Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Hanya Ada Aku


__ADS_3

Waktu seperti terhenti begitu saja, membiarkan hati meluapkan semua rindu, meluruhkan semua penyesalan dan kesedihan.


"Andi minta maaf ma," ucap Andi pelan.


"Mama yang harus minta maaf sayang, maafin mama," balas mama Siska yang tak ingin melepaskan Andi dari pelukannya.


Andi lalu melepaskan dirinya dari pelukan sang mama, ia menggenggam tangan wanita yang telah melahirkannya itu.


"Mulai sekarang Andi akan tinggal di sini, Andi akan selalu di sini sama mama," ucap Andi dengan menatap ke dalam mata sang mama.


"Terima kasih sayang, terima kasih," balas mama Siska yang kembali memeluk Andi, namun langsung melepaskannya.


Mama Siska membawa pandangannya ke arah pintu dan mendapati Adit yang berdiri di sana. Hati seorang ibu memang tidak pernah salah. Ia bisa merasakan kehadiran Adit diantara mereka.


Mama Siska lalu menarik tangan Andi, membawanya pada Adit.


"Mama bahagia?" tanya Adit pada sang mama.


"Sangat bahagia, kalian berdua adalah sumber kebahagiaan mama," jawab mama Siska dengan menggenggam tangan Andi dan Adit.


Andi dan Aditpun kompak memeluk mama Siska. Sungguh kehangatan keluarga yang sudah lama Adit rindukan kini bisa ia rasakan lagi.


"Maaf ma, Adit harus ke kantor dulu," ucap Adit setelah melepaskan pelukannya pada sang mama.


"Kamu nggak bisa libur sayang? ini hari yang penting buat kita."


"Adit nggak bisa libur mendadak ma, tapi Adit janji akan cari waktu buat cuti," jawab Adit.


"Nanti pulang kantor ke sini kan?"


"Iya ma, Adit pasti ke sini," balas Adit lalu mencium kening sang mama.


"Adit berangkat dulu ma!"


"Jagain mama," ucap Adit pada Andi sebelum ia pergi.


Sesaat sebelum Adit menghilang dari pandangannya, mama Siska berlari ke arah Adit. Ia baru menyadari sesuatu yang buruk telah terjadi pada Adit. Ia terlalu bahagia sampai tidak menyadari perban yang mengitari kepala Adit.


"Adit tunggu!" teriak mama Siska yang membuat Adit menghentikan langkah nya.


"Ada apa ma?"


"Kepala kamu kenapa? apa mama......"


"Enggak ma, ini Adit abis jatuh dari tangga," ucap Adit berbohong.


"Dari tangga? kapan?"


"Mmmm.... waktu..... waktu Adit main ke sini tapi mama masih tidur, Adit kepleset di tangga, tapi cuma luka kecil kok, Pak Lukman langsung anter Adit ke rumah sakit waktu itu."


"Kenapa nggak ada yang cerita sama mama?"


"Adit sengaja minta semuanya buat nggak cerita sama mama, Adit nggak mau mama khawatir," jawab Adit.


Mama Siska lalu mendekat dan memeluk Adit.


"Maafin mama Dit, mama sayang sama kamu seperti mama sayang sama adik kamu, maaf kalau mama terlalu terpuruk sama masa lalu mama dan mengabaikan kamu."


"Adit tau mama sayang sama Adit, Adit bisa rasain itu dan yang mama harus tau mama adalah orangtua terbaik buat Adit, mama adalah kebahagiaan Adit," balas Adit.


Di sisi lain, Andi yang melihat hal itu hanya tersenyum bahagia. Kehangatan keluarga benar benar ia rasakan di rumah itu. Ia bisa merasakan kasih sayang dan cinta seorang mama pada anak anaknya.


Setelah Adit pergi, mama Siska kembali menghampiri Andi.


"Mama tunjukin kamar kamu ya!" ucap mama Siska lalu mengajak Andi naik ke lantai dua.


"Ini kamar kamu, bersebalahan sama kamar Adit, mama harap kalian bisa berhubungan dengan baik sebagai kakak dan adik," ucap mama Siska yang hanya dibalas anggukan kepala Andi.


"Kalau ada yang kamu butuhkan kamu bilang aja sama mama atau mbak, ada pak Lukman juga yang bisa bantu kamu, ini rumah kamu sayang, jadi jangan sungkan ya!"


"Iya ma, tapi Andi cuma bawa barang sedikit, Andi harus balik ke rumah buat ambil yang lainnya."


"Kamu ambil seperlunya aja, barang yang penting dan sering kamu pakai, sisanya biarkan di rumah ibu dan ayah kamu, mama tau kamu pasti akan sering menginap di sana kan?"


"Apa mama nggak keberatan kalau Andi sesekali menginap di rumah ayah dan ibu?"


"Sama sekali enggak, mereka juga orangtua kamu, mereka yang merawat kamu, mama nggak akan ngelarang kamu sayang."


"Terima kasih ma," balas Andi.


"Kamu istirahat aja dulu, mama nggak akan ganggu," ucap mama Siska lalu meninggalkan kamar Andi.


Di beberapa sudut rumah, para asisten rumah tangga dan penjaga mama Siska mulai bergosip.


"Jadi itu anaknya ibu? cakep ya? mirip juga sama mas Adit!"


"Namanya juga saudara, ya pasti mirip."


"Mudah mudahan baik ya, kayak ibu sama mas Adit."


"Mudah mudahan juga keadaan ibu membaik setelah ini."

__ADS_1


"Amiiin Amiiin, aku selalu berdoa buat kebaikan keluarga ini, ibu sama mas Adit selalu baik sama kita, semoga aja ini balasan yang baik untuk keluarga yang baik."


Tak lama kemudian, mama Siska melewati mereka dan menghentikan langkahnya.


"Mbak, lain kali tolong pastikan tidak ada lantai yang licin ya, saya nggak mau kejadian Adit kemarin terulang lagi," ucap mama Siska.


"Baik bu," jawab sang ART walaupun ia tidak mengerti maksud dari kejadian Adit yang mama Siska ucapakan. Yang ia pahami adalah ia harus memastikan tidak ada lantai yang licin di rumah itu.


Saat mama Siska akan memasuki kamarnya, ia melihat Andi turun dari lantai dua. Mama Siska pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar.


"Ada apa sayang? kamu butuh sesuatu?" tanya mama Siska pada Andi.


"Andi pingin ngobrol sama mama, kalau mama nggak keberatan," jawab Andi.


"Sama sekali enggak sayang, kita ngobrol di kamar mama ya, sekalian mama tunjukin album foto lama Adit."


Andi mengangguk lalu mengikuti sang mama masuk ke dalam kamar. Mereka berdua duduk di tepi ranjang dengan memegang sebuah album foto yang cukup besar.


Andi tidak bisa berhenti tertawa saat mama Siska menceritakan masa kecil Adit yang sangat jauh berbeda dengan Adit yang ia kenal saat itu.


"Andi, apa kamu bisa janji satu hal sama mama?" tanya mama Siska.


"Janji apa ma?"


"Jangan pernah pergi dari mama, mama nggak akan sanggup kehilangan kamu untuk kedua kalinya," jawab mama Siska dengan mata berkaca kaca.


"Andi akan selalu di sini sama mama, Andi dan Adit akan selalu ada di samping mama," jawab Andi dengan menggenggam tangan sang mama.


"Terima kasih sayang, terima kasih sudah memberikan mama kesempatan kedua."


"Dan Andi sangat berterima kasih karena mama udah kasih Andi kesempatan hidup yang kedua, kalau bukan karena ginjal mama yang ada di sini, mungkin Andi nggak akan bisa ngerasain kehangatan keluarga seperti ini."


"Apapun akan mama lakukan buat kebahagiaan anak anak mama sayang, kamu dan Adit, kalian adalah kehidupan mama."


Mereka lalu kembali saling berpelukan.


**


Di tempat lain, Adit sedang membahas materi meeting bersama Dini di ruangannya. Hari itu ia tidak begitu fokus pada pekerjaannya, ia ingin segera pulang, bukan karena ia tidak bersemangat namun karena ia ingin segera menghabiskan harinya bersama sang mama dan adik yang telah lama ia cari.


Ia tak pernah menyangka jika Andi yang baru dikenalnya beberapa bulan ternyata adalah seseorang yang selama ini ia cari. Meski hubungan mereka tidaklah baik sebelumnya, tapi ia yakin, Andi dan dirinya akan bisa bersikap dewasa setelah ini.


"Gimana pak?" tanya Dini setelah ia menjelaskan materinya pada Adit.


Adit hanya tersenyum tipis sambil menatap map di hadapannya. Ia sama sekali tidak mendengarkan penjelasan Dini.


"Pak Adit, gimana?" ucap Dini mengulangi pertanyaannya, membuat Adit tersadar dari lamunannya.


"Hah, kenapa?"


"Eee.... denger kok, denger, bagus, saya setuju!" jawab Adit sekenanya.


"Pak Adit yakin setuju?"


"Iya, materi yang kamu siapkan selalu sesuai sama yang saya harapkan, jadi saya pasti setuju," jawab Adit dengan tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu pak Adit harus bersiap buat pertemuan 30 menit lagi."


"Pertemuan apa? bukannya meeting masih jam 11 nanti?"


"Pertemuan dengan papanya Jenny."


"Papanya Jenny? buat apa? saya sudah bilang sama kamu kalau saya nggak akan setuju buat kerja sama dengan perusahaan mereka, saya...."


"Tapi pak Adit tadi bilang setuju sama materi yang saya sampaikan, pak Adit lupa atau memang pak Adit tidak mendengarkan penjelasan saya?"


Adit lalu tersenyum kecil dan menggaruk tengkuknya yang tentu saja tidak gatal.


"Maaf, saya nggak fokus, bisa kamu ulangi lagi penjelasan kamu?"


Dini hanya memutar kedua bola matanya jengah, lalu menaruh map yang ia pegang dan keluar dari ruangan Adit.


Adit yang merasa bersalah hanya diam membiarkan Dini pergi. Ia lalu membaca kembali isi materi yang sudah Dini sampaikan. Ia benar benar berusaha untuk fokus.


Tak lama kemudian ia menghubungi Dini.


"Saya akan berikan beberapa referensi lain buat kamu teliti, apapun yang terjadi saya tetap pada pendirian saya Din, saya nggak mau berurusan lagi dengan perusahaan papanya Jenny."


"Saya sudah cek semuanya dan cuma perusahaan itu yang memenuhi standar kita pak."


"Apa kamu sudah cek yang di luar kota?"


"Mmmm.... belum pak."


"Saya akan kirim datanya lewat email, saya tunggu hasilnya secepatnya."


"Baik pak."


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 10 siang. Dini sudah menyiapkan materi meeting sesuai permintaan Adit dan sudah disetujui oleh Adit. 30 menit sebelum meeting di mulai merekapun berangkat ke tempat meeting bersama Rudi.


"Ini meeting penting kak, kak Adit harus fokus!" ucap Dini yang terdengar tegas pada Adit.

__ADS_1


"Bukannya harusnya kakak yang bilang gitu?"


"Kenapa? dari pagi yang nggak fokus kan kak Adit, Dini harus kerja dua kali karena kak Adit nggak fokus, harusnya Dini bisa ngerjain yang lain hari ini, tapi karena kak Adit nggak fokus pekerjaan Dini yang lain jadi terlantar!"


"Iya maaf," balas Adit mengalah.


Di balik kemudi, Rudi hanya bisa menahan tawanya mendengar seorang bawahan yang mengomeli atasannya. Jika bukan Dini dan Ana, tidak akan ada yang bisa melakukan hal itu.


"Ketawa aja Rud, jangan ditahan!" ucap Adit yang mengetahui jika Rudi sedang berusaha menahan tawanya.


"Maaf pak," balas Rudi.


Merekapun sampai di tempat meeting. Setelah meeting selesai, mereka diundang untuk makan siang bersama oleh partner Adit. Karena baru saja mengikat kontrak kerja sama, Aditpun dengan terpaksa menerima ajakan itu meski sebenernya ia sangat ingin pulang ke rumah sang mama.


Setelah makan siang selesai, Dini dan Adit segera kembali ke kantor.


"Kak Adit hari ini aneh banget deh, kak Adit sering ngelamun dan nggak fokus," ucap Dini.


"Apa iya?"


"Ada apa sih kak? ada yang kak Adit pikirin?"


"Enggak, kak Adit cuma lagi seneng aja."


"Hal menyenangkan apa yang bisa bikin kak Adit sampe nggak fokus kerja kayak gini?"


"Andi ke rumah," ucap Adit dengan senyum di wajahnya.


"Dia udah milih tinggal sama mama?" balas Dini bertanya.


"Mungkin, kakak belum tau pasti, tapi yang jelas dia udah bisa nerima mama," jawab Adit.


Dini terdiam beberapa saat. Ia lalu mengingat apa yang Andi ucapakan padanya pagi tadi sebelum ia berangkat ke kantor.


"Apa kamu akan baik baik aja kalau aku jauh dari kamu?"


"Kamu kenapa? apa alasan kakak nggak cukup kuat buat bikin kakak nggak fokus hari ini?"


"Enggak, Dini nggak papa, Dini ikut seneng kak, semoga ini yang terbaik buat semuanya," jawab Dini.


"Dimas jauh, Andi jauh, hanya ada aku, sendirian, tapi nggak papa, aku akan baik baik aja, hidup nggak hanya berputar di sekitarku, Dimas jauh di sana demi aku, Andi jauh di sana demi keluarganya, semangat Dini, semaunya akan baik baik aja," batin Dini dalam hati.


**


Di tempat lain. Dimas sedang makan siang bersama kekasih keduanya, sebuah laptop. Ya, Dimas yang sedang gila bekerja itu seperti sedang berpacaran dengan laptop, karena kemanapun ia pergi selalu ada laptop di hadapannya.


Biiiipp biiipp biiipp


Ponsel Dimas berdering, sebuah panggilan dari seseorang yang tidak mungkin ia tolak.


"Halo sayang, udah makan siang?"


"Udah, kamu?"


"Ini lagi makan siang."


"Pasti sambil kerja ya?"


"Hehe... tau aja, tumben kamu hubungin aku jam makan siang gini."


"Aku kangen sama kamu," ucap Dini.


"Sabar ya sayang, setelah waktuku lebih longgar, aku akan kesana."


"Dimas, beberapa hari ini aku kepikiran ucapan mama tentang publikasiin hubungan kita di media, menurut kamu gimana?"


"Kamu udah bilang sama ibu?"


"Belum sih, kayaknya ibu nggak akan setuju," jawab Dini.


"Kamu sendiri setuju?"


"Aku bingung Dimas, aku takut Chelsea ngelakuin hal hal yang lain lagi."


"Aku sama papa akan coba selesaiin masalah itu sayang, kali ini aku nggak akan ragu buat minta tolong papa, karena aku nggak mau masalah ini jadi penghambat buat aku di sini."


"Kamu yakin?"


"Aku yakin Andini, aku harus hapus masalah ini sebelum semakin besar dan akan susah untuk dihapus."


"Apa papa akan bantuin kamu?"


"Tentu, aku udah bicarain ini sama papa, yang penting kamu harus percaya sama aku, aku di sini akan selalu jaga hati aku buat kamu."


"Aku percaya sama kamu, aku selalu nunggu kamu di sini."


"Aku akan selesaiin semua ini secepat mungkin."


"Ya udah, lanjutin kerjaan kamu, aku juga harus mulai kerja."


"Oke sayang, love you."

__ADS_1


"Love you too."


Sambungan berkahir. Dimas melihat jam di tangan kirinya dan tersenyum kecil lalu menutup laptopnya. Ia harus kembali ke tempat kerjanya meski makanan dan minuman di hadapannya belum sempat tersentuh sama sekali.


__ADS_2