
Waktu terus berjalan tanpa henti, hari berganti meninggalkan masa masa sunyi dalam hati.
Setiap bangun tidur, Dini selalu memeriksa ponselnya, meyakinkan dirinya jika hal indah yang terjadi beberapa hari yang lalu bukanlah sebuah mimpi.
Sebuah restu dari sang ibu yang kembali menghangatkan hatinya, mendekatkannya dengan impian masa depan bersama Dimas, memekarkan bunga hatinya yang sempat layu karena sebuah penolakan yang tak beralasan.
Biiiippp Biiippp Biiippp
Ponsel Dini berdering, panggilan dari Dimas.
"Pagi sayang," sapa Dimas.
"Pagi masa depanku," balas Dini manja.
"Apa kamu masih berpikir ini mimpi?"
"Iya, ini terlalu tiba tiba."
"Aku akan buktiin kalau ini nyata, buruan mandi, aku anter kamu ke kantor!"
"Oke, bye!"
Dini segera beranjak dari tidurnya untuk mandi. Setelah selesai mandi dan bersiap siap, Dini keluar dari kamarnya untuk sarapan bersama sang ibu.
"Dimas!"
"Pagi sayang," ucap Dimas sambil menarik pinggang Dini dengan satu tangannya dan mencium bibir Dini.
"Kamu ngapain di sini?"
"Buktiin kalau kamu nggak mimpi," jawab Dimas sambil membantu ibu Dini membawa lauk ke meja makan.
"Ayo sarapan," ajak ibu Dini.
Selesai sarapan, Dini dan Dimas segera berangkat.
"Nanti bisa jemput aku?" tanya Dini pada Dimas.
"Kayaknya nggak bisa sayang, aku ada janji sama klien di daerah X nanti sore."
"Oh, ya udah nggak papa, aku mau ajak ibu ke rumah sakit Dim."
"Ibu sakit?"
"Enggak, cuma mau medical check up aja, buat mastiin ibu baik baik aja."
"Ibu pasti baik baik aja sayang, kapan kamu ke rumah sakit?"
"Rencananya nanti sore, pulang kerja."
"Kamu sama Andi aja ya, biar dia bawa mobilku!"
"Naik taksi aja nggak papa kok."
Tak lama kemudian mereka sampai di depan tempat kerja Dini. Dimas lalu turun dan membukakan pintunya untuk Dini.
"Jaga diri baik baik ya sayang!" ucap Dimas sambil mencium kening Dini.
"Kamu juga," balas Dini lalu berjalan masuk ke kantornya.
Seperti biasa Dini menyiapakan minuman Adit dan menaruhnya di meja kerja Adit.
Tepat jam 7, Adit memasuki ruangannya. Ia duduk dan menyeruput air putih hangat di depannya.
Dini lalu menyerahkan jadwal harian Adit seperti biasa.
"Meeting jam 8?"
"Iya, saya sudah siapkan materinya pak," jawab Dini.
"Sudah kamu kirim ke saya?"
"Saya sudah email Pak Adit kemarin."
Adit lalu segera mengecek emailnya dan memijit keningnya.
"Pak Adit baik....."
Dini menghentikan ucapannya ketika Adit memberikan isyarat lewat tangannya agar Dini keluar.
"Saya permisi pak," ucap Dini lalu keluar dari ruangan Adit.
"Pak Adit kenapa sih, dari kemarin kayaknya nggak fokus."
**
Di tempat lain, sampai jam 8 pagi Dimas masih berada di home store seorang diri. Ia menghubungi Andi beberapa kali namun tak ada jawaban.
Tak lama kemudian Andi datang dan duduk di meja kerjanya, ia tampak tak bersemangat.
"Lo kenapa akhir akhir ini telat sih?" tanya Dimas.
"Sorry, gue nggak bisa tidur tiap malem," jawab Andi.
"Desain yang buat Pak Tatang mana? udah selesai kan?"
"Pak Tatang, bukannya baru diambil tanggal 7 ya?"
"Lo pikir sekarang tanggal berapa?"
Andi lalu mengecek ponselnya dan mendapati jika hari itu adalah tanggal 7. Ia lalu mengambil ponsel Dimas yang berada di meja dan kembali melihat tanggal yang terpampang di sana tanggal 7.
"Jangan bilang lo belum selesai!"
"Tinggal finishing aja kok," ucap Andi sambil mulai membuka lembar kerjanya.
"Lo gila? ini sih bukan tinggal finishing Ndi, lo tau kan Pak Tatang mau liat hasilnya sebelum jam makan siang?"
"Iya tau, sorry gue nggak tau kalau udah tanggal 7!"
"Ini bukan soal lo tau apa enggak Ndi, tapi beberapa hari ini lo kayak nggak niat kerja, lo nggak ngerjain apa apa di sini dan di rumah lo nggak tidur tapi nggak ngerjain apa apa juga!"
"Sorry Dim."
"Lo kenapa sih Ndi? ada apa? lo nggak seneng gue sama Andini udah baikan?"
"Bukan itu Dim, gue juga nggak tau kenapa."
"Gue nggak mau tau, lo selesain desain lo sebelum jam makan siang, gue nggak mau nama baik clothing arts kita jadi jelek gara gara lo!"
__ADS_1
"Iya, gue usahain."
**
Jam sudah menunjukkan pukul 10 siang, Dini dan Adit keluar dari ruangan meeting.
"Pak Adit kenapa pak? bukannya saya sudah memberikan materi meetingnya?" tanya Dini pada Adit.
Pasalnya selama meeting berlangsung, Adit tampak tidak fokus. Ia bahkan kurang memahami isi materi yang sudah Dini siapkan, beruntung Dini sudah memahami dengan baik sehingga bisa menutupi ketidakfokusan Adit.
"Maaf Din, saya belum mempelajari materi meeting yang kamu berikan."
Dini lalu berlari kecil dan menghentikan langkahnya tepat di depan Adit. Ia mendongakkan kepalanya untuk menatap mata Adit.
"Kak Adit ada masalah?" tanya Dini.
Adit hanya tersenyum dan melewati Dini begitu saja. Dini kembali berlari mengejar Adit yang langkahnya begitu panjang menurut Dini.
"Kita bahas nanti saat makan siang!" ucap Adit lalu menggandeng tangan Dini untuk masuk ke dalam mobil.
Jam makan siang tiba. Dini dan Adit makan siang di sebuah kedai mie ayam langganan Adit, sebuah kedai milik seorang laki laki yang pernah menolong mama Adit.
"Gimana keadaan mama kak?" tanya Dini pada Adit.
"Mama sehat," jawab Adit singkat.
"Terus masalah apa yang ganggu pikiran kak Adit sekarang?"
"Din, kakak sebenernya punya adik, adik kandung, tapi kita udah pisah dari dia bayi dan sekarang kakak nggak tau dia dimana."
"Kenapa kalian pisah?"
"Kakak nggak tau, kakak masih sangat kecil waktu itu, mama nggak pernah jelasin apa apa, yang kakak tau mama pingin dia kembali."
"Apa bayi itu yang ada di lukisan mama?"
Adit mengangguk pelan.
"Mama memang terlihat sehat secara fisik, tapi sebenernya kesehatan mental mama terganggu sejak kakak masih SD."
Dini hanya diam dengan memggengam tangan Adit di atas meja. Ia ingat bagaimana keadaan mama Siska ketika ia berada di rumahnya beberapa hari yang lalu dan kini ia sudah mengetahui jawabannya kenapa hal itu terjadi.
"Mama selalu menyesal dan bersedih setiap mengingat dia, dia yang sama sekali kita nggak tau kebenarannya, dia yang selalu ada di hati mama melebihi kakak."
"Kakak udah cari dia?"
"Bertahun tahun kakak cari dia Din, tapi sampe sekarang belum ada hasil apa apa, tiap mama kangen sama dia, mama melukis di pinggir kolam renang, kalau kakak biarin, mama bisa disana sampai berjam jam bahkan satu hari penuh, mama cuma melukis dan menangis di sana."
"Itu kenapa kak Adit harus cepet dateng waktu mama melukis di sana?"
"Iya, walaupun kakak tau apa yang akan terjadi selanjutnya."
"Kakak udah coba ajak mama ke psikiater atau psikolog?"
"Udah, tapi cuma sekali, mama nggak mau dianggap gila, dan kakak juga nggak menganggap mama seperti itu, tapi mama nggak mau bertemu psikiater ataupun psikolog lagi!"
"Dini nggak tau kalau mama sama kak Adit menyimpan masalah seberat itu, mama selalu keliatan ceria di depan Dini."
"Iya, mama selalu konsumsi obat dari psikiater tapi kalau mama lagi kangen sama dia, mama akan....."
Adit menghentikan ucapannya, terlalu sakit untuk menceritakan yang sebenarnya.
"Dini yakin mama akan baik baik aja," ucap Dini berusaha menenangkan Adit.
Dini menggeleng.
"Karena namanya 'Andi'. "
"Maksud kak Adit?"
"Nama mereka sama Din, mama kasih nama dia Andi."
"Adik kak Adit namanya Andi? bisa kebetulan gitu ya!"
"Iya, kebetulan yang membuat mama merasa kalau Andi adalah anaknya, itu kenapa mama sangat terpukul waktu Andi minta mama buat nggak temuin dia lagi."
"Aditya Putra? Andi Putra Prayoga? kebetulan??" batin Dini bertanya tanya.
"Andi pasti punya alasan kenapa dia kayak gitu kan kak?"
Adit mengangguk meski ia tidak setuju dengan alasan yang Andi berikan.
"Pesanan datang, maaf lama bos, antri banyak!" ucap si penjual mie ayam pada Adit.
"Nggak papa pak."
Setelah menghabiskan mie ayam dan es teh, Adit dan Dini lalu kembali ke kantor.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Andi masih belum bisa menyelesaikan pekerjaannya.
"Selesai Ndi?" tanya Dimas yang dibalas gelengan kepala Andi.
"Lo kalau ada masalah cerita sama gue, jangan lo pendam sendiri!"
"Lo kapan mulai masuk kantor?" tanya Andi mengalihkan pembicaraan.
"Awal bulan depan, lo jangan bikin gue makin berat ninggalin home store dong!"
"Pak Tatang minta desainnya selesai minggu depan kok, tenang aja!"
"Bukan cuma itu Ndi, kalau lo nggak bisa fokus sama satu kerjaan lo, gimana gue mau ninggalin lo sendirian di sini?"
"Gue bisa Dim, jangan khawatir!"
"Terserah lo lah, abis ini lo jemput Andini pake mobil gue!"
"jemput Dini ke kantor? apa aku ntar ketemu Adit?"
"Kenapa nggak lo aja sih?" protes Andi.
"Lo mau gantiin gue ketemu klien?"
"Big No!"
"Makanya lo jemput Andini, gue bisa pinjem mobil yang dibawa Pak Adi!"
"Oke deh."
__ADS_1
**
Tepat jam 4 sore, Andi sudah berada di depan tempat kerja Dini
Tak lama kemudian ia melihat Dini keluar seorang diri, Andipun segera keluar dari mobil dan melambaikan tangannya pada Dini.
Dini melambai, namun ia masih berdiri di tempatnya. Seseorang lalu berjalan menghampiri Dini. Mereka berjalan bersama ke arah Andi.
"kenapa dia ke sini sih!" batin Andi kesal.
"Dimas yang minta kamu kesini ya?" tanya Dini pada Andi.
"Iya, ayo pulang."
Andi lalu masuk ke dalam mobil tanpa menyapa Adit.
"Kita duluan ya kak!" ucap Dini pada Adit yang dibalas anggukan dan senyum Adit.
Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan Adit. Aditpun segera masuk ke dalam mobil.
"Maaf pak, dari SPBU," ucap Rudi.
"Antar saya ke rumah sakit Rud!"
"Baik pak."
Di sisi lain, Dini dan Andi sedang menuju ke rumah Dini untuk menjemput ibu Dini.
"Kenapa kamu keluar sama Adit sih, nggak takut diapa apain lagi?"
"Aku kan udah bilang Ndi, kejadian waktu itu nggak sengaja."
"Hati orang nggak ada yang tau Din!"
"Tapi senggaknya jangan berburuk sangka!"
"Ini bukan buruk sangka, ini waspada!"
"Aku ini personal assistant Pak Adit Ndi, aku pasti sering sama Pak Adit, lagian tadi Pak Adit nungguin supirnya, bukan nyamperin kamu!"
"Terserah kamu aja, yang penting kamu harus hati hati sama dia!"
"Udah ah nggak usah dibahas."
Tak lama kemudian mereka sampai. Andi, Dini dan ibunya pun berangkat ke rumah sakit.
"Kamu ini kenapa nggak percaya sih kalau ibu sehat!" gerutu ibu Dini.
"Dini percaya bu, buat memastikan aja kok!"
Tak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit. Ibu Dini lalu masuk ke sebuah ruangan bersama Dokter, sedangkan Dini dan Andi menunggu di depan.
"Kamu kemarin kenapa sih berantem sama Dimas?" tanya Dini.
"Kapan?"
"Yang waktu kamu nemenin kak Adit di rumah sakit, kenapa juga kamu bisa di rumah sakit sama kak Adit?"
"Aku nggak berantem sama Dimas!"
"Berarti sama kak Adit? berantem?"
"Dia yang nonjok aku Din, kamu nggak liat siapa yang luka?"
"Tapi kenapa kak Adit bisa masuk rumah sakit?"
"Aku juga nggak tau, dia tiba-tiba pingsan, jadi aku bawa dia ke rumah sakit sama Dimas."
"Dokter nggak bilang apa apa?"
"Dokter cuma bilang tekanan darahnya turun!"
"Emang kenapa kalian berantem?"
"Kamu kebanyakan tanya deh kayaknya, udah kayak wartawan aja!"
"Udah deh jawab aja, kamu......"
"Dini!" panggil seseorang tiba tiba.
"Kak Adit, kak Adit kenapa di sini?" balas Dini bertanya.
"Kakak emang tiap hari ke sini buat nemenin mama, kamu?"
"Dini lagi nganterin ibu check up kak."
"Kakak duluan ya, ruangan mama di sana, barangkali kamu mau mampir!" ucap Adit sambil membawa pandangannya pada Andi.
Dini hanya diam memperhatikan arah pandangan Adit pada Andi. Ia melihat Andi yang menjadi diam sejak kedatangan Adit. Entah kenapa ada aura berbeda yang terasa diantara mereka berdua.
Adit lalu melanjutkan langkahnya ke ruangan sang mama.
"Ndi, kamu nggak papa?" tanya Dini pada Andi yang memperhatikan Adit yang semakin jauh dari mereka.
"Nggak papa," jawab Andi.
Dini lalu menarik tangan Andi.
"Tangan kamu basah, kenapa?" tanya Dini sambil mengusap tangan Andi.
"Nggak papa, aku tunggu di luar," jawab Andi lalu segera berlari keluar dari rumah sakit.
"dia kenapa sih, tangannya kenapa sering basah sekarang?" tanya Dini dalam hati.
Di luar rumah sakit, Andi duduk di sebuah bangku yang berada di bawah pohon.
Pandangannya lalu menangkap seseorang yang sedang berlari menggunakan pakaian rumah sakit.
Di sisi lain, Adit begitu terkejut melihat sang mama yang tidak ada di ruangannya. Adit sudah mencarinya di kamar mandi tapi tidak juga menemukan sang mama.
Adit segera berlari dan menanyakan keberadaan sang mama.
"Mama saya di mana sus? kenapa nggak ada di ruangannya?" tanya Adit panik.
"Sudah dicek di kamar mandi pak?"
"Sudah sus, saya tidak akan sepanik ini kalau memang mama di kamar mandi."
"Baik pak, saya akan coba cek melalui rekaman CCTV!"
__ADS_1
"Saya akan tuntut rumah sakit ini kalau sampai terjadi sesuatu pada mama saya!"
"Kami mohon maaf pak, kami akan segera menemukan mama Pak Adit."