duduknya dan keluar dari kamarnya.


Sebelum Andi keluar dari rumah, sang ibu memanggilnya. Andipun membawa langkahnya pada sang ibu.


"Dengerin ucapan ibu baik baik Ndi, kamu harus bahagia, kamu nggak boleh terus terusan berpura pura dan membohongi diri kamu sendiri, kamu yang menemani Dini dari kecil dan kamu yang selalu bisa memberikan Dini kebahagiaan, jangan menyerah atas perasaan kamu, ibu yakin Dini akan jauh lebih bahagia bersama kamu," ucap ibu Andi penuh keyakinan.


Andi hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu memeluk sang ibu sebelum keluar dari rumah.


Andi berjalan ke arah rumah Dini, belum sampai Andi mengetuk pintu rumah Dini, Dini sudah keluar dan menarik tangan Andi untuk membawanya ke kamar.


"Liat ini, aku temuin album foto kita yang udah lama hilang," ucap Dini sambil memberikan sebuah album foto yang tampak sedikit usang.


Andi menerima album foto itu dan membukanya. Di dalamnya terdapat banyak foto kebersamaannya dengan Dini saat mereka masih kecil sampai mereka beranjak remaja.


"Ini foto kita dari kecil sampai kita SMP," ucap Dini dengan menunjuk foto mereka saat berseragam SMP.


Entah kenapa memori dalam foto yang terlihat membahagiakan itu malah membuat Andi bersedih.


Kebersamannya dengan Dini yang sejak lama terjalin sebentar lagi akan kandas. Ia harus merelakan Dini menjadi milik orang lain, merelakan Dini menemukan kebahagiaan yang selama ini diimpikannya.


"Ndi, kamu kenapa?" tanya Dini yang melihat Andi hanya diam menatap foto di tangannya.


Andi hanya menggeleng dengan menundukkan kepalanya.


Dini lalu menundukkan kepalanya, melihat dengan jelas wajah sahabatnya itu.


"Apa yang bikin kamu sedih?" tanya Dini yang melihat raut wajah Andi tampak bersedih.


Andi kembali menggelengkan kepalanya lalu menutup album foto di tangannya.


"Maafin aku Din," ucap Andi pelan.


"Maaf kenapa?" tanya Dini tak mengerti.


Andi lalu mendekat dan membawa Dini ke dalam pelukannya. Hatinya terasa benar benar sakit dan terluka.


"Maaf karena aku nggak bisa jadi sahabat yang baik buat kamu, maaf karena aku mencintai kamu, maaf karena udah memiliki perasaan ini diam diam," ucap Andi dalam hati.


"Aku cinta sama kamu Din, aku nggak mau kamu pergi dari aku, aku nggak bisa lagi liat kamu sama Dimas, aku nggak bisa Din, aku nggak sanggup buat nahan perasaan aku, aku nggak sanggup lagi," batin Andi dengan semua rasa sakit dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2