
Langit siang itu masih memancarkan terik sang mentari. Dini turun dari taksi dan segera berjalan ke arah home store.
"Dini, kamu ngapain ke sini?" tanya Andi.
"Dimas ada?" balas Dini balik bertanya.
"Masih beli barang, bentar lagi juga balik, kamu tunggu di dalem aja!"
"Tapi jangan bilang ya kalau aku di sini!"
"Oke!" balas Andi.
Dini lalu masuk ke ruang kerja Dimas dan Andi. Mereka memang bekerja di ruangan yang sama, hanya saja di meja yang berbeda.
Dini duduk di belakang meja kerja Dimas yang sedikit berantakan, ia pun segera merapikannya. Tanpa sengaja sikunya menyenggol sesuatu dan membuatnya terjatuh.
"Paket? belum di buka?" tanya Dini pada dirinya sendiri sambil membolak balikkan paket kecil di tangannya.
Betapa terkejutnya Dini ketika ia melihat siapa nama pengirim paket itu.
"Dari Anita? buat Dimas? kenapa......"
"Andini, kamu kok di sini?" tanya Dimas yang baru saja masuk ke ruangannya.
Dini hanya diam, ia menaruh paket itu di atas meja lalu segera berdiri dan berjalan menuju pintu keluar dengan raut wajah datar.
"Mau kemana?" tanya Dimas.
"Pulang!"
Dimas lalu menarik tangan Dini dan memeluknya.
"Aku masih kangen," ucap Dimas.
"Kangen aku apa Anita?" balas Dini bertanya.
"Kenapa jadi bawa bawa Anita?" tanya Dimas dengan melepaskan Dini dari pelukannya.
"Udahlah aku pulang aja!"
"Andini, jangan pernah pergi tanpa alasan!" ucap Dimas tegas.
Dini lalu berbalik dan duduk di sofa. Raut wajahnya masih tampak kesal. Ia ingat beberapa hari yang lalu Dimas sedang berada di dalam mobil bersama Anita dan sekarang ia melihat Anita yang memberikan sebuah paket untuk Dimas. Itu benar benar membuatnya kesal.
"Andini, ada apa?" tanya Dimas dengan berjongkok di depan Dini.
"Ada sesuatu yang nggak kamu ceritain sama aku!" jawab Dini.
"sesuatu? sesuatu apa? apa Andini udah tau aku ke rumahnya? apa Andini udah tau kalau aku janji sama ibunya?" batin Dimas bertanya tanya.
"Di depan ku kamu seolah olah nggak mau maafin Anita, tapi di belakang ku kalian deket banget ya!" ucap Dini dengan tersenyum pahit.
"oh soal Anita!"
"Soal paket itu? aku nggak tau kenapa dia ngirim paket itu, aku juga nggak mau tau isinya apa makanya nggak aku buka," ucap Dimas.
"Apa kalian udah deket lagi kayak dulu?"
"Enggak sayang, aku masih belum bisa maafin dia, kalau bukan karena kamu yang minta, aku nggak akan pernah mau ketemu dia!"
"Bohong!"
"Kok bohong sih, aku harus gimana biar kamu percaya?"
"Aku cuma tanya satu kali ya Dimas, kapan terakhir kali kamu ketemu Anita?"
"Aku lupa," jawab Dimas cepat.
"Tuh kan kamu nggak mau cerita sama aku!"
"Dia itu salah satu yang paling nggak penting buat aku Andini, jadi aku...."
"Nggak usah alasan deh, aku tau kamu abis jalan sama dia beberapa hari yang lalu, aku sengaja nggak tanya karena nunggu kamu cerita, tapi kamu nggak pernah cerita, aku coba lupain, tapi ternyata sekarang malah kamu dapet paket dari dia, aku ke sini itu mau kasih kejutan buat kamu, malah aku yang dikasih kejutan sama paket itu!" ucap Dini panjang.
Dimas hanya tersenyum memperhatikan gadisnya yang mulai bawel. Ia merindukan kebawelan itu.
"Kenapa senyum senyum? jangan dikira aku bisa luluh ya sama senyum itu!"
"Kamu makin cantik kalau lagi bawel," balas Dimas dengan senyum manisnya dan tatapan mautnya yang selalu bisa menghipnotis Dini.
Dini berusaha menahan senyumnya. Ia tidak boleh goyah dengan senyum dan tatapan Dimas padanya.
"Kamu cemburu ya?" tanya Dimas masih dengan senyum manisnya.
"Eee... enggak," jawab Dini dengan berusaha mengalihkan pandangannya dari Dimas.
"Sayang, dengerin aku, aku nggak pernah jalan sama Anita, aku juga nggak tau kenapa dia ngirim paket itu buat aku dan yang pasti aku belum bisa nerima dia buat jadi temenku lagi, kamu percaya sama aku kan?"
Dini lalu mengambil ponsel miliknya dan memperlihatkan pada Dimas foto yang baru saja diunggah Anita di sosial medianya beberapa hari yang lalu.
"Masih mau bohong?" tanya Dini.
"Aku nggak tau kalau dia....."
__ADS_1
"Ini bukan soal tau atau enggak Dimas, nyatanya kalian jalan bareng malem itu dan kamu nggak cerita apa apa sama aku!"
Dimas diam beberapa saat, ia tidak mungkin mengatakan jika malam itu ia baru pulang dari rumah Dini.
"Kita nggak jalan bareng Andini, kamu salah paham, malem itu aku ke rumah Andi, tapi Andi nggak ada, waktu aku mau balik ke mobil Anita dateng, dia juga mau ketemu Andi, tapi karena Andi nggak ada dia minta aku nganterin dia pulang, aku nggak bisa nolak karena dia masuk gitu aja!"
"Cuma nganterin pulang?"
"Iya, cuma nganterin pulang, kita juga nggak ngobrol apa apa, aku juga langsung pulang abis nganterin dia!"
"Tapi caption yang dia tulis kenapa kayak gitu?"
"Kamu tanyain dia sayang, aku juga nggak tau, kalau kamu mau tau isi paket itu juga kamu buka aja!"
Dini hanya diam. Ia percaya pada Dimas, namun jauh dalam hatinya ia masih meragukan Anita. Namun ia menepis keraguan itu, ia berusaha meyakinkan hatinya untuk percaya pada Anita.
"Sayang, nggak akan ada yang terjadi antara aku sama Anita, kamu percaya sama aku kan?"
Dini menganggukkan kepalanya.
Dimas lalu mengambil paket yang ada di mejanya dan memberikannya pada Dini.
"Kamu mau buka?"
Dini menggeleng.
Dimas lalu melemparnya ke dalam tempat sampah.
"Kok di buang?" tanya Dini.
"Aku nggak mau liat isinya, kamu juga nggak mau liat kan?"
"Tapi......"
"Dim, ada yang nyariin lo!" ucap Andi yang tiba tiba datang.
"Siapa?" tanya Dimas.
"Temennya bokap lo katanya!"
"Oh, oke!"
"Aku keluar dulu ya sayang," ucap Dimas pada Dini.
Dini mengangguk. Dimas lalu keluar untuk menemui tamunya. Dini yang masih berada di dalam ruangan segera mencari gunting untuk membuka paket yang sudah Dimas buang ke tempat sampah.
Sebuah cincin yang indah terlihat di dalam sebuah kotak. Ada juga selembar surat yang ia temukan di dalamnya.
Dimas, kamu inget cincin ini? Iya, ini cincin yang kamu kasih buat aku waktu pertunangan kita. Jangan khawatir Dimas, aku nggak akan ganggu hubungan kamu sama Dini lagi. Anggap aja dengan kembalinya cincin ini ke tangan kamu, itu artinya aku udah lepasin kamu.
Sekarang, aku cuma bisa simpan perasaan ini dengan baik, seperti Andi yang selalu menyimpan perasaannya dengan baik. Aku mau memulai semuanya dari awal Dimas, aku mau kita kayak dulu lagi, sebagai teman, sebagai sahabat yang saling menyayangi.
Anita.
Setelah membaca surat Anita, Dini menaruh cincin dan surat itu di atas meja kerja Dimas lalu kembali duduk di sofa.
"Anita masih suka sama Dimas? apa aku bisa percaya sama Anita? apa semuanya akan baik baik aja?" batin Dini bertanya tanya.
"seperti Andi yang menyimpan perasaannya dengan baik? perasaan apa yang Anita maksud? apa yang aku nggak tau dari Andi? apa yang udah Andi sembunyiin dari aku?" tanya Dini dalam hati.
Banyak pertanyaan kini bersarang dalam kepalanya. Tak lama kemudian Dimas masuk dan duduk di samping Dini.
"Sayang, bukannya kamu harus bed rest ya?" tanya Dimas.
"Aku.... aku udah baik baik aja kok, aku....."
"Sssttttt...." Dimas menempelkan jari telunjuknya di bibir Dini.
Tangan Dimas lalu menggenggam tangan Dini, ia memajukan badannya ke arah Dini. Sesaat sebelum ia melancarkan aksinya, Andi kembali datang.
"Dim, gue....."
Andi menghentikan ucapannya ketika melihat apa yang seharusnya tidak ia lihat. Ia benar benar menyesal karena datang di waktu yang tidak tepat.
BRAAKK
Andi lalu segera berbalik dan menutup pintu dengan keras. Dimas yang berada di dalam segera menegakkan badannya, begitu juga Dini.
"Kamu bener, aku harus bed rest, aku balik dulu ya!" ucap Dini lalu segera berdiri dari duduknya.
Saat Dini baru saja menggenggam handle pintu, Dimas memeluknya dari belakang.
"Aku sayang sama kamu Andini," ucap Dimas dengan berbisik di telinga Dini.
Dengan masih memegang handle pintu, Dini membawa pandangannya ke arah Dimas yang memeluknya dari belakang.
"Aku juga," ucap Dini pelan.
Cuuupppp
Satu kecupan singkat mendarat di bibir Dini. Dimas lalu melepaskan Dini dari pelukannya dan membuka pintu ruangan.
"Kamu pulang sama Andi ya sayang!" ucap Dimas pada Dini.
__ADS_1
Dini hanya mengangguk. Ia masih mengatur debaran dalam hatinya karena perlakuan Dimas yang baru saja ia terima.
"bisa bisanya dia biasa aja kayak gitu, nggak sadar apa kalau udah bikin deg deg'an!" batin Dini dalam hati.
"Gue tadi cuma mau bilang, gue mau beli ATK bentar," ucap Andi pada Dimas.
"Sekalian anterin Andini ya Ndi!"
"Oke," balas Andi.
Andi lalu mengambil kunci mobil Dimas dan mengantar Dini pulang.
Dalam perjalanan pulang, mereka hanya saling diam. Sungguh momen yang awkward bagi mereka berdua.
Sampai akhirnya kebisuan mereka membawa Dini pulang ke rumahnya.
"Aku turun dulu ya!" ucap Dini yang hanya di balas anggukan kepala Andi.
Andi lalu kembali ke tempat kerjanya setelah sebelumnya membeli ATK yang ia butuhkan. Ia lalu mengembalikan kunci mobil Dimas dan duduk di belakang meja kerjanya, mengerjakan desain yang harus segera ia selesaikan.
Namun konsentrasinya hilang karena apa yang ia lihat beberapa waktu yang lalu.
"Gimana Ndi? udah jadi sketsa nya?" tanya Dimas yang menghampiri meja kerja Andi.
Di sana, ia hanya melihat kertas putih yang penuh dengan coretan. Tak tampak sketsa yang biasanya selalu membuatnya terpukau.
"Ndi, lo nggak papa?" tanya Dimas.
Andi menghela napasnya. Ia lalu memutar kursinya dan menghadap ke arah Dimas.
"Gue nggak tau apa yang akan gue omongin ini bikin lo marah atau enggak, tapi gue harus ngomong!" ucap Andi serius.
"Ngomong aja Ndi!" balas Dimas dengan menarik kursinya dan duduk di depan Andi.
"Gue nggak tau sejauh apa hubungan lo sama Dini, gue tau kalian udah tunangan, gue tau nggak mudah buat kalian jalanin hubungan ini, tapi gue mohon sama lo Dim, jaga Dini, gue percaya lo nggak akan ngelakuin hal hal di luar batas, tapi mengingat rumitnya hubungan kalian gue takut kalau kalian akan pilih jalan pintas yang salah," ucap Andi.
Dimas menahan tawanya mendengar ucapan Andi. Sama sekali tak pernah terpikirkan dalam hidupnya untuk memilih jalan yang Andi pikirkan. Meski tidak mengucapkannya secara langsung, ia mengerti apa yang Andi khawatirkan.
"Kenapa lo ketawa? jangan bilang kalian udah....."
"Ndi, gue sama Andini udah dewasa, kita saling mencintai, kita udah sama sama dari lama, apa menurut lo gue nggak pernah ngelakuin itu sama Andini?" tanya Dimas yang sengaja menggoda Andi.
"Kalian udah....... oke, itu hak kalian, tapi lo tau batasannya kan Dim? lo tau jalan pintas nggak akan selesaiin semua masalah lo kan?"
"Hahaahahaha.........."
Dimas hanya tertawa puas mendengar kekhawatiran Andi pada gadis yang dicintainya.
"Dim, gue serius!" ucap Andi dengan memukul Dimas menggunakan buku di mejanya.
"Gue sama sekali nggak pernah berpikir tentang 'jalan pintas' yang lo maksud itu Ndi, lo tenang aja gue pasti bisa jaga Andini, gue tau batasan batasan hubungan kita, gue nggak akan ngelakuin itu sebelum kita nikah Ndi!"
"Lo serius? jadi kalian belum pernah......"
"Enggaklah, gue bukan cowok brengsek yang gampang ngelakuin itu Ndi!"
Andi menghela napasnya panjang. Ia merasa lega mendengar ucapan Dimas.
"Gue sayang banget sama dia Ndi, walaupun jalan kita nggak mudah, gue nggak akan pernah nyerah!"
"Gue percaya sama lo!" balas Andi.
"Jadi ini yang bikin lo nggak fokus?" tanya Dimas.
"Gue cuma khawatir Dim!"
"Oke oke, sekarang udah nggak ada yang lo khawatirin kan? sekarang kerja yang bener, jangan pulang sebelum desain lo selesai hari ini hahaha......"
Andi hanya menggeleng gelengkan kepalanya mendengar ucapan Dimas. Ia lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya, begitu juga Dimas.
"cincin? surat apa ini?" tanya Dimas dalam hati setelah ia menyadari keberadaan cincin dan surat yang berada di atas mejanya.
Ia lalu membaca surat itu sekilas, namun segera meremasnya dan membuangnya ke tempat sampah bersama cincinnya sekaligus.
"aku nggak akan biarin kamu masuk dalam hubunganku sama Andini Nit, setelah semua yang udah kamu lakuin, nggak ada maaf lagi buat kamu," ucap Dimas dalam hati lalu kembali berkonsentrasi pada pekerjaannya.
**
Di tempat lain, Adit sedang menemani sang mama di rumah sakit. Biasanya, meski hari Sabtu, Adit tetap sibuk dengan pekerjaannya. Namun karena kondisi sang mama yang masih terbaring di rumah sakit, ia memilih untuk meninggalkan pekerjaanya.
"Gimana keadaan mama?" tanya Adit sambil menyuapi mamanya.
"Mama baik baik aja Dit, besok kan mama udah boleh pulang," jawab mama.
"Mama harus jaga kesehatan ya ma, jaga diri mama baik baik, cepet hubungin Adit kalau ada apa apa!"
"Kalau kamu khawatir sama mama, kenapa kamu nggak tinggal sama mama?"
"Ma, mama kan tau alasannya, Adit harus penuhi janji Adit sama papa ma!"
"Hmmmm, iya mama ngerti, besok kamu jemput mama sama pacar kamu ya, bisa kan?"
Deg. Adit tak bisa berkata kata lagi. Ia lupa ia belum memberi tahu sang mama yang sebenarnya.
__ADS_1
Sejujurnya, pada awalnya Adit mengira jika Andi adalah pacar Dini, namun karena Dini mengakuinya sebagai teman, Adit berpikir jika Dini sedang sendiri.
Jika saja ia tau Dini sudah bersama Dimas, ia tidak akan mengakuinya sebagai pacar di depan mamanya.