
Di rumah sakit, sebelum kedatangan Adit, mama Siska meminta Lukman untuk membelikannya makanan. Ketika Lukman meninggalkan mama Siska, mama Siska segera keluar dari ruangannya.
Ia berjalan dengan waspada agar tidak ada yang mencurigainya. Hingga beberapa saat kemudian ia berhasil keluar dan berlari ke arah jalan raya.
Andi yang melihat hal itu segera mengejarnya. Tepat sebelum mama Siska menyebrang, Andi menarik tangan mama Siska, membuat mereka berpelukan untuk beberapa saat.
Sebuah rasa nyaman dan bahagia menyusup ke dalam hati mereka. Namun Andi segera melepaskan mama Siska dari pelukannya.
"Tante kenapa di sini? ayo Andi antar masuk!"
"Tante mau ketemu kamu, tante mau nunggu kamu di tempat kerja kamu, tante..."
"Ayo masuk tante."
"Tante masuk asalkan kamu temenin tante ya, sebentar aja, tante mohon!"
"Mama!" panggil Adit yang segera berlari ke arah sang mama bersama satpam.
"Adit, minta Andi buat temenin mama Dit, mama mohon, kamu bisa kabulkan permintaan mama kan?" pinta mama Adit dengan menarik pakaian Adit.
Adit hanya diam, ia tau ia sudah tidak bisa membujuk Andi lagi.
"Kita masuk ya ma," ucap Adit pelan, namun sang mama malah mendorong Adit dan berlari kembali pada Andi.
"Temani mama sayang, mama mohon," ucap mama Adit pada Andi.
"mama??"
"Sus, kasih mama obat penenangnya sekarang!" ucap Adit pada suster yang mengikutinya mencari sang mama.
"Baik pak."
Suster lalu mendekati mama Adit dan menyuntikkan obat penenang pada mama Adit. Tak lama kemudian mama Adit pingsan dalam pelukan Andi.
Andipun membopong mama Adit kembali ke rumah sakit.
"mama? apa maksudnya?" batin Andi bertanya tanya.
"Lo bisa pergi!" ucap Adit pada Andi.
Andi lalu pergi begitu saja meninggalkan ruangan mama Adit. Entah kenapa hatinya terasa berat untuk meninggalkan ruangan itu.
Andi lalu kembali ke bangku yang berada di bawah pohon untuk menunggu Dini.
Tak lama kemudian Dini datang bersama ibunya.
"Udah selesai?" tanya Andi.
"Udah, ayo pulang!"
Andi mengangguk, lalu ke tempat parkir untuk mengambil mobil.
"Gimana hasilnya bu?" tanya Andi pada ibu Dini.
"Bagus kok, ibu sehat, Dini aja yang nggak percaya," jawab ibu Dini.
"Cek kesehatan kan nggak salah bu, lebih baik mencegah daripada mengobati," ucap Dini berkilah.
Sesampainya di rumah Dini, mereka segera turun dari mobil.
"Mobilnya Dimas aku taruh disini aja ya Din, ntar malem dia yang ambil!" ucap Andi sebelum ia pulang.
"Oh, oke!" jawab Dini lalu masuk ke dalam rumah.
Sebelum Andi pulang, ibu Dini menahan Andi untuk tidak pulang.
"Ada yang mau ibu bicarain Ndi," ucap ibu Dini pelan.
"Ada apa bu?"
Ibu Dini lalu membawa Andi untuk berbicara di belakang mobil.
"Ini cuma antara ibu dan kamu ya Ndi, ada yang mau ibu tanyakan, ibu harap kamu jawab yang jujur."
"Iya bu, apa yang mau ibu tanyain?"
"Ndi, ibu tau kamu sama Dini udah bersahabat lama, tapi apa nggak ada sedikit pun rasa di hati kamu buat Dini?"
Andi tersenyum sebelum ia menjawab pertanyaan ibu Dini.
"Andi sayang sama Dini bu, bagi Andi kebahagiaan Dini yang paling penting, apa itu sudah menjawab pertanyaan ibu?"
Ibu Dini mengangguk paham meski Andi tidak menjelaskannya secara langsung.
"Kamu tau Dini anak ibu satu satunya Ndi, ibu sangat menyayanginya, sama seperti kamu, kebahagiaan Dini adalah hal yang terpenting buat ibu dan Dini bahagia sama Dimas, ibu nggak bisa menghalangi kebahagiaan anak ibu satu satunya Ndi."
"Andi tau bu, Dimas memang yang terbaik buat Dini, dia bisa kasih apapun untuk masa depan Dini, apapun dan siapapun pilihan Dini, selama itu bikin dia bahagia, Andi akan dukung Dini."
"Kamu memang laki laki yang baik Ndi, ibu harap kamu bisa menemukan perempuan yang lebih baik dari Dini, perempuan yang bisa membuat kamu merasakan jatuh cinta."
Andi mengangguk lalu berpamitan pulang.
"Andi sudah coba bu, andai semudah itu," batin Andi dalam hati.
Andi lalu pulang ke rumahnya, mandi dan berdiam diri di dalam kamarnya.
Toookkk Toookk Toookk
Pintu kamar Andi diketuk oleh seseorang.
"Ibu masuk ya Ndi!" ucap ibu Andi.
"Iya bu."
Ibu Andi lalu masuk dan duduk di tepi ranjang Andi.
"Ibu perhatiin akhir akhir ini kamu sering di dalam kamar, ada apa?"
"Nggak ada apa apa bu," jawab Andi berbohong.
"Kamu nggak bisa bohong sama ibu Ndi, ibu yang membesarkan kamu dari kecil, mana mungkin ibu nggak tau kebiasaan kamu!"
"Andi cuma lagi mikirin kerjaan bu," jawab Andi beralasan.
"Ada masalah?"
"Enggak, Andi nggak bisa ngerjain desain dari kemarin, Andi nggak bisa fokus."
"Pasti ada sesuatu yang menganggu pikiran kamu kan? selesaikan dulu apa yang menganggu itu, baru kamu bisa fokus sama pekerjaan kamu!"
Andi lalu duduk di sebelah ibunya dan memeluk sang ibu.
"Andi sayang sama ibu," ucap Andi, namun entah kenapa bayang bayang mama Adit terngiang di kepalanya.
Suara lembut mama Adit seolah terdengar dengan jelas di telinganya.
__ADS_1
"temani mama sayang, mama mohon."
"Ibu juga sayang sama kamu Ndi, kamu anak ayah dan ibu satu satunya, cinta kami buat kamu nggak akan pernah terbagi," ucap ibu Andi.
"Makasih bu, Andi udah lebih tenang sekarang, Andi mau lanjut ngerjain desain dulu ya bu!"
"Iya, ibu buatkan coklat hangat buat kamu ya!"
"Makasih bu."
Ibu Andi lalu keluar dari kamar Andi, sedangkan Andi kembali sibuk dengan laptop di hadapannya.
Entah berapa lama ia menatap laptop itu, ia tiba tiba tertidur.
"temani mama sayang, mama mohon."
"Andi, jangan tinggalin mama sayang, Maafin mama."
"Andi.... Andi....."
BRAAKK
Tanpa sengaja Andi menjatuhkan buku di samping laptopnya.
"Ibu, ibu nggak papa?" tanya Andi yang melihat sang ibu berdiri di sampingnya dengan membawa segelas susu coklat panas.
"Nggak papa, ibu tadi cuma bangunin kamu, maaf bikin kamu kaget," ucap ibu Andi sambil menaruh susu coklat di meja Andi lalu keluar dari kamar Andi.
Andi lalu meminum susu coklat kesukaannya lalu berdiri, berniat untuk membasuh wajahnya di kamar mandi. Namun tanpa sengaja kakiknya menyentuh genangan hangat di lantai kamarnya.
"Coklatnya tumpah? kaki ibu?"
Andi lalu mengusap kakinya yang basah dengan tissue dan menghampiri ibunya di ruang tamu.
Andi lalu merebut obat oles yang dipegang oleh ibunya. Dengan hati hati ia mengoleskan obat itu di kaki ibunya yang tampak memerah.
"Maaf bu, Andi tadi nggak sengaja," ucap Andi.
"Nggak papa, ibu yang kagetin kamu."
"Andi ketiduran bu, pelukan ibu bikin Andi cepet ngantuk," ucap Andi.
"Mau tidur sama ibu?"
"Boleh?"
"Boleh dong, bertiga sama ayah!"
"Nggak mau ah, Andi nggak mau ganggu ayah sama ibu hehe....."
**
Di tempat lain, Dimas baru saja menyelesaikan pertemuannya dengan klien di sebuah kafe. Ketika ia akan meninggalkan kafe, ia melihat seseorang yang dikenalnya.
"Lo ngapain di sini?" tanya Dimas pada Yoga.
"Ketemu temen, lo sendiri ngapain?" balas Yoga bertanya.
"Barusan ketemu klien, mana temen lo?"
"Tuh!" jawab Yoga sambil menunjuk seorang perempuan yang duduk di sudut kafe.
"Temen lo?" tanya Dimas tak percaya.
"Iya, ayo ikut!" jawab Yoga sambil menarik tangan Dimas untuk mengikutinya.
"Hai girl, sorry i'm late!" ucap Yoga.
"It's okay kak," jawab si perempuan.
Belum sempat Yoga mengenalkan Dimas pada temannya, perempuan itu segera pergi setelah ponselnya berdering.
"Sorry kak, I have to go now, bye, see you next time!" ucapnya sambil mencium pipi Yoga lalu segera pergi.
"Wah wah wah, kak Yoga mulai nakal nih, kalau sampe Sintia tau......"
"Jangan bilang bilang lah Dim, dia tuh dari Amerika, cipika cipiki kayak gitu udah biasa di sana."
"Masalahnya dia lagi nggak di sana dan lo juga udah punya cewek, Sintia pasti ngamuk kalau liat yang barusan!"
"Lo pesen menu yang paling mahal deh di sini!"
"Lo mau nyogok gue?"
"Hoodie keluaran terbaru dari Merk X kayaknya bagus, lo belum punya kan?"
"Lo serius?" tanya Dimas tak percaya.
"Masih kurang? atau....."
"Udah udah udah..... ayo keluar dari sini, cepetan pesen hoodie nya karena itu Limited Edition kan?"
"Dasar, matre' banget sih lo!"
"Hahaha..... kapan lagi!"
Dimas dan Yoga lalu keluar dari kafe itu.
"Anterin gue ke rumah Andini dong, mobil gue di sana."
"Ke rumah Dini? masalah lo udah selesai dan lo nggak kasih tau gue?"
"Hehehe.... sorry, gue lupa."
"Lupa? lo pasti pake data yang ada di flashdisk itu kan?"
Dimas mengangguk pelan.
"Dan lo lupa nggak ngabarin gue? jahat banget lo Dim, lo bener bener merusak hubungan baik kita, lo bener bener bikin gue kecewa."
"Hahaha.... ya sorry, gue terlalu seneng Ga jadi lupa."
"Oke kita impas, lo gue maafin tapi hoodie nya batal."
"Loh kok gitu sih, kok nggak adil gitu!"
"Terserah lo, jadi minta anter nggak?"
"Jadi jadi, ayo buruan!"
"Deal dulu dong!"
"Oke oke deal."
Yoga lalu mengantarkan Dimas ke rumah Dini. Sesampainya di sana, Yoga berpamitan untuk kembali karena Sintia memintanya untuk menjemputnya.
__ADS_1
Toookkk Toookk Toookk
Dimas mengetuk pintu rumah Dini. Tak lama kemudian Dini membuka pintu rumahnya dan segera menghambur dalam pelukan Dimas begitu ia melihat Dimas di hadapannya.
"Ayo masuk!" ajak Dini dengan menarik tangan Dimas untuk masuk ke dalam.
"Anbi, jaga rumah ya, kasih tau kalau ibu pulang," ucap Dini berbisik pada ikannya.
"Emang ibu kemana?" tanya Dimas pada Dini.
"Nggak tau, keluar dari tadi," jawab Dini yang masih menarik tangan Dimas untuk diajaknya masuk ke kamar.
Dini lalu menutup pintu kamarnya dan memeluk Dimas dengan erat.
"Aku kangen banget sama kamu," ucap Dini.
"Aku juga, kangen banget!" balas Dimas lalu mencium bibir Dini.
Dimas lalu melepaskan dirinya dari pelukan Dini, ia menutup jendela kamar Dini.
"Udah malem kenapa belum di tutup sih?"
"Kebiasaan," jawab Dini.
"Kebiasaan?"
"Iya, sejak kamu pilih buat kita break, aku selalu buka jendela ku sampe pagi, berharap kalau kamu dateng lewat jendela kayak sebelumnya," jelas Dini.
Dimas lalu menarik Dini ke dalam dekapannya, menatap kedua mata Dini dan membelai wajahnya.
"Aku nggak akan datang lewat jendela sayang, aku akan datang lewat pintu kamar kamu," ucap Dimas.
"Makasih Dimas, makasih karena udah berjuang buat hubungan kita."
"Nggak cuma aku yang berjuang, kamu juga, makasih udah jaga hati kamu buat aku," balas Dimas.
"Dimas, kita foto yuk!"
"Foto?"
"Iya, foto berdua, yang romantis," jawab Dini sambil mengambil ponselnya.
Dini lalu menaruh ponselnya di meja dan mengarahkan kamera ke arah ia dan Dimas berdiri. Tak lupa ia memasang timer 10 detik.
"Foto romantis itu gimana? aku nggak ngerti?" tanya Dimas.
"Aku juga nggak ngerti, coba aja dulu hehe...."
Setelah timer berjalan, Dini dan Dimas segera mengambil posisi. Mereka saling berhadapan dan saling menatap. Dimas menarik tangan Dini ke dalam genggamannya sebelum timer berakhir dan....
CEKREKKK
Satu foto sudah berhasil diambil. Namun Dini dan Dimas masih saling menatap satu sama lain.
Dimas lalu memegang pipi Dini, mendekatkan wajahnya dan mendaratkan kecupannya di bibir Dini.
Saat kecupan hendak berbalas, namun suara ibu Dini membuat mereka saling menjauh.
"Din, kamu udah tidur?" tanya ibu Dini dengan mengetuk pintu kamar Dini.
"Be.... belum... bu!" jawab Dini gelagapan.
Dini lalu membuka pintu kamarnya sedangkan Dimas pura pura membaca buku milik Dini.
"Eh ada Dimas, maaf ibu nggak tau," ucap ibu Dini.
"Malem bu," sapa Dimas.
"Lain kali ajarin ibu cara baca buku terbalik gitu ya hehehe....." ucap ibu Dini lalu pergi ke kamarnya.
Dini lalu membawa pandangannya pada Dimas dan benar saja, Dimas membawa buku itu secara terbalik.
"Dimas lagi latihan drama kok bu, emang disuruh gitu," ucap Dini memberikan alasan.
"Yaaa, terserah kalian aja," balas ibu Dini.
Dini lalu kembali menutup pintunya dan memukul Dimas menggunakan buku.
"Kenapa bisa kebalik sih!"
"Namanya juga gugup sayang."
"Ibu pasti mikir yang aneh aneh deh."
"Aneh aneh apa?"
"Yaaa..... aneh aneh."
"Apa jangan jangan kamu yang mikir aneh aneh ya?"
"Enggak, aku nggak mikirin aneh aneh, emangnya kamu!"
"Emang kamu tau apa yang aku pikirin?"
"Apa?"
"Masak kamu nggak tau?" tanya Dimas dengan senyum nakalnya.
"senyum mesum!" batin Dini dalam hati.
"Kamu bilang apa?" tanya Dimas lagi.
"Apa? aku nggak bilang apa apa!"
"Aku tau kamu ngomong dalam hati kan?"
"kok dia bisa tau sih?"
"Tau dong, kamu mikir apa? mikir jorok ya!"
"Kamu tuh yang mikir jorok!"
"Emang!" jawab Dimas santai.
Dini lalu segera berdiri dari duduknya dan menjauhi Dimas, membuat Dimas semakin gemas. Dimas lalu mendekat dan mengangkat Dini lalu menghempaskannya di tempat tidur.
"Dimas, kamu....."
"Ssssttttt......"
Dimas mendekatkan wajahnya ke arah Dini, semakin dekat dan sangat dekat, lalu.....
CUPPPP
Sebuah kecupan mendarat di kening Dini. Dimas lalu merebahkan badannya di samping Dini. Mereka saling pandang lalu sama sama tersenyum.
__ADS_1
"Aku sayang sama kamu Andini," ucap Dimas pelan.
"Aku lebih sayang sama kamu Dimas," balas Dini.