
Di rumah sakit.
Adit masih mencari alasan agar sang mama tidak memintanya untuk mengajak Dini datang.
"Dini lagi nggak enak badan ma, dia kemarin pingsan di kantor," ucap Adit memberi alasan.
"Pingsan? kamu pasti ngasih dia banyak pekerjaan kan? kamu emang pacar yang buruk Adit!"
"Terserah mama bilang Adit kayak gimana, pokoknya besok Adit jemput mama sendiri."
"Apa kalian lagi berantem?"
"Enggak ma, Dini harus istirahat di rumah, lain kali Adit akan ajak Dini ke rumah."
"Mama nggak mau pulang kalau kamu nggak ajak pacar kamu jemput mama."
"Ayo lah ma, jangan kayak gini, Adit......"
"Mama nggak minta apa apa sama kamu Dit, mama cuma mau kamu jemput mama sama pacar kamu, apa sesusah itu?"
"Oke oke, kalau itu mau mama."
Adit menyerah, pada akhirnya ia tak bisa menolak keinginan sang mama.
**
Malam memeluk bersama gelap yang semakin pekat. Dini duduk di jendela kamarnya, membiarkan angin malam membelai rambut panjangnya yang tergerai.
"Dimas, apa semuanya akan baik baik aja?" tanya Dini dalam hatinya.
Biiiippp Biiippp Biiippp
Ponsel Dini berdering, ia segera mengambil ponselnya dan kembali duduk di jendela. Sebuah panggilan dari Dimas membuat senyum tergaris di bibirnya.
"Halo, kamu udah pulang?"
"Udah, kamu dimana sekarang?"
"Lagi duduk di jendela, nunggu kamu," jawab Dini.
"Masuk sayang, angin malem nggak baik buat kesehatan, kamu harus bed rest anak nakal!"
"Aku kangen sama kamu," ucap Dini.
"Aku juga, sekarang kamu harus masuk dan tutup jendela kamu!"
"Udah kok."
"Bohong!"
"Kamu selalu tau ya kalau aku bohong?"
"Pasti, aku bisa lihat kamu dari sini!"
Mendengar ucapan Dimas, Dini menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Dimas. Namun tidak ia temukan.
"Bohong!"
"Aku tau kamu cari aku ke kanan ke kiri, padahal aku di depan kamu."
Dini segera membawa pandangannya ke depan, ke sebuah rumah yang berada di sebrang rumahnya.
Dini tersenyum tipis lalu segera melempar ponselnya ke atas tempat tidur dan segera keluar dari kamarnya.
Ia berlari ke rumah Andi.
Sesampainya di sana, dilihatnya laki laki yang dirindukannya sedang berdiri menanti kedatangannya.
Dini segera mendekat dan memeluknya dengan erat.
"Eheemm, gue nggak liat," ucap Andi yang juga berada di sana.
"Dasar jomblo sirik!" sahut Dimas.
"Kamu ngapain kesini?" tanya Dini pada Dimas.
"Nganterin Andi, ini mau balik!"
"Cuma nganterin Andi aja?"
"Iya, apa lagi?"
"Ya udah kalau gitu," balas Dini lalu berbalik meninggalkan Dimas, namun Dimas menarik tangan Dini.
"Besok pagi aku jemput ya!"
__ADS_1
"Mau kemana?"
"Ke pantai, aku udah janji kan sama kamu!"
Seketika Dini mengingat mimpi buruknya tentang pantai, membuatnya ragu untuk mengiyakan ajakan Dimas.
"Kenapa sayang? apa kamu mau ke tempat lain?"
"itu cuma mimpi, nggak akan ada hal buruk yang terjadi, aku yakin!" ucap Dini dalam hati.
"Kita ke pantai, besok pagi ya!"
Dimas menganggukkan kepalanya lalu mencium kening Dini.
"Sekarang kamu pulang, tutup jendela kamar kamu dan cepet tidur, oke?"
"Oke, kamu juga pulang ya!"
Dimas mengangguk. Dini lalu kembali ke rumahnya, meninggalkan Dimas dan Andi.
**
Pagi yang cerah di hari Minggu. Dini sedang bersiap untuk bertemu dengan Dimas di depan gang rumahnya. Ia berjalan dengan senyum yang menghiasi wajah cantiknya.
Di tepi jalan raya di ujung gang, laki laki tampan sedang menunggu kedatangannya.
"Pagi sayang," ucap Dimas lalu mencium kening Dini.
Dini hanya tersenyum lalu membalas dengan mencium pipi Dimas.
Mereka segera menuju ke arah pantai di temani hangat sang mentari di pagi hari.
Sesampainya di pantai, Dimas menarik Dini ke dalam genggamannya lalu berjalan berdua ke arah tepi pantai.
Mereka duduk di tepi pantai di bawah pohon kelapa yang cukup untuk memberikan keteduhan pada mereka berdua.
"Sayang, ada yang mau aku bicarain sama kamu," ucap Dimas tanpa melihat ke arah Dini.
"Ada apa Dimas?" tanya Dini.
Dimas menarik napasnya dalam dalam lalu menghembuskannya pelan.
"Apa ada masalah?" tanya Dini yang melihat raut wajah Dimas yang penuh tekanan.
"Maksud kamu?"
"Aku tau ibu kamu udah minta kamu buat jauhin aku dan ibu kamu juga terang terangan nggak suka sama aku, tapi apa yang kita lakuin di belakang ibu kamu sekarang sayang? apa ibu kamu nggak akan kecewa kalau tau apa yang kamu lakuin sama aku?"
"Dimas, kenapa kamu tiba tiba kayak gini?"
"Ini nggak tiba tiba Andini, aku udah mikirin ini lama, apa yang kita lakuin ini salah, apa yang kita lakuin ini nyakitin ibu kamu."
"Apa maksud kamu Dimas? apa kamu mau nyerah? apa kamu mau pergi? apa kamu....."
"Enggak sayang, enggak, aku nggak akan nyerah, aku nggak akan pergi dan aku nggak akan berhenti buat perjuangin hubungan kita, tapi bukan dengan cara ini, aku akan ngelakuin semuanya dengan jalan yang lebih baik tanpa melukai siapapun, termasuk ibu kamu, kamu pasti ngerti maksud ku kan?"
"Jadi apa yang mau kamu lakuin?"
"Beberapa hari ini aku berusaha cari tau tentang hubungan ibu kamu sama keluarga ku, aku nggak tau masa lalu seperti apa yang bikin ibu kamu benci sama keluarga ku, setelah aku tau semuanya akan akan cari solusinya, aku akan berusaha buat dapetin restu ibu kamu lagi sayang."
"Apa ibu bilang sesuatu sama kamu?"
"Enggak, kamu tau sendiri aku nggak pernah ketemu ibu kamu," jawab Dimas berbohong.
"Kamu bener, apa yang kita lakuin salah, tapi apa kita punya pilihan? apa ada hal lain yang bisa kita lakuin buat pertahanin hubungan kita?"
"Sayang, aku janji setelah semua ini jelas, aku akan kembali sama kamu dan aku akan dapetin restu ibu kamu lagi, kita akan sama sama tanpa harus sembunyi sembunyi kayak gini."
"Apa itu artinya hubungan kita sekarang udah berakhir? apa itu artinya.... kamu....."
Dini tidak bisa melanjutkan kata katanya, hatinya terasa perih untuk mengucapkan kata perpisahan yang selalu mengiringi langkah mereka.
"Ini cuma sementara Andini, sampai aku bisa yakinin ibu kamu lagi, setelah itu kita akan sama sama lagi dan nggak akan ada seorangpun yang menentang hubungan kita, kamu percaya kan sama aku?"
Dini hanya diam. Air matanya sudah tumpah membasahi pipinya. Sejak saat itu, ia membenci pantai. Pantai telah memisahkan dirinya dengan laki laki yang dicintainya, entah untuk sementara atau selamanya, ia benar benar membenci pantai.
"Sayang, ini yang terbaik buat kita, tunggu aku sampai aku bisa yakinin ibu kamu lagi," ucap Dimas dengan mengusap air mata Dini.
"Apa aku boleh bilang jangan pergi?"
"Aku nggak pergi sayang, aku cuma....... aku berusaha ngelakuin yang terbaik, buat kita, buat ibu kamu, buat semuanya."
"Apa aku punya pilihan lain?"
"Cukup jaga hati kamu buat aku, tunggu sampai aku kembali dan aku nggak akan lepasin kamu lagi," jawab Dimas dengan mencium tangan Dini.
__ADS_1
"Gimana sama orangtua kamu? mama sama papa pasti curiga kan?"
"Aku yang akan jelasin sama mereka, kalau mereka tanya apapun tentang hubungan kita, kamu jawab aja kalau apapun yang terjadi hubungan kita baik baik aja," jawab Dimas.
Dini berdiri dari duduknya, matanya menatap nanar deburan ombak yang seolah tengah menertawakannya.
"Kenapa semuanya jadi rumit Dimas? apa yang salah dari cinta?"
"Nggak ada yang salah sayang, cinta datang di hati yang tepat, tugas kita hanya untuk menjaganya, selamanya, sampai mata memaksa kita untuk tertidur selamanya."
Dini hanya diam, seberapa kuatpun ia menahan, air matanya tak akan bisa berhenti tumpah.
"Semuanya akan baik baik aja sayang, aku nggak akan pergi dari kamu sebelum Tuhan ambil nyawaku," ucap Dimas dengan membawa Dini ke dalam pelukannya.
Dini menangis dalam pelukan Dimas, hatinya begitu sakit menerima kenyataan yang harus membuatnya kembali berpisah dengan laki laki yang dicintainya.
Untuk kesekian kalinya, takdir membawanya jauh dari Dimas, memaksanya untuk berbalik arah dari masa depan impiannya.
"Hapus air mata kamu sayang, selama kita jauh, kamu harus lebih tegar, kamu harus lebih kuat dan aku yakin kamu akan jauh lebih baik dari sekarang," ucap Dimas dengan menghapus air mata Dini.
"Kamu harus janji buat kembali Dimas, kamu harus janji!"
"Aku janji sayang, selama jantung ini masih berdetak, tujuan ku cuma kamu, masa depan ku cuma kamu, kamu harus yakin dan percaya sama cinta kita, kita akan sama sama lagi, nggak akan ada lagi yang bisa pisahin kita, selamanya."
Dini hanya diam menatap laki laki di hadapannya. Terlihat kesedihan yang mendalam dari kedua sudut mata laki laki yang dicintainya itu. Ia tau, tidak hanya dirinya yang harus berjuang, tidak hanya Dimas yang harus berjuang, mereka harus berjuang bersama, mempertahankan cinta dalam hati mereka.
Perlahan, Dimas semakin mendekat dan meninggalkan kecupan di bibir Dini. Tak hanya sebuah kecupan singkat, dua hati bertaut dengan mesranya di bawah pohon kelapa. Tak peduli terik yang menerpa, mereka masih menikmati tautan yang semakin menghanyutkan mereka ke dalam cinta yang begitu dalam.
Dimas lalu melepasnya dan memeluk Dini dengan erat. Dengan sekuat tenaganya ia menahan air matanya. Sungguh bukan keputusan yang mudah baginya, namun ia harus tetap memenuhi janjinya pada ibu Dini.
"Aku minta Andi ke sini buat jemput kamu ya!" ucap Dimas.
Dini menggeleng.
"Anter aku pulang ke rumah," ucap Dini.
"Tapi sayang....."
"Aku mohon," ucap Dini memohon.
Dimas mengangguk. Mereka lalu kembali ke tempat parkir.
Dimas mengantar Dini pulang ke rumahnya dan bertemu ibu Dini di sana.
Di depan pintu rumahnya, ibu Dini hanya diam melihat Dini yang pulang bersama Dimas. Dini lalu menggenggam tangan Dimas untuk bertemu ibunya.
"Bu, Dini sayang sama Dimas, Dini cinta sama Dimas lebih dari yang ibu tau, Dimas masa depan Dini bu, tapi kalau itu bikin ibu sedih, Dini nggak punya pilihan lain selain lepasin Dimas walaupun itu menyakitkan buat Dini, untuk yang terakhir kalinya Dini tanya sama ibu, apa ibu yakin ini yang ibu mau?"
Ibu Dini menghela napasnya panjang. Ia tau bagaimana Dini sangat mencintai Dimas, namun baginya cinta akan datang dan pergi seiring dengan berjalannya waktu. Keputusannya sudah bulat, ia tidak akan membiarkan Dini berhubungan dengan keluarga yang sudah menghancurkan kebahagiaanya.
"Keputusan ibu nggak berubah Din, tinggalin dia dan jangan pernah kamu....."
"Baik kalau itu keputusan ibu, Dini akan lakuin apapun demi kebahagiaan ibu," ucap Dini lalu melepas tangan Dimas dan masuk ke dalam rumah, mengunci dirinya di dalam kamar.
"Dimas yakin tante tau apa yang terbaik buat Andini, sampai kapanpun Dimas nggak akan berhenti buat perjuangin Andini tante, Dimas permisi," ucap Dimas lalu pergi meninggalkan rumah Dini.
Ibu Dini segera menutup pintu rumahnya dengan keras. Ia lalu menghampiri Dini di kamarnya, namun terkunci. Berkali kali ia memanggil, Dini tak pernah menjawab.
"Din, cinta datang dan pergi dengan mudah, kamu nggak perlu khawatir, nggak akan lama lagi cinta yang baru akan datang buat kamu, ibu yakin itu," ucap ibu Dini dari luar kamar Dini.
"seandainya semudah itu, Dini nggak akan nunggu Dimas selama ini bu, Dini nggak akan bertahan dengan perasaan ini walau Dimas udah lupain Dini," ucap Dini dalam hati.
Kesedihan yang ia rasakan seolah sudah menggerogoti kebahagiaan dalam dirinya. Semangat dan keceriaannya seperti sudah lolos bersama dengan jalan pahit yang harus ia lalui.
Sampai matahari terbenam, Dini masih berada di dalam kamarnya. Ia bahkan belum mandi dan makan. Ia hanya menangis sampai kedua matanya terlihat bengkak.
Berkali kali sang ibu mengetuk pintu kamarnya, memintanya untuk keluar sekedar makan dan minum, namun ia sama sekali tidak bergeming. Ia masih hanyut dalam kesedihannya.
Toookk Toookk Toookk
"Din, kamu udah tidur?" tanya Andi dari depan pintu kamar Dini.
Dini tak menjawab, ia hanya ingin Dimas kembali, berdua menjalani kebersamaan yang selalu membuatnya bahagia bersama Dimas.
Biiippp Biiippp Biiippp
Sebuah pesan masuk dari Dimas.
Andini, aku tau ini nggak mudah buat kamu juga buat aku, tapi ini yang terbaik, ini jalan yang udah kita berdua pilih, jadi aku harap kamu nggak pernah menyesalinya. Lanjutkan hidup kamu dengan baik Andini, bahagiakan orang orang di sekitar kamu, jangan biarkan mereka merasakan kesedihan yang kita rasakan sekarang. Bangkit dengan senyum manis kamu Andini, dunia tidak akan runtuh hanya karena kesedihan kita. Tersenyumlah seperti saat kamu tersenyum untukku, jaga hati kamu buat aku Andini, tunggu aku, aku pasti kembali :)
Sebaris senyum tipis tergaris bersama air mata yang kembali membasahi pipi. Hatinya terasa semakin sesak namun ia berusaha untuk tetap tersenyum.
Hidupnya belum berkahir, cintanya belum kandas dan masa depannya masih nyata di ujung penantian.
Baginya, ini bukan akhir dari kisah cintanya. Ini adalah awal untuk mempertahankan cinta dalam hatinya, menjaganya sampai batas waktu yang tak pernah ia tau kapan akhirnya.
__ADS_1