Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Kebohongan


__ADS_3

Mentari telah pulang, semburat jingga telah terhapus oleh hitamnya malam. Dini dan Andi masih berada di tepi pantai, duduk berdua memandang kilau debur ombak yang memecah karang.


"Aku pikir aku bakalan benci sama pantai, tapi ternyata enggak," ucap Dini.


"Kenapa?" tanya Andi.


"Disini banyak kenangan indah yang nggak bisa aku lupain cuma karena satu kenangan buruk," jawab Dini.


"Oke, jadi kita mau sampe jam berapa di sini? kamu nunggu Dimas?"


"Enggak, aku.... aku nggak nunggu dia," jawab Dini berbohong.


Jauh dalam hatinya ia merindukan Dimas dan ia berharap bertemu Dimas di sana.


"Kenapa kalian nggak ketemu aja sih, nggak ada yang salah kan kalau cuma ketemu?"


Dini menggeleng. Ia lalu berdiri dan berjalan menjauh dari pantai.


Andipun segera mengikutinya dan menggandeng tangan Dini.


"Abis ini kita kemana?" tanya Andi yang tak ingin melihat Dini kembali bersedih.


"Temenin aku di kamar, aku takut sendirian," jawab Dini.


Andi mengangguk. Ia tau setiap Dini sedang sendiri, kesedihan pasti akan memeluknya lagi, membawanya merasakan rasa sakit karena situasi rumit yang harus ia hadapi.


**


Di tempat lain, Dimas sedang berada di home store bersama Yoga.


"Lo udah kesana tapi nggak nyamperin dia?" tanya Yoga setelah ia tau Dimas baru saja pergi ke pantai.


"Enggak Ga, gue nggak mau dia makin sedih, kehadiran gue sekarang cuma nambah beban buat dia," jawab Dimas.


"Oke terserah lo, jadi lo udah bikin kesepakatan sama om Tama?"


Dimas mengangguk.


"Lo yakin sama kesepakatan itu? lo yakin mau lepas bisnis lo?"


"Gue nggak akan lepasin gitu aja Ga, gue bangun home store ini sama Andi, gue yakin dia bisa lanjutin dengan baik," jawab Dimas.


Yoga hanya mengangguk anggukan kepalanya mendengar jawaban Dimas. Ia tau pasti berat bagi Dimas untuk meninggalkan bisnis yang baru dijalaninya. Tapi demi gadis yang dicintainya, ia tau Dimas tidak akan berpikir dua kali.


"Lo tau informasi soal istri Pak Aris yang di luar pulau itu Dim?"


"Gue tau, alamat, nomor telepon, tempat sekolah anak anaknya, tempat kerjanya, gue tau," jawab Dimas.


"Good, kenapa kita nggak langsung tanya aja sama dia?"


"Nggak mungkin Ga, kejadian itu udah lama banget dan sekarang dia juga udah punya suami lagi, nggak mungkin kan kita tiba tiba tanya tentang masa lalunya? yang ada dia pasti langsung hubungin papa!"


"Iya juga sih, lo tau siapa suami barunya?"


"Tau, dia manajer divisi di perusahaan X di sana, sebelum mereka menikah si suaminya itu kepala divisi dan naik jadi manajer divisi setelah mereka menikah," jelas Dimas.


"Dan Pak Aris dulu anggota divisi, setelah menikah naik jadi kepala divisi, apa nggak aneh menurut lo?"


Dimas diam beberapa saat. Ia lalu membuka kembali data yang ia kumpulkan selama beberapa hari ini dan membacanya baik baik.


"Gue sebenernya nggak yakin sama data data ini, tapi......"


Yoga lalu menggeser posisi duduk Dimas dan membaca data yang tampil di monitor laptop Dimas.


"Pecandu narkoba, **** bebas, beberapa kali ditangkap polisi karena kasus penganiayaan, kekerasan terhadap anak kecil, lo yakin Dim?"


"Gue nggak tau Ga, tapi itu info yang gue dapet tentang si istri itu, awalnya gue nggak percaya tapi sekarang ada celah buat gue percaya sama data itu."


"Papanya temen baik om Tama kan?"


"Iya, papanya punya saham 30% di perusahaan papa waktu itu," jawab Dimas.


"Itu dia, apa kita sekarang sepemikiran?"


Dimas mengangguk.


"Karena kelakuan buruknya itu, papanya minta papa buat cariin dia suami, siapapun yang mau jadi suaminya akan mendapat imbalan kenaikan pangkat, papa yang nggak tau apa apa waktu itu cuma bisa nurutin permintaan teman baiknya, iya kan?"


"Dan yang jadi masalahnya, bukannya Pak Aris udah nikah waktu itu? kenapa om Tama milih Pak Aris yang jelas jelas udah punya istri? walaupun Pak Aris pegawai kepercayaan om Tama bukannya tetep om Tama yang keliatan bersalah di situasi ini?"


"Lo bener Ga, tapi gue yakin papa nggak mungkin sejahat itu, nggak ada alasan buat papa jodohin laki laki yang udah punya istri buat nikah lagi sama anak temennya yang nggak baik itu!"


Yoga memijit mijit keningnya memikirkan masalah yang dihadapi Dimas. Meski ia bukan keluarga Dimas, ia tau betul papa Dimas tidak akan melakukan hal itu tanpa alasan yang pasti.


Biiiippp Biiiippp Biiiippp


Ponsel Yoga berdering, sebuah panggilan dari Sintia.


"Halo by, udah pulang?"


"By?" tanya Dimas pelan yang hanya dibalas anggukan kepala Yoga.


"Udah, kak Yoga dimana?" tanya Sintia.


"Kakak lagi sama Dimas, kamu tunggu bentar ya, kakak kesana sekarang!"


"Jangan lama lama, nanti Sintia diambil orang."


"Hehe, oke oke, bye by!"


Yoga lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku dan keluar dari ruang kerja Dimas.

__ADS_1


"Gue balik dulu Dim, jemput Sintia," ucap Yoga buru buru.


"By???"


"Baby hehe...." balas Yoga lalu segera masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan home store.


Dimas hanya tertawa kecil melihat sikap Yoga.


**


Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, Andi sudah berada di kamar Dini.


"Ada banyak hal yang mau aku ceritain sama kamu," ucap Dini pada Andi.


"Aku juga udah lama nunggu cerita kamu," balas Andi.


"Ini tentang Pak Adit, tapi kamu jangan marah ya!"


"Kenapa emang?"


"Pak Adit minta aku buat pura pura jadi pacarnya, hehe...."


"Pura pura jadi pacar? kenapa bisa? kamu mau?"


"Aku terpaksa Ndi, kemarin itu tiba tiba aja terjadi dan......."


"Dan apa? dia nggak berbuat macem macem kan sama kamu?"


"Enggak kok, Pak Adit juga terpaksa biar mamanya nggak sedih," jawab Dini.


"Alasan klasik Din, pasti dia suka sama kamu, pasti dia...."


"Ndi, mamanya Pak Adit takut kalau Pak Adit 'belok' gara gara nggak pernah punya pacar, makanya Pak Adit buktiin ke mamanya kalau dia sekarang punya pacar, kebetulan waktu itu aku lagi sama Pak Adit jadi aku yang kena deh!"


"Kenapa kamu mau mau aja Din? kamu kan udah tunangan sama Dimas!"


"Kan cuma pura pura Ndi, aku tau gimana rasanya di posisi Pak Adit, dipaksa ngelakuin sesuatu yang kita nggak suka, di satu sisi kita bisa durhaka, di sisi lain kita yang terluka, aku....."


"Dan bohong itu juga durhaka Din!"


"Iya sih, tapi mamanya Pak Adit baik banget sama aku, aku nggak bisa bayangin gimana kecewanya mama Siska kalau tau Pak Adit sama aku udah bohong."


"Mama Siska?"


"Iya, mamanya Pak Adit."


Andi diam beberapa saat. Ia ingat ia pernah menemukan sebuah kain bertuliskan "Siska" di setiap sudutnya. Kain merah yang tidak sengaja ia temukan ketika membantu sang ibu merapikan lemari.


"Andi!!"


"Eh iya, apa? gimana?"


"Kamu udah ngantuk ya!"


"Pak Adit sempet marah banget sama aku gara gara meeting penting yang hampir kacau karena aku salah bawa flashdisk, tapi untungnya aku masih bisa presentasi dengan baik, jadi Pak Adit nggak marah lagi deh!"


"Lain kali jangan ceroboh dong Din, lebih teliti lagi!"


"Iya Ndi, aku tau."


"Ya udah sana tidur, udah malem, aku temenin kamu di sini sampe kamu tidur!"


"Kamu nggak mau tidur di sini? ibu kamu bilang kita dulu sering tidur bareng kan? hehe...."


"Kamu yakin biarin aku tidur di sini? aku sekarang bukan Andi yang dulu tidur sama kamu loh," goda Andi.


"Enggak enggak, aku tidur sendiri aja!" balas Dini lalu memasukkan seluruh tubuh dan wajahnya ke dalam selimut.


Andi hanya tersenyum lalu mengusap rambut Dini yang masih terlihat.


"Mimpi indah Din," ucap Andi lalu keluar dari kamar Dini.


Andi pulang ke rumahnya dengan masih memikirkan kain merah yang ia temukan. Ia pun berniat untuk menanyakannya pada sang ibu.


Sesampainya di rumah, ia segera mencari ibunya.


"Bu, ibu punya saudara yang namanya Siska?" tanya Andi.


"Nggak ada, kenapa?"


"Waktu Andi bantuin ibu beres beres lemari, Andi nemuin kain lebar warna merah dan ada namanya Siska di sana, itu punya siapa bu?"


Deg. Ibu Andi seketika terdiam. Sudah lama ia ingin menyingkirkan kain merah itu, namun entah kenapa setiap ia akan membuangnya ia ragu.


"Bukan saudara ibu?" tanya Andi membuyarkan lamunan ibunya.


"Oh itu, itu.... itu punya saudara ayah, iya punya saudara ayah," jawab ibu Andi beralasan.


"Saudara ayah yang tinggal dimana bu? kok Andi nggak pernah tau!"


"Itu.... Mmmm..... saudara jauh, jauh banget, udah lama nggak ketemu jadi kamu pasti nggak kenal, ibu mau tidur dulu ya Ndi!"


"Andi mau ketemu dia bu!" ucap Andi membuat sang ibu menghentikan langkahnya.


Dadanya seakan bergejolak, kegugupan dan kekhawatiran menyelimuti dirinya saat itu juga.


"Enggak, kamu nggak bisa ketemu dia," ucap ibu Andi dengan suara bergetar.


"Kenapa? ibu tinggal kasih alamatnya aja, Andi pingin ketemu saudara ayah dan...."


"ENGGAK ANDI, IBU BILANG ENGGAK YA ENGGAK, KAMU NGGAK BOLEH KETEMU DIA!" ucap ibu Andi yang sudah kehilangan kesabarannya.

__ADS_1


Panik, khawatir, takut, gugup dan gelisah, semua rasa yang itu seperti sudah menguasai dirinya saat itu juga.


"Bu, Andi cuma mau ketemu saudara ayah," ucap Andi pelan dengan menghampiri sang ibu.


Ibu Andi hanya menatap anak laki lakinya itu dengan mata berkaca kaca lalu segera masuk ke dalam kamar dengan membanting pintu.


"Bu, Andi minta maaf bu, tolong buka pintunya, Andi mau minta maaf sama ibu," ucap Andi dari depan pintu.


Tak ada jawaban, sesekali terdengar suara isak tangis dari dalam kamar sang ibu. Andi benar benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada sang ibu.


Ia hanya ingin bertemu saudara yang jauh, tapi sang ibu terlihat begitu emosi padanya.


"aku juga ngapain mau ketemu dia, kenal aja enggak, sekarang ibu yang sedih gara gara aku, aarrgghh bodohnya aku!"


Tak lama kemudian sang ayah pulang. Ia ingin menanyakan tentang "Siska" pada ayahnya namun ia ragu. Ia takut akan mendapat respon yang sama seperti sang ibu.


"mungkin ada masalah keluarga yang nggak boleh diungkit lagi dan nggak seharusnya juga aku tau," batin Andi dalam hati.


**


Pagi hadir meninggalkan tangis yang semalam pecah dalam keheningan malam.


Andi menghampiri ibunya yang berada di dapur.


"Bu, Andi minta maaf soal...."


"Jangan dibahas lagi," ucap ibu Andi memotong ucapan Andi


"Andi nggak akan bahas itu lagi bu, Andi minta maaf," balas Andi.


Ibu Andi hanya diam seolah tak menghiraukan Andi.


"Bu, ibu masih marah? Andi minta maaf bu, Andi janji nggak akan....."


"Buruan mandi, ibu udah masak telor balado kesukaan kamu," ucap ibu Andi.


Andi lalu memeluk sang ibu dan mencium pipinya.


"Makasih bu, Andi mandi dulu!"


Ibu Andi tersenyum dengan air mata yang mulai membasahi pipinya ketika Andi sudah masuk ke kamar mandi.


"Udah bu, ditahan, jangan bikin Andi merasa bersalah karena udah buat ibu sedih, Andi anak kita bu, dia sayang sama ibu," ucap ayah Andi menenangkan sang istri.


Ibu Andi menganggukkan kepalanya dengan menghapus air matanya. Ia akan selalu tersenyum untuk anak laki lakinya.


Setelah selesai sarapan, Andi menjemput Dini seperti biasa. Mereka pun segera berangkat ke halte.


"Ndi, aku boleh minta tolong sama kamu?" tanya Dini ketika mereka sudah berada di dalam bus.


"Apa?"


"Ini hari terakhir kamu anterin aku ya, mulai besok aku berangkat dan pulang kerja sendiri aja, nggak papa kan?"


"Kenapa Din? takut pacar kamu yang bos itu marah?"


"Apaan sih Ndi, kita itu nggak searah, kamu harus keluarin uang transport 2 kali kalau harus anter jemput aku!"


"Nggak masalah kok buat aku!"


"Aku bisa jaga diri baik baik Ndi, aku pasti hubungin kamu kalau ada apa apa, please biarin aku berangkat dan pulang kerja sendiri, ya!"


Andi menghela napasnya pasrah, ia mengalah. Mereka sudah sama sama dewasa. Ia tau Dini pun semakin dewasa, bukan lagi gadis kecilnya yang dulu tak pernah jauh darinya.


"Ya udah," ucap Andi singkat.


"Kamu marah ya?"


"Enggak."


"Kamu ngambek!"


"Turun!" ucap Andi lalu segera berjalan ke arah pintu dan diikuti oleh Dini.


"Andi, jangan gitu dong, aku tau kamu marah kan?"


"Enggak."


"Kalau gitu pasti ngambek!"


Andi hanya diam, ia duduk di halte dengan pandangan kosong ke arah jalan raya.


"Andiiiii, jangan gini dong!" ucap Dini dengan menarik narik tangan Andi.


Namun Andi tak bergeming. Ia hanya diam seolah mengabaikan Dini.


Tiba tiba.....


Cuuupp


Sebuah kecupan mendarat di pipi Andi, membuat Andi seketika membeku tak percaya pada apa yang baru saja terjadi.


Ia hanya diam, berusaha menahan jantungnya yang berdetak semakin kencang seolah akan terlepas dari tempatnya.


"Aku duluan ya, bye cowok tampan!" ucap Dini lalu meninggalkan Andi begitu saja.


"Din!" panggil Andi saat Dini sedang berdiri di tepi jalan raya.


Dini hanya menoleh dengan senyum manisnya.


"Aku jemput kamu, yang terakhir," ucap Andi dengan detak jantung yang masih terasa abnormal.

__ADS_1


"Oke," jawab Dini lalu segera menyebrang ke arah tempat kerjanya.


Di suatu tempat yang tak jauh dari sana, seorang laki laki hanya tersenyum tipis menyaksikan adegan romantis pagi itu.


__ADS_2