
Kekecewaan tidak akan datang jika seseorang tidak menaruh harapan dalam hatinya. Tapi terkadang harapan itu muncul tanpa kita sadari yang pada akhirnya menyisakan rasa kecewa yang teramat dalam.
Andi masih memeluk Dini dengan erat. Beberapa kata yang telah keluar darinya telah membuat orang yang dicintainya terluka dan kecewa, membuatnya harus menerima siksa dalam hatinya karena sikap dingin Dini padanya.
Baginya hal itu lebih menyakitkan daripada melihat Dini bahagia bersama Dimas. Kini hatinya sakit, cintanya terluka dan satu satunya penyembuhnya telah ia kecewakan tanpa ia sengaja.
Tiba tiba salah satu asisten rumah tangga mama Siska datang, berniat untuk ke toilet.
Seketika Andi melepaskan Dini dari pelukannya.
"Maaf mas, maaf," ucap asisten rumah tangga itu lalu segera berbalik dan pergi.
Dini lalu berjalan meninggalkan Andi dengan menghapus air mata yang entah kenapa luruh begitu saja.
Dini kembali ke meja makan dan duduk di samping Adit.
"Kita balik sekarang ya kak!" ucap Dini pada Adit dengan suara bergetar.
"Oke, Adit sama Dini balik ya ma!"
"Terima kasih makan siangnya ma," ucap Dini dengan memaksakan senyumnya.
"Kamu baik baik aja sayang?" tanya mama Siska yang menyadari raut wajah Dini yang berubah.
Dini hanya menganggukkan kepalanya dengan berusaha tersenyum.
Adit lalu segera menarik tangan Dini, membawanya keluar dari dalam rumah dan masuk ke mobil.
Di dalam mobil, Adit masih diam, ia tidak segera menyalakan mesin mobilnya. Ia hanya memperhatikan Dini yang tampak bersedih.
"Din!"
"Dini nggak papa kak, ayo berangkat," ucap Dini dengan tersenyum, senyum yang tentu saja dipaksakan.
Adit lalu menggenggam tangan Dini.
"Ada apa? kamu bisa cerita sama kakak kalau itu terlalu sakit buat kamu pendam sendiri."
"Dini nggak papa kak, Dini nggak papa," ucap Dini dengan suaranya yang kembali bergetar menahan tangis yang siap meledak.
Adit lalu menyentuh dagu Dini, membawa pandangan Dini ke arahnya.
"Menangis bukan berarti kamu lemah Din, kakak tau kamu perempuan yang kuat," ucap Adit.
Dini lalu menarik tangannya dari genggaman Adit dan menutup matanya dengan kedua tangannya.
Ia menangis tersedu sedu di hadapan Adit. Ia tidak peduli bagaimana Adit menilainya, ia sudah tidak bisa menahan sesak di dadanya lebih lama lagi.
Adit lalu mendekat dan membawa Dini ke dalam dekapannya.
"Kakak nggak akan maksa kamu buat cerita sekarang, tapi kakak harap kamu mau cerita sama kakak setelah kamu tenang," ucap Adit.
"Kita emang baru kenal Din, kita bahkan sering berselisih paham waktu awal kenal, tapi semakin lama kakak kenal kamu, kakak nyaman ada di dekat kamu, kakak bisa jadi seorang 'kakak' buat kamu dan kakak harap kamu juga bisa anggap kakak sebagai 'kakak' buat kamu, bukan sekedar panggilan karena perbedaan usia kita," lanjut Adit.
Saat Adit memeluk Dini, Andi yang baru saja ke keluar dari rumah melihat hal itu saat melewati mobil Adit yang masih terparkir di halaman rumah.
Andi hanya berjalan dengan menatap apa yang Adit dan Dini lakukan di dalam mobil lalu masuk ke dalam mobilnya bersama Rudi dan meninggalkan rumah.
Setelah Dini lebih tenang, ia lalu melepaskan dirinya dari pelukan Adit. Sedangkan Adit segera mengambil tissue dan memberikannya pada Dini.
"Maaf kak," ucap Dini dengan mengusap sisa air mata di pipinya.
Adit hanya tersenyum dengan membelai rambut Dini, lalu menjalankan mobilnya meninggalkan rumah.
Sebelum sampai di kantor, Adit menghentikan mobilnya di depan sebuah mini market.
"Kamu tunggu bentar, kakak mau ke mini market," ucap Adit yang dibalas anggukan kepala Dini.
Tak lama kemudian Adit kembali dengan membawa minuman coklat, tissue basah dan beberapa make up lalu memberikannya pada Dini.
"Coklat buat tenangin hati kamu, tissue basah dan make up buat..... kamu nggak mungkin balik ke kantor dengan keadaan kayak gini kan?"
"Dini pasti jelek banget ya kak," ucap Dini dengan tersenyum tipis.
"Siapa bilang? kamu cantik walaupun tanpa make up, kamu juga cantik kalau abis nangis walaupun mata kamu jadi bengkak, tapi kamu nggak mau kan orang lain tau kalau kamu abis nangis?"
Dini menganggukkan kepalanya lalu mulai membersihkan wajahnya dengan tissue basah dan mulai memoles wajahnya dengan make up yang baru saja Adit belikan.
"Ana bilang kalau abis nangis, ini barang yang wajib dipake, biar matanya nggak keliatan sembab," ucap Adit sambil menunjuk eyeshadow.
"Kak Adit tau banget ya tentang mbak Ana!"
"Kita udah lama berteman Din, jadi kakak tau semua tentang dia," balas Adit.
"Berteman?" tanya Dini menyakinkan.
"Iya, kenapa?"
"Orang bilang cewek sama cowok nggak bisa berteman, salah satu dari mereka pasti menyimpan perasaan yang lebih dari teman, kak Adit setuju sama kata kata itu?"
"Mmmm.... kita harus balik sebelum terlambat!" ucap Adit yang menghindar dari pertanyaan Dini.
Dini hanya tersenyum kecil melihat Adit salah tingkah.
Dini lalu menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan. Saat ia bertemu Andi, otaknya seakan otomatis mengingatkan kejadian saat di pantai, saat Andi melepaskan tangannya dan mengucapkan kata kata yang begitu menyakiti hatinya.
"Jadi bener apa yang Anita bilang? kamu nuduh Anita rebut Dimas dari kamu? dan kamu nggak percaya sama perubahan sikap Anita?"
Dini tersenyum tipis, ia tidak mengerti apa yang sebenarnya Anita ucapkan pada Andi sehingga membuat Andi begitu mengecewakannya.
__ADS_1
"aku nggak tau apa sebenarnya niat kamu Nit, aku nggak tau apa kamu benar benar berubah, atau cuma mau menghancurkan aku, kalau kamu mau aku berantem sama Andi, selamat, kamu berhasil," batin Dini dalam hati.
"Roda berputar Din, jangan terpaku sama masalah yang ada, cukup cari solusinya tanpa harus mengabaikan hal lain yang membuat kamu bahagia," ucap Adit.
"Dini lagi berusaha kak, mungkin kedewasaan Dini lagi dilatih, atau justru sikap Dini sekarang menunjukkan kalau Dini belum cukup dewasa," balas Dini.
"Kamu udah lebih baik Din, kamu bisa membedakan masalah pribadi dan pekerjaan aja itu udah sangat baik, kakak bangga sama kamu!" ucap Adit.
"Kalau kamu mau, kakak bisa ajak kamu ke suatu tempat, sekedar buat healing!" lanjut Adit.
"Kemana?"
"Tempatnya agak jauh sih, kalau kamu mau pulang kerja nanti kita kesana!"
"Tapi jam 5 nanti kak Adit ada jadwal buat jadi pembicara di kampus X!"
"Kamu bisa temenin kakak ke kampus X, setelah acara selesai kita berangkat!"
"Oke, Dini mau," balas Dini.
Sesampainya di kantor, Adit dan Dini kembali berkutat dengan pekerjaan mereka.
Dini berusaha mengalihkan suasana hatinya yang buruk dengan fokus pada pekerjaan yang menumpuk di hadapannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, Dini sudah menyelesaikan pekerjaannya. Ia lalu masuk ke ruangan Adit.
"Kak Adit belum selesai?" tanya Dini.
"Belum, bentar lagi," jawab Adit.
"Ada yang bisa Dini bantu?"
Adit menggelengkan kepalanya tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer di hadapannya.
"Dini tunggu di luar ya kak!" ucap Dini yang dibalas anggukan kepala Adit.
Dini lalu keluar dari ruangan Adit dan menghubungi Dimas.
"Halo Dimas, udah pulang?" tanya Dini saat Dimas sudah menerima panggilannya.
"Belum sayang, masih ada yang harus aku selesaiin," jawab Dimas.
"Aku ganggu ya?"
"Enggak kok, rencananya setelah selesai ngerjain ini aku mau hubungin kamu tadi, aku mau ngajak kamu liburan!"
"Liburan? kemana?" tanya Dini antusias.
"Ada tempat yang pingin kamu datengi nggak?"
"Mmmmm.... nggak ada, aku ikut kamu aja," jawab Dini.
"Kamu serius?" tanya Dini tidak percaya.
"Serius dong, kamu mau kemana?"
"Tapi kita kan nggak punya waktu libur lama Dimas, jadi mending yang deket aja gimana?"
"Iya sih, ke Singapura?"
"Kamu mau mengenang masa lalu kamu sama mantan tunangan kamu ya?"
"Jangan ngada ngada deh, ya udah kamu aja yang tentuin mau kemana!"
"Emang kapan berangkatnya?"
"Weekend nanti, pulang kerja aku jemput kamu, kita cari penerbangan malem, gimana?"
"Weekend nanti? ini kamu serius apa cuma ngerjain aku sih?"
"Serius lah sayang, tapi kamu izin dulu sama ibu, boleh apa enggak, kalau mama papa sih pasti izinin."
"Oke, nanti aku coba bilang sama ibu," balas Dini penuh semangat.
"Ya udah aku lanjut kerja dulu ya sayang, love you!"
"Love you too!"
Dini lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas dan tak lama kemudian Adit datang menghampiri nya.
"Bosen ya nungguin?" tanya Adit.
"Enggak kok," jawab Dini.
"Ayo berangkat!"
Dini menganggukkan kepalanya lalu mengikuti Adit berjalan.
Mereka lalu pergi ke kampus X untuk menghadiri seminar.
Saat Adit sedang berdiri di atas panggung, Dini duduk bersama para mahasiswa yang memperhatikan Adit dengan tenang.
Tak sedikit dari mereka yang saling berbisik mengagumi Adit.
"Pasti gue bakalan rajin kerja kalau bos gue nanti kayak gini," ucap salah seorang mahasiswi di samping Dini.
"Gue rela 24 jam di kantor buat liatin dia doang," sahut yang lain.
Dini hanya tersenyum tipis mendengar para mahasiswi itu. Mereka tidak tau bagaimana tegasnya Adit saat sudah berada di lingkungan kerja, bisa jadi Adit lebih killer daripada dosen killer mereka.
__ADS_1
"kak Adit emang perfect sih, mbak Ana pasti bangga banget sama kak Adit, beruntungnya mbak Ana," batin Dini dalam hati.
Setelah acara selesai, Adit dan Dinipun meninggalkan kampus.
Adit mengendarai mobilnya keluar dari batas kota.
"Kita mau kemana sih kak?" tanya Dini penasaran.
"Kakak mau bawa kamu hutan dan sekap kamu di dalam hutan hahaha...."
"Nggak lucu," balas Dini kesal.
"Kamu takut ya?"
"Enggak," jawab Dini singkat.
Ia tidak takut, ia hanya sedikit trauma dengan kata "sekap".
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, mereka akhirnya sampai.
"Kafe bintang!" ucap Dini membaca tulisan yang ada di sana.
"Ayo!" ajak Adit dengan menggandeng tangan Dini.
Adit lalu membawa Dini naik ke lantai dua, di sana ada beberapa bangku dengan puluhan lampu kecil yang berwarna putih, yang membuatnya seperti bintang.
Jika melihat ke atas, hanya ada hamparan gelap dengan kerlip bintang yang menghiasi malam bersama bulan.
"Kakak ajak kamu ke sini karena di sini jauh dari hiruk pikuk kota, di sini suasananya tenang dan damai," ucap Adit.
"Tapi kenapa kafe sebagus ini sepi banget ya kak lantai duanya, apa karena jauh dari kota?"
"karena kakak udah booking semua meja di lantai dua hehe...." batin Adit dalam hati.
"Iya mungkin," balas Adit dengan menyembunyikan senyumnya.
Mereka lalu memesan minuman dan beberapa makanan ringan.
"Kamu masih nggak mau cerita sama kakak?" tanya Adit.
"Apa yang harus Dini ceritain kak, Dini sendiri nggak tau apa yang sebenarnya Dini rasain," jawab Dini.
"Bicarain baik baik Din, walaupun kakak baru kenal Andi, tapi kakak tau betul bagiamana dia sangat menyayangi kamu," ucap Adit.
Mendengar ucapan Adit, Dini seketika membawa pandangannya pada Adit.
"Kakak udah liat semuanya, kakak denger semuanya," ucap Adit yang seolah mengerti isi pikiran Dini.
"Dia sahabat terbaik Dini kak, tapi Dini salah karena menganggap Dini adalah bagian paling penting di hidup Andi, pada kenyataannya dia bahkan lebih percaya orang lain daripada Dini," ucap Dini.
"Dan kamu kecewa?"
Dini mengangguk pelan.
"Apa kamu sadar, kamu udah menaruh harapan yang besar sama Andi!"
"Maksud kak Adit?"
"Dia sahabat kamu dari kecil, kakak tau kalian sangat dekat, tapi hubungan kalian sebatas 'sahabat', harapan kalau kamu adalah bagian penting dalam hidup Andi itu bukanlah harapan seorang sahabat, tapi harapan seseorang kepada pasangannya," jawab Adit.
"Apa maksud kak Adit Dini udah melewati batas tanpa sadar?"
"Bisa jadi," jawab Adit sambil menyeruput minuman di hadapannya.
Dini diam beberapa saat memikirkan ucapan Adit.
"Kakak ajak kamu ke sini buat hilangin stres, bukan malah nambah beban pikiran kamu, nikmati aja, anggap masalah kamu itu sebagai batu pijakan yang akan menaikkan sisi kedewasaan kamu," ucap Adit.
Dini menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
Setelah menghabiskan waktu beberapa lama di sana dan membuat Dini kembali ceria, Adit lalu mengantar Dini pulang.
Setelah itu, ia sendiri pulang ke rumah mama Siska.
Saat Adit sedang berjalan santai masuk ke dalam rumah, Andi duduk di ruang tamu dengan pandangan tajam ke arah Adit.
"Gue nggak tau apa yang sebenarnya lo rencanain," ucap Andi yang membuat Adit menghentikan langkahnya.
"Lo ngomong sama gue?" tanya Adit.
"Berhenti deketin Dini dan jangan ikut campur masalah gue sama Dini!" ucap Andi serius.
"Lo kenapa sih? lo marah sama gue? kenapa? apa yang bikin lo tiba tiba kayak gini?" tanya Adit tak mengerti.
"Nggak usah bersikap seolah lo peduli sama gue, berhenti bersikap sok dewasa di depan gue, munafik!" ucap Andi lalu pergi meninggalkan Adit begitu saja.
"Kalau lo bilang gue munafik, terus lo apa? pengecut? sekarang gue tau kalau Dini emang lebih baik sama Dimas daripada sama lo!" ucap Adit yang berhasil membakar emosi Andi.
Dengan cepat Andi berbalik, berjalan cepat ke arah Adit dan mendaratkan pukulannya di wajah Adit.
Adit terjatuh dengan memegangi sudut bibirnya yang berdarah.
Andi lalu berjongkok dan menarik kerah Adit, bersiap untuk mengulangi pukulannya lagi, namun ia mengurungkan nya.
"Kenapa berhenti? pukul aja, gue nggak akan ngelawan ataupun menghindar, lo emang butuh pelampiasan dan gue siap untuk itu!" ucap Adit.
"Bodoh!" ucap Andi lalu melepaskan kerah Adit dengan kasar dan menjatuhkan badannya di samping Adit.
"Sikap lo udah nunjukin semua nya Ndi, gue nggak akan tanya lagi," ucap Adit dengan tersenyum tipis.
__ADS_1
Di salah satu sudut rumah, para asisten rumah tangga sudah berkumpul berniat untuk memisahkan Andi dan Adit, namun tak ada satupun dari mereka yang berani melakukannya hingga akhirnya mereka melihat Andi dan Adit yang sama sama terbaring di lantai.