
Andi masih berada di kamar Adit pagi itu. Ia tidak menyangka jika Adit akan memberikannya gedung yang ia inginkan dengan mudah.
Meski mereka sering beradu pendapat atau berselisih paham tentang hal hal kecil, pada kenyataannya Adit adalah sosok yang dewasa dan kakak yang baik untuk Andi.
"Lo jual mahal banget ya, baru mau panggil 'kakak' setelah dibeliin gedung," ucap Adit terkekeh.
"Iya, gue emang matre'," balas Andi yang membuat mereka kembali tertawa.
"Gue nggak akan maksa lo buat panggil 'kakak', gue akan nunggu sampe lo emang udah siap, jangan terlalu memaksakan diri lo sendiri," ucap Adit.
"Mama sama ibu udah pernah bilang tentang hal itu dan gue masih belum bisa penuhi permintaan mereka, tapi kali ini gue akan coba biasain, jadi maklumin aja kalau gue sering lupa nantinya hehe..."
"It's okay, nggak masalah buat gue," balas Adit santai.
Tanpa Andi dan Adit tau, mama Siska sengaja menguping pembicaraan mereka dari depan pintu kamar Adit.
Ia begitu bahagia melihat kedua anaknya akur. Tanpa terasa air matanya menetes begitu saja.
"papa pasti seneng kan kalau liat hal ini, Adit memang kakak yang baik pa, Andi juga adik yang baik, mereka anak anak kita yang selalu kita banggakan," ucap mama Siska dalam hati.
Sebelum Andi dan Adit menyadari keberadaan mama Siska di sana, mama Siska segera turun dan duduk di ruang tengah.
Tak lama kemudian Andi dan Adit turun. Adit kembali menyerahkan berkas nya pada orang suruhannya untuk memproses lebih lanjut, sedangkan Andi menghampiri sang mama.
"Mata mama merah, kenapa?" tanya Andi yang menyadari mata mamanya merah.
"Nggak papa, mama cuma kelilipan tadi," jawab mama Siska berbohong.
"Udah dikasih obat tetes mata?" tanya Andi khawatir.
"Udah kok, kamu tadi ngapain sama Adit di atas?"
Andi lalu tersenyum mendengar pertanyaan sang mama. Ia terlalu malu untuk memanggil Adit dengan sebutan kakak di hadapan sang Mama.
Namun bagaimanapun juga ia harus membiasakan memanggil Adit dengan sebutan kakak meski itu terasa canggung.
"Kak Adit beliin Andi gedung ma," ucap Andi dengan menundukkan kepalanya.
"kak Adit?" ucap Mama Siska mengulangi ucapan Andi.
Andi hanya menganggukkan kepalanya menahan malu, sedangkan sang mama segera memeluk Andi dengan rasa bangga dan bahagia dalam hatinya.
"Mama senang kamu mau manggil Adit 'kakak' sayang, mama harap kalian bisa jadi saudara yang saling menyayangi dan saling melindungi satu sama lain," ucap Mama Siska.
"Kita akan menjadi keluarga yang penuh dengan kasih sayang dan saling melindungi ma, Andi yakin itu."
Mama Siska menganggukkan kepalanya yakin.
"Jadi gimana tadi, Adit beliin kamu gedung?"
"Iya ma, itu gedung yang Andi pengen dari kemarin dan kak Adit beli gedung itu dengan harga yang jauh lebih mahal dari harga normalnya," jawab Andi menjelaskan.
Tak lama kemudian Adit datang menghampiri Andi dan mamanya.
"Ma, Andi sama Adit mau bikin ruang baca yang lebih luas, nggak papa kan ma?" tanya Adit pada Mama Siska.
"Nggak papa dong sayang, emang kalian mau bikin ruang baca di mana?" jawab mama Siska sekaligus bertanya.
"Gimana kalau di halaman samping rumah?" tanya Adit memberi saran.
"Ala nggak terlalu sempit?" balas Andi bertanya.
"Kita bisa bikin 2 lantai, desain nya gue serahin sama lo, soal pekerjanya gue bisa minta tolong sama Rudi buat cari orangnya nya, gimana?"
"Oke setuju," jawab Andi.
"Lantai satu buku bisnis, lantai dua buku random gimana?"
"Lantai satu buku random, lantai dua buku bisnis!" ucap Andi.
"Oke setuju," balas Adit menyetujui ucapan Andi.
"Jadi kapan gue harus serahin design-nya ke lo?" tanya Andi.
"Nggak usah terlalu buru-buru selesaiin dulu masalah homestore, baru kita pikirin ruang baca oke?"
"Oke," balas Andi.
"Kalian kalau udah satu frekuensi jadi lupa kalau ada mama di sini," ucap Mama Siska yang merasa diabaikan oleh kedua anaknya.
Andi dan Adit hanya terkekeh lalu memeluk Mama Siska bersamaan.
**
Si tempat lain Dini baru saja mengerjapkan matanya nya dan melihat laki laki yang dicintainya masih terpejam disampingnya.
Saat Dini hendak turun dari ranjangnya, Dimas menarik tangan Dini membuat Dini kembali terbaring di ranjangnya.
Dimas lalu memeluk Dini dari belakang dengan posisi berbaring menghadap ke samping.
"Jangan pergi dulu!" ucap Dimas dengan suara serak khas bangun tidur.
"Ini udah siang Dimas, kita kesiangan," ucap Dini.
"Ini hari pertama aku libur tanpa beban pikiran Andini, biarin kayak gini dulu, please!" ucap Dimas memohon.
__ADS_1
Dini hanya menganggukkan kepalanya pelan lalu menggenggam tangan Dimas yang melingkar di pinggangnya .
Biiiiiipppp biiiipppp biiiiippp
Ponsel Dini berdering, sebuah panggilan dari sang ibu membuat Dini segera beranjak dari ranjangnya.
"Halo bu, ibu di mana?" tanya Dini saat ia sudah menerima panggilan dari sang ibu.
"Ibu masih di rumah saudaranya Andi, mungkin nanti malam ibu baru pulang," jawab ibu Dini.
"Oh iya Bu, ibu jaga diri baik-baik ya di sana," ucap dini.
"Kamu jangan lupa makan ya, jangan masak karena ibu tahu gimana rasa masakan kamu hehehe," ucap ibu Dini menggoda.
"Emang kenapa? masakan Dini enak kok!"
"Kamu beli aja buat sementara daripada kamu ribet masak sendiri," ucap ibu Dini.
"Iya Bu, ya udah Dini mau mandi dulu ibu juga jangan lupa makan!" ucap Dini mengakhiri panggilannya pada sang ibu.
Dini lalu keluar dari kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian lalu kembali ke kamarnya dan melihat Dimas yang masih tidur terlelap.
Dini lalu membeli bubur ayam dua porsi untuk dirinya dan juga Dimas.
Setelah bubur ayam sudah ia dapatkan, Dini lalu membangunkan Dimas.
"Dimas bangun," ucap dini dengan menggoyangkan sedikit tangan Dimas.
"Aku masih ngantuk sayang, punggungku capek banget," balas Dimas dengan mata yang masih terpejam.
Dini tiba-tiba mengingat satu hal yang ia sesalkan. Ia baru menyadari jika Dimas tidak bisa tidur dilantai, Dimas pasti memilih untuk tidur di sofa daripada di lantai yang keras dan bodohnya Dini malah menyuruh Dimas untuk tidur di lantai dengan hanya beralaskan tikar tipis.
"Maafin aku Dimas," ucap Dini lalu mencium kening Dimas.
Seketika Dimas terbangun dan menarik Dini ke dalam pelukannya.
Mereka berpelukan dengan posisi terbaring untuk beberapa saat sebelum Dini beranjak dari ranjangnya untuk mengajak Dimas sarapan.
"Aku udah beli bubur ayam buat kita, ayo sarapan dulu," ucap Dini pada Dimas.
Dimas lalu duduk dan beranjak dari ranjang Dini, namun sebelum keluar dari kamar Dini, Dimas menarik tangan Dini membuat Dini memutar badannya ke arah Dimas dan dengan cepat Dimas mendaratkan kecupan nya tepat dibibir Dini.
"Aku mau ambil dessert dulu," ucap Dimas dengan senyum nakalnya.
Dini hanya mengangguk pelan dan membiarkan Dimas melancarkan aksinya. Pagi mereka pun diawali dengan tautan mesra yang membuat mentari merasa iri melihatnya.
Setelah selesai menikmati dessert yang manis itu Dimas dan Dini pun keluar dari kamar dan menikmati bubur ayam mereka.
"Anita undang kamu ke kafe jam berapa sayang?" tanya Dimas pada Dini.
"Aku nggak akan datang kalau kamu nggak izinin aku dateng," jawab Dini.
"Makasih Dimas," balas Dini.
"Kamu berangkat sama Andi kan?" tanya Dimas.
"Iya, mungkin dia jemput aku jam 7 malam nanti," jawab Dini.
Dimas hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban dini.
"Kamu nggak keberatan kan aku pergi sama Andi?" tanya Dini pada Dimas.
"Enggak lah, dia sahabat aku juga Andini," jawab Dimas.
Waktu berlalu, mentari pagi yang menghangatkan kini sudah berganti menjadi mentari yang sangat terik.
Dimas masih berada di rumah Dini, ia berencana untuk menghabiskan waktunya berdua dengan Dini.
Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Dimaspun meninggalkan rumah Dini. Ia harus ke rumah orangtuanya sebelum ia kembali ke apartemen nya.
"Aku masih pingin lama lama sama kamu," ucap Dimas dengan memeluk Dini.
"Aku juga," balas Dini.
Dimas lalu melepas pelukannya pada Dini dan meninggalkan rumah Dini.
Sesampainya Dimas di rumah kedua orangtuanya, ia disambut dengan bahagia oleh mama dan papanya.
"Kebiasaan, nggak pernah kabarin mama atau papa kalau mau pulang," ucap mama Dimas dengan memeluk Dimas.
"Dimas kan pingin bikin kejutan buat mama dan papa!" balas Dimas.
Mereka lalu duduk bersama di ruang tengah.
"Jadi gimana? udah siap duduk di kursi manajer?" tanya papa Dimas.
"Siap dong," balas Dimas penuh percaya diri.
"Mama yakin kamu bisa sayang, bukan karena mama dan papa tapi karena kemampuan kamu sendiri," ucap mama Dimas.
"Kamu nggak perlu denger omongan orang lain yang menjatuhkan kamu, tunjukin aja hasil kerja kamu dengan baik, lama lama mereka akan bungkam dengan sendirinya!" ucap papa Dimas.
"Iya ma, pa, Dimas mengerti," balas Dimas.
"Kamu udah kasih tau Dini tentang itu?" tanya mama Dimas.
__ADS_1
"Menurut mama Dimas baru pulang ke sini karena apa? pasti dia udah temui Dini dulu lah sebelum ke sini, iya kan?" sahut papa Dimas yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Dimas.
"Kalau gitu kita harus rayain bareng bareng dong, gimana kalau kita makan malem bareng?" tanya mama Dimas.
"Nggak bisa ma, Andini ada acara sama Andi," balas Dimas.
"Acara apa? berdua? kenapa kamu nggak ikut?" tanya mama Dimas.
"Ulang tahunnya Anita, mereka bertiga mau ketemu di kafe," jawab Dimas.
"Kamu nggak ikut?" tanya papa Dimas.
"Jangan, jangan deket deket lagi sama Anita," sahut mama Dimas.
"Dimas emang nggak mau ikut kok," ucap Dimas.
"Papa nggak bisa minta kamu buat maafin Anita, tapi jangan terlalu lama menyimpan kebencian dalam diri kamu Dimas, nggak baik," ucap papa Dimas.
Dimas hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun.
**
Di tempat lain, Dini sedang bersiap untuk menunggu Andi menjemputnya.
Sebuah pakaian yang akan ia berikan pada Anita sudah terbungkus dengan cantik dan ia masukkan ke dalam paper bag yang cantik.
Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan rumah Dini dan Andi turun dari mobil itu.
"Cantik banget sahabatku ini," ucap Andi yang melihat gadis cantik di hadapannya.
"Iya dong," balas Dini dengan tersenyum.
"Ayo, dianter pak Rudi nggak papa kan?"
"Nggak papa dong," balas Dini.
Mereka lalu masuk ke mobil dan meninggalkan rumah Dini.
Tak lama kemudian mereka sampai di kafe. Andi dan Dini berjalan masuk ke dalam kafe dengan bergandengan tangan.
"Selamat datang kak, malam ini kita ada acara couple tonight, jadi untuk yang berpasangan kita sediakan menu khusus yang....."
"Maaf mbak, kita bukan couple hehe...." ucap Dini lalu melepaskan tangan Andi yang menggenggam tangannya.
"Oh maaf kak, mari silakan masuk dan pilih tempat duduknya," ucap sang waiters yang tampak malu.
Andi dan Dini menganggukkan kepalanya, lalu berjalan masuk memilih tempat duduk yang kosong.
"Andi, Dini!" panggil Anita dari bangku yang berada di bawah tangga.
Andi dan Dinipun menghampiri Anita.
"Selamat ulang tahun ya Nit," ucap Andi dengan memberikan hadiahnya pada Anita dan memeluknya, begitu juga Dini.
"Makasih banget kalian udah mau dateng," balas Anita yang tampak bahagia.
"Kita kan temen kamu Nit, pasti dateng lah," ucap Andi.
"Kamu nggak ajak Dimas Din?" tanya Anita pada Dini.
"Aku udah ajak dia, tapi dia.... dia sibuk," jawab Dini beralasan.
"Dia nggak mau ya?"
"Dia emang sibuk akhir akhir ini karena mau dipromosiin jadi manajer," jawab Dini.
"Waaahh cepet juga ya, jadi kapan nih kamu sama Dimas nikahnya?"
"Perjalanan kita masih panjang Nit, Dimas harus mulai dari nol sampai bisa pindah ke perusahaan pusat sebelum kita menikah," jawab Dini.
"Om Tama kan bisa langsung jadiin Dimas CEO, kenapa dibikin ribet gitu sih!" ucap Anita.
"Bukan dibikin ribet, om Tama mau Dimas mulai dari bawah, biar Dimas juga makin banyak pengalaman," sahut Andi.
"Kalau kamu gimana? udah dapet gedung barunya?" tanya Anita pada Andi.
"Udah, mulai besok aku udah bisa urus semuanya," jawab Andi.
Mereka lalu membicarakan banyak hal. Sesekali mereka tampak bercanda dan tertawa. Mereka seperti benar benar teman dekat satu sama lain.
"Pak Sonny belum pulang Nit?" tanya Andi pada Anita.
"Belum, bulan depan kayaknya," jawab Anita.
"Kamu tau nggak Din, papa itu suka banget loh sama Andi, papa selalu bilang 'kenapa harus Dimas sih bukan Andi?' aku sampe bosen dengernya," ucap Anita pada Dini.
Dini hanya tersenyum canggung mendengar ucapan Anita.
"Tapi kamu tenang aja, itu cuma cerita lama, sekarang aku lagi fokus buat ikut kursus, jadi nggak mikirin hal hal kayak gitu," ucap Anita.
"Cerita lama buat dijadiin pelajaran aja, kita bahas yang sekarang aja," balas Andi dengan menggenggam tangan Dini di bawah meja.
"Ngomongin soal cerita lama dan cerita baru, aku baru ketemu Dimas kemarin," ucap Anita yang cukup membuat Dini terkejut.
"Kalian ketemu dimana?" tanya Dini.
__ADS_1
"Di apartemennya Dimas, aku lagi mau ke apartemennya mbak Dewi tapi nggak sengaja ketemu Dimas, kita cuma ngobrol bentar sih soalnya Dimas udah mau berangkat kerja," jawab Anita.
Dini hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Anita. Ia berusaha untuk tidak berpikiran negatif, ia akan memastikannya sendiri pada Dimas.