
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang saat Andi sampai di rumah Anita.
"Kamu nggak lagi sibuk kan?" tanya Anita pada Andi.
"Enggak, kenapa?"
"Kalau gitu kamu harus mampir, ajarin aku masak!"
"Oke," balas Andi.
Andi dan Anitapun turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah. Mereka disambut oleh asisten rumah tangga Anita yang dari dulu bekerja di sana dan mengenal Andi.
"Nggak belanja dulu?" tanya Andi.
"Kita lihat dulu ada apa aja di kulkas," jawab Anita lalu membuka kulkasnya.
"Bahan utamanya ada ayam sama udang, sekarang lihat bumbunya!"
Anita lalu mengajak Andi ke dapur dan memperlihatkan bermacam macam bumbu yang lengkap di sana.
"Kamu mau masak apa?" tanya Andi pada Anita.
"Mmmm..... gimana kalau ayamnya dibikin ayam bakar? bisa?"
"Bisa? udangnya bisa dimasak udang saos tiram, gimana?"
"Setuju," balas Anita.
Anita lalu membuka salah satu rak yang ada di sana dan mengambil dua celemek lalu memberikannya satu pada Andi.
"Harus banget pake ini?" tanya Andi yang enggan untuk mengenakannya.
"Harus dong, biar baju kamu nggak kotor," jawab Anita lalu mengambil celemek dari tangan Andi dan memakaikannya pada Andi.
"Nah, gini kan aman," ucap Anita sambil mengikat tali di bagian belakang pinggang Andi dengan posisi Anita berdiri di hadapan Andi.
Saat itu Anita bisa mencium dengan jelas aroma parfum Andi, membuat jantungnya sedikit berdetak lebih cepat.
Anita lalu segera berbalik dan mengambil bahan bahan dari kulkas.
"Bibi bantuin non!" ucap asisten rumah tangga Anita.
"Nggak perlu bi, Anita mau belajar masak sama Andi, bibi istirahat aja!"
"Baik non."
Andi dan Anitapun mulai menyiapkan bahan bahan yang mereka butuhkan.
Setelah beberapa lama berkutat di dapur, bau harum makanan yang mereka masak pun mulai menyeruak ke dalam hidung.
"Baunya enak banget Ndi!" ucap Anita.
"Iya dong, kamu siapin wadahnya, biar aku yang selesaiin ini!"
Anita lalu mengambil piring dan mangkok. Setelah semuanya selesai, Andi dan Anita membawanya ke meja makan.
"Aku ajak bibi makan ya!" ucap Anita pada Andi.
"Boleh boleh," balas Andi.
Anita lalu memanggil asisten rumah tangganya dan diajak makan bersama Andi.
"Waaahh, ini non Anita yang masak?" tanya sang bibi.
"Anita cuma bantuin Andi aja bi, gimana bi, enak kan?"
"Enak non, enak banget," jawab bibi yang tampak menikmati makanannya.
Mereka lalu menikmati makan siang mereka. Setelah selesai dan membereskannya, Anita mengajak Andi masuk ke kamarnya.
"Udah lama banget kan kamu nggak ke sini?"
"Iya, udah banyak yang berubah dari kamar kamu," jawab Andi.
"Iya, satu satunya yang nggak berubah cuma ini," ucap Anita sambil menarik bantalnya.
Sebuah foto tampak berada di bawah bantal Anita.
"Mama kamu?" tanya Andi.
"Iya, dari dulu aku selalu taruh foto mama di sini," jawab Anita.
Anita lalu melangkah ke arah jendela kamarnya dan berdiri menatap ke arah luar.
"Kamu beruntung Ndi, kamu punya ibu dan ayah yang sayang sama kamu, kamu punya mama dan kakak yang juga sayang sama kamu, kamu punya sahabat dan banyak orang yang sayang sama kamu," ucap Anita
"Kamu juga beruntung dengan kehidupan kamu sekarang Nit, masih banyak orang di luar sana yang nggak seberuntung kamu!" ucap Andi yang berjalan mendekati Anita.
"Tiap aku sendirian, aku selalu kangen sama mama, aku berharap mama ada di sampingku dan denger semua ceritaku, kasih tau aku apa yang harus aku lakuin buat memperbaiki keadaan, tapi itu nggak mungkin, yang ada aku cuma bicara sama diriku sendiri, nggak ada yang bisa denger cerita ku apa lagi mengerti aku," ucap Anita.
Andi lalu memegang kedua bahu Anita dan memutar ke arahnya.
"Ada aku Nit, kamu selalu punya aku, aku akan jadi tempat kamu bercerita, tempat kamu berkeluh kesah, aku akan berusaha buat selalu ada untuk kamu," ucap Andi dengan menatap ke dalam mata Anita.
"Nggak bisa Ndi, aku nggak bisa cerita semuanya sama kamu," ucap Anita dengan melepaskan tangan Andi dari bahunya lalu duduk di tepi ranjangnya.
"Kenapa? karena aku bukan mama kamu?" tanya Andi.
__ADS_1
"karena apa yang aku ceritain akan bikin sahabat kamu sakit hati dan pastinya kamu akan membenciku Ndi, aku nggak bisa lepasin Dimas dan aku nggak mungkin ceritain itu sama kamu!" batin Anita dalam hati.
"Aku emang bukan mama kamu Nit, aku bukan saudara kamu dan aku juga belum mengenal kamu dengan baik, tapi aku teman kamu, aku akan belajar buat mengenal kamu lebih baik lagi, biar kamu nggak ngerasa kesepian biar kamu punya tempat buat bercerita dan mengungkapkan isi hati kamu," ucap Andi.
"Kenapa? kenapa kamu mau ngelakuin itu?" tanya Anita.
Andi diam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Anita.
"Aku udah jahat sama Dini dan Dimas, mereka sahabat kamu dan aku udah ngelakuin hal buruk sama mereka, tapi kenapa kamu masih mau berteman sama aku?"
"Semua orang punya masa lalu Nit dan apa yang kamu lakukan dulu adalah bagian dari masa lalu kamu, waktu terus berjalan dan apa yang terjadi di masa lalu biarkan tetap jadi masa lalu, yang paling penting sekarang adalah kamu yang sekarang ada di depanku, bagiamana kamu yang sekarang menjalani hidup kamu tanpa dibayangi oleh masa lalu!" jawab Andi.
"Kamu percaya sama aku?" tanya Anita yang kini berdiri di hadapan Andi.
Andi mengangguk penuh keyakinan meski ia tau apa yang sebenarnya Anita rencanakan.
"Aku harap kamu bisa jaga kepercayaan aku Nit," ucap Andi.
"Gimana kalau aku mengecewakan kamu?"
"Aku nggak bisa bayangin itu, tapi kalau emang aku salah karena udah percaya sama kamu, aku akan sangat kecewa dan aku pastiin kalau aku nggak akan pernah temui kamu lagi, nggak ada nama Anita lagi di hidupku, bahkan sebagai masa lalu sekalipun," jawab Andi penuh penegasan.
"Sebenci itu kamu sama aku?"
"Enggak, aku nggak benci sama kamu, tapi aku kecewa karena kamu udah khianatin kepercayaan yang udah aku kasih buat kamu dan kamu harus tau kalau rasa kecewa itu lebih menyakitkan dibanding rasa benci," jawab Andi.
"Aku nggak akan kecewain kamu, aku akan jaga kepercayaan kamu sama aku," ucap Anita yakin.
Andi hanya menganggukkan kepalanya dengan membelai rambut Anita.
Anita lalu berjinjit dan mendaratkan kecupan nya tepat di bibir Andi, lalu segera berbalik dan keluar dari kamarnya.
Sedangkan Andi masih terdiam di tempatnya, ia masih tak percaya pada apa yang baru saja terjadi.
Itu terjadi begitu cepat tanpa Andi bisa mencegah apa lagi menolaknya.
**
Di tempat lain, Dimas mengajak Dini untuk ke rumahnya. Hanya ada beberapa pekerja di sana karena mama dan papanya sedang keluar.
Dimas mengajak Dini untuk pergi ke gazebo yang ada di taman belakang.
Dini duduk di sana, sedangkan Dimas merebahkan badannya di pangkuan Dini.
"Sayang, setelah kita menikah nanti kamu mau tinggal dimana?" tanya Dimas.
"Terserah kamu, tapi kalau bisa kita tinggal sendiri, biar lebih mandiri," jawab Dini.
"Kamu udah ada gambaran tentang rumah kita nanti?"
"Mmmm..... belum, tapi yang pasti, aku nggak mau rumah yang terlalu besar," jawab Dini.
"Banyak? berapa?"
"Mmmmmm.... 11? 12? biar kita bisa punya klub sepak bola sendiri hehe....."
Dini lalu mencubit pinggang Dimas, membuat Dimas mengaduh kesakitan.
"Aku nggak masalah kalau kamu mau satu atau dua, terserah kamu sayang karena yang mengandung dan melahirkan kan kamu, aku nggak mau membebani kamu dengan semua itu," ucap Dimas dengan mendongakkan kepalanya menatap Dini.
"Aku nggak merasa terbebani Dimas, tapi kalau 11...... rasanya kita berlebihan," ucap Dini yang membuat Dimas terkekeh.
Dimas lalu beranjak dan duduk di hadapan Dini. Mereka saling menatap sebelum Dimas mendaratkan kecupan nya di bibir Dini.
Untuk beberapa saat mereka saling bertaut sebelum dering ponsel membuat Dimas mengakhirinya.
"Siapa?" tanya Dini.
"Papa sayang," jawab Dimas lalu menggeser tanda panah hijau.
"Halo pa, ada apa?"
"Udah dulu, nanti dilanjut lagi, mama udah siapin makan siang!" jawab papa Dimas dengan menahan tawanya.
Dimas lalu segera mengakhiri panggilan sang papa dan membawa pandangannya berkeliling mencari keberadaan sang papa.
"Ada apa Dimas?" tanya Dini yang melihat Dimas tampak panik.
"Papa sayang, papa di sini," jawab Dimas.
"Di sini? di sini gimana maksudnya?" tanya Dini tak mengerti.
"Papa liat apa yang kita lakuin barusan," ucap Dimas yang membuat Dini menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kamu serius? emang papa bilang apa?"
"Ayo ikut aku!"
"Eh tunggu, mau kemana?"
"Makan siang, mama udah siapin makan siang," jawab Dimas.
"Tapi papa kamu......"
"Udah biarin aja, papa emang suka jahil!"
"Tapi aku malu Dimas, aku pulang aja ya!"
__ADS_1
"Nggak bisa Andini, biarin aja papa ngomong apa, cuekin aja, oke?"
"Tapi....."
"Udah, ikut aku, mama udah nungguin," ucap Dimas lalu menggandeng tangan Dini untuk diajak masuk ke dalam rumah.
Mereka berjalan ke arah meja makan. Di sana sudah ada mama dan papa Dimas yang menunggu.
"Hai Din, udah dari tadi?" tanya mama Dimas.
"Barusan ma," jawab Dini yang berusaha bersikap normal.
"Maaf ya papa ganggu, kalian bisa lanjutin lagi setelah makan siang," ucap papa Dimas dengan santai.
Dini dan Dimas hanya diam dengan menundukkan kepala mereka.
"Emang kalian lagi sibuk ngapain?" tanya sang mama.
"Biasa ma, mereka......."
"Papa makan dulu aja deh, papa laper banget kayaknya," ucap Dimas memotong ucapan sang papa sambil memberikan nasi di piring sang papa.
"Hahaha..... kamu tau aja kalau papa udah laper!" balas papa Dimas tertawa.
"Kalau tau kalian lagi sibuk, mama pasti antar makan siangnya ke belakang," ucap mama Dimas yang tidak mengerti maksud dari sang suami.
"Enggak kok ma, Dini sama Dimas nggak lagi sibuk," balas Dini.
"Papa kan emang suka ngelantur ngomongnya kalau lagi laper," ucap Dimas dengan nada kesal.
Mama Dimas lalu membawa pandangan nya pada sang suami yang hanya diam dengan menahan senyumnya.
Mama Dimas lalu menendang pelan kaki sang suami karena merasa aneh dengan situasi saat itu.
"Nanti papa ceritain," ucap papa Dimas berbisik namun bisa di dengar jelas oleh Dini dan Dimas.
Dini dan Dimas hanya diam, berusaha mengabaikan ucapan sang papa.
Setelah selesai makan siang, mereka mengobrol beberapa lama sebelum akhirnya Dimas mengantarkan Dini pulang.
"Setelah antar aku pulang kamu langsung balik ke apartemen?" tanya Dini saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Iya sayang, aku pasti ke sini lagi kok," jawab Dimas dengan membelai rambut Dini.
Sesampainya di rumah Dini, mereka segera turun dari mobil.
"Apa Anita akan tetep gangguin kamu nanti?" tanya Dini pada Dimas.
"Aku harap enggak sayang, dia pasti pikir pikir lagi kalau mau dateng ke kantor," jawab Dimas.
"Mudah mudahan aja," ucap Dini.
"Jangan terlalu dipikirin sayang, aku pasti cerita sama kamu kalau ada apa apa," ucap Dimas dengan menggenggam kedua tangan Dini.
"Dimas, menurut kamu apa aku harus ikut kursus memasak juga?"
"Kenapa? kamu kan sibuk sayang, kamu bahkan pulang malem biasanya!"
"Biar aku bisa masak buat kamu, ibu bilang masakanku nggak layak dimakan," ucap Dini dengan menundukkan kepalanya.
"Kamu nggak bisa masakpun nggak masalah buat aku Andini, kamu udah capek kerja jadi jangan ditambah sama kegiatan yang bikin kamu semakin capek," ucap Dimas.
"Aku bisa ikut kursus waktu libur aja, hari Sabtu sama Minggu, gimana?"
"Sabtu sama Minggu itu hari buat kita ngabisin waktu bareng sayang, kalau weekend kamu sibuk, kita ketemunya kapan? kamu nggak kangen sama aku?"
"Iya juga sih, tapi aku pingin bisa masak Dimas, aku udah coba ikutin apa yang ada di yutub tapi malah jadi kayak racun!"
Dimas seketika menahan tawanya saat mendengar ucapan Dini.
"Tuh kan kamu ketawain aku!"
"Hehe.... maaf sayang, kamu beneran pingin bisa masak?"
"Iya, aku pingin belajar sama ibu tapi ibu bilang nanti buang buang bahan, sayang kalau jadinya nggak enak malah kebuang makanannya."
"Kamu minta tolong Andi aja, dia kan bisa masak!" ucap Dimas memberi saran.
"Andi? iya juga sih, aku bisa minta tolong dia buat ajarin aku masak, tapi......"
"Tapi kenapa sayang?"
"Kamu nggak marah? aku akan lebih sering sama Andi nanti!"
"Kenapa aku harus marah? kan kamu belajar masak buat aku dan aku percaya sama kamu Andini, aku juga percaya sama Andi, aku tau gimana persahabatan kalian," ucap Dimas.
"Makasih Dimas, kamu emang paling pengertian," balas Dini dengan memeluk Dimas.
"Jaga hati kamu buat aku sayang, aku di sana selalu jaga hati aku buat kamu," ucap Dimas
"Iya, pasti," balas Dini.
"Sekarang kamu masuk ke rumah, karena aku harus balik ke apartemen!" ucap Dimas dengan melepaskan Dini dari pelukannya.
Dini menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
Dimas lalu mencium kening Dini sebelum dia meninggalkan rumah Dini.
__ADS_1
"aku nggak bisa kekang kamu Andini, karena kalau aku ngelakuin itu, kamu akan kehilangan kenyamanan kamu sama aku dan memilih pergi seperti di mimpiku, tapi aku juga nggak akan lepasin kamu dari aku, aku satu satunya laki laki yang akan jadi masa depan kamu Andini"