
Masih di malam yang sama, Dini, Dimas dan mama papanya sedang berada di ruang tengah saat itu. Mereka membicarakan banyak hal, mulai dari pekerjaan, rencana Dini dan Dimas untuk ke depannya atau sekedar bersenda gurau bersama.
Mereka semua berbahagia malam itu.
"Sebelum Dimas tinggal di luar kota, puas puasin kalian ketemunya!" ucap papa Dimas pada Dini dan Dimas.
"Walaupun di luar kota, tiap weekend Dimas pasti pulang kok!" ucap Dimas.
"Tetep aja jadi jarang ketemu," sahut mama Dimas.
"Kamu masih mau Din pacaran sama karyawan biasa?" tanya papa Dimas pada Dini, bermaksud untuk bercanda.
"Nggak masalah buat Dini," balas Dini dengan senyum manisnya, membuat Dimas langsung memeluk dan mencium pipi Dimas.
"Dimas!" ucap Dini sambil memukul Dimas.
"Kenapa, biasanya juga gitu kan, malah......."
"Ssstttt....." Dini menggelengkan kepalanya dengan menatap tajam ke arah Dimas, membuat semua yang berada disana tertawa melihat tingkah Dini yang malu malu.
"Tenang aja, mama papa juga pernah muda kok," ucap mama Dimas sambil mencubit kecil pipi Dini, membuat Dini semakin malu.
"Gimana kalau sebelum Dimas ke luar kota, kita liburan dulu di vila!" lanjut mama Dimas.
"Bosen ah ma, Dini sama Dimas kan udah sering di vila!" sahut Dimas.
"Kamu bosen Din?" tanya mama Dimas pada Dini.
"Enggak ma, Dini mau kok!" jawab Dini.
"Tuh, Dini aja mau!" ucap mama Dimas.
"Jangan sayang, di tempat lain aja, masak dari dulu di vila terus!" protes Dimas pada Dini.
"Kenapa? apa kamu inget masa lalu kamu sama mantan tunangan kamu di sana?" tanya Dini dengan nada yang tidak bersahabat.
"Ya udah oke, kita kesana," balas Dimas mengalah.
Dini dan mama Dimas lalu kompak melakukan tos.
"Kamu ajak sekalian temen kamu, biar makin rame!" sahut papa Dimas.
"Temen siapa pa?" tanya Dimas.
"Itu temen yang di home store kamu, Andi kan temen Dini juga, setau papa kalian bersahabat dekat!"
"Kenapa harus sama Andi sih pa, ini kan acara liburan buat Dini sama Dimas!" protes mama Dimas.
"Ma, Dimas ke luar kota kan nggak cuma ninggalin Dini, tapi juga bisnisnya dan Andi kan partner bisnisnya Dimas!"
"Tapi......"
"Nggak papa ma, anggap aja itu salam perpisahan dari Dimas," ucap Dimas memotong ucapan mamanya.
"Kamu setuju Din?" tanya mama Dimas pada Dini.
"Dini sih nggak masalah kalau Andi ikut," jawab Dini.
"Oke, mama kalah," ucap mama Dimas dengan bibir manyun, membuat papa Dimas segera mengecup bibir manyun yang menggemaskan itu.
"Papa, mama!" pekik Dimas terkejut melihat aksi kedua orangtuanya yang tidak senonoh di depannya.
"Hahaha..... kenapa? pingin?" goda papa Dimas yang membuat sang istri memukul dadanya.
"Kalau gitu hari Sabtu kita berangkat ya, Andi ikut mobil mama papa aja biar nggak ganggu kalian!" ucap mama Dimas.
"Ma, Dini boleh ajak satu temen lagi nggak?" tanya Dini.
"Boleh sayang, kamu mau ajak siapa?"
"Dini mau ajak Anita," jawab Dini yang membuat semua yang ada di sana terkejut.
"Anita? kenapa harus Anita? maaf sayang mama nggak setuju sama kamu," ucap mama Dimas menolak.
"Aku juga nggak setuju," ucap Dimas cepat.
"Papa gimana?" tanya Dini pada papa Dimas.
"Papa boleh tau alasan kamu ajak Anita?" balas papa Dimas bertanya.
"Kita udah baikan sama Anita Pa, kita....."
"Ralat, kamu sama Andi yang baikan sama dia, aku enggak!" ucap Dimas memotong ucapan Dini.
"Iya oke, Dini sama Andi udah baikan sama Anita Pa, dia sendiri yang minta maaf dan mengakui kesalahannya, jadi Dini coba kasih dia kesempatan buat memperbaiki apa yang sudah terjadi sebelumnya karena gimanapun juga kita dulu teman dekat waktu SMA," jelas Dini.
"Cuma itu alasan kamu?" tanya papa Dimas.
"Mmmm.... Dini mau ngasih liat Anita kalau hubungan Dini sama Dimas nggak main main, bahkan papa dan mama juga dukung kita, jadi apapun alasannya Anita nggak akan bisa ambil Dimas lagi dari Dini," jawab Dini penuh keyakinan.
"Ini baru anak papa, oke papa setuju sama Dini!"
"Papa kok gitu sih, papa lupa apa yang udah Anita lakuin?" protes mama Dimas.
"Semua orang bisa berubah ma, termasuk Anita," ucap papa Dimas.
"Dan kita nggak akan tau apa dia bener bener berubah atau cuma pura pura," sahut Dimas.
"Dan apa yang Dini lakukan itu pilihan yang tepat untuk mengetahui apa Anita benar benar berubah atau cuma pura pura!"
"Maksud papa?"
__ADS_1
"Maksud papa?" tanya Dimas dan mamanya bersamaan.
"Papa tau kalian saling mencintai, saling percaya dan memahami satu sama lain, jadi apa lagi yang kalian ragukan dari hubungan kalian? masalah yang akan datang bukan dari kalian, tapi dari luar, coba kamu lihat suatu masalah dari sisi yang berbeda Dimas!"
"Tapi Pa....."
"Lagian nggak ada gunanya kamu jauhin Anita, mau dia niat baik atau buruk, seharusnya kamu tunjukkan sama dia kalau kamu sama Dini udah nggak terpisahkan lagi, tunjukkan kalau cinta kalian semakin kuat di depannya!"
Dimas diam beberapa saat untuk mencerna dengan baik ucapan sang papa.
Papa Dimas lalu mengedipkan matanya pada Dini dan mereka melakukan tos.
"Kamu yakin dia nggak akan ganggu kamu sama Dimas lagi?" tanya mama Dimas pada Dini.
"Dini yakin ma, kalaupun dia punya niat buruk, Dini sama Dimas nggak akan terpengaruh sama dia," jawab Dini meyakinkan mama Dimas.
"Ya udah lah, terserah kalian aja," ucap mama Dimas menyerah.
"Dimas, gimana?" tanya sang papa pada anak laki lakinya.
"Oke, Dimas setuju!" jawab Dimas.
Akhirnya merekapun sepakat untuk mengajak Andi dan Anita. Meski sebenarnya ragu, mama Dimas akhirnya menyetujuinya.
Tentang Andi, karena mama Dimas tau jika Andi menyimpan perasaan pada Dini, ia takut Andi akan mengganggu hubungan Dini dan Dimas.
Meski ia juga tau jika Dimas bersahabat dengan Andi, ia tetap takut jika Andi mempunyai niat buruk pada hubungan Dini dan Dimas.
Tentang Anita, sudah pasti mama Dimas sangat tau bagaimana kelicikan Anita. Meski sempat terpengaruh oleh Anita, kini mama Dimas tidak akan jatuh lagi dalam buaian palsu Anita.
Mama Dimas hanya bisa berharap jika Andi dan Anita tidak akan membawa pengaruh buruk pada hubungan Dini dan Dimas. Ia hanya bisa berusaha berpikir positif jika mereka akan kembali berteman seperti dulu tanpa ada yang saling menyakiti ataupun menusuk dari belakang.
Tepat jam 9 malam, Dimas mengantarkan Dini pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan pulang Dimas masih saja bertanya pada Dini tentang keyakinannya untuk mengajak Anita berlibur ke vila bersama.
"Sekali lagi kamu nanya dapet piring cantik kamu!" balas Dini kesal.
"Aku kan cuma mau kepastian aja, siapa tau kamu berubah pikiran."
"Enggak Dimas, enggak, kita akan tetep pergi sama Andi dan Anita, aku sendiri yang akan ngajak Anita."
"Kamu yakin?"
"DIMASSS!!" teriak Dini kesal yang membuat Dimas semakin gemas.
Tak lama kemudian mereka sampai di depan rumah Dini. Merekapun turun dari mobil. Seperti biasa, Dimas mengantar Dini sampai ke depan pintu rumahnya.
"Ibu kayaknya udah tidur, kamu langsung pulang aja!" ucap Dini pada Dimas.
Dimas lalu memeluk Dini dan mencium keningnya sebelum ia pergi.
**
"Nunggu Dimas?" tanya ibu Dini.
"Enggak bu, nunggu Andi," jawab Dini.
"Ibu seneng kamu masih berhubungan baik sama Andi," ucap ibu Dini.
"Kenapa ibu tiba tiba bilang gitu, Dini sama Andi kan emang udah bersahabat dari kecil."
"Justru itu, dari kamu kecil kamu selalu sama Andi, kalian udah terbiasa sama sama, tapi sekarang kamu udah sama Dimas, hubungan kamu sama Andi pasti renggang karena hal itu kan?"
"Enggak bu, nggak ada yang berubah antara Dini dan Andi, sampe kapanpun kita akan tetap bersahabat."
"Ibu harap juga begitu, tapi......."
Ibu Dini menghentikan ucapannya ketika ia melihat Andi datang.
"Tapi apa bu?" tanya Dini penasaran.
"Nggak papa, ibu masuk dulu ya!"
Dini mengangguk pelan, membiarkan ibunya masuk ke dalam rumah.
"Kenapa minta aku ke sini, kangen?" tanya Andi ketika ia sudah duduk di samping Dini.
"Kangen, pingin peluk," jawab Dini dengan memeluk Andi.
"Weekend besok ada acara nggak?" lanjut Dini bertanya.
"Enggak, kenapa?"
"Ikut aku liburan sama Dimas ya, sama mama papanya juga!"
"Kenapa aku harus ikut?"
"Papa sendiri yang minta kamu ikut, kan kamu partner kerjanya Dimas dan bulan depan Dimas udah ninggalin home store!"
"Aku bisa nolak?"
Dini menggeleng cepat.
"Enggak, kamu nggak bisa nolak, aku juga ajak Anita kok!"
"Anita juga? kenapa?"
"Nggak papa, aku pingin kita bareng bareng lagi kayak dulu!"
"Oke deh, kapan berangkat?"
"Sabtu pagi, nanti Dimas jemput kita dulu terus jemput Anita."
__ADS_1
**
Hari yang ditunggu telah tiba.
Pagi itu Dimas sudah sampai di rumah Dini, setelah Andi datang, mereka bertigapun berangkat untuk menjemput Anita terlebih dahulu.
"Lo aja yang bawa mobil!" ucap Dimas pada Andi sambil memberikan kunci mobilnya pada Andi.
"Oke."
Dini dan Dimas duduk di kursi belakang, sedangkan Andi duduk di belakang kemudi dengan Anita di sampingnya.
"Kita langsung berangkat apa gimana nih?" tanya Andi pada Dimas.
"Langsung aja, mama papa udah berangkat kok!"
"Oke!"
Merekapun berangkat ke vila keluarga Dimas yang berada di daerah pegunungan.
Sepanjang perjalanan mereka banyak berbincang dan bercanda. Tak terasa 3 jam berlalu, mereka sudah sampai di vila keluarga Dimas.
Disana sudah ada bi Em dan suaminya yang menyambut mereka dan membantu membawa barang barang mereka.
"Aku jadi kayak nostalgia deh kesini!" ucap Anita.
"Kita udah kesini berapa kali ya? 3 apa 2?" balas Andi bertanya.
"Ini yang ketiga deh kayaknya, terkahir aku kesini aku masih jadi tunangan Dimas," jawab Anita yang membuat semua yang ada di sana saling pandang.
"Maaf, aku nggak bermaksud buat......"
"Aku juga inget, terkahir kita ke sini sama kak Yoga dan Sintia, mereka bikin rencana buat jebak aku sama Dimas di gudang, kamu inget kan Dim?" sahut Dini memotong ucapan Anita.
"Inget lah sayang, waktu itu aku masih jadi bos kamu kan?" balas Dimas.
"Bos yang galak, super galak!"
"Tapi seneng kan semalaman di gudang berdua?" goda Andi.
"Kamu seneng?" tanya Dini pada Dimas.
"Aku bimbang, di sisi lain aku seneng, bahagia, tapi di sisi lain aku ngerasa kalau apa yang aku rasain saat itu sebuah kesalahan, emang ya kalau udah cinta nggak bisa dibohongi!" jawab Dimas.
"Tapi kamu kan tunangan Anita waktu itu!"
"Itu dia, yang bikin aku bimbang kenapa setiap sama kamu hati aku ngerasa kalau aku bahagia sama kamu, hati aku memilih kamu walaupun aku nggak kenal kamu Andini," balas Dimas yang membuat Anita semakin kesal mendengarnya.
Tak lama kemudian mama dan papa Dimas datang dengan membawa beberapa tumpuk kayu bakar dan bahan untuk berpesta nanti malam.
Reflek Andi segera membantu papa Dimas yang membawa tumpukan kayu bakar di hadapannya. Begitu juga Dimas dan Dini yang membantu sang mama membawa banyak belanjaan.
"Kenapa nggak minta tolong Bi Em sama suaminya aja sih ma, Pa!"
"Mama sengaja minta Bi Em sama suaminya buat nunggu kalian di sini, lagian mama sama papa juga udah lama nggak belanja di pasar deket sini!"
"Anita, tolong kamu ambil alat pemanggangnya di gudang ya!" pinta mama Dimas pada Anita.
"Oh, iya ma!" balas Anita lalu segera pergi ke gudang yang berbeda bangunan dengan bangunan utama vila.
Ketika Andi, Dini, Dimas dan papanya sedang berjalan ke halaman belakang, mama Dimas mengikuti Anita ke gudang.
"Anita, tunggu!" panggil mama Dimas.
"Iya ma, ada apa?"
"Tolong jangan panggil saya mama, kamu bukan siapa siapa lagi di keluarga saya!"
"Tapi......"
"Kamu ada di sini karena permintaan Dini, kalau bukan karena kebaikan Dini, kamu nggak akan pernah bisa temui kita lagi, termasuk Dimas!"
"Anita mengerti, Anita minta maaf karena....."
"Stop Anita, saya nggak akan dengar apapun yang kamu ucapkan!" ucap mama Dimas lalu segera pergi dari gudang.
Ketika hendak berjalan ke arah halaman belakang, mama Dimas melihat Dini dan Andi yang sedang menata kayu bakar. Mereka tampak begitu dekat, sangat dekat untuk dianggap sebagai sahabat. Hal itu membuat mama Dimas semakin khawatir.
"Sayang, kamu bawa charger nggak? aku lupa bawa nih!" tanya Dimas dari dalam.
"Bawa kok," jawab Dini sambil berjalan ke dalam, meninggalkan Andi.
Sekarang tinggal Andi sendiri yang berada di halaman belakang. Mama Dimas pun menghampiri Andi.
"Saya liat kamu masih deket ya sama Dini!" ucap mama Dimas pada Andi.
Andi hanya mengangguk, ia tau kemana arah pembicaraan mama Dimas.
"Saya cuma mau ingetin, Dini sama Dimas udah tunangan, nggak lama lagi mereka akan menikah dan....."
"Saya tau, tante nggak perlu ingetin lagi," ucap Andi sambil berjalan meninggalkan mama Dimas.
"Kalau tau seharusnya kamu menjauh!" ucap mama Dimas yang masih didengar oleh Andi.
Andi lalu menghentikan langkahnya dan kembali mendekat ke arah mama Dimas.
"Apa menurut tante dengan menjauhnya saya dari Dini dan Dimas akan membuat semunya lebih baik? apa Dini bisa jauh dari sahabat kecilnya? apa Dimas bisa menjaga Dini tanpa saya?"
Mama Dimas diam mendengarkan ucapan Andi.
"Tolong tante pikir baik baik, apa kehadiran saya merusak kebahagiaan mereka? enggak tante, sekali lagi saya tegaskan, kebahagiaan Dini itu yang paling utama buat saya, nggak peduli dengan siapapun dia bahagia saya cuma mau liat dia bahagia," ucap Andi lalu pergi meninggalkan mama Dimas.
__ADS_1