Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Jangan Over Thinking!


__ADS_3

Waktu berlalu tanpa henti. Dini sudah kembali menjalani kehidupan normalnya sebagai seorang pegawai di perusahaan milik Adit.


Setiap harinya ia selalu berusaha menguatkan dirinya sendiri, memenuhi kepalanya dengan hal hal yang positif dan mengabaikan hal negatif yang hanya akan menghancurkan dirinya.


Siang itu, Dini pergi ke perusahaan lain bersama Adit untuk melakukan perjanjian bisnis.


"Mama undang kamu ke acara ulang tahun mama kan?" tanya Adit pada Dini.


"Iya kak, tapi Dini nggak tau bisa datang atau enggak," jawab Dini.


"Kenapa? apa kamu ada acara lain di tanggal itu?"


Dini menggeleng pelan.


"Acaranya bulan depan dan bulan depan Dimas udah nggak di sini lagi," jawab Dini.


"Dia jadi pindah ke luar kota?" tanya Adit.


"Kak Adit tau?"


"Kakak kenal deket sama papanya Dimas, om Tama, jadi sedikit banyak kakak tau tentang Dimas," jawab Adit.


Dini hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Adit.


Tak lama kemudian mereka sampai di tempat tujuan. Adit dan Dini lalu keluar dari dalam mobil. Tiba tiba Dini menghentikan langkahnya, ia merasa seseorang sedang mengawasinya saat itu.


"Ada apa Din?" tanya Adit.


"Enggak, nggak ada apa apa kak, ayo masuk!"


Dini dan Aditpun melanjutkan langkah mereka. Setelah acara selesai, Adit mengajak Dini untuk makan siang di tempat yang tak jauh dari perusahaan itu.


Tak di sangka, mereka bertemu Jenny di sana.


"Kamu tunggu di mobil," ucap Adit pada Dini.


Ia sengaja menjauhkan Dini dari Jenny, ia takut jika Dini kembali merasakan traumanya seperti yang Dimas jelaskan padanya beberapa hari yang lalu.


"Adit, kamu di sini juga?" tanya Jenny.


"Iya, kamu ngapain di sini?" balas Adit bertanya.


"Aku lagi sama temen temen, kamu sama Dini ya, aku mau ketemu dia sebentar!"


"Buat apa? kamu mau...."


"Aku mau minta maaf sama dia," ucap Jenny memotong ucapan Adit.


"Minta maaf?"


"Iya, minta maaf, aku sadar apa yang aku lakuin kemarin salah, karena aku pikir kamu ada hubungan apa apa sama Dini," jelas Jenny.


"Oke, 5 menit," balas Adit.


"Oke!"


Adit lalu menghampiri Dini, memastikan apakah Dini mau menemui Jenny atau tidak.


"Din, Jenny mau ketemu kamu, dia bilang mau minta maaf sama kamu, kamu mau ketemu dia?" tanya Adit pada Dini.


Dini diam beberapa saat sebelum ia menjawab pertanyaan Adit.


"Kakak nggak maksa kamu, kamu berhak buat nolak dia," lanjut Adit.


"Dini mau kok kak," ucap Dini.


"Kamu yakin?"


Dini mengangguk pasti. Jika memang Jenny ingin meminta maaf padanya, maka ia harus memaafkannya dengan harapan kesempatan kedua akan membuat Jenny menjadi lebih baik.


Dini menarik napasnya dalam dalam, mengatur emosinya dengan baik sebelum turun dari dalam mobil untuk menghampiri Jenny.


"Hai Din, how are you?" tanya Jenny berbasa basi.


"I'm good," balas Dini.


"Din, i want to say sorry, really really sorry, aku minta maaf karena udah salah paham sama hubungan kamu dan Adit," ucap Jenny.


"It's okay, aku udah lupain itu!"


"Kamu nggak mau maafin aku? we can be best friend Din!"


"Aku udah maafin kamu kok, seperti yang kamu bilang, aku emang baik," ucap Dini dengan senyum manisnya.


Jenny lalu tersenyum dan memeluk Dini.


"Yes, you are a good girl and that's a good thing!" ucap Jenny.


"And I hope you too, be a good girl in the good way!"


Jenny mengangguk lalu melepaskan Dini dari pelukannya.


"Sorry, I have to go now!" ucap Dini pada Jenny.


"Oke, take care!" balas Jenny.


Dini lalu kembali ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu bersama Adit.


"Kenapa kalian pelukan?" tanya Adit yang sedari tadi memperhatikan Dini dan Jenny.


"Emang nggak boleh? kalau kak Adit pelukan sama pak Rudi itu baru aneh!" jawab Dini yang membuat Rudi terkekeh.


"Kakak cuma bisa berharap yang terbaik buat kamu Din," ucap Adit pada Dini.


"Makasih kak," balas Dini.


Merekapun sampai di kantor dan kembali melanjutkan pekerjaan mereka sampai jam pulang tiba.


"Kak Adit belum pulang? ada yang bisa Dini bantu?" tanya Dini pada Adit setelah ia bersiap pulang.


"Bentar lagi kakak pulang, kamu pulang duluan aja!"


"Oke, Dini duluan ya kak!"


"Iya, hati hati!"


Dini lalu keluar dari kantor sambil menghubungi Dimas.


"Kamu dimana?" tanya Dini setelah Dimas menerima panggilannya.


"Bentar lagi nyampe sayang," balas Dimas.

__ADS_1


"Oke," balas Dini.


Dini lalu menunggu Dimas di pinggir jalan. Tak lama kemudian tampak mobil Dimas yang perlahan mendekat ke arahnya.


Mobilpun berhenti, Dimas turun dan membukakan pintu untuk Dini. Namun saat Dini akan masuk, ia menoleh ke kanan dan ke kiri, ia merasa seseorang sedang memperhatikannya saat itu.


"Ada apa sayang?" tanya Dimas.


"Enggak, nggak ada apa apa!" balas Dini berbohong.


Dini berusaha untuk melupakan kejadian yang menyisakan trauma dalam dirinya. Namun entah mengapa sejak kejadian itu ia merasa ada seseorang yang selalu mengawasi gerak geriknya, terlebih ketika ia berada di luar.


"mungkin cuma perasaan aku aja, gara gara kejadian kemarin aku jadi parno," batin Dini dalam hati.


"Everything okay sayang?" tanya Dimas dengan menggenggam tangan Dini.


Dini mengangguk dengan senyum manisnya.


"Sayang, kamu udah beli hadiah buat mamanya Adit?" tanya Dimas.


"Belum, aku kayaknya nggak datang," jawab Dini.


"Kenapa?"


"Nggak ada kamu, kamu udah nggak di sini lagi," jawab Dini.


"Kan ada Andi, kamu bisa datang sama dia sayang!"


"Tapi kamu kan pacarku, tunanganku!"


"Iya, tapi aku nggak masalah kok kalau kamu datang sama Andi, daripada kamu sama Adit!"


"Kenapa gitu?"


"Nggak papa, aku lebih percaya kamu sama Andi aja daripada sama Adit," jawab Dimas.


"Kamu nggak cemburu kalau aku sama Andi?"


"Cemburu sih pasti ada, tapi aku bisa memahami hubungan kalian kok!"


"Makasih Dimas, makasih karena kamu mau terima aku dengan semua yang ada di hidupku, termasuk Andi," ucap Dini dengan memandang laki laki yang fokus menyetir itu.


Dimas hanya menoleh sebentar lalu tersenyum dan menarik tangan Dini untuk diciumnya.


"Jadi, mau cari hadiah sekarang?" tanya Dimas.


"Acaranya kan masih satu minggu lagi!"


"Iya sih, tapi aku masih pingin ngabisin waktu sama kamu," ucap Dimas.


"Huuuu, dasar modus, kalau gitu anter aku beli alat lukis, mama Siska suka melukis di rumahnya!"


"Kamu nggak sekalian beli buat Andi?" tanya Dimas.


"Oh iya, aku lupa, Andi kan ulang tahun juga ya hari itu!"


"Katanya sahabat deket, masak hari ulang tahunnya aja lupa!"


"Hehehe.... menurut kamu, aku beli apa ya buat Andi!"


"Beli sesuatu yang dia butuhin sayang!"


"Kamu tau dia lagi butuh apa?"


"Serius Dimas, aku nggak tau apa yang Andi butuhin sekarang!"


"Katanya temen deket, masak......"


"Diimaasss!!" teriak Dini kesal dengan memukul Dimas.


Dimas hanya tertawa membiarkan Dini memukulnya dengan keras.


"Aku emang bukan sahabat yang baik, aku bahkan nggak tau apa yang Andi butuhin sekarang," ucap Dini tak bersemangat.


"Tenang aja, apapun yang kamu kasih buat dia, pasti dia senang kok!"


"Tapi bukan berarti aku kasih dia hal hal yang nggak penting dong!"


Dimas lalu menghentikan mobilnya di depan toko yang menjual peralatan melukis dengan lengkap. Dinipun bisa dengan mudah menemukan apa yang ia cari untuk ia berikan pada mama Siska.


Setelah mendapatkan satu set kuas dan kanvas, Dini dan Dimas meninggalkan tempat itu.


"Sekarang kita kemana?" tanya Dini.


"Aku anter kamu pulang!"


"Pulang? bukannya kamu mau ngabisin waktu sama aku?"


"Iya, tapi kamu pasti capek karena baru pulang kerja!"


"Enggak kok, aku nggak capek, aku....."


"Kamu harus jaga kesehatan sayang," ucap Dimas memotong ucapan Dini.


"Ya udah!" balas Dini dengan raut wajah kesal.


"Jangan ngambek dong, besok malam kita makan malam di rumah, sama ibu kamu juga!"


"Beneran?"


"Iya sayang, kita kan belum pernah makan malam bareng!"


"Oke, nanti aku bilang ibu!"


Tak lama kemudian mereka sampai di rumah Dini. Seperti biasa, Dimas mengantarkan Dini sampai ke depan pintu rumahnya.


"Baru pulang?" tanya ibu Dini.


"Iya bu, abis beli hadiah buat mamanya pak Adit," jawab Dini.


"Dimas antar Andini pulang sekalian mau ngundang ibu makan malam di rumah besok, ibu bisa?" tanya Dimas pada ibu Dini.


"Bisa, kalau gitu besok ibu akan beli baju baru buat makan malam sama keluarga kamu," jawab ibu Dini.


Dimas lalu kembali ke mobilnya dan mengambil sebuah paper bag besar dan memberikannya pada ibu Dini.


"Dimas udah siapin bu, mudah mudahan ibu suka," ucap Dimas.


Ibu Dini menerima paper bag itu dan melihat isinya, meski belum dikeluarkan tampak sebuah pakaian yang sangat bagus di dalamnya.


"Ini buat ibu?" tanya ibu Dini meyakinkan.

__ADS_1


"Iya, Dimas nggak tau warna kesukaan ibu apa, jadi Dimas belinya atas rekomendasi mama, kalau ibu nggak suka Dimas bisa belikan yang lain lagi," jelas Dimas.


"Ibu suka kok, makasih Dimas," balas ibu Dini.


Dimas menganggukkan kepalanya.


"Kamu jangan iri ya sayang," ucap Dimas dengan menyenggol lengan Dini.


"Makasih Dimas, aku nggak tau kalau kamu udah siapin ini buat ibu!"


Dimas hanya tersenyum lalu memeluk Dini.


"Dimas pamit pulang dulu bu, aku balik dulu sayang!" pamit Dimas lalu pergi meninggalkan rumah Dini.


**


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dini dan Andi sedang duduk di depan rumah Dini saat itu.


"Andi, apa menurut kamu akhir akhir ini kita jadi menjauh?" tanya Dini.


"Enggak, perasaan kamu aja mungkin."


"Mungkin."


"Waktu kita buat berdua kayak gini emang semakin jarang Din, tapi bukan berarti kita semakin jauh, kita udah dewasa sekarang, kita udah punya kesibukan kita masing masing, tanggung jawab kita sama pekerjaan kita juga!"


"Iya, kamu bener, pada kenyataannya kamu tetep sahabat terbaikku, kamu selalu jadi tempat yang selalu bikin hatiku tenang," ucap Dini.


Andi lalu mendekat dan membawa Dini bersandar di bahunya.


"Apa aku juga sahabat terbaik kamu Ndi?" tanya Dini.


"Tentu, kamu yang terbaik di hidupku selain ayah dan ibu pastinya!"


"Andi, bulan depan kamu dateng kan ke acara ulang tahun mama Siska?" tanya Dini.


"Nggak tau, kayaknya enggak deh!"


"Kok enggak? kenapa?"


"Nggak papa, aku kan bukan siapa siapanya, agak aneh aja kalau aku dateng, lagian aku juga males ketemu atasan kamu itu!"


"Kak Adit? kamu ada masalah apa sama kak Adit?"


"Nggak tau, bawaannya pingin nampol aja kalau ketemu dia!"


"Itu kayak waktu kita SMA, waktu kamu baru ketemu Dimas di SMA, bawaannya berantem mulu kalau kalian ketemu!"


"Nah iya sama, vibes nya tuh ngeselin!"


"Tapi itu bukan alasan buat kamu nggak dateng dong Ndi, mama Siska kan udah ngundang kamu!"


"Iya sih, tapi aku nggak akan dateng!"


"Hmmmm..... aku sama siapa dong kalau kamu sama Dimas nggak dateng!"


"Dimas nggak dateng?"


"Enggak, kan dia udah pindah bulan depan!"


"Oh iya, aku lupa!"


"Aku sama kak Adit aja deh kalau kamu nggak dateng!"


"Aku dateng, aku pasti dateng, kamu sama aku aja!" ucap Andi cepat.


"Cepet banget berubah pikirannya!"


"Daripada kamu sama cowok mesum itu, mending kamu sama aku!"


"Ya ampun Ndi, kamu masih inget inget masalah itu? itu kan cuma salah paham!"


"Tetep aja apa yang dia lakuin itu salah!"


"Iya oke, terserah kamu aja, jadi kamu dateng kan bulan depan?"


"Iya, aku dateng!"


Setelah membicarakan banyak hal, Andi lalu berpamitan untuk pulang karena hari sudah malam.


"Peluk dulu dong!" ucap Dini sambil mengangkat kedua tangannya ke arah Andi.


Andi lalu mendekat dan memeluk Dini.


"Pelukan ini yang selalu aku kangen dari kamu," ucap Dini pada Andi.


"Apa sebegitu nyamannya?"


Dini mengangguk, masih dalam pelukan Andi. Ketika ia baru saja lepas dari pelukan Andi, ia melihat seseorang yang berdiri di ujung jalan seperti sedang memperhatikannya.


Dinipun memperhatikan seseorang itu tanpa berkedip, membuat Andi melambaikan tangannya tepat di depan mata Dini.


"Ada apa sih? liat apa?" tanya Andi yang mengikuti arah pandangan Dini.


"Kamu liat orang yang berdiri di sebrang jalan tadi kan?" balas Dini bertanya.


"Iya liat, kenapa?"


"Kamu tau siapa? kenapa dia perhatiin kita dari tadi?"


"Bukan siapa siapa, palingan cuma orang lewat!"


"Tapi dia berdiri di sana lama Ndi, dia...."


"Din, jangan over thinking, oke?"


Dini menarik napasnya dalam dalam lalu menghembuskannya pelan.


"Maaf Ndi," ucap Dini.


"Ayo aku anter kamu masuk!"


Andipun mengantar Dini masuk ke dalam kamarnya.


"Kamu tidur, jangan mikirin apa apa, oke?"


Dini mengangguk. Ia lalu memejamkan matanya, tanpa sadar tangannya masih menggenggam tangan Andi sampai ia tertidur.


"kamu akan baik baik aja Din, maaf karena aku belum bisa bantu kamu hilangin fobia kamu, belajar psikologi nggak segampang yang aku pikirin Din, aku butuh waktu untuk itu," batin Andi dalam hati.


Setelah memastikan Dini benar benar tertidur, Andi menarik tangannya dengan perlahan agar tidak membangunkan Dini.

__ADS_1


Ia lalu keluar dari kamar Dini dan pulang ke rumahnya. Do'a dalam hatinya hanya satu, ia hanya ingin Dini bahagia, terlepas dengan atau tanpa dirinya.


__ADS_2