
Senja telah menghampiri langit sore. Dini dan Andi duduk di bawah pohon di atas bukit. Andi masih membiarkan Dini diam, ia tidak menanyakan apapun pada Dini.
"Ndi, sebenernya ada sesuatu yang terjadi di kantor," ucap Dini.
"Sesuatu yang baik atau yang buruk?" balas Andi bertanya.
"Dua duanya," jawab Dini.
"Kamu bisa cerita semuanya sama aku!"
Dini menarik napasnya dalam dalam lalu memulai ceritanya. Ia menceritakan pada Andi bagaimana perubahan sikap Adit dan itu membuat desas desus yang tidak mengenakkan tentang dirinya di kantor.
"Dan kamu diem aja?" tanya Andi.
"Aku nggak mau bikin masalah Ndi, kamu tau kan gimana marahnya Pak Adit, aku nggak mau liat Pak Adit marah lagi," jawab Dini.
"Tapi apa yang mereka lakuin itu salah Din, mereka bicarain kamu tanpa mereka tau yang sebenernya."
"Iya sih, awal awal aku biasa aja, tapi lama lama mereka keterlaluan juga, tapi aku bisa apa? ngelawan mereka? mana mungkin Ndi!"
"Kamu nggak harus ngelawan mereka Din, tapi tunjukin sama mereka kalau apa yang mereka pikirkan tentang kamu itu nggak bener."
"Dari awal mereka udah nggak suka sama aku Ndi, aku yang nggak punya pengalaman apa apa bisa tiba tiba jadi personal assistant CEO mereka, itu udah cukup bikin mereka berpikiran buruk tentang aku."
"Itu karena mereka belum tau hasil kerja kamu, mereka belum tau kalau kamu memang pantas ada di posisi itu, kamu cukup kasih tau mereka yang sebenarnya Din, bantah apapun kebohongan yang mereka katakan, soal mereka percaya atau enggak itu masalah mereka sendiri."
"Tapi Ndi......"
"Din, jangan biarin orang orang itu injak harga diri kamu, mereka bahkan belum tentu lebih baik dari kamu, kamu harus percaya sama kemampuan kamu, mbak Ana sama Pak Adit pilih kamu bukan tanpa alasan Din!"
"Gimana kalau mereka nggak percaya sama aku?"
"Itu terserah mereka, yang penting kamu udah coba jelasin yang sebenarnya, kalau kamu cuma diem, itu artinya kamu membenarkan ucapan mereka, speak up Din, mereka yang nggak percaya sama kamu berarti bukan orang yang baik buat jadi temen kamu."
Dini diam beberapa saat, ia ingat ucapan Ica sebelum ia meninggalkan ruangannya.
"Din, kita ini cuma tau semua gosip dari satu pihak, kamu sendiri nggak pernah ada klarifikasi apapun, sikap kamu seolah membenarkan semua gosip itu!"
"Kamu bener Ndi, mulai sekarang aku nggak akan diem aja, Pak Adit sama mbak Ana pilih aku karena mereka yakin sama kemampuanku, bukan karena Pak Adit ada hubungan khusus sama aku!"
"Tapi kamu kan emang ada hubungan khusus sama Pak Adit," ucap Andi pelan yang masih bisa didengar dengan jelas oleh Dini.
"Andiiiii, aku kan baru semangat, malah digituin!"
"Hehehe.... iya iya sorry," balas Andi memeluk Dini.
"Tau' ah, aku kesel sama kamu, aku mau pulang!" ucap Dini dengan melepaskan tangan Andi yang memeluknya.
Dini berdiri lalu berjalan meninggalkan Andi, sedangkan Andi segera berdiri dan mengejar Dini. Mereka berlarian dan berkejar kejaran sampai di depan rumah masing masing.
"Capek Ndi, udah.... aku nyerah," ucap Dini dengan napas yang tersengal sengal.
"Din......" panggil Andi dengan memandang ke arah depan.
"Ada apa sih, kamu kayak liat hantu aja, kamu......"
Dini menghentikan ucapannya ketika ia mengikuti arah pandangan Andi. Ia melihat seseorang yang sangat dirindukannya sedang berdiri di depan mobil. Seseorang yang sangat ingin ia peluk, seseorang yang selalu ada dalam hatinya.
"jangan liat kesini, please jangan liat, jangan liat," ucap Dini dalam hati.
Ia tau pertahanannya akan runtuh begitu ia melihat laki laki yang dicintainya itu. Meski matanya fokus memperhatikan Dimas, Dini berharap Dimas tidak akan membawa pandangannya pada Dini.
Namun harapannya tak diterima, Dimas memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu menoleh ke arah Dini dan Andi berdiri.
Seketika jantungnya berdetak begitu cepat melihat gadis yang dicintainya berada tak jauh dari hadapannya. Ia ingin berlari dan memeluk gadisnya, namun sebuah perjanjian seolah mengikatnya dan memberikan batas antara dirinya dengan gadis yang sangat dirindukannya itu.
Dini masih diam di tempatnya, membiarkan matanya memandang laki laki di hadapannya. Sebuah senyum tampak tergaris dengan indah di bibir laki laki yang dirindukannya. Ia tau ada sebuah kepahitan dari senyum manis yang ia lihat. Ia bisa merasakan bagaimana takdir seolah telah mencekik mereka berdua tanpa memberikan celah untuk mereka bernapas.
Dini berjalan pelan dengan masih menatap mata Dimas. Jantungnya berdebar, ia ingin segera berlari, namun......
"Din!" panggil ibu Dini dari depan rumah.
Dini menoleh cepat ke arah sang ibu, begitu juga Dimas.
Dini lalu membawa pandangannya ke arah Dimas dan dibalas dengan sebuah senyum dan anggukan kepala olehnya.
Dengan berat hati Dini membalas senyum Dimas lalu berlari ke arah rumahnya. Ia segera masuk ke dalam rumah lalu mengunci dirinya di dalam kamar.
Sedangkan Dimas masih berdiri di tempatnya menunggu Andi.
"Dari mana?" tanya Dimas pada Andi.
"Biasa, lo ngapain ke sini?"
"Ada yang mau gue sampe'in."
Andi lalu mengajak Dimas masuk dan duduk di ruang tamunya.
"Penting banget kayaknya, ada apa?" tanya Andi.
"Gue udah bikin kesepakatan sama papa Ndi, lo bisa marah sama gue, gue cuma bisa bilang sorry."
"Ada apa sih Dim? kesepakatan apa?"
__ADS_1
"Papa janji buat nggak ikut campur tentang masalah gue sama Dini sekarang, tapi dengan syarat, gue harus masuk ke perusahaan setelah masalah gue selesai," jelas Dimas.
"Lo tau ini akan terjadi Dim, mau nggak mau lo emang harus lanjutin bisnis bokap lo!"
"Gue tau, tapi nggak secepat ini Ndi, gue mau jalanin bisnis kita bareng bareng sampe sukses dulu."
"Dan sekarang lo terima syarat dari bokap lo demi Dini?"
Dimas mengangguk pelan.
"Apa lo nggak akan nyesel sama keputusan lo?"
"Buat Andini apapun akan gue lakuin Ndi, jadi gue minta maaf kalau keputusan gue ini bikin lo marah atau kecewa sama gue."
Andi menarik napasnya dalam dalam lalu menghembuskannya pelan.
"It's okay Dim, gue yakin ini yang terbaik buat semuanya," ucap Andi.
"Lo nggak marah sama gue?"
Andi menggeleng.
"Nggak ada alasan buat gue marah sama lo," jawab Andi.
"Thanks Ndi, gue harap setelah gue keluar dari home store lo bisa bawa home store kita makin sukses lagi," ucap Dimas yang hanya dibalas anggukan kepala Andi.
Setelah membicarakan maksud dari kedatangannya, Dimas segera berpamitan pulang.
"Jaga dia baik baik Ndi," ucap Dimas sebelum meninggalkan rumah Andi.
"Pasti," balas Andi.
Dimas lalu masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan rumah Andi.
**
Di tempat lain, Adit sedang memarkirnya mobilnya di halaman rumah sang mama. Ia lalu masuk dan mencari keberadaan sang mama.
"Mama dimana mbak?" tanya Adit pada salah satu penjaga mamanya.
"Ibu di halaman belakang mas, lagi nggak mau diganggu katanya."
"Malem malem gini? kenapa dibiarin aja mbak?"
"Maaf mas."
Adit lalu berlari ke halaman belakang dan melihat sang mama yang sedang melukis.
Adit lalu berjalan pelan mendekati sang mama. Ia berjongkok, memegang pundak dan tangan sang mama yang masih menggenggam kuas.
Teesss.....
Bulir bening menetes membasahi tangan Adit yang menggenggam tangan mamanya.
Adit lalu mengusap air mata wanita yang dicintainya itu. Hatinya terasa perih melihat kedua mata itu menangis.
"Ma, Adit di sini," ucap Adit dengan sangat pelan.
Mama Adit hanya diam dengan masih menatap lukisan di hadapannya. Air mata masih menetes tanpa henti seolah menunjukkan seberapa sakit luka yang tertanam dalam hatinya.
"Ma," panggil Adit pelan dengan memggengam tangan sang mama.
Masih tak ada balasan, Adit lalu mengambil kuas dari genggaman sang mama.
"Kita masuk ya ma, angin malem nggak baik buat kesehatan mama," ucap Adit.
"Pergi!" ucap sang mama tanpa menoleh ke arah Adit.
"Adit akan pergi setelah mama masuk kamar, oke?"
"Mama mau sendirian Dit," ucap mama Adit.
Adit lalu duduk di lantai di sebelah kursi mamanya. Ia membiarkan mamanya meluapkan kesedihannya melalui air mata. Sampai lebih dari satu jam suara tangis sang mama menyayat hatinya dengan dalam.
Setelah puas menangis, mama Adit mengambil hasil lukisannya dan membawanya ke suatu ruangan rahasia yang ada di rumahnya.
Sebuah ruangan tempat sang mama menyimpan banyak lukisan hasil karyanya sendiri.
"Mbak, tolong bereskan alat lukis mama ya!" pinta Adit pada salah satu penjaga mamanya.
"Baik mas."
Adit lalu mengikuti mamanya masuk ke dalam kamar. Adit mengambil sebuah botol yang berisi obat anti depresan yang sering dikonsumsi oleh sang mama.
"Mama belum minum obat kan?" tanya Adit sambil memberikan satu butir obat dan segelas air pada sang mama.
Mama Adit lalu meminum obat itu dan segera tertidur. Setelah memastikan mamanya tidur dengan nyenyak, Adit segera keluar dari kamar mamanya.
"Mbak, pastikan mama minum obat sesuai dosis yang saya jelaskan ya, jangan sampai kejadian yang dulu terulang lagi!"
"Baik mas, saya akan jaga ibu dengan baik."
"Terima kasih mbak, saya pulang dulu, kalau ada apa apa cepat kabari saya!"
__ADS_1
"Baik mas."
Adit lalu meninggalkan rumah mamanya. Ia ingin menemani sang mama, namun banyak sekali alasan yang memaksanya untuk tinggal berjauhan dengan mamanya.
**
Pagi telah menyapa dengan sinar terik sang mentari. Pagi pagi sekali Adit datang ke rumah sang mama sebelum berangkat ke kantor.
"Pagi sayang, mau sarapan bareng?" tanya mama Adit begitu menyadari kedatangan anak laki lakinya.
Adit mengangguk dengan tersenyum lalu mencium kening mamanya.
"Tidur mama nyenyak?" tanya Adit di sela sela sarapan mereka.
"Nyenyak," jawab mama Adit singkat.
Tiba tiba mama Adit menghentikan makannya, ia menaruh sendoknya di atas piring.
"Sayang," panggil mama Adit pada Adit.
"Iya ma, kenapa?"
"Apa semalem mama melakukannya lagi?" tanya mama Adit.
"Enggak," jawab Adit dengan menggelengkan kepalanya bersama senyum untuk menenangkan sang mama.
"Tapi lukisan mama bertambah satu Dit, apa semalem mama......"
"Ma, semalem nggak terjadi apa apa, mama cuma melukis terus minum obat, tidur," ucap Adit dengan menggenggam tangan mamanya.
"Apa semalem kamu ke sini?"
"Maaf ma, Adit sibuk banget jadi nggak sempet kesini," ucap Adit berbohong.
Mama Adit mengangguk anggukkan kepalanya lalu kembali menghabiskan sarapannya.
Adit segera berangkat ke kantor setelah ia menyelesaikan sarapannya bersama sang mama. Dalam hatinya ia bersyukur karena mamanya baik baik saja. Tapi jauh dalam hatinya ia sangat bersedih melihat keadaan sang mama yang yang sebenarnya.
Rasa bersalah yang bersarang dan mengakar kuat membuat mama Adit mengalami gangguan kesehatan mental yang menyebabkan sang mama tidak bisa mengontrol apa yang dilakukannya ketika suasana hatinya sedang memburuk.
Mama Adit bahkan sering memperlakukan Adit dengan kasar seperti membentak, mendorong Adit hingga jatuh tersungkur atau bahkan memukul Adit menggunakan apapun yang berada di sekitarnya.
Pada awalnya Adit merasa marah dengan hal itu. Namun sang papa menjelaskan semuanya dengan sangat baik, membuat Adit bisa memahami keadaan sang mama.
Untuk menjaga Adit dan sang istri agar selalu baik baik saja, papa Adit meminta Adit untuk tinggal terpisah dengan sang mama. Adit hanya boleh tinggal bersama sang mama setelah Adit bisa menyembuhkan mental illness sang mama dan Adit menerima permintaan papanya.
Sekarang, Adit tau apa yang bisa menyembuhkan sang mama dan ia sedang berusaha mencarinya.
**
Di tempat lain. Dini sudah berada di bus untuk berangkat ke kantor. Ia berangkat seorang diri tanpa Andi yang mengantarnya seperti biasa.
"semangat Dini!" ucap Dini dalam hatinya lalu turun dari bus dan menyebrang ke arah tempat kerjanya.
Seperti biasa, ia selalu menyapa para satpam dan resepsionis yang sedang bertugas.
"Hai Ca," sapa Dini pada Ica atau Aca, ia tak tau karena belum bisa membedakan keduanya.
"Hai Din," balas Aca.
"Aku minta maaf soal kemarin, harusnya aku berterima kasih sama kamu karena udah bantuin aku, aku...."
"Hai hai guys, lagi pada ngomongin apa nih? ada gosip baru?" tanya Ica yang baru saja datang.
"Kerja Ca, jangan gosip mulu!" balas Aca.
"Bawel banget sih emak emak satu ini!" ucap Ica dengan bersembunyi di balik Dini.
"Eh anak setan, lo tuh yang bawel!" balas Aca sambil menarik rambut Ica.
"Kalau gue anak setan, lo anak siapa? genderuwo?" balas Ica tak mau kalah.
"Udah dong udah, kok malah berantem sih!" ucap Dini dengan melerai kembar identik di hadapannya.
"Ada apa ini?" tanya Adit yang baru saja datang.
Aca dan Ica segera menjauh dan merapikan rambut mereka yang berantakan karena saling menjambak.
"Maaf pak," ucap Dini, Ica dan Aca bersamaan.
"Kalau mau main main jangan di sini, ini tempat kerja," ucap Adit tegas.
"Maaf pak," ucap mereka bertiga bersamaan.
"Sekali lagi saya lihat kamu telat, saya tidak akan ragu memberi kamu surat peringatan!" ucap Adit dengan menunjuk ke arah Dini lalu berlalu pergi begitu saja.
"Haahh, telat?" Dini melihat jam di ponselnya dan begitu terkejut melihat jam yang menunjukkan pukul 07.02
"Cuma telat 2 menit dapet surat peringatan? bener bener kejam CEO tampan kita ini," ucap Ica setelah ia melihat jam di tangannya.
"Ini gara gara kalian," ucap Dini lalu segera berlari ke ruangannya.
Niatnya untuk memberi tahu Ica dan Aca tentang gosip yang tidak benar itu terpaksa batal karena pertengkaran kecil diantara kembar identik itu.
__ADS_1