Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Transplantasi Ginjal


__ADS_3

Suasana kesedihan masih terasa dari lorong rumah sakit di depan ruang ICU. Tak ada percakapan yang terdengar dari beberapa orang yang berada di sana.


Raut kesedihan dari setiap wajah itu sudah cukup menjelaskan bagaimana keadaan hati mereka saat itu.


Tak lama kemudian Dokter dan suster keluar dari ruangan Andi. Hanya dengan melihat ekspresi dari Dokter itu, mereka semua tau jika hal buruk tengah terjadi.


"Bagaimana keadaan anak saya Dok?" tanya mama Siska pada Dokter.


"Anda walinya?" balas Dokter bertanya.


Mama Siska membawa pandangannya pada Adit dan ibu Dini sebelum menjawab.


"Saya akan jelaskan kondisi pasien hanya pada walinya," lanjut Dokter berkata.


"Kita semua keluarganya Dok, Dokter bisa jelaskan semuanya di sini," ucap Adit berusaha mencari jalan tengah.


"Tapi....."


"Tolong Dok, kami orang tuanya, kami keluarganya," ucap mama Siska memohon.


"Baiklah kalau begitu, sebelumnya saya sudah jelaskan jika kecelakaan yang dialami pasien mengakibatkan trauma ginjal, meski hal itu sangat jarang terjadi mengingat letak ginjal yang cukup tersembunyi, tapi kemungkinan terjadinya gagal ginjal akut akibat cedera parah masih bisa terjadi pada kasus kecelakaan seperti yang dialami pasien," ucap Dokter.


"Tapi dia bisa sembuh kan Dok?" tanya ibu Andi.


"Tidak akan terjadi masalah besar jika ginjalnya masih berfungsi dengan baik meski hanya salah satu, tapi.... keadaan pasien saat ini memburuk, trauma ginjal yang yang dialami pasien menyebabkan gangguan pada fungsi ginjal seperti tidak dapat menyaring darah dan membuang sisa metabolisme, pada intinya, kedua ginjal pasien sudah kehilangan fungsinya dan itu sangat berbahaya bagi pasien," jelas Dokter.


"Apa kita bisa melakukan transplantasi ginjal Dok?" tanya Adit.


"Bisa, itu satu satunya cara yang bisa kita pilih, namun transplantasi ginjal tidak mudah, kita harus menemukan ginjal yang sehat dan cocok dengan tubuh pasien," jawab Dokter.


"Saya ibunya Dok, saya yakin ginjal saya cocok dengan anak saya," ucap mama Siska penuh keyakinan.


"Enggak ma, biar Adit yang....."


"Jika ada dua anggota keluarga itu lebih baik, kita bisa cek dulu sebelum melakukan prosedur lebih lanjut," ucap Dokter.


"Kasih kesempatan mama buat nebus kesalahan mama Dit," ucap mama Siska pada Adit.


"Biar Dokter yang menentukan ma, Adit juga nggak akan biarin hal buruk terjadi sama dia!" ucap Adit pada sang mama.


Adit dan mama Siska lalu mengikuti Dokter untuk melakukan serangkaian pemeriksaan fisik untuk menentukan ginjal siapa yang akan cocok dengan Andi.


Sedangkan Dini, ibu dan ayah Andi masih menunggu di depan ruang ICU. Dini masih tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi. Ia hanya diam tanpa banyak bertanya karena ia tau itu bukanlah saat yang tepat untuk menanyakan banyak pertanyaan yang ada dalam otaknya.


Ia hanya bisa berharap jika ginjal Adit atau mama Siska akan cocok dengan Andi. Ia tidak pernah bisa membayangkan bagaimana ia akan menjalani hari harinya tanpa sahabatnya itu.


Meski air mata sudah tak membasahi pipinya, namun rasa pedih dari kesedihan itu masih sangat ia rasakan. Begitu juga dengan ibu dan ayah Andi. Ibu Andi hanya bisa menangis meratapi situasi yang tak pernah diinginkannya itu.


Setelah beberapa lama menunggu, Adit keluar dari sebuah ruangan dan menghampiri Dini.


"Gimana kak? mama Siska mana?" tanya Dini.


"Mama persiapan buat transplantasi ginjalnya buat Andi karena ternyata ginjal kakak nggak cocok sama Andi," jawab Adit.


Adit lalu melangkah mendekati ibu dan ayah Andi.


"Om, tante, saya memang masih kecil waktu itu, tapi saya tau itu bukan pilihan yang mudah buat mama, om dan tante juga pasti tau kenapa mama melakukan hal itu, jadi Adit mohon jangan halangi mama sama Andi om, tante," ucap Adit pada ibu dan ayah Andi.


Ibu Andi hanya diam dengan air mata yang seolah tak bisa berhenti mengalir dari pipinya.


Dini lalu menarik tangan Adit agar duduk di sampingnya. Meski ia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, ia cukup bisa membaca keadaan saat itu.


Dini memeluk Adit, berusaha menenangkan laki laki yang pernah sangat dibencinya itu.


Tak lama kemudian Andi dipindahkan ke ruang operasi. Proses transplantasi ginjal akan segera dilakukan.


Adit, Dini, ibu dan ayah Andi hanya bisa menunggu di luar ruangan dengan berdo'a agar semuanya berjalan lancar.


Seketika, memori kebersamaan Dini dan Andi kembali membayang di ingatan Dini. Bagaimana Andi sangat menyayanginya, sangat peduli padanya dan sangat memprioritaskan dirinya.


Semua kebersamaan indah itu membuat Dini semakin merasakan perih dalam hatinya.


"kamu pasti baik baik aja kan Ndi, aku tau kamu bisa lewati semua ini, kamu janji akan selalu sama aku, aku nggak mau kamu pergi Ndi, aku nggak mau," batin Dini yang membuatnya kembali terisak.


Adit lalu mendekat dan memeluk Dini, berusaha menenangkan Dini yang sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri.


"Kamu kenal baik sama dia kan? dia pasti bisa lalui semua ini dengan baik, dia pasti kuat, dia nggak akan menyerah gitu aja," ucap Adit pada Dini.


Dini hanya menganggukkan kepalanya tanpa bersuara.


"Kakak tau banyak pertanyaan yang kamu pikirkan, kakak akan jawab semuanya kalau waktunya sudah tepat," ucap Adit yang seolah mengerti isi kepala Dini.


Di sisi lain, ibu dan ayah Andi yang melihat kedekatan Dini dan Adit membuat mereka semakin tidak menyukai keberadaan Adit.

__ADS_1


Ibu Andi yang dari dulu berharap jika Dini bisa bersama dengan Andi sebagai sepasang kekasih harus memupus harapannya saat Dini memutuskan untuk bertunangan dengan Dimas. Namun ia tak menyangka jika Dini bisa sedekat itu dengan Adit, laki laki yang merupakan anak dari perempuan yang harus ia jauhkan dari Andi.


Waktu berjalan terasa begitu lambat. Berkali kali Adit melirik jam di tangan kirinya. Sama sekali tak pernah terbayangkan dalam hidupnya jika ia akan menemukan adik yang selama ini dia cari dalam keadaan seperti itu.


**


Di tempat lain, Dimas sedang bersiap untuk meninggalkan meja kerjanya setelah ia menyimpan semua hasil kerjanya.


"Dim, gue minta maaf soal kejadian di kafe kemarin, gue bener bener nggak bermaksud buat....."


"Lupain aja," ucap Dimas memotong ucapan Feri.


"Lo maafin gue kan?" tanya Feri yang hanya dibalas anggukan kepala Dimas sebelum ia melangkah pergi.


Feri lalu berlari mengejar Dimas dan berjalan di sampingnya.


"Chelsea gimana?" tanya Feri.


"Apanya yang gimana?"


"Foto kalian udah kesebar di grup, lo nggak liat?"


"Liat, gue udah konfirmasi kalau gue nggak ada hubungan apa apa sama dia!"


"Lo harus hati hati Dim, Chelsea itu model terkenal, media pasti seneng banget kalau dapet bahan baru kayak foto itu!"


Dimas lalu menghentikan langkahnya dan menatap tajam pada Feri.


"Tapi lo tenang aja, foto itu pasti aman, nggak akan keluar dari grup kita hehe," ucap Feri yang seperti mendapat tatapan mematikan dari Dimas.


Dimas lalu kembali melanjutkan langkahnya dan segera masuk ke mobilnya untuk meninggalkan kantor.


Sesampainya di apartemen, Dimas segera mandi untuk menyegarkan badan dan pikirannya yang dipenuhi oleh pekerjaan kantor.


Baru saja ia selesai mandi, ponselnya berdering, sebuah panggilan dari sang papa.


"Halo Pa, tumben, ada apa?"


"Kamu dimana? udah udah tau soal Andi?" tanya papa Dimas.


"Andi? kenapa papa tiba tiba nanyain Andi?"


"Dia kecelakaan, dia di rumah sakit sekarang," ucap papa Dimas.


"Kecelakaannya cukup parah dan yang papa tau, dia masih kritis," jawab papa.


"Dia di rumah sakit mana Pa? Dimas mau kesana sekarang!"


"Dia di rumah sakit X dan lokasi kecelakaannya di depan mini market X di jalan X, kamu bisa search kalau mau tau!"


"Makasih Pa, Dimas siap siap dulu!"


"Oke."


Dimas segera berganti pakaian dan menyambar kunci mobilnya lalu segera menuju ke rumah sakit X. Butub waktu 4 jam untuk ia sampai di sana.


Sepanjang perjalanan ia hanya bisa berdo'a jika Andi baik baik saja. Beruntung keadaan jalan raya saat itu tidak terlalu padat, membuat Dimas bisa mempercepat perjalanannya untuk sampai di rumah sakit X.


Saat lampu merah, Dimas menyempatkan waktunya untuk membaca berita tentang kecelakaan itu. Dijelaskan dalam kecelakaan itu mengakibatkan banyak korban luka luka dan beberapa lainnya meninggal, termasuk beberapa orang yang berada di sekitar tempat bus itu berguling.


Dimas mengusap wajahnya kasar saat ia membaca artikel tentang kecelakaan itu. Ia benar benar berharap keajaiban akan berpihak pada Andi, kuasa Tuhan akan menarik Andi dari semua kesakitan yang dirasakannya.


Setelah sampai di rumah sakit X, Dimas segera menanyakan keberadaan Andi.


"Pasien atas nama Andi Putra Prayoga sedang menjalani operasi transplantasi ginjal di ruang operasi XX."


Setelah menanyakan keberadaan Andi, Dimaspun segera membawa langkah kakinya ke arah lorong yang sudah terasa aura kesedihannya.


Di sana ia melihat Adit, Dini, ibu dan ayah Andi. Yang sedikit mengejutkannya adalah Dini yang sedang menyandarkan kepalanya di bahu Adit dan tangan Adit yang menggenggam tangan Dini.


"Om, tante, gimana keadaan Andi?" tanya Dimas pada ibu dan ayah Andi.


"Operasinya belum selesai, do'akan Andi bisa melewati semua ini Dimas," jawab ibu Andi.


"Pasti tante, saya yakin Andi pasti bisa lewati semua ini," balas Dimas.


Dini yang menyadari kedatangan Dimas segera menarik tangannya dari gengggaman Adit dan berdiri.


Dimas lalu menghampiri Dini dan memeluknya dengan erat.


"Andi pasti baik baik aja, kamu harus yakin itu!" ucap Dimas yang dibalas anggukan kepala Dini.


Dimas dan Dini lalu duduk di samping Adit.

__ADS_1


"Kamu kenapa bisa di sini?" tanya Dini.


"Papa yang kasih tau aku," jawab Dimas.


"Papa tau?"


Dimas hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Dini. Sedangkan Adit sudah bisa menduga jika papa Dimas pasti mengetahui hal itu, ia sangat tau bagaimana papa Dimas mengetahui segala hal yang berkaitan dengan Dimas, termasuk orang orang yang berada di dekat Dimas.


Setelah beberapa lama menunggu, Dokter keluar dari ruangan operasi dan menjelaskan keadaan Andi.


"Transplantasi berjalan lancar, namun untuk beberapa waktu ke depan kita masih harus memantau secara intens keadaan pasien dengan ginjal barunya," jelas Dokter.


"Lalu bagaimana keadaan mama saya Dok?" tanya Adit.


"Semuanya baik baik saja, pendonor masih harus melakukan perawatan untuk memastikan tidak ada efek buruk akibat transplantasi yang dilakukan," jawab Dokter.


"Baik Dok, terima kasih."


Akhirnya semua yang berada di sana bisa sedikit bernapas lega karena operasi itu berhasil.


Namun di sisi lain, Dimas masih belum memahami situasi yang terjadi di sana. Bagaimana bisa keluarga Andi dan Adit berkumpul di sana.


"kecelakaan itu nggak melibatkan keluarga Adit, kenapa Adit dan mamanya ada di sini? kenapa juga mamanya Adit mau ngasih ginjalnya buat Andi?" batin Dimas bertanya tanya.


Malam semakin larut, waktu berlalu begitu saja.


"Kamu nggak balik ke apartemen?" tanya Dini pada Dimas.


"Aku mau nemenin kamu sayang, papa udah urus izinku!" jawab Dimas.


"Kamu juga harus pulang Din, walaupun kamu nggak ke kantor, kamu harus jaga kesehatan kamu," ucap Adit pada Dini.


"Dini mau nemenin Andi kak," balas Dini.


"Kakak yang akan nemenin dia, ada ibu dan ayahnya juga di sini," ucap Adit.


"Bener kata Adit sayang, kamu harus pulang, besok pagi aku jemput kamu buat ke sini lagi sama ibu," ucap Dimas.


Dini lalu menganggukkan kepalanya dan berpamitan pada Adit dan kedua orang tua Andi.


"Hati hati di jalan ya Din, makasih udah nemenin Andi," ucap ibu Andi sambil memeluk Dini.


Dimas dan Dini lalu meninggalkan rumah sakit. Dimas mengantarkan Dini pulang ke rumahnya.


Sepanjang perjalanan, Dini lebih banyak diam. Ia hanya bisa memikirkan keadaan Andi saat itu.


"Sayang," panggil Dimas dengan menggenggam tangan Dini.


Dini hanya menoleh sambil tersenyum.


"Andi pasti baik baik aja, kamu jangan terlalu khawatir," ucap Dimas.


"Iya, tapi gimana sama home store? dia baru aja dapet temen kerja baru."


"Papa udah minta temennya buat handle sementara, kamu tenang aja," jawab Dimas.


Tak lama kemudian mereka sampai di depan rumah Dini, namun Dini masih terdiam di tempat duduknya. Ia hanya memandang kosong ke arah depan. Pikirannya yang sudah dipenuhi oleh Andi membuatnya tak sadar jika ia sudah berada di depan rumahnya.


"Sayang," panggil Dimas membuyarkan lamunan Dini.


Lagi lagi Dini hanya menoleh dengan senyum yang dipaksakan.


"Kamu masih mikirin Andi?" tanya Dini.


Dini hanya menganggukkan kepalanya pelan. Ia sangat ingin menemani Andi. Ia ingin duduk di samping Andi dan menggengan tangannya, memberinya kekuatan agar Andi bisa bertahan melawan kesakitannya.


Dimas lalu mendekat dan hendak memeluk Dini, namun Dini menolak. Ia menghindar dan mendorong tubuh Dimas pelan.


"Dimas, aku....."


Dimas hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum lalu membuka pintu mobilnya.


"Istirahat sayang, besok pagi aku jemput kamu," ucap Dimas lalu mencium kening Dini.


Dini hanya mengangguk lalu melambaikan tangannya pada Dimas yang akan meninggalkan rumahnya.


Dini lalu menceritakan pada sang ibu apa yang terjadi pada Andi.


"Besok pagi Dimas jemput Dini sama ibu buat ke rumah sakit," ucap Dini yang dibalas anggukan kepala ibunya.


"Jangan terlalu terpuruk Din, kamu harus kuat biar Andi juga bisa rasain semangat dari kamu," ucap ibu Dini.


Dini hanya menganggukkan kepalanya lalu masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamarnya ia menumpahkan semua air matanya yang sudah lama ia tahan.

__ADS_1


__ADS_2