
Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, Dini mengerjapkan matanya lalu melihat ke sekelilingnya.
Ia ingat jika semalam ia tertidur di ruang tamu bersama Dimas, namun pagi itu ia terbangun di ranjang Dimas dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
Dini lalu segera membuka selimutnya dan mengelus dadanya lega karena ia masih berpakaian dengan rapi.
"Pagi sayang," sapa Dimas yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melingkar di pinggangnya.
Dini yang melihat hal itu segera menenggelamkan kepalanya di bawah selimut, menghindar dari pemandangan yang cukup ekstrem di hadapannya.
"Kenapa?" tanya Dimas yang duduk di tepi ranjangnya.
"Pake baju dulu Dimas!" ucap Dini dengan menendang Dimas dari dalam selimut.
Dimas hanya tersenyum kecil lalu mengenakan pakaian nya. Sebuah kaos polos berwarna putih dan celana jeans pendek sudah cukup untuk membuat ketampanannya semakin terlihat.
Dimas lalu menarik selimut Dini, membuat Dini segera menutup matanya dengan kedua tangannya.
"Aku udah pake baju sayang," ucap Dimas dengan menarik tangan Dini.
Dini lalu membuka matanya dengan perlahan, memastikan jika Dimas memang sudah mengenakan pakaiannya.
Dimas lalu mendekat dan mencium bibir Dini singkat.
"Sarapan pagi ku," ucap Dimas lalu kembali mencium bibir Dini.
"Aku mau mandi dulu," ucap Dini dengan mendorong tubuh Dimas agar menjauh darinya.
Saat Dini sedang mandi, Dimas mengambil laptopnya dan mulai mengerjakan pekerjaannya di ruang tamu.
Tak lama kemudian Dini keluar dengan mengenakan pakaian yang sama, kemeja Dimas yang tampak terlalu besar untuk Dini. Melihat Dini keluar, Dimas segera menutup laptopnya dan menyusun kembali beberapa map yang tampak berantakan di meja.
"Kenapa di tutup?" tanya Dini.
"Kamu kenapa masih pake baju itu?"
"Nggak boleh?"
"Nggak papa, tapi kamu nggak mungkin keluar pake itu kan?"
"Aku nggak mau keluar, aku cuma mau di sini aja sama kamu," jawab Dini lalu memeluk Dimas.
"Kamu yakin?"
Dini menganggukkan kepalanya penuh keyakinan.
"Aku ke sini buat kasih semangat kamu, bukan buat ganggu kamu kerja, jadi aku nggak akan buang waktu kamu buat jalan jalan keluar, aku cuma akan nemenin kamu di sini!" ucap Dini.
"Tapi kamu nggak akan balik hari ini kan?"
"Enggak, hari Minggu aku baru balik," jawab Dini.
"Makasih sayang, aku beruntung banget punya kamu," ucap Dimas lalu mencium kening Dini.
"Lanjutin kerjaan kamu, aku nggak akan ganggu!"
"Kita sarapan dulu, aku....."
CUUUPPPP
Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Dimas, membuat Dimas terdiam membeku di tempatnya. Sedangkan Dini hanya tersenyum menahan malu atas apa yang baru saja ia lakukan.
"Aku udah sarapan, barusan," ucap Dini dengan membawa pandangannya berkeliling karena terlalu malu untuk melihat Dimas.
"Aku takut katak di perut kamu akan ganggu aku lagi kayak semalem," ucap Dimas dengan berbisik, membuat Dini semakin salah tingkah.
Dimas lalu mengambil ponselnya dan memesan makanan.
Setelah makanan datang, merekapun menikmati makanan mereka dengan menonton acara tv kesukaan Dini, Doraemon. Ia sangat menyukai Doraemon karena kantong ajaib yang dimilikinya.
"Sayang, kamu nggak keberatan kalau aku ngerjain kerjaanku sekarang?"
"Enggak kok, aku nggak papa."
"Aku takut kamu bosen kalau kita cuma di sini, kita keluar aja ya!"
"Enggak, aku nggak mau keluar, aku mau nemenin kamu kerja di sini, siapa tau aku bisa bantuin kamu juga."
"Kamu jauh jauh ke sini masak cuma buat duduk dan kerja di sini!"
"Aku nggak cuma duduk dan kerja, aku di sini buat peluk kamu, cium kamu dan mungkin sesekali ganggu kamu hehe....."
"Kalau kamu udah bosen bilang aja, aku akan ajak kamu keliling kota!"
Dini menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia lalu membuka laptop Dimas, meminta Dimas untuk segera melanjutkan pekerjaannya.
3 jam sudah berlalu, Dini masih duduk di samping Dimas dengan membaca berkas berkas yang ada di hadapannya.
"Kayaknya aku nggak yakin sama bagian ini deh sayang, kamu ada saran?" tanya Dimas.
"Aku harus baca semuanya dulu Dimas, nggak bisa kalau langsung di subyek yang kamu tunjukin!"
"Ini aku udah setengah jalan, butuh banyak waktu buat kamu memahami keselurahan yang aku ketik, aku....."
"Beliin ice cream!" pinta Dini tiba tiba.
__ADS_1
"Ice cream? sekarang?"
"Iya, kamu yang beli, kan ada mini market di deket sini, sekalian beli mie instan hehe...."
"Oke, kamu nggak papa sendirian di sini?"
"Nggak papa, aku butuh waktu buat paham materi yang udah kamu ketik."
"Jangan terlalu dipaksain ya sayang, aku ke mini market dulu!"
"Hati hati Dimasku," balas Dini lalu mulai fokus pada laptop di hadapannya.
Setelah Dimas kembali dengan membawa ice cream, snack dan mie instan, Dini sudah menyelesaikan setengah dari materi yang sudah Dimas kerjakan.
"Yeeeeyy, ice cream!" ucap Dini dengan bersorak seperti anak kecil.
Dimas hanya tersenyum dengan membelai rambut Dini.
"Coba kamu cek materinya, kalau nggak sesuai sama apa yang kamu pikirkan kamu bisa hapus lagi," ucap Dini.
Dimas lalu membaca materi yang membuatnya ragu, namun setelah direvisi oleh Dini semuanya berubah. Apa yang ia pikirkan bisa ditulis dengan rapi oleh Dini.
"Aku dari kemarin mikirin ini Andini, tapi nggak pernah ketemu jawabannya dan sekarang kamu bisa jelasin dengan detail apa yang ada di kepalaku!" ucap Dimas yang sangat bangga dengan kemampuan gadisnya itu.
"Aku udah baca beberapa berkas ini, jadi aku sedikit banyak mengerti," balas Dini.
"Makasih sayang," ucap Dimas lalu mencium pipi Dini.
"Ayo lanjutin lagi!"
"Siap bos!"
Dimaspun melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Dini masih sibuk dengan ice cream di tangannya dan beberapa snack di hadapannya. Sesekali ia membaca berkas di hadapannya agar ia bisa membantu Dimas menyelesaikan pekerjaannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, tanpa sadar Dini tertidur dengan kepala yang dibaringkan di meja sedangkan ia duduk di lantai.
Dimas lalu mengangkat Dini dan membawanya ke dalam kamar, membaringkannya di ranjang.
Dimas duduk di samping Dini sebelum ia keluar. Ia menatap wajah cantik gadis yang dicintainya itu dengan penuh kebahagiaan.
"maafin aku sayang, maaf kalau terkadang aku masih ragu sama kamu dan Andi, aku cuma takut kamu lebih pilih dia daripada aku, karena sampe sekarang pun kamu masih belum bisa memilih antara aku dan Andi ," batin Dimas dalam hati.
Dimas lalu mencium kening Dini sebelum ia keluar. Dimas melanjutkan pekerjaannya di ruang tamu sampai ia tertidur karena matanya terlalu lelah menatap laptop dan membaca berkas berkas yang bertumpuk di hadapannya.
Jam sudah mununjukkan pukul 2 siang saat Dini mulai terbangun. Lagi lagi ia selalu tidak sadar saat Dimas membopongnya dari ruang tamu ke kamar.
Dini lalu keluar dari kamar untuk menghampiri Dimas yang ternyata sudah tertidur di ruang tamu. Dini kemudian menggeser laptop Dimas dan mulai mengerjakan pekerjaan Dimas di lembar yang berbeda agar jika salah, ia tidak menggangu hasil kerja Dimas.
Entah sudah berapa lama Dini mengetik dan membaca berkas di hadapannya, matanya kembali mengantuk. Akhirnya ia pun tertidur.
Di tempat lain, Andi sedang berada di kamarnya seorang diri. Ia membuat desain untuk klien nya yang merupakan seorang guru TK. Andi diminta untuk membuat desain yang bertemakan anak anak saat itu.
Tooookkk tooookkk tooookkk
"Masuk," ucap Andi saat pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang.
"Ada tamu kamu di depan," ucap mama Siska pada Andi.
"Tamu? siapa ma?"
"Keluar aja dulu, dia cariin kamu."
Andi lalu menutup laptopnya dan keluar untuk menemui tamu yang dimaksud sang mama.
Saat Andi baru saja berjalan ke arah ruang tamu, tamu itu segera berlari ke arah Andi dan memeluk Andi.
"Andi, kamu nggak papa kan? kamu baik baik aja kan?"
"Aku baik baik aja Nit, ayo duduk!"
Anita hanya diam memperhatikan Andi saat ia sudah duduk bersama Andi. Ia sengaja mempercepat kepulangannya karena ia mendengar kabar tentang kecelakaan yang melibatkan Andi.
Ia segera pergi ke rumah Andi, namun ibu Andi malah memberinya alamat rumah mama Siska padanya.
"Maaf nggak bisa nemenin kamu kemarin, tapi aku seneng kamu baik baik aja sekarang," ucap Anita.
"Nggak papa, aku udah baik baik aja kok."
"Kenapa kamu di sini? kamu tinggal di sini? ini rumah siapa?" tanya Anita.
"Ceritanya panjang, tapi yang pasti aku sekarang tinggal di sini."
"Aku khawatir banget sama kamu Ndi, aku sengaja minta pulang lebih dulu karena aku khawatir sama kamu," ucap Anita.
"Bukannya kamu lagi ada di daerah terpencil gitu ya? yang nggak ada akses internet!"
"Iya, tapi ada 2 orang temen papa yang sering keluar dari desa buat cari informasi terbaru tentang apapun yang lagi rame di internet, dan hari itu mereka kasih tau papa kalau ada kecelakaan bus yang parah dan korbannya salah satunya kamu, aku langsung minta papa buat cepet pulang tapi papa nggak mau, jadi cuma aku yang pulang."
"Jadi pak Sonny masih di sana?"
"Iya, waktu aku pulang, asisten rumah tanggaku bilang kalau Dini cari aku, dia mau ngasih tau aku tentang keadaan kamu, jadi aku langsung pergi ke rumah kamu tapi ibu kamu malah kasih alamat rumah ini!"
"Ibu di rumah?"
"Iya, di rumah, kenapa? apa kalian bertengkar? apa kamu kabur ke rumah ini?"
__ADS_1
"Aku sekarang tinggal di sini Anita, ini rumah mama ku, mama kandungku," jawab Andi.
"Mama kandung? maksud kamu?"
Andi pun menjelaskan secara singkat apa yang sudah terjadi pada dirinya dan rahasia apa yang baru ia ketahui sebelum ia mengalami kecelakaan.
"Jadi selama ini kamu tinggal sama orang tua angkat?"
"Semacam itu lah, tapi buat aku ayah dan ibu tetep orang tua ku," jawab Andi.
"Aku nggak nyangka kalau hal kayak gini beneran ada di dunia nyata," ucap Anita yang masih tak percaya pada apa yang baru saja Andi ceritakan padanya.
"Begitulah hidup, kita nggak pernah tau jalan seperti apa yang ada di hadapan kita."
"Iya, kamu bener, tapi apa kamu nggak akan balik ke rumah ibu dan ayah kamu?"
"Aku akan ke sana sesekali, tapi aku tetep tinggal di sini," jawab Andi.
Saat mereka sedang mengobrol, Adit yang baru saja masuk ke dalam rumah membawa pandangannya pada perempuan yang tidak asing di matanya.
"dia siapa? kayak pernah liat, tapi dimana?" batin Adit bertanya tanya.
"Dia siapa?" tanya Anita berbisik pada Andi.
"Ngapain diem di situ?" tanya Andi pada Adit.
Adit lalu berjalan ke arah Andi dan Anita, matanya masih memperhatikan Anita sambil mencoba untuk menggali ingatannya tentang Anita.
"Ini Anita, temen gue," ucap Andi memperkenalkan Anita pada Adit.
"Adit, kakaknya Andi," ucap Adit sambil menjulurkan tangannya pada Anita.
"Anita," balas Anita dengan senyum manisnya.
"Jadi kalian kakak adik?" tanya Anita dengan membawa pandangannya pada Andi dan Adit bergantian.
"Iya, tapi dia nggak pernah manggil kakak," jawab Adit.
"Jangan dengerin dia Nit, kita ngobrol di luar aja!" ucap Andi lalu menarik tangan Anita untuk ia bawa duduk di teras rumah.
Adit hanya diam di tempatnya sebelum sang mama datang dan menepuk bahunya.
"Mama, bikin kaget aja!" ucap Adit lalu duduk di sofa.
"Siapa itu? kamu kenal?" tanya mama Siska pada Adit.
"Temennya, Adit nggak kenal," jawab Adit.
Tak lama kemudian Andi masuk setelah Anita pulang.
"Pacar lo?" tanya Adit.
"Bukan," jawab Andi singkat.
"Baguslah kalau gitu," ucap mama Siska.
Mendengar ucapan mama Siska, Andi yang hendak naik ke lantai dua segera menghampiri sang mama.
"Kenapa mama bilang gitu?" tanya Andi yang duduk di samping Adit.
"Itu artinya mama nggak suka kalau lo pacaran sama dia!" jawab Adit.
"Gue nggak nanya lo!" balas Andi.
"Bener apa yang Adit bilang," ucap mama Siska.
"Kenapa ma? apa mama udah kenal sama Anita?"
"Mama nggak kenal sama dia, tapi yang pasti mama lebih suka Dini daripada dia," jawab mama Siska.
"Anita itu temen SMA Andi ma, temen Dini juga, kita udah berteman dari SMA," ucap Andi.
"Temennya Dimas juga?" tanya Adit.
"Mmmm.... iya," jawab Andi ragu.
Mendengar ucapan Andi tentang teman SMA dan jawaban Andi yang ragu tentang Dimas membuat Adit sadar jika perempuan yang baru saja berkenalan dengannya adalah perempuan yang pernah ia temui saat ia dan Dini sedang berada di kafe dan perempuan itu juga berada di kafe itu bersama Dimas.
"Dini kenal cewek itu kak, mereka dulu pernah deket di belakang Dini,"
Adit mengingat dengan jelas apa yang Dini ucapakan saat itu.
"apa seburuk itu masa lalu Anita sampe Dini harus sesedih itu," batin Adit dalam hati.
"Andi masuk dulu ma, ada yang harus Andi kerjain," ucap Andi yang hanya dibalas anggukan kepala mama Siska.
"Adit juga mau ke kamar ma!" ucap Adit lalu segera naik ke lantai dua, bukan ke kamarnya, tapi ke kamar Andi.
Adit mengetuk pintu kamar Andi lalu segera masuk sebelum Andi memintanya untuk masuk.
"Gue tau dia siapa," ucap Adit pada Andi.
"Maksud lo?"
"Anita, sejauh apa dia berhubungan sama Dimas? sejauh apa Anita nyakitin sahabat lo?"
__ADS_1
Andi hanya diam mendengarkan pertanyaan Adit. Ia tidak menyangka jika Adit mengetahui masa lalu yang buruk itu.