Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Dua Penjelasan


__ADS_3

Andi masih berusaha menenangkan Anita di kamarnya. Ia tidak tau pasti apa yang sebenarnya terjadi antara Anita dan Dini, namun ia yakin jika mereka hanya mengalami kesalahpahaman saja.


Andi lalu melepaskan Anita dari pelukannya, memberinya tissue lalu duduk di samping Anita.


"Mungkin kamu cuma salah paham aja Nit, Dini nggak mungkin kayak gitu," ucap Andi pada Anita.


"Aku tau kamu pasti nggak percaya sama aku Ndi, aku ke sini cuma mau balikin suasana hatiku, aku nggak berharap kamu percaya sama aku, karena aku tau siapapun akan susah buat percaya lagi sama aku," balas Anita.


"Kita temuin Dini sekarang ya, kita bicarain baik baik apa yang jadi permasalahan kalian," ucap Andi.


"Enggak, aku nggak siap kalau harus dituduh lagi sama Dini, padahal aku udah percaya sama kamu dan Dini, aku berterima kasih banget karena kalian udah kasih aku kesempatan buat perbaiki semuanya, tapi Dini malah nuduh aku yang enggak enggak dan sekarang kamu juga nggak percaya sama aku," ucap Anita dengan raut wajah yang sedih.


"Mungkin maksud Dini nggak gitu, bisa jadi kamu cuma salah mengartikan ucapan Dini aja, iya kan?"


"Kamu tau aku emang cinta sama Dimas Ndi, kamu pasti tau betul gimana perasaan aku karena kita sama sama mencintai seseorang yang udah punya pilihannya sendiri dan sekarang aku sedang berusaha buat menerima semua itu Ndi, itu bukan hal yang mudah buat aku, tapi aku terus berusaha, tapi Dini malah nuduh aku kayak gitu, sedih banget Ndi rasanya."


Andi menghembuskan napasnya pelan lalu membawa Anita ke dalam dekapannya.


"Tenangin hati kamu Nit, jangan biarin hal itu merubah keputusan kamu buat lebih baik lagi," ucap Andi.


Anita hanya diam dengan mengusap sisa air mata di pipinya.


"Aku akan coba bicara sama Dini, kamu tenang aja," ucap Andi.


"Aku takut dia semakin marah sama aku karena aku ceritain hal ini sama kamu," balas Anita.


"Kita bisa bicarain semuanya baik baik Nit, Dini pasti ngerti," ucap Andi.


Tooookkk tooookkk tooookkk


Suara ketukan pintu membuat Andi segera melepaskan Anita dari dekapannya.


Andi lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya.


"Ayo makan mal....." mama Siska menghentikan ucapannya saat melihat Anita di dalam kamar Andi.


"Maaf mama pikir kamu lagi sendirian," ucap mama Siska.


"Ada Anita ma, kita udah mau keluar kok," balas Andi.


"Ajak dia makan malam juga, mama tunggu di bawah," ucap mama Siska lalu meninggalkan kamar Andi.


Andi lalu kembali masuk dan mengambil tissue untuk menghapus sisa air mata Anita.


"Jangan sedih lagi, aku tau niat kamu baik dan Dini mungkin salah paham sama kamu," ucap Andi.


Anita hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Andi.


"Ayo turun, mama ajak kamu makan malam," ucap Andi.


Andi dan Anita lalu keluar dari kamar Andi, mereka berjalan ke arah meja makan.


Andi dan Anita lalu duduk bersebelahan.


"Malem tante, maaf Anita belum sempat nyapa tadi," ucap Anita pada mama Siska.


"Iya nggak papa," balas mama Siska.


"Kakak kamu mana?" tanya mama Siska pada Andi.


"Adit hadir," ucap Adit setengah berteriak, saat ia baru saja turun dari lantai dua.


Adit lalu duduk di samping sang mama.


"Adit nggak tau kalau ada tamu," ucap Adit dengan membawa pandangannya pada Anita.


"Malem kak Adit," sapa Anita.


"Kayaknya aku pernah liat kamu sebelumnya, tapi dimana ya?" tanya Adit sembari menggali ingatannya.


"Anita pernah ke sini kok sebelumnya," ucap Anita.


"Mmmm.... sebelum itu kayaknya aku udah liat kamu," ucap Adit.


"Udah udah, makanannya keburu dingin," ucap Andi sambil membagikan piring pada Andi, Adit dan Anita.


Mereka lalu menikmati makan malam dengan tenang.


Setelah makan malam selesai, mereka masih mengobrol santai di meja makan.


"Oh aku inget, kamu yang waktu itu di kafe sama Dimas ya?" tanya Adit pada Anita.


"Di kafe sama Dimas? kayaknya nggak pernah deh kak hehe...." jawab Anita canggung.


"Aku yakin itu kamu, waktu itu aku lagi makan siang sama Dini di kafe itu, waktu mau pulang Dini liat kamu berduaan sama Dimas, kalian...."


"Kak, please nggak usah dibahas," ucap Andi memotong ucapan Adit.


"Oke," balas Adit lalu meninggalkan meja makan.


"Aku pulang sekarang ya Ndi, udah malem," ucap Anita pada Andi.


"Mau aku anter?" tanya Andi.


"Nggak perlu, kan aku bawa mobil sendiri," jawab Anita.


"Anita permisi pulang ya tante, terima kasih makan malamnya," ucap Anita yang dibalas anggukan kepala mama Siska.

__ADS_1


Andi dan Anita lalu meninggalkan meja makan, Andi mengantar Anita ke halaman rumah.


"Aku nggak mau Dini marah sama aku Ndi, aku nggak mau dia salah paham sama aku," ucap Anita sebelum ia masuk ke dalam mobilnya.


"Iya, aku tau, aku akan bicarain hal ini sama Dini," balas Andi.


"Makasih Ndi, makasih udah percaya sama aku," ucap Anita lalu memeluk Andi.


"Jangan terlalu dipikirin lagi, everything will be okay," ucap Andi lalu melepaskan Anita dari pelukannya.


Anita lalu masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan rumah Andi.


Sedangkan Andi segera kembali masuk ke dalam rumah. Saat ia berjalan melewati kamar Adit, Adit memanggilnya dari dalam.


"Ada apa?" tanya Andi yang hanya berdiri di depan pintu kamar Adit.


"Nggak mau masuk?"


Andi lalu melangkahkan kakinya masuk dan duduk di kursi yang ada di kamar Adit.


"Sebenarnya tanpa lo cerita siapa cewek itu, gue bisa cari tau siapa dia sebenarnya," ucap Adit.


"Anita?"


Adit menganggukkan kepalanya.


"Tapi karena lo adik gue, gue nggak akan ngelakuin itu, gue percaya sama lo, kalaupun ada hal yang lo sembunyiin dari gue, nggak papa, gue hargai privasi lo!" ucap Adit.


"Kenapa lo bahas hal itu tadi?" tanya Andi.


"Lo liat sendiri kan, dia bohong," jawab Adit.


"Dia cuma nggak mau semakin memperbesar kesalahpahaman," ucap Andi.


"Kesalahpahaman tentang apa?" tanya Adit.


"Lo pasti tau, jadi gue harap jangan bahas masalah yang udah berlalu, itu cuma bikin Dini sama Anita semakin sulit balik kayak dulu lagi," jawab Andi.


"Oke, gue bahas masalah yang sekarang aja kalau gitu," ucap Adit.


"Masalah apa lagi?"


"Masalah lo, ada yang mau lo ceritain sama gue?"


"Nggak ada, gue nggak punya masalah apa apa!" jawab Andi.


"Apa gue harus beliin lo gedung biar lo mau cerita sama gue?"


"Hmmmm... boleh juga tuh hahaha...." balas Andi lalu keluar dari kamar Adit begitu saja.


Adit hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Andi. Ia tau mereka baru tinggal bersama, tidak akan mudah bagi mereka untuk saling terbuka.


**


Waktu berlalu, pagi telah datang bersama sinar mentarinya.


Adit, Andi dan sang mama sedang sarapan bersama. Setelah selesai sarapan, Adit segera berpamitan untuk berangkat ke kantor, begitu juga Andi yang berangkat untuk mengurus kepindahan home store nya.


**


Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, Dini masih duduk di belakang meja kerjanya sebelum Adit datang dan mengajaknya makan siang bersama mama Siska.


Adit dan Dini lalu meninggalkan kantor untuk pergi ke rumah mama Siska.


Sesampainya di rumah mama Siska, mereka segera masuk dan melangkahkan kaki mereka ke arah meja makan.


"Akhirnya mama ketemu kamu lagi, ayo sini duduk," ucap mama Siska pada Dini.


"Iya ma," balas Dini lalu duduk di samping mama Siska.


"Andi mana ma?" tanya Adit pada sang mama.


"Hadir," ucap Andi yang baru saja datang.


Andi lalu duduk di samping Adit.


"Din, nanti sore aku jemput ya!" ucap Andi pada Dini.


"Kenapa?" tanya Dini.


"Ada yang harus aku bicarain sama kamu," jawab Andi.


"Oh, oke," balas Dini.


Mereka lalu menikmati makan siang sampai selesai. Sebelum jam makan siang habis, Dini dan Adit segera berpamitan untuk kembali ke kantor.


"Kemarin temen kamu ke rumah," ucap Adit pada Dini.


"Temen? siapa?" tanya Dini.


"Anita," jawab Adit.


"Oh, Anita," balas Dini tak bersemangat.


"Kalian berantem?" tanya Adit.


Dini hanya menaikkan kedua bahunya menjawab pertanyaan Adit.

__ADS_1


"Setiap hubungan pasti ada ujiannya Din, entah dalam hubungan relationship, keluarga ataupun pertemanan, kalau kamu nggak mau kehilangan hubungan baik itu, kamu harus bijak dalam menghadapi setiap masalah yang ada dan kedewasaan sangat diperlukan saat itu," ucap Adit.


Dini hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Adit.


"Kedewasaan itu nggak ditentukan oleh usia, tapi oleh sikap, kalau partner kamu dalam berhubungan nggak bisa bersikap dewasa, berarti Tuhan sedang mempersiapkan kamu supaya lebih dewasa," ucap Adit.


"Gimana kalau kita sama sama nggak bisa bersikap dewasa? apa itu artinya hubungan kita berakhir?" tanya Dini.


"Kedewasaan itu penting Din, di dalam kedewasaan ada yang namanya saling memahami, saling memaafkan dan saling melindungi, kamu bayangin aja gimana jadinya suatu hubungan yang di dalamnya nggak ada rasa saling memahami, memaafkan dan melindungi, apa akan berjalan dengan baik?"


Dini menggeleng pelan.


"Tapi mereka saling cinta," ucap Dini.


"Cinta itu hal utama menurut kakak, di dalamnya ada banyak hal lain yang menguatkan suatu hubungan, termasuk kedewasaan, tapi ingat kata kata kakak kemarin, nggak semua orang benar benar memahami apa itu cinta yang sebenarnya," balas Adit.


"Hmmm.... ngobrol kayak gini sama kak Adit enak juga ya, jadi kayak konsultasi sama ahlinya," ucap Dini.


"Kalau gitu panggil kakak Adit Teguh hehe...."


"Kalau gitu kak Adit harus pake kacamata!" ucap Dini.


Mereka lalu tertawa sampai mereka tiba di kantor.


**


Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Dini baru saja menyelesaikan pekerjaan nya, begitu juga dengan Adit.


Mereka lalu keluar dari ruangan bersama sama.


"Bukannya kamu ada janji sama Andi ya?" tanya Adit pada Dini.


"Oh iya, Dini lupa!" ucap Dini lalu segera mengambil ponsel dari dalam tasnya.


Sudah ada 5 panggilan tak terjawab dari Andi dan beberapa pesan yang belum terbaca.


Dini lalu menghubungi Andi saat ia sudah berada di depan kantor.


"Din!" panggil Andi dengan melambaikan tangannya.


Dini lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas dan berjalan menghampiri Andi.


"Temen kamu lagi banyak pikiran, makanya lupa ngabarin kalau pulang telat," ucap Adit pada Andi.


"Apaan sih kak Adit, sok tau!" balas Dini lalu menarik tangan Andi agar menjauh dari Adit.


"Dini duluan kak!" ucap Dini pada Adit lalu pergi bersama Andi.


Andi lalu mengajak Dini pergi ke pantai dengan Rudi yang mengemudikan mobil Andi.


Selama perjalanan, mereka mengobrolkan beberapa hal mulai dari kesibukan mereka masing masing sampai dengan kelanjutan clothing arts yang akan menjadi milik Andi.


Sesampainya di pantai, Andi dan Dini berjalan ke arah tepi pantai.


Mereka duduk berdua bersama lukisan senja di hadapan mereka.


"Kamu kenapa ajak aku ke sini?" tanya Dini pada Andi.


"Kamu abis ketemu Anita kemarin?" balas Andi bertanya.


"Iya, kenapa? apa dia bilang sesuatu sama kamu?"


"Aku yakin kalian cuma salah paham aja sih," jawab Andi.


"Dia bilang apa?" tanya Dini.


"Sebelum aku jawab, ada yang mau aku tanyain ke kamu."


"Apa?"


"Kamu beneran percaya kalau Anita udah berubah?" tanya Andi.


Dini diam beberapa saat. Matanya menatap ke arah laut lepas, memandang kosong deburan ombak yang berkejaran di hadapannya.


"Aku mau percaya sama dia Ndi, tapi aku ragu," jawab Dini.


"Semua orang pernah berbuat kesalahan Din, Dimas juga punya masa lalu yang buruk sama kamu dan sekarang dia adalah laki laki yang kamu cintai, tapi kenapa itu nggak bisa berlaku buat Anita?"


"Kenapa kamu samain Dimas dan Anita? mereka berbeda Ndi!"


"Bukan itu maksud ku Din, aku cuma...."


"Percuma aku jelasin semuanya sama kamu, kamu nggak akan percaya sama aku, kamu lebih percaya apa yang Anita bilang daripada aku," ucap Dini memotong ucapan Andi.


"Jangan mudah mengambil kesimpulan sendiri Din, aku butuh penjelasan dari kalian berdua biar aku bisa tau masalah yang sebenarnya!"


Dini lalu berdiri dari duduknya dan melangkah pergi, namun Andi segera menahannya dengan menarik tangan Dini.


"Aku sahabat kamu Din, aku mengenal kamu lebih dari siapapun, aku nggak pernah ragu sama semua ucapan kamu, bahkan saat semua orang nggak percaya sama kamu, aku akan jadi satu satunya orang yang percaya sama kamu," ucap Andi.


"Apa kamu akan percaya kalau aku bilang Anita bukan cewek baik baik? apa kamu akan percaya kalau aku bilang Anita nggak beneran berubah? dan apa kamu akan percaya sama aku kalau aku bilang dia masih berusaha rebut Dimas dari aku?" balas Dini dengan cecaran pertanyaan pada Andi.


Mendengar semua pertanyaan Dini, Andi lalu melepaskan tangan Dini.


"Jadi bener apa yang Anita bilang? kamu nuduh Anita rebut Dimas dari kamu? dan kamu nggak percaya sama perubahan sikap Anita?"


Dini hanya diam dengan kedua sudut matanya yang berkaca kaca. Entah kenapa saat Andi melepas tangannya, hatinya tiba tiba terasa sakit.

__ADS_1


Seperti ada goresan tajam yang sangat dalam melukai hatinya. Sahabat yang selama ini bersamanya, kini terasa jauh meski dia ada dihadapannya.


__ADS_2