Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Debaran dalam Hati


__ADS_3

Masih malam yang sama, Dini merebahkan badannya di tempat tidur. Ia memegangi dadanya, jantungnya terasa berdetak tak beraturan.


"aku tadi ngapain sih? kenapa jadi deg deg'an gini, Andi marah nggak ya? harusnya sih enggak ya, tapi aku tadi...... aaarrgghhh aku terlalu seneng sampe berlebihan gitu, gimana dong!" batin Dini dalam hati.


Dini lalu beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah jendela kamarnya.


"Andi udah pulang belum ya, harusnya sih nggak masalah kan ya, kita emang sedeket itu, dia juga pernah cium keningku kan? kita emang...... aaarrgghhh itu kan dulu Din, kamu ini tunangan Dimas sekarang, sadar Dini, jaga batas persahabatan kamu, dengan adanya Dimas kamu sama Andi sekarang udah berbeda, harus tau batasan Dini," batin Dini menasehati dirinya sendiri.


Dini lalu kembali naik ke ranjangnya, menenggelamkan kepalanya di bawah bantal, membuang jauh jauh segala macam pikiran yang mengganggunya.


Namun hingga pagi datang ia masih terjaga. Ia tidak bisa berhenti memikirkan Andi semalaman. Ia mengingat semua hal yang pernah mereka lakukan berdua. Hal itu membuatnya tersadar jika hubungannya dengan Andi sekarang sudah berbeda.


Ada jarak diantara mereka berdua, ada dinding yang menghalangi mereka, ada sebuah status yang memberikan batasan pada mereka. Ia ingat bagaimana dulu ia dan Andi sangat dekat, bagaimana ia dan Andi saling mencurahkan kasih sayang tanpa ada apa atau siapa yang memberikan batas.


"aku tetep sayang sama kamu Ndi, aku tetep nggak mau jauh dari kamu, aku sendiri nggak tau hubungan seperti apa yang sebenernya kita jalani selama ini, yang pasti aku mau kita tetap sama sama, walaupun aku tau itu nggak mungkin, tapi harapan itu selalu ada," batin Dini dalam hati bersama fajar yang mulai menyingsing.


Di sisi lain, Andipun tak bisa memejamkan matanya barang sedetikpun. Meski apa yang dilakukan Dini bukanlah yang pertama baginya tapi itu tak mengurangi debaran indah yang semakin kuat ia rasakan dalam hatinya.


"maaf kalau aku mulai egois Din, maaf kalau aku ingin memiliki kamu seutuhnya, maaf karena hatiku masih menyimpan rasa yang mungkin saja kamu anggap salah," ucap Andi dalam hati.


Setelah mentari benar benar menampakkan sinarnya, Andi keluar dari rumahnya, bersiap untuk berangkat ke tempat kerjanya.


"Andi!" panggil Dini dari rumahnya.


Dini lalu berjalan ke arah Andi.


"Udah mau berangkat ya?" tanya Dini berbasa basi. Sejujurnya ia sedang menyembunyikan kegugupannya saat itu.


"Ii... iya.." jawab Andi yang masih gugup, mengingat apa yang terjadi di antara mereka semalam.


"Soal semalem, aku....."


"Kamu udah diterima kerja kan? dibagian apa?" tanya Andi memotong ucapan Dini.


Ia berusaha menutupi kegugupannya dengan mengalihkan pembicaraan, berusaha bersikap seperti biasanya.


"Dibagian apa ya? aku juga nggak tau sih, mbak Ana belum jelasin soal itu hehe..." jawab Dini yang mulai bisa menguasai keadaan.


"Kamu kenapa nggak tanya dulu Din, takutnya nanti posisinya nggak cocok sama kamu!"


"Apapun itu aku akan terima Ndi daripada aku nggak ada kerjaan di rumah, mbak Ana juga pasti bukan orang sembarangan di perusahaan karena dia interview aku langsung tanpa lewat HRD dan aku bakalan gantiin posisi dia di perusahaan," jelas Dini.


"Jangan jangan dia Direktur!"


"Enggaklah Ndi, masak aku tiba tiba jadi Direktur nanti, tapi makasih ya udah bantuin aku, aku nggak kepikiran buat minta tolong mbak Ana sih sebelumnya, makasih ya!"

__ADS_1


"Sama sama, aku berangkat dulu ya!" balas Andi dengan mengusap rambut Dini.


"Iya, hati hati."


Andi lalu berjalan ke arah halte, sedangkan Dini kembali ke rumahnya.


**


Di home store, Dimas sudah lebih dulu datang.


"Nih file yang lo minta, cek aja dulu!" ucap Andi sambil memberikan flashdisk nya pada Dimas.


"Cepet banget kerja lo, nggak tidur?"


"Ini namanya kerja keras Dim!"


"Jangan cuma kerja keras Ndi, tapi juga harus kerja cerdas!"


"Iya juga sih, eh mbak Kintan kemarin kesini katanya dia nggak bisa kesini lagi soalnya dia dipindahtugaskan keluar kota!"


"Bodo amat Ndi, siapa juga yang peduli!"


Andi dan Dimas mulai sibuk dengan pekerjaan mereka. Andi menyelesaikan desain pesanan klien, sedangkan Dimas mengelola keuangan dan marketing bisnis mereka.


"Ndi, ntar malem gue mau ketemu Andini!" ucap Dimas pada Andi.


"Lo masih nanya?"


"Oh iya kalian kan backstreet hahaha....."


"Seneng lo temennya susah?" balas Dimas dengan melemparkan penggaris ke arah Andi.


"Seneng banget hahaha....."


Dimas hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Andi, ia tau Andi tidak benar benar bahagia di atas kesusahannya.


**


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Andi sudah berada di depan rumah Dini, menunggu Dini yang sedang bersiap siap.


"Mau jalan jalan ya?" tanya ibu Dini pada Andi.


"Iya bu, ibu mau nitip sesuatu?"


"Enggak kok, ibu cuma mau ingetin kamu, jangan sampe Dini ketemu sama Dimas ya!"

__ADS_1


"Ayo berangkat!" ucap Dini yang tiba tiba datang.


"Kita berangkat ya bu!" lanjut Dini berpamitan pada ibunya lalu menarik tangan Andi.


Dini berjalan penuh semangat bersama Andi, ia ingin segera bertemu Dimas.


"Cantik banget sih yang lagi mau ketemu pacar!" goda Andi.


"Make up ku berlebihan?"


"Enggak kok, tetep cantik," jawab Andi dengan mencubit hidung Dini.


Di ujung gang, sudah ada Dimas yang berdiri di depan mobilnya menunggu kedatangan Dini dan Andi.


"Aku nggak ikut kalian ya, ada janji di tempat lain," ucap Andi pada Dimas dan Dini.


"Anita?" tanya Dini dengan raut wajah yang tiba tiba berubah.


"Iya, dia udah nunggu aku di rumahnya, nanti kamu kabarin aja kalau udah mau pulang, aku tunggu di sini!" jawab Andi.


Dini lalu segera masuk ke mobil Dimas tanpa mengucapkan apapun.


"Gue duluan ya Ndi!" ucap Dimas pada Andi.


"Oke!"


Dimaspun melajukan mobilnya ke arah kafe langganan mereka. Dari kaca spion mobil, Dini melihat Andi yang masih berdiri di tempatnya.


Malam itu seharusnya mereka pergi ke kafe bertiga, tapi tiba tiba Andi harus bertemu Anita dan membuyarkan rencana Dini, membuat Dini kesal.


"Ada apa sayang?" tanya Dimas yang melihat Dini tak seceria tadi.


"Nggak papa," jawab Dini dengan masih menatap kaca spion meski sudah tidak ada Andi di sana.


"Kamu kesel karena Andi mau ketemu Anita?"


"Aku kesel karena dia tiba tiba nggak ikut, rencananya kan bertiga tadi!"


"Kamu nggak suka berdua aja sama aku?"


"Ya suka lah, tapi....."


"Jangan pikirin cowok lain selain aku sayang, aku cemburu," ucap Dimas dengan menggenggam tangan Dini.


"Maaf Dimas, aku nggak bermaksud kayak gitu," balas Dini.

__ADS_1


Dimas hanya tersenyum lalu mencium tangan Dini.


__ADS_2