
Adit masih menggenggam ponsel di telinganya. Beruntung, ia segera tersadar dari situasi saat itu.
"Jangan sampe' Andi menolak untuk menandatangani kontrak kerja sama yang sudah kita buat!" ucap Adit yang membuat lawan bicaranya bingung.
"Maaf, maksud pak Adit?"
"Saya serahkan semuanya sama kamu, perusahaan Andi pasti akan mendapat banyak keuntungan dari kerja sama ini!"
"..........."
Klik. Sambungan berakhir. Adit lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya.
"Lo ngapain di sini?" tanya Adit pada Andi.
"Setau gue siapapun boleh masuk toilet ini!" jawab Andi lalu melenggang masuk begitu saja.
"Gue kesini mau ketemu klien, gue nggak ada urusan sama lo!" ucap Andi sambil mencuci tangannya.
Adit hanya diam lalu keluar dari toilet.
**
Waktu berlalu, hari berganti.
Adit sedang membaca beberapa berkas yang ada di mejanya. Jantungnya berdetak begitu cepat, dadanya berdebar seolah akan ada hal besar yang akan mengubah hidupnya.
"apa aku siap menerima semua fakta ini? apa dia siap? apa semuanya akan menjadi lebih baik?" batin Adit bertanya tanya.
Adit lalu menarik napasnya dalam dalam dan segera merapikan berkas di hadapannya untuk ia bawa pulang ke rumah sang mama.
Dalam perjalanan ke rumah mamanya, Adit merasa tidak tenang. Ia gugup, gelisah dan segala macam rasa yang membuatnya tidak nyaman.
Sesampainya di sana, Adit segera menemui sang mama yang sedang berada di taman bunga.
"Adit udah tau jawabannya ma," ucap Adit tanpa basa basi.
Mama Siska yang sedang memetik daun daun kering seketika menghentikan aktivitasnya. Ia menoleh ke arah Adit dengan mata yang berkaca kaca.
"Kamu yakin sayang?" tanya mama Siska yang dibalas anggukan kepala oleh Adit.
Adit lalu mengajak sang mama untuk masuk ke dalam kamar. Ia memberikan berkas yang sudah ia bawa pada sang mama.
"Adit udah pastiin semua kebenaran yang tertulis di sini ma, tapi Adit mohon sama mama, mama jangan gegabah, kita harus pelan pelan ma!"
"Mama mengerti sayang, mama akan ikuti semua ucapan kamu," balas mama Siska yang langsung memeluk Adit.
"Makasih sayang, kamu kebanggaan mama," ucap mama Siska dengan berlinang air mata.
"Adit akan antar mama ke sana, kapanpun mama siap!" ucap Adit.
"Besok? besok malam antar mama kesana sayang!"
Adit menganggukkan kepalanya dengan menggenggam tangan sang mama.
Setelah pulang dari rumah mamanya, Adit melajukan mobilnya ke arah rumah Ana. Seperti biasa, Ana selalu menyambutnya dengan sebuah pelukan.
"Kamu kenapa? ada masalah di kantor?" tanya Ana yang melihat raut wajah Adit tampak sedang tidak baik baik saja.
"Enggak, nggak ada apa apa," jawab Adit dengan senyum yang dipaksakan.
Mereka lalu duduk di ruang tengah, di depan tv.
"Jangan bohong Adit, ada apa? cerita sama aku!"
"Aku nggak mau nambah beban kamu An, aku...."
"Aku udah lebih kuat sekarang, kamu nggak perlu khawatirin aku lagi," ucap Ana memotong ucapan Adit.
"Aku nggak tau apa yang sebenarnya aku rasain sekarang, aku bahagia sekaligus sedih," ucap Adit.
"Ada apa Dit?"
"Apa menurut kamu semuanya akan jadi lebih baik kalau aku udah temuin dia? apa dia bisa nerima aku dan mama? apa kita bisa jadi keluarga yang bahagia setelah kita tinggal bersama?"
"Dia? maksud kamu..... adik kamu?"
Adit menganggukkan kepalanya lemah. Ia lalu menyandarkan kepalanya pundak Ana.
"Kamu nggak akan tau jawabannya sebelum itu terjadi Dit, tapi satu hal yang aku yakini, mama Siska pasti lebih bahagia kalau kalian udah tinggal satu rumah," ucap Ana dengan mengusap manja kepala Adit.
"Aku nggak tau apa aku akan bahagia setelah kedatangannya, apa aku masih jadi anak kebanggaan mama setelah dia datang? aku belum siap kalau mama jadi jauh dari aku An!"
"Itu nggak akan terjadi Dit, mama Siska sayang sama kamu, mama Siska akan kasih kalian kasih sayang dan perhatian yang sama!"
Adit terdiam beberapa saat lalu mengusap perut Ana.
"Semuanya akan baik baik aja Dit, kamu harus yakin kalau semuanya akan jadi jauh lebih baik!" ucap Ana.
Adit lalu menegakkan duduknya dan membawa Ana ke dalam dekapannya.
"Makasih An, kamu selalu bikin aku tenang," ucap Adit lalu mencium kening Ana.
"Apa kamu udah temuin dia Dit?" tanya Ana yang dibalas anggukan kepala Adit.
"Udah?" tanya Ana tak percaya.
"Udah, besok aku sama mama mau temuin dia dan keluarganya, kita akan jelasin dengan baik baik, do'ain semuanya berakhir dengan baik An!"
"Pasti Dit, aku pasti do'ain kamu sama mama Siska, tapi......"
"Tapi apa?"
"Kamu nggak akan rebutan perusahaan kan sama dia?" tanya Ana dengan hati hati, takut menyinggung Adit.
__ADS_1
"Kamu kebanyakan liat sinetron," balas Adit dengan memukul kening Ana menggunakan jari telunjuknya.
"Biasanya kan gitu, kalian sama sama anak laki laki, pewaris perusahaan besar orangtua kalian!"
"Kalaupun aku udah nggak jadi CEO, aku masih bisa biayai kebutuhan kamu An, tenang aja!"
"Bukan itu maksud ku!" ucap Ana sambil memukul perut Adit.
"Hehe..... kalau dia mau masuk ke perusahaan, silakan, asal dia bisa bawa perusahaan buat lebih baik lagi nggak masalah buat aku!"
"Aditya Putra emang kakak yang baik," ucap Ana dengan bertepuk tangan kecil.
"Aku nggak mau ribut An, masih ada beberapa bisnis lain yang bisa aku kerjain, walaupun nggak sebesar perusahaan papa," ucap Adit.
Ana menganggukkan kepalanya sambil memeluk Adit manja.
"Apa aku boleh tau dia siapa?" tanya Ana.
"Kamu kenal kok, kamu bahkan lebih dulu kenal sama dia daripada aku!"
"Aku kenal? siapa? apa dia kerja di kantor kamu juga?"
"Enggak, kalau di ingat ingat, justru kamu yang bikin aku kenal dia!"
"Siapa Dit? jangan bikin aku penasaran dong!"
"Aku pasti kasih tau kamu, tapi nggak sekarang!"
"Oke, aku nggak akan tanya lagi," ucap Ana lalu melepaskan dirinya dari pelukan Adit.
"Kamu kalau marah malah bikin aku gemes tau nggak!" ucap Adit menggoda Ana.
Ana hanya diam dengan mengerucutkan bibirnya karena kesal.
"Kita nikah yuk!" ucap Adit yang membuat Ana benar benar terkejut.
"Aku akan nunggu kamu sampe kamu siap, aku yakin aku bisa bikin kamu jatuh cinta sama aku," ucap Adit berbisik di telinga Ana.
Ana hanya diam membiarkan jantungnya berdetak kencang. Ucapan Adit berhasil membuat degupan indah dalam hatinya kembali hadir.
"Kasih tau aku kalau aku udah berhasil bikin kamu jatuh cinta sama aku!" lanjut Adit yang masih berbisik.
"Kamu..... kamu bikin aku merinding," ucap Ana lalu segera berdiri dari duduknya dan masuk ke kamarnya.
Adit hanya terkekeh melihat Ana yang tampak salah tingkah.
**
Pagi telah datang. Dini sudah bersiap untuk berangkat ke kantor setelah sarapan.
Saat ia baru saja keluar rumah, Andi berjalan ke arahnya dengan senyum yang mengembang.
"Ada apa nih? bahagia banget kayaknya!" tanya Dini.
"Aku anter kamu ke kantor, sekalian aku mau ambil bahan, searah sama kantor kamu!"
Merekapun segera berangkat.
"Temen baru kamu udah mulai kerja?" tanya Dini.
"Udah dari beberapa hari yang lalu," jawab Andi.
"Siapa namanya? gimana kerjanya?"
"Namanya Rama, dia rajin, cuma emang masih harus banyak banyak diarahin, tapi dia cepet paham juga kok!"
"Baguslah kalau gitu, kamu jadi nggak terlalu sibuk, jadi punya waktu buat aku!"
Andi hanya tersenyum lalu mengacak acak rambut Dini.
Sesampainya di depan kantor Dini, Dini segera turun dan masuk.
"name tag nya Dini?"
Andi lalu keluar dari mobilnya dan menyusul Dini, namun ia sudah tidak menemukan Dini.
Di sisi lain, Adit yang baru saja datang berjalan masuk dengan membaca berita di ponselnya. Tanpa sengaja ia menabrak Andi yang saat ia hendak berbalik untuk menitipkan name tag Dini pada resepsionis.
BRUUKKK
Andi dan Adit terjatuh, dengan cepat Adit bangun dan mengulurkan tangannya pada seseorang yang ditabraknya sebelum ia tau jika seseorang itu adalah Andi.
Andi hanya diam melihat Adit yang mengulurkan tangannya. Ia lalu berdiri sendiri dan berjalan ke arah resepsionis untuk menitipkan name tag Dini, sedangkan Adit masih berdiri terpaku di tempatnya.
Saat Andi berjalan keluar, Adit mengejarnya dan menarik tangan Andi.
"Tunggu!" ucap Adit yang membuat Andi menghentikan langkahnya.
"Kenapa?" tanya Andi.
Adit terdiam, ia tidak mengerti kenapa ia menahan Andi.
"Ada apa? gue nggak punya banyak waktu!"
"Gue.... gue.... sorry," ucap Adit yang masih tidak bisa mengendalikan suasana hatinya yang sedang campur aduk.
"Sorry?"
"Iya... sorry, gue nggak sengaja nabrak lo!" ucap Adit.
Andi hanya mengernyitkan dahinya lalu pergi begitu saja meninggalkan Adit.
"aneh banget sih, salah pilih menu sarapan kayaknya!" batin Andi dalam hati.
__ADS_1
Sedangkan Adit merutuki dirinya sendiri yang dengan bodohnya menahan Andi.
"bodoh banget sih lo Dit, ngapain juga nahan dia! dia pasti mikir kalau aku aneh!" batin Adit dalam hati.
Adit lalu menghampiri meja resepsionis dan menanyakan barang yang diberikan oleh Andi.
"Dia titip name tag nya Dini pak," jawab resepsionis.
"Dia sudah di atas?"
"Sudah pak, ini mau saya bawa saya ke sana."
"Saya aja yang bawa!"
"Oh, baik pak, terima kasih!"
Adit lalu membawa name tag Dini dan memberikannya pada Dini yang baru saja keluar dari ruangannya.
"Kok bisa sama kak Adit?" tanya Dini.
"Andi yang ngasih!"
"Oh Andi, pasti jatuh di mobil tadi!"
"Mungkin," balas Adit lalu masuk ke ruangannya.
**
Waktu berlalu. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Adit sudah berada di rumah sang mama.
"Mama yakin mau ke sana sekarang?" tanya Adit pada sang mama.
"Mama yakin sayang," jawab mama Siska penuh semangat.
"Mama jangan berekspektasi terlalu tinggi, mama tau ini bukan masalah kecil, mama....."
"Mama tau Dit, mama udah lama siapin semua ini, kamu tenang aja, mama nggak akan bikin keributan!" ucap mama Siska meyakinkan Adit.
Adit lalu mengendarai mobilnya ke arah rumah Andi bersama sang mama. Sepanjang perjalanan, Adit hanya bisa berdo'a agar tidak terjadi sesuatu yang buruk saat fakta yang telah lama terpendam itu mulai terkuak.
Sesampainya di depan rumah Andi, Adit dan mamanya segera keluar.
Adit mengetuk pintu beberapa kali sampai seseorang membuka pintu.
Ibu Andi yang saat itu sedang bersantai bersama sang suami merasa menyesal karena sudah membukakan pintu untuk tamunya malam itu.
"Mbak, akhirnya saya ketemu mbak lagi," ucap mama Siska yang sudah mengenal ibu Andi.
"Pergi kamu, saya nggak kenal kamu!" ucap ibu Andi dengan berusaha menutup pintunya, namun mama Siska menahannya.
"Mbak, saya mau ketemu Andi mbak, saya mau ketemu anak saya!" ucap mama Siska dengan berusaha menahan pintu agar tidak ditutup.
"Andi bukan anak kamu, dia anak saya!" teriak ibu Andi yang membuat sang suami segera keluar.
"Ada apa ini ribut ribut?"
"Pak Joko, saya Siska pak, pak Joko pasti ingat kan sama saya?"
"Buka pintunya bu, jangan bikin keributan!" ucap ayah Andi pada sang istri.
"Tapi yah...."
"Buka bu!"
Akhirnya pintu benar benar dibuka. Adit dan mama Siska pun masuk ke dalam rumah itu.
"Duduk dulu!" ucap ayah Andi dingin.
"Mbak, saya mau ambil Andi mbak, Andi anak saya, Andi harus tinggal sama saya, Andi....."
"Ma," panggil Adit pelan dengan menggenggam tangan sang mama.
"Saya Adit, anak pertama mama, saya sama mama ke sini dengan niat baik, saya tau om dan tante sudah menganggap Andi seperti anak kandung kalian sendiri, tapi Andi juga harus tau tentang keluarganya yang sebenarnya," ucap Adit.
"Kita keluarganya Andi, saya ibu yang merawat dia dari bayi, saya...."
"Dan saya ibu yang melahirkan dia dengan bertaruh nyawa!" ucap mama Siska memotong ucapan ibu Andi.
"Nggak ada ibu yang membuang anaknya sendiri, apa kamu lupa itu?"
"Mbak tau bagaimana situasinya saat itu, saya nggak punya pilihan lain mbak!"
"Kamu punya pilihan, ada anak pertama dan kedua kamu, tapi kamu memilih untuk membuang anak yang bahkan belum merasakan ASI ibunya, apa kamu pantas dipanggil ibu dengan apa yang sudah kamu lakukan?"
"Saya tidak membuangnya mbak, saya....."
"Sudah 25 tahun Andi menjalani hidupnya sebagai anak kami, dia bahagia dengan kehidupan sederhananya, jadi saya mohon dan saya minta tolong, jangan ambil Andi dari kami, jalani kehidupan kamu tanpa Andi, itu pilihan yang sudah kamu buat dan harus kamu tanggung resikonya!" ucap ayah Andi.
"Om sama tante pasti tau bagaimana posisi mama saat itu, tidak ada pilihan yang baik diantara dua pilihan yang harus mama pilih, mama sudah menyesal om, tante, mama sudah hidup dengan penyesalannya selama ini, Adit cuma...."
"Kamu nggak tau apa apa Adit, kamu cuma anak kecil yang nggak tau apa apa, kamu cuma dengar cerita mama kamu, kamu nggak tau yang sebenarnya terjadi!" ucap ibu Andi penuh emosi.
"Sekarang kalian pergi dari sini dan jangan pernah datang lagi, PERGIIII!!" teriak ibu Andi dengan menarik tangan mama Siska.
"Mbak tolong kembaliin Andi, Andi anak saya mbak, dia darah daging saya, dia lahir dari rahim saya!"
"PERGIIII!!!" teriak ibu Andi yang sudah dipenuhi dengan emosi dalam dirinya.
"Ma, kita pergi ma, jangan bikin keributan di sini," ucap Adit pada sang mama.
"Enggak Dit, mama nggak mau pergi sebelum mama ketemu Andi, dia harus tau kalau mama adalah ibu kandungnya!"
"Ma, kita...."
__ADS_1
BRAAAKKK
Pintu terbuka dengan tiba tiba, Andi masuk ke dalam rumah dengan langkah pelan, matanya menatap tajam pada semua yang berada di sana. Tanpa semuanya tau, Andi sudah berada di depan pintu sejak lama dan ia mendengarkan semua percakapan orangtuanya dengan Adit dan mamanya.