Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Melewati Batas??


__ADS_3

Andi dan Dini masih berada di bukit. Andi memeluk Dini dengan erat, menahan luka yang menganga lebar dalam hatinya.


Ia tidak menyalahkan cinta dalam hatinya, ia justru menyalahkan dirinya sendiri yang berharap terlalu jauh pada cinta yang dimiliknya.


"Andi, kamu baik baik aja?" tanya Dini yang merasa Andi memeluknya begitu erat, tak seperti biasanya.


Andi masih diam dengan berusaha menahan air mata yang sudah terbendung di kedua sudut matanya.


"Aku.... aku ikut seneng Din," ucap Andi dengan suara serak dan akhirnya air matanya jatuh bersama dengan kebohongan yang terucap dari bibirnya.


"Makasih Ndi," balas Dini dengan membalas pelukan Andi.


Entah kenapa Dini merasa jika Andi sedang tidak baik baik saja. Ia bisa merasakan degup jantung Andi di dadanya berdetak tak beraturan.


Setelah beberapa lama dalam posisi itu, Andi melepaskan Dini dari pelukannya dan memegang kedua pipi Dini, menatapnya dengan dalam dan penuh cinta.


Dini hanya diam dengan apa yang dilakukan Andi padanya, kini ia tau jika Andi baru saja menangis di punggungnya karena ia melihat mata Andi yang tampak merah dan sembab.


"aku sayang sama kamu Din, aku cinta sama kamu, tapi aku sahabat kamu, kita bersama sejak kecil sebagai sahabat, bahkan saat kita remaja dan beranjak dewasa kita tetap menjadi sahabat, maaf karena aku sempat berharap lebih dengan hubungan kita, maaf telah egois karena ingin memiliki kamu sebagai masa depan buat aku, aku cinta sama kamu Din, sampai kapanpun cinta ini akan tetap ada bahkan setelah kamu pergi dari hadapanku," batin Andi dalam hati.


Dini yang merasa mendapat tatapan begitu dalam dari Andi hanya diam dengan berbagai rasa dalam hatinya.


Ada sesuatu yang menyentuh jauh ke dalam hatinya, membuat debaran aneh kembali terasa di dadanya.


"Kamu bahagia dengan keputusan kamu Din?" tanya Andi setelah ia berhasil menguasai dirinya sendiri.


Dini hanya menganggukkan kepalanya tanpa bersuara.


"Apapun yang membahagiakan kamu akan bikin aku bahagia Din, aku yakin Dimas akan jadi masa depan yang baik buat kamu," ucap Andi dengan membelai wajah Dini.


"Makasih Ndi, aku harap nggak akan ada yang berubah diantara kita, sampai kapanpun kamu akan selalu jadi sahabat yang ada di hati aku, sampai kapanpun kita akan jadi sahabat yang saling menyayangi," ucap Dini.


"itu nggak mungkin Din, setelah ini kamu akan jadi milik Dimas seutuhnya, aku nggak akan punya tempat lagi di hati kamu, semuanya akan berubah dan perlahan kamu akan semakin menjauh dari aku dan saat itu tiba persahabatan kita berakhir," batin Andi dalam hati.


Andi tersenyum tipis dan memberikan kecupan singkat di kening Dini lalu membawa Dini ke dalam dekapannya.


"aku nggak tau apa aku bisa lihat kamu sama Dimas nanti, apa aku bisa sekuat itu? atau aku harus lakuin apa yang Anita lakuin? pergi, karena aku tau aku udah nggak berarti lagi di hidup kamu setelah pernikahan kamu nanti," batin Andi dalam hati.


"Jangan pergi Ndi," ucap Dini tiba tiba, membuat Andi terkejut.


Dini melepaskan dirinya dari dekapan Andi dan menatap ke dalam mata Andi.


"Jangan pergi, jangan tinggalin aku, karena sampai kapanpun aku selalu butuh kamu, kamu sahabat terbaik yang selalu ada buat aku Ndi, kamu udah janji buat nggak akan ninggalin aku, jadi tolong tepati janji kamu," ucap Dini dengan menggenggam tangan Andi.


Dini merasa matanya panas. Entah kenapa air mata menggenang begitu saja di kedua sudut matanya. Ada kesedihan dan ketakutan yang ia rasakan dengan tiba tiba.


Tak tau darimana datangnya, ia hanya merasa jika Andi akan meninggalkannya dan ia tidak ingin hal itu terjadi.


Tak pernah terbayangkan dalam hidupnya jika ia akan kehilangan laki laki yang sudah menemani seluruh hidupnya.


Ia tak pernah membayangkan bagiamana sakitnya saat hal itu terjadi.


"Kenapa kamu tiba tiba bilang gitu Din? aku nggak kemana mana, aku masih di sini," ucap Andi dengan mengusap air mata yang sudah membasahi pipi Dini.


Bibir Dini tertutup rapat namun air matanya semakin deras mengalir membuatnya terisak di hadapan Andi.


Aneh memang, tapi ia benar benar tidak mengerti kenapa ia merasakan sakit dalam hatinya secara tiba tiba. Ia merasa seolah Andi baru saja mengucapkan perpisahan padanya.


"Kamu kenapa Din? apa ada yang salah sama ucapanku?" tanya Andi yang tidak mengerti apa yang terjadi pada Dini.


Dini masih terdiam dengan isak yang terdengar begitu pilu.


"Lihat aku," ucap Andi dengan memegang dagu Dini dan membawa pandangan Dini padanya.


Dini menatap kedua mata Andi yang teduh dengan sisa air mata di pipinya.


"Aku sayang sama kamu Din, kamu satu satunya pemilik tempat di hati aku, dari dulu sampai saat ini dan selamanya cuma kamu yang ada di hati aku, tujuan hidupku adalah kebahagiaan kamu, aku akan ikut bahagia selama kamu bahagia Din, jangan menangis, aku akan lebih sedih saat kamu bersedih," ucap Andi dengan mengusap sisa air mata di pipi Dini.


"Kamu sayang sama aku?" tanya Dini.


"Iya, lebih dari apapun di dunia ini," jawab Andi.


"Kamu nggak akan ninggalin aku?" tanya Dini.


"Aku akan selalu ada buat kamu, aku nggak akan ninggalin kamu, sedetikpun," jawab Andi.

__ADS_1


Mereka kemudian terdiam dengan saling menatap ke dalam mata satu sama lain. Ada perasaan dalam hati yang susah untuk dimengerti, ada gejolak dalam hati yang membuat dada berdebar.


Entah mendapat dorongan dari mana, merekapun saling mendekat. Andi dan Dini bisa merasakan nafas mereka yang semakin berat bersama gejolak dalam dada mereka.


Wajah keduanya semakin mendekat tanpa memberi celah bagi udara untuk lewat, membuat detak jantung keduanya semakin berdebar tak menentu.


Sedikit saja, bibir mereka saling bersentuhan sebelum akhirnya Andi menarik Dini ke dalam dekapan.


Dadanya bergemuruh atas apa yang baru saja terjadi. Andi merutuki dirinya sendiri yang hampir saja kehilangan batasannya.


Sama seperti Andi, Dini terdiam dalam dekapan Andi dengan detak jantung yang masih bergenderang dalam dadanya. Ia menyumpahi dirinya sendiri yang telah melakukan hal bodoh pada sahabatnya itu.


Ia merasa terlalu terbawa suasana yang membuatnya tanpa sadar hampir saja melewati batas yang seharusnya tetap terjaga.


Dini berusaha untuk bisa menguasai hati dan dirinya yang saat itu sedang tidak baik baik saja. Ia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi yang membuatnya tiba tiba menangis dan berpikiran banyak hal yang berlebihan.


"kamu kenapa sih Din, sadar sadar, Andi sahabat kamu, kamu akan menikah sama Dimas, kamu bahagia, Dimas bahagia dan Andi bahagia, semuanya bahagia tapi....... tapi aku merasa ada sesuatu yang aku nggak tau, ada sesuatu yang bikin aku takut tanpa alasan," batin Dini dalam hati.


Setelah lebih bisa menguasai dirinya, Andi melepaskan Dini dari dekapannya.


"Kita pulang sekarang?" tanya Andi.


"Iya," balas Dini singkat.


Andi dan Dini pun melangkah pergi menuruni bukit. Mereka berjalan berdua ke arah rumah Dini tanpa bergandengan tangan.


Mereka merasa canggung atas apa yang baru saja terjadi. Meski hal itu tidak sampai terjadi, tapi itu membuat mereka cukup canggung dan gugup di hadapan satu sama lain.


"Aku.... aku pulang dulu ya!" ucap Andi pada Dini.


"Iya.... hati hati....." balas Dini canggung.


Andi tersenyum canggung lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah Dini, sedangkan Dini segera masuk ke dalam rumah tanpa menyapa sang ibu yang berada di ruang tamu.


"Dari mana Din?" tanya ibu Dini yang membuat Dini terkejut.


"Ibu dari kapan di sana?" balas Dini bertanya karena ia tidak menyadari keberadaan sang ibu sebelumnya.


"Dari tadi, sebelum Andi pergi," jawab ibu Dini.


Seketika Dini mengingat kejadian yang membuat dirinya dan Andi menjadi canggung, membuat pipi Dini tiba tiba memerah karena malu.


"Pipi kamu merah, kenapa? kamu sama Andi...."


"Enggak, Dini sama Andi nggak ngelakuin apa apa kok, ibu jangan salah paham deh!" ucap Dini memotong ucapan sang ibu lalu segera masuk ke dalam kamar dan menguncinya.


"Salah paham apa? pipinya merah karena kepanasan kan? dia kan abis dari luar sama Andi," ucap ibu Dini yang tidak mengerti dengan sikap sang anak.


Di dalam kamar Dini segera melempar badannya ke atas ranjang dan menutup wajahnya dengan bantal.


Namun bayangan kejadian yang hampir saja melewati batas kembali terputar dengan jelas dalam memorinya.


"Enggak, ini nggak bener, ini nggak bener!" ucap Dini dengan menggelengkan kepalanya dan menatap langit langit rumahnya.


Dini lalu tanpa sadar menggigit bibir bawahnya saat kejadian yang tidak seharusnya itu kembali terngiang di alam bawah sadarnya.


Ia masih bisa merasakan degupan dalam dadanya saat mengingat kejadian itu. Namun saat Dini tersadar, ia segera menggeleng cepat dan memukul mukul kepalanya dengan bantal karena pikiran nakalnya itu.


"Huuuufffttt, tarik nafas....... buang nafas....." ucap Dini berusaha menenangkan dirinya dan menjernihkan kembali pikirannya.


**


Di sisi lain, Andi masih berada dalam perjalanan ke rumah. Sepanjang perjalanan ia tidak bisa fokus mengendarai mobilnya.


Bayang bayang Dini masih saja menghantui dirinya. Adegan saat ia dan Dini saling mendekat hingga nyaris melewati batas seolah terus terputar di otaknya.


Andi memukul kepalanya berkali kali berusaha menyadarkan dirinya saat itu. Namun tetap saja, bayang bayang kejadian itu seolah mengejeknya dengan terus memutari pikirannya.


Karena tidak fokus menyetir, Andi menginjak rem tiba tiba saat mobilnya menabrak traffic cone di jalan raya.


Beruntung tak ada kecelakaan yang terjadi selain beberapa traffic cone yang berceceran akibat ulah Andi.


Para pekerja jalan raya pun segera mendatangi mobil Andi dan tanpa diminta Andipun turun dari dalam mobilnya dan meminta maaf.


"Maaf pak, saya sedikit mengantuk tadi," ucap Andi beralasan.

__ADS_1


"Istirahat dulu aja mas, bahaya kalau nyetir sambil ngantuk," ucap salah satu pekerja.


"Saya minggirin mobilnya dulu ya mas, masnya hubungi keluarga atau temannya aja yang bisa jemput ke sini," ucap pekerja yang lain.


"Baik pak," balas Andi lalu menghubungi Adit, sedangkan salah satu pekerja menepikan mobil Andi ke tempat yang aman.


"Untung aja masnya bisa ngerem tepat waktu, kalau enggak masnya bisa jatuh ke lubang besar itu," ucap salah satu pekerja sambil menunjuk lubang besar yang tak jauh dari tempat terakhir Andi menghentikan mobilnya.


Andi hanya tersenyum tipis saat melihat lubang menganga di hadapannya. Ia sangat beruntung karena ia masih diberi keselamatan.


**


Di tempat lain, Adit yang sedang berada di taman bunga di halaman rumah Ana segera mengambil ponsel dari sakunya saat ia merasa ponselnya bergetar.


"Halo, ada apa?" tanya Adit setelah ia melihat nama Andi di layar ponselnya.


"Lo dimana?"


"Gue di rumah Ana, kenapa?"


"Gue kecelakaan di daerah X, tolong jemput gue ya!" jawab Andi yang membuat Adit segera berdiri dari duduknya dengan raut wajah menegang.


"Hubungi ambulans dulu, gue kesana sekarang!" ucap Adit cepat.


"Gue baik baik aja, gue cuma nggak bisa bawa mobil sekarang," balas Andi namun sepertinya Adit tidak mendengarkan nya.


Andi malah mendengar Adit berbicara pada Ana, namun ia tidak bisa mendengarnya dengan jelas dan akhirnya mengakhiri panggilannya pada Adit.


"Andi kecelakaan An, aku harus kesana sekarang!" ucap Adit panik.


"Kamu jangan panik Adit, tenangin diri kamu dulu!" ucap Ana berusaha menenangkan Adit.


"Iya, aku pergi dulu ya!" ucap Adit lalu mencium kening Ana sebelum pergi.


Adit segera membawa mobilnya ke daerah X, setelah beberapa lama berkendara akhirnya Adit melihat mobil Andi dari kejauhan.


Adit segera mendekat dan menepikan mobilnya untuk menanyakan keberadaan Andi pada beberapa pekerja yang berada di sana.


"Permisi pak, ini mobil adik saya, dia dimana ya sekarang? apa sudah dibawa ke rumah sakit?" tanya Adit.


"Masnya baik baik aja kok, itu orangnya," jawab si pekerja sambil menunjuk ke arah tenda tempat para pekerja berisitirahat.


Adit membawa pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh si pekerja dan bernafas lega karena melihat Andi tampak baik baik saja.


Adit lalu berjalan ke arah Andi dan Andi segera berdiri dari duduknya saat melihat kedatangan Adit.


"Lo baik baik aja kan?" tanya Adit dengan memperhatikan adiknya itu dari bawah sampai atas dan dari atas sampai bawah.


"Gue baik baik aja kok," balas Andi.


"Masnya tadi nyetir sambil ngantuk, jadi nabrak traffic cone, untung aja nggak masuk ke lubang galian!" sahut salah seorang pekerja.


"Ngantuk?" tanya Adit pada Andi.


Andi hanya tersenyum dengan menunjukkan deretan giginya pada Adit.


Adit menggelengkan kepalanya pelan lalu mengambil beberapa lembar uang pecahan seratus ribu untuk diberikan kepada salah seorang pekerja.


"Tolong dibagiin sama yang lain ya pak, sebagai bentuk permintaan maaf saya karena kecerobohan adik saya!" ucap Adit.


"Terima kasih banyak mas," balas si pekerja yang tampak senang.


Adit lalu mengajak Andi masuk ke mobilnya.


"Mobil gue gimana?" tanya Andi.


"Ntar ada yang nganter ke rumah," jawab Adit.


Adit dan Andipun pulang bersama.


"Lo nggak kasih tau mama tentang hal ini kan?" tanya Andi.


"Enggak, tapi lo harus jujur sama gue, kenapa lo bisa nabrak traffic cone itu?"


"Gue..... gue ngantuk, kan udah ada yang bilang gitu tadi," jawab Andi.

__ADS_1


Adit tersebut tipis seolah mengejek. Ia tau Andi berbohong padanya.


__ADS_2