
Dimas masih berada di tempat kerjanya malam itu. Ia menimang nimang ponsel di tangannya. Sejak kedatangan Chelsea, ia sudah tidak bisa fokus lagi pada pekerjaannya.
Ia ragu, apakah ia harus memberi tahu Dini tentang hal itu atau tidak. Namun pada akhirnya ia memilih untuk memberi tahu Dini. Ia pun segera menghubungi Dini yang saat itu masih berada di rumah sakit bersama Andi.
"Halo sayang, aku mau bilang sesuatu sama kamu."
"Tentang apa?" tanya Dini.
"Tentang Chelsea, tapi kamu jangan marah ya, jangan salah paham!"
"Ada apa lagi sama dia? dia peluk kamu lagi?"
"Enggak, dia barusan datang dan maksa aku buat makan malam di rumahnya, aku nggak bisa nolak karena dia akan sebarin foto pelukan itu di media kalau aku nolak," jelas Dimas.
"Jadi?"
"Jadi aku harus gimana? aku nggak mau berhubungan sama media Andini, kamu tau itu kan? apa lagi kalau ada sangkut pautnya sama Chelsea."
"Aku bisa apa Dimas, aku nggak mungkin ngelarang kamu, yang minta buat nggak publish hubungan kita kan ibuku juga."
"Maafin aku sayang, aku akan cari cara biar dia nggak bisa maksa aku lewat foto itu lagi," ucap Dimas yang merasa bersalah.
"Jangan minta maaf, ini bukan salah kamu, kamu fokus aja sama pekerjaan kamu, jangan terlalu pikirin hal hal yang lain!"
"Kamu bikin aku makin pingin cepat pulang ke sana, bikin aku cepet cepet pingin selesaiin semua ini!"
"Makanya fokus, jangan terpengaruh sama Chelsea, aku selalu percaya sama kamu Dimas, jadi tolong jangan sia siakan kepercayaan yang udah aku kasih buat kamu!'
"Pasti sayang, aku nggak akan pernah sia siakan itu!"
Sambungan berakhir. Dimas lalu segera merapikan pekerjaannya dan meninggalkan kantor.
**
Di sisi lain, Dini yang masih bersama Andi hanya bisa menghembuskan napasnya kesal karena keadaannya dengan Dimas saat itu. Keadaan yang memaksanya untuk menerima saja semua yang terjadi meski ia dan Dimas tidak menginginkannya.
"Ada apa Din?" tanya Andi yang menyadari raut wajah Dini yang kesal.
"Nggak ada apa apa," jawab Dini dengan menggelengkan kepalanya.
"Kamu mana bisa bohong sama aku Din, ada apa? kamu berantem lagi sama Dimas?"
"Enggak lah Ndi, capek kalau harus berantem terus!"
"Kalian udah sama sama dewasa, kalian juga harus menyikapi permasalahan yang kalian hadapi dengan dewasa," ucap Andi.
Dini hanya menarik napasnya dan menghembuskannya kasar lalu membaringkan kepalanya di ranjang Andi sedangkan ia masih duduk di sebelah ranjang Andi.
"Kamu bisa cerita sama aku Din!" ucap Andi dengan mengusap kepala Dini.
"Aku nggak mau nambah beban kamu," balas Dini tak bersemangat.
"Justru aku akan makin kepikiran kalau aku tau kamu sedih tapi aku nggak tau apa yang bikin kamu sedih!"
"Kenapa Dimas harus muncul lagi di hidupku Ndi? setelah apa yang dia lakukan dulu, dia pergi gitu aja dan dia tiba tiba muncul lagi waktu kita SMA."
"Mungkin itu bagian dari rencana Tuhan untuk kamu Din!"
"Mungkin," balas Dini malas.
"Kamu dulu benci banget sama dia, tapi pada akhirnya kamu luluh juga sama dia!"
Dini lalu tersenyum kecil saat ia mengingat masa masa SMA mereka. Masa dimana Dimas pertama kali datang setelah perpisahan yang begitu lama. Masa saat Dimas selalu berusaha mendekatinya dengan semua cara yang pada akhirnya meluluhkan kebencian dalam hati Dini.
Dini lalu menegakkan kepalanya dan menatap kosong ke arah depan.
"Dimas selalu bisa bikin aku jatuh cinta setiap hari," ucap Dini dengan senyum mengembang.
"Nggak peduli seberapa besar masalah yang kita hadapi, pada akhirnya kita tetap bisa kembali lagi," lanjut Dini.
Andi hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Dini.
"Maaf, aku jadi ngelantur ngomongnya," ucap Dini yang merasa bersalah karena mengabaikan Andi.
"Aku juga tau seberapa besar Dimas mencintai kamu, itu kenapa aku bisa percayain dia buat jaga kamu!" balas Andi.
Dini hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum di bibirnya.
__ADS_1
"Tentang masalah kamu tadi, kamu masih nggak mau cerita?" tanya Andi.
"Aku bingung cerita dari mana, tapi yang pasti Dimas lagi dideketin cewek di sana," jawab Dini.
"Temen kerjanya?"
"Bukan, dia model, anak Direktur di sana."
"Tapi Dimas pasti nolak dia kan?"
"Iya, tapi dia punya foto yang dia pake buat maksa Dimas biar ikutin semua permintaannya, kamu pasti bisa tebak kan gimana jadinya kalau ada berita tentang model cantik yang pacaran sama anak pemilik perusahaan besar di Indonesia, pasti akan jadi berita utama dimana mana."
"Mama sama papanya Dimas tau tentang itu?"
"Tau, mama papa bahkan tau lebih dulu karena emang Direkturnya itu mau jodohin anaknya sama Dimas, mama sama papa pasti nolak dan mereka juga bilang kalau Dimas udah tunangan, tapi itu nggak bikin model itu jauhin Dimas."
"Apa papanya Dimas nggak mau ngelakuin sesuatu sama Direktur itu biar bisa minta anaknya buat jauhin Dimas?"
"Itu bukan ranah papa buat ikut campur Ndi, papa nggak bisa sangkut pautin masalah pribadi sama pekerjaan dan lagi mama minta buat publish hubunganku sama Dimas biar semua orang tau dan nggak ada yang deketin Dimas lagi."
"Bagus dong kalau gitu, kalau dia model pasti dia jaga image nya banget kan, nggak mungkin dia deketin tunangan orang lain!"
"Tapi masalahnya dari awal ibu nggak mau kalau banyak yang tau tentang hubunganku dan Dimas, ibu takut media akan cari tau banyak hal tentang aku, tentang masa lalu dan semuanya yang bisa ganggu aku dan ibu, mama papa Dimas juga udah jauhin Dimas dari media sejak dia kecil karena takut privasi nya akan terganggu."
"Kamu udah bicarain hal itu sama ibu kamu?"
"Belum, beberapa hari ini aku jarang pulang karena selalu nemenin kamu di sini, aku harus cari waktu yang tepat buat bicarain hal itu sama ibu."
"Jangan terlalu lama Din, masalah akan semakin besar kalau kamu terlalu lama ngebiarinnya," ucap Andi.
"Iya Ndi, aku tau."
"Sekarang kamu tau kan nggak enaknya punya pacar sempurna kayak Dimas?"
"Maksud kamu?"
"Semua orang tau Dimas siapa, anak satu satunya pengusaha ternama, pintar, tampan dan baik, siapa yang bisa nolak laki laki kayak Dimas? dia jalan aja udah jadi pusat perhatian, iya kan?"
Dini lalu menghembuskan napasnya kasar dan mengangguk pelan.
"Kamu bener, nggak akan susah bagi cewek manapun buat jatuh cinta sama Dimas," balas Dini.
Dini menggeleng pelan.
"Aku bahkan nggak pernah menilai Dimas dari semua yang kamu sebut tadi, sikapnya yang selama ini dia tunjukin yang perlahan bikin hati aku memilih dia," jawab Dini
Tak lama kemudian pintu terbuka dengan pelan, seorang wanita masuk dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Mama, kok ke sini malem malem?" tanya Dini.
"Sssttt.... jangan bilang Adit ya, mama sama Pak Lukman kok, tapi Adit nggak tau," jawab mama Siska.
Dini menganggukkan kepalanya lalu berpamitan untuk pulang.
"Aku pulang dulu ya Ndi, udah malem," ucap Dini pada Andi.
"Hati hati Din," balas Andi.
"Biar Pak Lukman yang antar kamu ya!" sahut mama Siska.
"Makasih ma, tapi Dini bisa pesen taksi kok," balas Dini.
Mama Siska lalu kembali keluar dan meminta Pak Lukman untuk mengantarkan Dini pulang.
"Pak Lukman tolong antar Dini pulang ya!" ucap mama Siska pada Pak Lukman.
"Tapi saya nggak bisa ninggalin ibu sendirian di sini," balas Pak Lukman ragu karena ia mendapat perintah langsung dari Adit yang memintanya untuk selalu menjaga sang mama dan dilarang untuk meninggalkan sang mama tanpa penjagaannya.
"Saya di sini sama anak saya pak, Pak Lukman nggak perlu khawatir!"
"Tapi bu......"
Biiiiippp Biiiiippp Biiiiippp
Ponsel pak Lukman berdering, sebuah pesan dari Adit.
Pak Lukman antar Dini aja, biar saya yang jaga mama
__ADS_1
Tanpa mama Siska tau, sebelum berangkat ke rumah sakit, Pak Lukman sudah menghubungi Adit terlebih dahulu karena mama Siska memaksanya untuk mengantarkannya ke rumah sakit menemui Andi.
Dengan izin dari Adit, Pak Lukman pun mengantarkan majikannya ke rumah sakit dan Aditpun diam diam mengikutinya.
"Baik bu, saya antar mbak Dini pulang," ucap Pak Lukman setelah membaca pesan dari Adit.
Mama Siska tersenyum lalu kembali masuk ke dalam ruangan Andi.
Saat Pak Lukman dan Dini sudah meninggalkan rumah sakit, Adit berjalan pelan ke arah ruangan Andi. Ia hanya melihat dari kaca pintu apa yang sedang sang mama lakukan di kamar Andi.
"Mama bawa buah kesukaan kamu, ibu kamu yang kasih tau mama," ucap mama Siska sambil mengupas apel dan memotongnya untuk Andi.
"Terima kasih," balas Andi canggung.
"Dokter bilang sebentar lagi kamu boleh keluar dari sini, mama seneng banget, mama udah siapkan kamar buat kamu di rumah kita, kamar kamu ada di lantai dua di sebelah kamar Adit, kamu bisa....."
"Tante, maaf Andi...."
"Oh iya, maaf mama lupa sayang, tapi kapanpun kamu mau datang pintu rumah mama akan selalu terbuka buat kamu, mama juga akan minta mbak buat bersihin kamar kamu setiap hari, sekedar buat jaga jaga kalau kamu tiba tiba mau menginap," ucap mama Siska memotong ucapan Andi.
"Andi minta maaf, Andi....."
"Jangan minta maaf Andi, kamu anak mama, sudah jadi hal yang wajar kalau mama siapkan kamar buat kamu kan? mama juga selalu minta mbak buat bersihin kamar Adit setiap hari walaupun Adit nggak tinggal sama mama."
Andi hanya menganggukkan kepalanya. Dalam hatinya ada rasa yang teramat perih yang ia rasakan. Senyum wanita di hadapannya seperti mengiris hatinya. Senyum palsu penuh luka penyesalan itu sangat tampak di raut wajah wanita di hadapannya.
Entah kenapa setiap malam saat matanya terpejam, hanya ada bayangan wanita itu dalam pikirannya. Ia merasa bersalah, bersedih dan banyak perasaan lainnya yang mengganggu pikirannya.
"apa ini pilihan yang tepat? apa yang udah aku lakuin ini bener? tolong tunjukkan jalan dariMu Tuhan," batin Andi dalam hati.
"tolong kuatkan hambaMu yang sangat lemah ini Tuhan, bukakan mata hatinya, sadarkan dia dan beri petunjukMu agar dia memilih hambaMu yang sudah lama hidup dalam penyesalan," batin mama Siska dalam hati.
"Adit cuma bisa berharap kalau kita semua akan baik baik aja ma, dengan atau tanpa Andi yang tinggal di rumah mama," batin Adit dalam hati.
**
Di sisi lain. Dimas sedang berada di jalan raya menuju ke rumah Chelsea.
Sesampainya di sana ia turun dari mobilnya dan disambut oleh Chelsea dengan menggunakan pakaian yang sangat terbuka malam itu. Pakaian dengan warna hitam itu mempunyai belahan di bagian dada yang cukup panjang, membuat sebagian isinya tampak terekspos dengan jelas.
Chelsea berlari dan menggandeng tangan Dimas, ia dengan sengaja menempelkan bagian dadanya di tangan Dimas, namun Dimas segera menarik tangannya.
"Dimas, akhirnya kamu datang, ayo masuk!" ucap mama Chelsea mempersilakan Dimas masuk.
Dimaspun masuk dan duduk bersebelahan dengan Chelsea di depan meja makan.
"Selamat datang di rumah kami Dimas, kita semua akan senang kalau kamu bisa sering main ke sini," ucap Hermawan, ayah Chelsea sekaligus Direktur tempat Dimas bekerja.
"Terima kasih pak," balas Dimas.
"Panggil om dan tante aja, jangan terlalu sungkan, om dan tante sudah lama mengenal papa dan mama kamu, kita berhubungan sangat baik dari dulu," ucap Hermawan.
Dimas hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan tersenyum canggung.
"Om denger kamu jadi salah satu kandidat buat presentasi meeting antar Divisi bulan depan ya!"
"Iya om," balas Dimas.
"Saingan kamu berat Dimas, ada beberapa kandidat lain yang jauh lebih berpengalaman dari kamu, om tau kamu bukan karyawan biasa di sana, tapi penilaian itu sangat adil dan transparan tanpa melibatkan siapa orang tua kamu!"
"Dimas yakin bisa memberikan yang terbaik tanpa membawa nama papa dan mama om, Dimas sudah banyak belajar dan....."
"Pada kenyataannya belajar dan praktek itu dua hal yang berbeda Dimas, kamu akan kesulitan untuk bisa mengungguli lawan lawan kamu karena kurangnya pengalaman yang kamu punya."
"Dimas tau, tapi Dimas yakin bisa memberikan yang terbaik buat perusahaan, dengan pengalaman Dimas yang belum seberapa ini, Dimas akan buktikan kalau belajar dengan giat dan bekerja keras tidak akan membuat semuanya sia sia," ucap Dimas penuh keyakinan.
"Hahaha..... kamu memang seperti Tama, penuh keyakinan dan tekad yang kuat, om tau keberadaan kamu di sini cuma jadi batu loncatan supaya kamu bisa masuk di perusahaan utama papa kamu, semakin cepat kamu dapat promosi, semakin cepat juga kamu akan pindah dari sini, benar kan?"
Dimas mengangguk tanpa ragu.
"Om bisa bantu kamu supaya kamu bisa cepat dapat posisi yang kamu mau, tapi tentunya ada syarat yang harus kamu penuhi!"
"Maksud om?"
"Om bisa bantu kamu buat dapat posisi yang kamu mau, asal kamu membiarkan Chelsea mendekati kamu!" ucap Hermawan yang membuat Dimas sedikit terkejut.
Ia tidak menyangka jika teman dekat papanya akan melakukan hal itu demi anaknya.
__ADS_1
"Om nggak akan minta kalian menikah, cukup kalian dekat dan biarkan media memberikan asumsi mereka atas kedekatan kalian dan om janji sebelum akhir bulan kamu sudah menempati posisi baru kamu di perusahaan, gimana?"
Dimas diam beberapa saat, sedangkan Chelsea hanya tersenyum penuh kemenangan bersama mama dan papanya.