Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Hari Pertama Dini dan Dimas


__ADS_3

Malam belum berlalu. Raut kebahagiaan terpancar dari wajah Dini dan Dimas selama acara resepsi pernikahan mereka.


Begitu juga dengan mama dan papa Dimas, ibu Dini dan para tamu undangan yang datang.


Mereka tak pernah tau jika dalam kebahagiaan itu terdapat hati yang terluka dengan sangat dalam.


Andi masih berada di tangga darurat yang sangat jarang dilewati orang, ia duduk menyendiri bersama luka yang menyiksa batinnya.


Aletta yang melihat hal itu segera melangkahkan kakinya dengan pelan untuk menghampiri Andi.


Andi yang mendengar langkah kaki hanya diam dengan masih menyembunyikan wajahnya.


Aletta lalu duduk di samping Andi, mengusap punggung Andi dan membawanya ke dalam dekapannya.


Andi hanya diam membiarkan dirinya berada dalam dekapan Aletta. Luka di hatinya terlalu sakit untuk bisa ia rasakan sendiri, namun dengan kedatangan Aletta sedikit luka itu perlahan membaur bersama kesadaran Andi akan takdir yang harus ia jalani.


"Jangan ditahan Ndi, menangis nggak akan bikin kamu lemah," ucap Aletta dengan menepuk nepuk pelan punggung Andi.


Andi hanya diam menahan semua kesakitan yang ia rasakan. Meski begitu ia tidak menyesali keputusannya untuk membatalkan kepergiannya.


Ia berpikir jika ia benar benar pergi, mungkin ia tidak akan bisa melihat Dini sebahagia saat itu dan bukan tidak mungkin jika ia akan menyesal karena meninggalkan Dini begitu saja.


Cinta memang telah membodohinya, membuatnya kehilangan akal sehatnya, membuatnya membiarkan rasa sakit terus menariknya jauh ke dalam luka penuh derita.


Jika saja bisa, ia tidak akan memilih rasa sakit itu. Ia juga ingin bahagia seperti yang orang lain rasakan.


Namun cinta dalam hatinya terlalu besar membuatnya tidak bisa melepaskan sahabat yang dicintainya dengan mudah meski ia tau jika itu hanya sia sia belaka.


"Aku pikir aku kuat Ta, tapi ternyata aku nggak sekuat itu," ucap Andi dengan suara serak.


"Semua orang punya batasnya masing masing Ndi dan kamu sudah berhasil melampaui batas sanggup kamu dengan datang ke sini," balas Aletta.


Andi lalu melepaskan dirinya dari pelukan Aletta. Menatap wajah gadis cantik di hadapannya dengan terdiam.


"Cinta tulus kamu nggak akan sia sia Ndi, aku yakin Tuhan sudah siapin hal terindah buat kamu," ucap Aletta.


"Aku udah nggak punya harapan apapun lagi Ta, semuanya udah berkahir, hidupku rasanya selesai sampai di sini," ucap Andi dengan menundukkan kepalanya.


"Itu nggak bener," ucap Aletta dengan meraih tangan Andi dan menggenggamnya.


"Perjalanan kamu baru aja dimulai Ndi, perjalanan yang akan bawa kamu ke arah kebahagiaan yang memang sepantasnya kamu dapatkan," lanjut Aletta.


Andi hanya diam mendengarkan ucapan Aletta, ia kembali menatap gadis di hadapannya tanpa berucap apapun.


"Kamu punya bisnis yang sukses, kamu punya rencana buat lanjut kuliah, kamu punya kakak yang baik, mama, ayah dan ibu kamu yang sayang sama kamu, kamu juga punya aku yang akan selalu ada buat kamu," ucap Aletta.


Andi tersenyum tipis lalu melepaskan tangannya dari genggaman Aletta dan memeluk Aletta dengan erat.


"Aku nggak tau apa yang akan terjadi sama aku kalau nggak ada kamu Ta," ucap Andi.


"Kamu laki laki yang hebat Ndi, kamu laki laki yang baik, semua kebaikan itu akan kembali sama kamu, kamu tinggal tunggu waktunya aja sembari siapin tujuan masa depan kamu yang baru," balas Aletta.


Andi lalu melepaskan Aletta dari pelukannya, memegang kedua pipi Aletta dan mendaratkan kecupan singkatnya di kening Aletta.


Aletta terdiam membeku saat Andi melakukan hal itu. Meski hubungan mereka sudah lama berlalu, nyatanya sikap manis Andi membuat bunga bunga dalam hatinya yang sempat layu kembali merekah memenuhi setiap sudut hatinya.


Biiiiiipppp biiiipppp biiiiippp


Ponsel Andi berdering, sebuah panggilan dari Adit. Andipun menerima panggilan Adit.


"Halo Ndi, lo dimana? udah balik?"


"Belum, gue...... gue cari angin bentar," jawab Andi beralasan.


"Mama ngajak foto bareng Dini dan Dimas, lo mau ikut nggak?"


"Sekarang?"


"Iya lah, sekalian ajak Aletta juga!"


"Oke, tunggu bentar," balas Andi lalu mengakhiri panggilan Adit.


"Mama ngajak kita buat ikut foto sama Dini dan Dimas Ta," ucap Andi membuyarkan lamunan Aletta.


"Kamu mau ikut?" tanya Aletta yang berusaha menguasai hatinya yang sedang melambung tinggi.


"Iya, sama kamu juga," jawab Andi.


"Kamu yakin?"


Andi menganggukkan kepalanya penuh keyakinan.

__ADS_1


"Sini, aku rapiin dulu rambutnya," ucap Aletta sambil mengarahkan pandangan Andi ke arahnya agar ia bisa merapikan rambut Andi dengan mudah.


"Kamu nggak perlu memaksakan diri Ndi, kamu udah ngelakuin lebih dari yang kamu bisa," ucap Aletta.


"Selama ada kamu di sampingku, aku akan baik baik aja," balas Andi dengan tersenyum lalu beranjak dari duduknya.


Andi mengulurkan tangannya pada Aletta lalu menggenggam tangan Aletta dan mengajaknya kembali ke tempat resepsi Dini dan Dimas.


Sesampainya di sana Andi mencari keberadaan Adit dan sang mama.


"Itu mama!" ucap Andi lalu menggandeng tangan Aletta berjalan menghampiri sang mama.


Mama Siska yang menyadari kedatangan Andi menatap Aletta dengan pandangan tak percaya. Gadis tomboy yang baru saja ditemuinya kini tampak sangat cantik dengan balutan gaun pesta yang anggun.


"Malem tante," sapa Aletta.


"Kamu cantik sekali Aletta," balas mama Siska dengan tersenyum.


"Tante juga cantik banget," balas Aletta tersipu.


"Waaahhh waaahhh waaahhh, aku pikir Andi bawa cewek lain, ternyata Aletta!" sahut Adit.


"Malem kak Adit," sapa Aletta.


"Kamu beda banget sama waktu di rumah, kalau kayak gini baru aku percaya kalau kamu Aletta yang pernah aku temui," ucap Adit.


"Nggak ada yang beda," sahut Andi yang membuat Adit, mama Siska dan Aletta membawa pandangan mereka pada Andi.


"Sama sama cantik," lanjut Andi yang membuat Aletta semakin tersipu malu.


"Iya deh iya, ya udah ayo foto bareng, mama nggak bisa pulang terlalu malem soalnya," ucap Adit.


Aletta, Andi, Adit dan sang mamapun berjalan ke arah pelaminan untuk berfoto bersama Dini dan Dimas.


Diam diam Dini memperhatikan kedekatan Andi dan Aletta. Sejak ia melihat Andi datang bersama Aletta, sampai mereka kembali untuk berfoto Andi tidak pernah melepaskan tangan Aletta dari genggamannya.


Dini juga menyadari kedekatan Aletta dengan Adit dan mama Siska dan hal itu membuat Dini merasakan sesuatu yang susah untuk ia jelaskan.


Melihat Andi yang menggenggam erat tangan Aletta membuatnya iri. Tangan yang dulu hanya menggenggam tangannya kini sudah menggenggam tangan perempuan lain di hadapannya dan itu membuat hatinya terasa tidak nyaman.


Namun Dini kembali berusaha menyadarkan dirinya, ia sudah menikah dengan Dimas dan ia akan jarang memiliki waktu bersama Andi.


Dengan kedatangan Aletta, ia yakin Andi akan baik baik saja meski semakin berjarak dengannya.


Merekapun meninggalkan gedung dan pulang ke rumah Dimas.


Sesampainya di rumah, mereka segera masuk ke kamar masing masing. Ibu Dini tidur di kamar tamu, sedangkan Dini berjalan bersama Dimas ke arah kamar Dimas.


Saat Dini membuka pintu kamar Dimas, tampak kelopak mawar merah memenuhi ranjang Dimas. Lampu kamar yang biasa terang kini tampak remang tak seperti biasanya.


Dimas lalu menutup pintu kamar, mengangkat Dini dan menjatuhkannya di atas ranjang. Mereka saling menatap tanpa berucap apapun.


Aroma harum dari mawar dan lampu temaram membuat suasana menjadi lebih romantis.


Perlahan Dimas mendekatkan wajahnya pada Dini berniat untuk memberikan kecupannya pada Dini, namun Dini mendorong tubuh Dimas tiba tiba.


"Kita mandi dulu," ucap Dini dengan tersenyum.


"Hmmmm... oke!" balas Dimas lalu beranjak dari ranjangnya.


Tanpa ragu Dimas melepas kancing bajunya satu per satu di hadapan Dini, saat Dimas menarik kaos pendeknya, Dini menahan tangan Dimas.


"Kamu mau ngapain?" tanya Dini sambil memegangi tangan Dimas.


"Mandi, kamu juga mau mau mandi kan?"


"Iya, tapi..... tapi aku duluan," ucap Dini lalu berlari ke kamar mandi dan segera mengunci pintunya dari dalam.


"Sayang, buka pintunya, kita bisa mandi bareng biar cepet!" ucap Dimas sambil mengetuk pintu kamar mandi.


"Enggak, kamu tunggu aku selesai dan jangan buka pakaian kamu sebelum kamu masuk kamar mandi!" balas Dini dari dalam kamar mandi.


"Kenapa? kita kan udah menikah Andini, ayolah buka pintunya!"


"Enggak Dimas, kalau kamu maksa aku akan tidur di kamar sebelah sama ibu!"


Dimas hanya menghela napasnya lalu kembali duduk di tepi ranjangnya.


Setelah Dini selesai mandi, ia memanggil Dimas untuk memberikannya pakaian.


Dimaspun mengambil pakaian dari lemari dan memberikannya pada Dini tanpa berani melihat ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Kenapa ini? nggak ada yang lain?" protes Dini karena Dimas memberinya lingerie yang sangat tipis dan kecil.


"Setelah kamu jadi istri ku, itu baju tidur kamu sayang," balas Dimas dengan menahan senyumnya.


Tak lama kemudian Dini keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian yang sebelumnya ia kenakan.


Ia terlalu malu untuk mengenakan lingerie yang Dimas berikan padanya.


Dimas hanya tersenyum tipis lalu masuk ke kamar mandi. Sedangkan Dini segera mencari pakaian milik Dimas yang bisa ia kenakan sebelum Dimas keluar dari kamar mandi.


Menunggu Dimas mandi membuat Dini mengantuk, terlebih ia juga sangat lelah karena sudah berdiri berjam jam.


Dinipun membaringkan dirinya di atas ranjang dan tertidur begitu saja.


Saat Dimas keluar dari kamar mandi, ia melihat Dini yang sudah tampak tertidur pulas dengan mengenakan celana dan kaos pendeknya.


Dimas lalu mendekat ke arah Dini, membenarkan posisi tidur Dini agar lebih nyaman.


Dimas menatap gadis di hadapannya dengan senyum di wajahnya. Gadis yang selama ini ia perjuangkan kini telah menjadi miliknya seutuhnya.


Dimas membelai wajah Dini, mengusapnya lembut dan perlahan tangannya semakin turun ke arah bawah.


Namun Dimas segera menarik tangannya, memberikan kecupan singkatnya di kening Dini lalu segera memejamkan matanya di samping Dini.


**


Pagi telah tiba, Dini mengerjapkan matanya dan mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Ia tersenyum saat menyadari ia berada di kamar Dimas.


Dini lalu membuka selimut yang menutup tubuhnya dengan cepat dan bernapas lega saat melihat dirinya yang masih mengenakan pakaian Dimas dengan rapi.


"berarti semalem nggak terjadi apa apa," batin Dini dalam hati.


"emangnya kamu berharap terjadi apa?" batin Dini dengan tersipu malu.


Dini lalu membawa pandangannya pada Dimas yang masih terpejam di sampingnya. Mulai hari itu ia akan selalu melihat wajah tampan itu setiap ia bangun tidur.


Tiba tiba Dimas mengerjap dan membuka matanya saat Dini masih menatap wajahnya.


Dimas lalu tersenyum dan mengalungkan tangannya di leher Dini kemudian menariknya, membuat Dini terjatuh di atas badannya.


"Selamat pagi sayang," ucap Dimas dengan memeluk Dini erat.


"Selamat pagi suamiku," balas Dini lalu melepaskan dirinya dari pelukan Dimas.


Dini turun dari ranjang dan membuka tirai di jendela kamar Dimas. Tiba tiba Dimas memeluk Dini dari belakang, menyibakkan rambut Dini yang menutupi lehernya lalu menciumnya dengan lembut.


"Geli Dimas," ucap Dini dengan berbalik dan menghadap Dimas.


Dimas tersenyum dan membelai wajah Dini. Ia menatap wajah cantik yang sudah menjadi istrinya itu.


"Aku akan berusaha untuk menjadi suami yang baik buat kamu dan papa yang baik untuk anak anak kita nanti," ucap Dimas.


"Aku juga akan berusaha jadi istri yang baik buat kamu dan mama yang baik untuk anak anak kita," balas Dini.


Dimas lalu memeluk Dini, merasakan kehangatan pelukan seorang istri yang begitu dicintainya.


Selama detak di dadanya masih terasa, Dimas akan selalu berusaha untuk membahagiakan Dini, memberikan semuanya lebih dari yang Dini inginkan.


Setelah berpelukan beberapa lama, Dini dan Dimaspun mandi dengan bergantian lalu sarapan bersama mama papa dan ibu Dini.


"Gimana Dim? nyenyak?" tanya papa Dimas yang sengaja menggoda Dimas.


"Ya pasti nyenyak dong pa, kan pengantin baru," sahut mama Dimas.


Dini dan Dimas hanya tersenyum tipis menanggapi candaan mama dan papa Dimas.


Setelah selesai sarapan, Dini dan Dimas mengantarkan ibu Dini untuk pulang.


"Dini akan selalu hubungin ibu setiap hari, Dini juga akan sering main ke sini sama Dimas," ucap Dini dengan memeluk sang ibu saat Dini akan meninggalkan rumah yang sudah lama menjadi tempatnya tinggal bersama sang ibu.


"Sekarang kamu adalah istri Dimas, dia yang harus kamu utamakan daripada ibu, patuhi dia sebagai suami kamu, ibu di sini akan selalu berdoa untuk kebaikan rumah tangga kalian," ucap ibu Dini yang dibalas anggukan kepala Dini.


"Terima kasih sudah mempercayakan Andini sama Dimas Bu, Dimas janji akan jaga Andini dengan baik, mencintai dia dan memberinya kebahagiaan sepanjang hidupnya," ucap Dimas pada ibu Dini.


"Ibu percaya sama kamu Dimas, semoga kebahagiaan selalu menyertai rumah tangga kalian," balas ibu Dini.


Ibu Dini lalu memeluk Dini dan Dimas bergantian. Ibu Dini percaya jika Dimas adalah masa depan yang baik untuk Dini.


Ibu Dini tau bagaimana Dimas sangat mencintai Dini dan ibu Dini percaya pada pilihan yang sudah Dini tentukan.


Kebahagiaan seorang ibu adalah saat melihat anaknya bahagia dengan pilihannya sendiri dan ibu Dini sangat bahagia karena Dini bisa mendapatkan cinta yang besar dari Dimas.

__ADS_1


Di sisi lain, ibu Dini juga berharap jika Andi akan menemukan kebahagiaannya sendiri tanpa harus merasa tersakiti dengan pernikahan Dini dan Dimas.


__ADS_2