
Bentang langit malam itu tampak indah dengan kilauan bintang dan sinar sang rembulan. Namun semua keindahan itu seperti tak ada artinya bagi Adit.
Setelah beberapa lama ia duduk di samping ranjang Ana, Ana mulai mengerjap dan membuka matanya.
Adit melempar senyum manisnya seolah tak ada hal pahit yang baru saja ia dengar.
"Dit, gue......"
"Apa masih ada yang sakit? mau gue panggil Dokter?"
"Enggak, gue nggak papa," ucap Ana yang hendak duduk namun ditahan oleh Adit.
"Lo tiduran aja dulu, keadaan lo masih lemah," ucap Adit.
"Dokter bilang apa sama lo?"
"Lo harus jaga kesehatan dan jangan stres," jawab Adit.
Ana hanya mengangguk mendengar jawaban Adit.
"Lo pulang aja, gue mau hubungin cowok gue biar dia kesini," ucap Ana.
"Oke, lo istirahat ya, gue balik dulu," ucap Adit yang dibalas anggukan kepala Ana.
Adit lalu keluar dari ruangan Ana, namun ia tidak pulang. Ia duduk di kursi yang berada di depan ruangan Ana.
Malam semakin larut, jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, tapi Adit masih duduk di tempatnya. Sesekali ia menguap, matanya sangat lelah dan ingin tertidur tapi otaknya tak bisa berhenti memikirkan perempuan di dalam ruangan itu.
Ia ingin bertanya banyak hal pada Ana, namun mengingat keadaan Ana yang sedang tidak baik baik saja, ia menahannya. Ia hanya bisa menunggu calon suami Ana, namun sampai menjelang pagi, tak ada siapapun yang datang menemui Ana.
"ada apa sebenarnya An?" tanya Adit dalam hati.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi, Adit lalu menghubungi seseorang dan memintanya untuk berjaga di depan ruangan Ana.
Tak lama kemudian seseorang itu datang.
"Bersikap wajar saja, jangan sampai dia tau kalau kamu orang suruhan saya dan laporkan apapun yang terjadi selama kamu di sini!" ucap Adit sebelum ia pergi.
"Baik pak."
"Terima kasih, saya pergi dulu!"
"Baik pak."
Adit lalu meninggalkan rumah sakit. Sebelum mengendarai mobilnya ia terlebih dahulu membeli kopi untuk menghilangkan rasa kantuk yang sudah ia tahan semalaman.
Namun percuma saja, ia bahkan sudah tertidur selama beberapa menit di gerai kopi yang ada di depan rumah sakit. Setelah ia terbangun, ia segera menghubungi Rudi.
"Halo Rud, kamu bisa berangkat sekarang?"
"Bisa pak, saya ke apartemen pak Adit sekarang," jawab Rudi.
"Saya nggak di apartemen Rud, saya di depan rumah sakit X."
"Baik pak, saya kesana sekarang."
"Oke, terima kasih Rud!"
"Sama sama pak."
Adit lalu kembali membaringkan kepalanya di meja, tak butuh waktu lama ia kembali tertidur.
Ketika Rudi sampai, ia segera menghubungi Adit karena ia tak menemukan keberadaan Adit.
"Saya sudah di depan rumah sakit pak, tapi saya tidak melihat pak Adit!" ucap Rudi.
"Kamu tunggu di sana, saya kesana sekarang!"
"Baik pak."
Adit lalu keluar dari gerai dan berjalan ke arah rumah sakit untuk mengambil mobilnya. Ia lalu mengendarai mobilnya ke depan rumah sakit, menghampiri Rudi.
Adit lalu menggeser duduknya, membiarkan Rudi mengambil alih kemudi.
"Pak Adit dari gerai kopi?" tanya Rudi memastikan.
Adit hanya mengangguk dengan mata terpejam.
"Setau saya pak Adit nggak minum kopi kan?"
"Saya terpaksa Rud," jawab Adit.
Tak lama kemudian mereka sampai di apartemen Adit. Rudi lalu membangunkan Adit perlahan lahan.
"Pak Adit, sudah sampai pak," ucap Rudi dengan sedikit menggoyangkan tangan Adit yang tampak tertidur sangat pulas.
"Oh, iya, maaf Rud, saya ngantuk banget," ucap Adit.
Adit lalu segera masuk, mandi dan bersiap siap ke kantor.
Sesekali ia masih menguap ketika ia dalam perjalanan ke kantor bersama Rudi.
"Pak Adit sepertinya kelelahan," ucap Rudi.
"Saya cuma kurang tidur Rud," balas Adit yang kembali memejamkan matanya.
Tak lama kemudian mereka sampai dan lagi lagi Adit masih tampak nyenyak di kursinnya.
"Pak Adit, maaf pak, sudah sampai di kantor," ucap Rudi membangunkan Adit.
Adit lalu mengerjap dan kembali menguap. Raut wajahnya tampak tidak bersemangat hari itu.
Adit lalu segera masuk ke dalam ruangannya setelah sebelumnya mencuci wajahnya.
Adit duduk dan menyeruput minuman hangat yang selalu Dini siapkan di meja kerjanya.
__ADS_1
"Permisi pak, ini jadwal pak Adit hari ini," ucap Dini sambil menyerahkan sebuah map pada Adit.
"Tolong kamu cancel semua pertemuan hari ini ya Din, saya sedang tidak enak badan," ucap Adit setelah ia membaca jadwal hariannya.
"Pak Adit mau pulang aja? biar saya sama pak Jaka yang handle."
Adit hanya menggelengkan kepalanya lalu menyuruh Dini keluar dengan isyarat tangannya.
Jam istirahat tiba, Adit segera berlari ke luar dari ruangannya sambil menghubungi Rudi.
"Siapkan mobil Rud, sekarang!"
"Baik pak."
Adit lalu pergi ke rumah sakit bersama Rudi. Sesampainya di sana ia segera menemui orang suruhannya.
"Gimana? ada yang datang?" tanya Adit.
"Tidak pak, dari pagi sampai sekarang belum ada yang datang."
Adit mengangguk lalu masuk ke dalam ruangan Ana.
"Gimana keadaan lo?" tanya Adit lalu duduk di samping ranjang Ana.
"Baik, gue mau pulang Dit."
"Dokter bilang lo harus di sini sampe keadaan lo pulih."
"Gue bosen di sini, yang ada gue makin stres nanti!"
"Oke, nanti sore gue anter lo pulang."
"Thanks Dit."
"Cowok lo udah kesini?" tanya Adit.
"Mmmm.... udah, dia baru aja balik," jawab Ana berbohong.
Adit hanya mengangguk anggukan kepalanya mendengar jawaban Ana yang ia tau adalah sebuah kebohongan.
**
Di tempat lain, Dini, Andi dan Dimas sedang makan siang bersama. Hari itu mereka hanya bertiga tanpa Anita.
"Udah seneng kan lo nggak ada Anita di sini!" ucap Andi pada Dimas.
"Kalau lo mau makan sama dia, jangan ngajak gue," balas Dimas kesal.
"Dia lagi ada di sekitar sini Dim, makanya gue ajak dia sekalian!"
"Udah jangan dibahas lagi, kan sekarang dia nggak di sini," ucap Dini menengahi.
"Kalian itu emang suka banget bikin gue jadi obat nyamuk!" gerutu Andi kesal.
"Makanya lo cari pacar," balas Dimas.
"Beruntung ya Aletta jadi satu satunya yang bisa bikin kamu jatuh cinta," ucap Dini dengan menunduk, mengambil french fries, membuat Andi dan Dimas saling pandang.
"Apa jangan jangan kamu belum bisa move on dari Aletta?" lanjut Dini bertanya dengan menatap ke arah Andi.
"aku bahkan nggak tau apa aku beneran jatuh cinta sama Aletta atau enggak," batin Andi dalam hati dengan menatap mata Dini.
Dini dan Andi masih saling menatap tanpa suara, membuat Dimas hanya tersenyum kecil memperhatikan mereka berdua.
"Sayang, aku ke toilet dulu," ucap Dimas yang membuat Dini mengalihkan pandangannya dari Andi, begitu juga Andi yang mengalihkan pandangannya dari Dini.
Kini hanya ada Andi dan Dini di sana.
"Kalau bukan Aletta, apa Anita?" tanya Dini pelan.
Andi hanya menggeleng, tanpa menjawab pertanyaan Dini.
Hening. Dini dan Andi kini tampak canggung.
Tak lama kemudian Dimas datang dan mengajak mereka pergi meninggalkan kafe. Dimas lalu mengantarkan Dini kembali ke kantor.
Sepanjang perjalanan, Dini dan Andi masih saling diam, membuat suasana menjadi semakin kaku.
Setelah mereka sampai di depan kantor Dini, Dini segera keluar dari mobil Dimas. Sedangkan Dimas segera membawa mobilnya ke arah home store bersama Andi.
"Kalian berantem?" tanya Dimas pada Andi.
"Siapa?"
"Ya lo sama Andini, kenapa dari tadi diem aja?"
"Gue nggak tau harus jawab gimana pertanyaan dia, karena pada kenyataannya yang gue tau gue cuma jatuh cinta sama dia," jawab Andi.
Dimas hanya diam mendengar jawaban Andi. Ia tau bagaimana Andi sangat mencintai Dini, ia juga tau bagaimana Andi selalu menyembunyikan perasaannya pada Dini.
Yang ia tidak tau, entah sampai kapan Andi akan bertahan dengan keadaan itu. Keadaan yang membuatnya memblokir semua rasa pada perempuan lain yang mendekatinya.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, tak seperti biasanya, Adit segera meninggalkan ruangannya tepat pada jam 4.
"kak Adit kenapa sih, hari ini kayaknya nggak semangat kerja gitu, nggak kayak biasanya," batin Dini bertanya tanya.
Dini lalu keluar dari ruangannya dan menghampiri Dimas yang sudah menunggunya di depan kantor.
"Mau kemana kita?" tanya Dini saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Beli hadiah buat Andi," jawab Dimas.
Sesampainya di tempat yang dituju, Dini dan Dimas segera keluar dari dalam mobil. Dimas menggandeng tangan Dini dan diajaknya masuk ke sebuah tempat dengan logo apel tergigit di depannya.
__ADS_1
"Kamu serius mau ke sini?" tanya Dini meyakinkan.
"Apa yang Andi butuhin ada di sini sayang," jawab Dimas.
Setelah beberapa lama memilih, akhirnya Dimas menemukan apa yang ia cari. Merekapun segera keluar setelah melakukan pembayaran.
Sebuah iPad keluaran terbaru dari merk terkenal itu kini sudah ada di tangan Dimas dan sebentar lagi akan berpindah tangan pada Andi.
"Kenapa kamu beli ini buat Andi?" tanya Dini.
"Biar dia lebih semangat ngerjain desainnya, biar dia bisa bawa home store lebih baik lagi," jawab Dimas.
"Andi pasti seneng, kamu emang sahabat yang baik buat Andi."
"Kamu udah tau mau beli apa?"
"Belum, aku......"
"Dimas, Dini!" panggil seseorang yang tiba-tiba datang menghampiri Dimas dan Dini.
Dimas lalu menarik tangan Dini menjauh dari Anita.
"Kalian ngapain di sini?" tanya Anita yang masih mengikuti Dimas dan Dini.
"Lagi beli hadiah buat ulang tahunnya Andi," jawab Dini.
"Sama dong, kamu beli apa?"
"Belum tau, kamu beli apa?"
"Aku beli hoodie buat Andi, liat deh bagus kan?" jawab Anita sambil menunjukkan hoodie yang baru saja dibelinya pada Dini dan Dimas.
"Iya bagus," jawab Dini.
"Aku sengaja pilih ini karena ini mirip sama hoodie punya Dimas, iya kan Dim?"
Dimas hanya diam, tak menjawab pertanyaan Anita, ia bahkan mengabaikan Anita.
"Aku tau Dimas suka warna ini dan karena Andi sama Dimas sahabatan, jadi aku kasih dia warna yang sama kayak punya Dimas," jelas Anita.
"Sayang, kita pulang sekarang ya!" ajak Dimas pada Dini.
"Ayo!" balas Dini.
"Eh kalian mau pulang? aku bisa nebeng nggak? aku tadi nggak bawa mobil soalnya!"
Dini dan Dimas lalu saling pandang dan Dimas menggelengkan kepalanya perlahan pada Dini.
"Oke, nggak papa," balas Dini yang membuat Dimas menghembuskan napasnya kasar karena kesal.
Akhirnya Dimas dan Dini pun mengantarkan Anita pulang terlebih dahulu.
Setelah mengantar Anita pulang, Dimas membawa mobilnya ke arah rumah Dini.
"Dimas, kamu masih marah?" tanya Dini yang sedari tadi melihat Dimas hanya diam.
"Kamu tau aku nggak suka dia deketin kita, tapi kamu malah mau nganterin dia pulang!"
"Kita kan temen Dimas, apa salahnya nganterin pulang, kamu...."
"Aku nggak suka sama dia Andini, aku benci sama dia!"
"Iya aku tau, tapi dia masih temanku Dimas!"
Tak lama kemudian mereka sampai di depan rumah Dini. Beruntung perdebatan mereka tidak berakhir panjang.
"Aku minta maaf sayang, aku cuma nggak mau dia ada sekitar ku lagi," ucap Dimas pada Dini.
"Tapi itu bukan jadi alasan buat aku ikutan benci sama dia Dimas!"
Dimas menganggukkan kepalanya lalu mencium kening Dini.
**
Di tempat lain, Adit sedang mengurus administrasi sebelum ia membawa Ana keluar dari rumah sakit. Sebelum ke rumah sakit, Adit sudah meminta Rudi untuk pulang agar Adit bisa berdua dengan Ana.
Setelah semuanya selesai, Adit mengantarkan Ana pulang. Tak lupa ia membeli banyak sayur dan buah untuk Ana.
"Mulai sekarang, jaga pola makan kamu, jaga kesehatan kamu dan...."
"Kenapa lo ngelakuin ini Dit?" tanya Ana memotong ucapan Adit.
"Kenapa? nggak ada alasan apapun!" jawab Adit yang kini sibuk menata buah dan sayur di dalam kulkas.
"Lo udh tau semuanya kan?" tanya Ana.
Adit menggeleng tanpa menjawab pertanyaan Ana.
"Gue bukan Ana yang lo kenal lagi Dit, gue cuma cewek kotor yang nggak punya apa apa, harga diri gue udah nggak ada, gue....."
Ana menghentikan ucapannya, menahan sesak dan perih di dadanya. Ana bukanlah tipe perempuan yang mudah bersedih, ia perempuan yang selalu penuh semangat dan memberikan suasana yang positif di sekitarnya.
Namun sekarang masa depannya sudah hancur. Impiannya sudah hancur tak menyisakan sedikit saja celah untuknya kembali mengejar impian masa depan yang ia harapkan.
Adit lalu mendekat dan memeluk Ana.
"Gue nggak akan nanya apapun sama lo, lo bisa cerita sama gue kapan pun lo mau," ucap Adit.
Ana hanya diam, matanya yang tampak sayu itu masih tetap tegar membendung air mata yang ingin tumpah.
"Jangan ditahan An, menangis bukan kesalahan, bukan juga kelemahan, lo akan semakin kuat setelah lo luapin semua kesedihan lo lewat air mata, gue akan selalu di sini nemenin lo, jagain lo dan hapus air mata lo!"
Ana lalu memeluk Adit dengan erat. Ia membenamkan kepalanya dalam dekapan Adit dan mulai terisak. Baginya, kesedihan terbesarnya adalah saat kedua orang tuanya meninggal.
Namun kali ini, ia juga merasakan kesedihan yang teramat sakit yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
__ADS_1
Ia menyesal, namun itu sama sekali tidak berguna. Sekarang, ia hanya bisa menangis dalam dekapan Adit.