Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Melepaskan Rindu Dini dan Andi


__ADS_3

Hari telah berganti, malam itu Dimas dan Dini meninggalkan rumah untuk menemui seseorang.


Dimas mengendarai mobilnya ke arah rumah Andi untuk memberi tahunya rencana liburan yang sudah Dimas siapkan.


Dimas dan Dini sengaja datang ke rumah Andi tanpa memberi tahu Andi terlebih dahulu, sebelumnya mereka sudah mendatangi kedua home store Andi, namun Andi tidak ada disana.


Merekapun memutuskan untuk pergi ke rumah Andi. Sesampainya di sana mereka segera turun dari mobil dan berjalan ke arah pintu utama rumah Andi.


Saat mendekat ke arah pintu, samar samar Dini mendengar suara tangisan bayi, begitu juga dengan Dimas. Mereka lalu saling pandang dengan pandangan penuh tanda tanya.


Setelah memencet bel, seorang asisten rumah tangga datang dan membuka pintu untuk Dini dan Dimas.


"Andi ada mbak?" tanya Dini.


"Ada, silakan masuk, saya panggilkan dulu," jawab asisten rumah tangga.


"Terima kasih," ucap Dini lalu masuk dan duduk di ruang tamu bersama Dimas.


Saat menunggu, tiba tiba terlihat mama Siska yang sedang menggendong seorang bayi mungil yang tampak sedang menangis.


"Mama!" panggil Dini.


Seketika mama Siska membawa pandangannya ke arah Dini dengan terkejut. Ia tidak tau jika ada Dini dan Dimas di rumahnya.


Tak lama kemudian di belakang mama Siska datang Andi yang membawa botol susu dan memberikannya pada mama Siska.


Dini dan Dimas hanya memperhatikan dengan tanda tanya di kepala mereka.


"Maaf mas Andi, ada tamu mas Andi datang," ucap asisten rumah tangga pada Andi.


Saat Andi membawa pandangannya ke arah ruang tamu, ia melihat Dini dan Dimas yang hanya diam dengan melihat ke arahnya.


"Mama nggak tau kalau mereka di sini," ucap mama Siska pelan pada Andi.


"Mama masuk aja," ucap Andi sambil menggantikan sang mama menggendong baby Alana.


Mama Siska pun memberikan baby Alana pada Andi, lalu masuk dan meminta salah satu asisten rumah tangganya membuatkan minum untuk tamu Andi.


Sedangkan Andi tanpa ragu berjalan ke arah Dini dan Dimas dengan menggendong baby Alana.


"Aku nggak liat ada mobil kak Adit di depan," ucap Dini yang berpikir jika bayi dalam gendongan Andi adalah anak Adit dan Ana.


"Kak Adit nggak di sini, kalian cari kak Adit?" tanya Andi.


"Enggak, kita kesini nyari lo," jawab Dimas.


Dini hanya diam dengan memperhatikan bayi mungil yang terlihat mirip Andi di matanya. Dari mata, hidung dan bibirnya, entah kenapa bagi Dini terlihat seperti Andi.


"Dia nggak mirip kak Adit atau mbak Ana," ucap Dini yang membuat Andi tersenyum tipis.


"Halo om, tante, namaku Alana, aku baru lahir 5 hari yang lalu," ucap Andi dengan membuat suara lucu.


"Halo baby Alana, kenapa kamu sangat mirip sama om kamu?" sapa Dini sekaligus bertanya.


"Om siapa maksud kamu?" balas Andi bertanya.


"Kamu, dia mirip banget sama kamu, aku inget banget karena aku punya foto kamu waktu bayi," jawab Dini.


"Iya bener, walaupun lo sama Adit ada kemiripan, tapi dia lebih mirip sama lo," sahut Dimas setelah memperhatikan baby Alana.


"Aku emang keponakannya om Adit, om tante," ucap Andi dengan suara lucu sambil memainkan jari jari mungil baby Alana.


"Oh, keponakan....... tunggu...... berarti......"


Dini dan Dimas diam dengan saling memandang. Lalu sama sama membawa pandangan mereka pada Andi.


"Maaf karena nggak pernah cerita apa apa sama kalian, satu tahun ini waktu yang sulit buat aku Din, Dim," ucap Andi.


"Ada apa Ndi sebenarnya? siapa orangtua baby Alana?" tanya Dini.


"Seperti yang kamu lihat, dia mirip siapa?" balas Andi bertanya.


"Enggak, nggak mungkin," ucap Dini dengan menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Satu tahun itu waktu yang lama Ndi dan lo nggak pernah cerita sama kita, kenapa?" tanya Dimas yang susah untuk mempercayai apa yang ia pikirkan saat itu.


"Semuanya terjadi gitu aja Dim, semuanya serba tiba tiba," jawab Andi.


"Kamu jahat Ndi, kamu udah menikah tanpa kasih tau aku ataupun Dimas, kamu bahkan udah punya anak dan..."


"Aku belum menikah," ucap Andi memotong ucapan Dini, membuat Dini dan Dimas semakin terkejut.


Andi lalu menjelaskan apa yang pernah ia jelaskan pada mama Siska dan Adit, tentang saat ia mabuk dan memaksa Anita sampai akhirnya ia dan Anita membuat kesepakatan tentang baby Alana.

__ADS_1


Dini dan Dimas hanya diam tak percaya mendengar penjelasan Andi. Satu tahun berlalu dan Andi menyembunyikan rahasia besar itu dengan rapi tanpa membuat siapapun curiga padanya.


"Gue tau apa yang gue lakuin salah, itu kenapa gue nggak mau ngelakuin kesalahan kedua dengan membiarkan Anita menggugurkan kandungannya," ucap Andi.


"Tapi itu bukan alasan buat Anita ninggalin bayinya Ndi!" balas Dini kesal.


"Ini udah jadi kesepakatan antara aku dan Anita Din, mungkin kamu marah sama Anita karena kamu nggak ada di posisi dia saat itu, aku udah hancurin masa depannya dan satu satunya cara buat aku bisa nebus kesalahanku adalah dengan ikutin apa yang dia mau," ucap Andi mencoba membuat Dini memahami situasinya saat itu.


"Lalu dimana Anita sekarang?" tanya Dini.


"Dia ikut bibi, asisten rumah tangga di rumahnya, tapi aku nggak tau tepatnya mereka dimana," jawab Andi.


"Lo beneran biarin Anita pergi?" tanya Dimas.


"Gue nggak punya pilihan lain Dim, gue udah berusaha buat bujuk dia pelan pelan, tapi keputusannya nggak berubah," jawab Andi.


"Kenapa di saat orang lain mengharapakan kehadiran buat hati, seseorang malah tega ninggalin buah hatinya," ucap Dini dengan menatap bayi mungil dalam gendongan Andi.


"Kita nggak pernah tau jalan takdir kita Din, aku juga nggak pernah nyangka ini akan terjadi sama aku," ucap Andi.


"Tuhan selalu punya rencana dibalik semua yang terjadi sayang," ucap Dimas dengan menggenggam tangan Dini.


Dini hanya menganggukkan kepalanya lalu menyentuh tangan baby Alana.


"Dia sangat beruntung karena memiliki kamu Ndi, dia beruntung karena tinggal di sini dan dikelilingi banyak orang yang sayang sama dia," ucap Dini.


"Anita? kenapa harus Anita? dan kenapa semua ini harus terjadi sama kamu Ndi? kamu laki laki yang baik, nggak seharusnya semua ini terjadi sama kamu," batin Dini yang membuat kedua sudut matanya berkaca kaca.


"Ndi, aku ke toilet bentar ya!" ucap Dini yang terdengar bergetar suaranya.


"Iya, masuk aja," balas Andi.


"Lo nggak mau ikutin dia?" tanya Dimas pada Andi.


"Maksud lo?"


"Dari kemarin dia banyak cerita tentang lo, udah lama banget kalian nggak pernah komunikasi apa lagi ketemu, dia pasti kangen sama lo dan sekarang dia harus denger cerita yang bikin dia syok, lo pasti tau apa yang harus lo lakuin," jawab Dimas menjelaskan.


"Dia istri lo Dim, lo yang harus tenangin dia," ucap Andi.


"Apa setelah semua yang terjadi, perasaan lo udah berubah?" tanya Dimas yang membuat Andi segera membawa pandangannya pada Dimas.


Andi hanya diam, tidak tau harus menjawab apa. Apakah ia harus jujur jika ia masih mencintai Dini? atau ia harus berbohong untuk menjaga perasaan Dimas?


Andi hanya menganggukkan kepalanya lalu memberikan baby Alana pada Dimas.


"Pegang bagian ininya," ucap Andi mengajari Dimas.


"Oke, samperin dia Ndi, dia akan mikirin lo sampe pulang ke rumah kalau lo nggak nyamperin dia sekarang!" ucap Dimas pada Andi.


"Tapi....."


"Gue nggak papa," ucap Dimas meyakinkan.


Andi lalu beranjak dari duduknya dan membawa langkahnya ke arah toilet di dekat dapur untuk menunggu Dini keluar.


Tak lama kemudian pintu toilet terbuka dan Dini keluar. Ia begitu terkejut karena ada Andi di sana.


"Dimas yang minta aku kesini," ucap Andi pada Dini.


"Kalau Dimas nggak minta kamu kesini, kamu nggak akan kesini?"


"Aku.... aku cuma berusaha jaga perasaan Dimas," jawab Andi.


Dini hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya lalu melangkah melewati Andi begitu saja, namun Andi menahan tangan Dini.


"Aku tau kamu pasti kecewa sama aku, aku minta maaf Din," ucap Andi.


Dini hanya diam, membiarkan Andi memegang tangannya.


"Aku nggak tau apa aku masih sahabat kamu yang baik atau enggak, tapi sampai kapanpun kamu akan selalu jadi sahabat yang terbaik buat aku Din, maaf karena udah mengecewakan kamu," ucap Andi.


"Kenapa Anita? kenapa harus Anita?" tanya Dini dengan suara bergetar.


Andi lalu menarik tangan Dini, membuat Dini membalikkan badannya dan dengan cepat Andi memeluknya.


Andi hanya diam tanpa mengucapkan apapun, sedangkan Dini hanya menangis dalam pelukan Andi. Entah kenapa hatinya terasa sakit saat ia mendengar penjelasan Andi tentang apa yang sudah terjadi.


Ia sudah berusaha untuk bisa menahan perasaan itu, namun ia tidak bisa. Fakta bahwa Andi sudah melakukan hal di luar batas pada Anita membuat hati Dini terasa perih, terlebih apa yang mereka lakukan membuahkan seorang bayi mungil yang harus ditinggalkan oleh Anita.


"Aku minta maaf Din, semuanya terjadi gitu aja, aku nggak bisa menguasai diriku saat itu," ucap Andi dengan masih memeluk Dini.


"Kamu cinta sama dia?" tanya Dini di tengah isak tangisnya

__ADS_1


"Dia siapa maksud kamu? Anita? Alana?"


"Anita!" jawab Dini singkat.


"Enggak, aku tau dia adalah ibu dari anakku, tapi aku tetep nggak bisa cinta sama dia, bahkan kalau dia mau jadi istriku, aku nggak tau apa aku bisa cinta sama dia, tapi Alana berbeda Din, dia adalah bagian dari diriku, dia adalah separuh hidupku sekarang, aku akan kasih dia banyak cinta dan kebahagiaan sepanjang hidupnya," ucap Andi menjelaskan.


"Kamu papa yang baik," ucap Dini.


Andi hanya tersenyum lalu melepaskan Dini dari pelukannya setelah memberinya kecupan singkat di keningnya.


"Aku bahagia dengan apa yang aku punya sekarang Din, walaupun ini bukan jalan hidup yang aku mau, tapi aku berusaha menerimanya," ucap Andi dengan membelai wajah Dini.


"Kamu bahagia?"


"Iya, sangat bahagia, jadi kamu juga harus bahagia, gimanapun jalan hidup kamu sama Dimas nanti, kalian harus selalu bahagia," ucap Andi.


Dini menganggukan kepalanya lalu kembali menjatuhkan dirinya dalam pelukan Andi.


"Aku kangen banget sama kamu Ndi, kangen banget," ucap Dini dengan memeluk Andi erat.


"Aku juga kangen sama kamu Din," balas Andi yang juga memeluk Dini dengan erat.


Dini melepaskan dirinya dari pelukan Andi dan menatap tajam pada Andi.


"Apa aku masih jadi bagian dari hati kamu?" tanya Dini.


"Tentu, kenapa kamu nanyain itu?"


"Karena ada baby Alana sekarang, aku takut kamu akan lupain aku," jawab Dini yang membuat Andi terkekeh.


"Kalian punya tempatnya masing masing di hati aku, dia adalah darah dagingku dan bagian dari diriku, sedangkan kamu adalah sahabat ku, sampai kapanpun aku selalu sayang sama kamu," ucap Andi dengan memegang kedua pipi Dini dan menatap ke dalam matanya.


"ucapan kamu yang kayak gini yang selalu bikin aku berdebar, walaupun aku tau kita cuma bersahabat," batin Dini dalam hati.


"Hapus air mata kamu, aku nggak mau Alana liat tantenya sedih," ucap Andi dengan menghapus sisa air mata di pipi Dini.


"Kamu balik duluan aja, aku mau ambil botol susu baru buat Alana," ucap Andi pada Dini.


Dini menganggukan kepalanya lalu berjalan mendahului Andi untuk kembali ke ruang tamu, sedangkan Andi masuk ke kamar Alana untuk mengambil botol susu yang baru.


Tanpa Andi tau, mama Siska mendengar dan melihat apa yang baru saja terjadi antara Andi dan Dini di depan toilet.


"mama harap kamu benar benar bahagia sayang, dengan atau tanpa Dini, karena mama tau kamu sangat mencintai dia," batin mama Siska dalam hati.


Andi lalu kembali ke ruang tamu dengan membawa botol susu yang baru lalu menggantikan Dimas menggendong baby Alana.


"Sebenarnya kita ke sini karena mau ngajak lo liburan bareng!" ucap Dimas pada Andi.


"Liburan? sorry Dim gue nggak bisa, lo tau sendiri gue makin sibuk sekarang!" balas Andi menyesal.


"Iya nggak papa, kita ngerti kok," ucap Dimas.


Setelah mengobral beberapa lama, Dimas dan Dinipun berpamitan pulang. Sesampainya di rumah, mereka segera berganti pakaian dan merebahkan badan di ranjang.


"Dimas, kenapa kamu tadi minta Andi buat nyamperin aku?" tanya Dini pada Dimas.


"Kapan?" tanya Dimas berpura pura tidak mengerti ucapan Dini.


"Tadi, waktu aku ke toilet, kamu minta Andi buat nyamperin aku kan?"


"Enggak," jawab Dimas sambil berbalik membelakangi Dini.


Dini tersenyum tipis lalu memeluk Dimas dari belakang.


"Kamu emang suami yang paling baik sedunia," ucap Dini dengan mencium punggung Dimas.


"Aku nggak ngelakuin apa apa kok!" ucap Dimas yang masih tidak mau mengakui apa yang diucapkan Dini padanya.


"Terima kasih," ucap Dini.


"Buat apa?" tanya Dimas.


"Karena udah mempercayai persahabatan kita, aku, Andi dan kamu," jawab Dini.


Dimas lalu berbalik dan melingkarkan tangannya di pinggang Dini.


"Andi sahabat kamu dari lama dan dia juga sahabat yang baik buat aku, nggak ada alasan buat aku nggak percaya sama dia," ucap Dimas pada Dini.


"Kamu nggak cemburu?" tanya Dini.


"Cemburu pasti ada sayang, tapi itu nggak akan merusak persahabatan kita," jawab Dimas.


"Aku bener bener perempuan yang beruntung karena bisa memiliki kamu," ucap Dini dengan memeluk Dimas.

__ADS_1


"Aku yang lebih beruntung karena mendapatkan kamu," balas Dimas lalu memberikan kecupan singkatnya di kening Dini.


__ADS_2