
Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, Dini sedang berada di pantry untuk menyiapkan minuman hangat atasannya. Ia lalu membawa minuman itu ke ruangan Adit. Setelah menaruh minuman, Dini segera keluar dan masuk ke ruangannya.
Sesekali Dini melihat ke ruangan Adit. Sampai jam 7 lewat 30 menit, ia masih melihat ruangan Adit kosong. Dini lalu menghubungi Ana untuk menanyakan keadaan Adit.
Baru saja ia mengeluarkan ponsel dari tas nya, ia melihat Adit sudah memasuki ruangannya.
Dini kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas dan melihat Adit yang mengambil minumannya lalu ditaruh kembali olehnya.
"pasti udah dingin," ucap Dini dalam hati lalu segera ke ruangan Adit untuk mengganti minuman Adit dengan yang baru.
"Ini minuman Pak Adit dan ini jadwal harian Pak Adit," ucap Dini sambil menaruh gelas di meja Adit dan memberikan sebuah map pada Adit.
"Kenapa hari ini jadwal saya cuma sedikit?" tanya Adit setelah ia membaca jadwal hariannya.
"Ada beberapa pertemuan yang saya cancel atas permintaan mbak Ana, kalau Pak Adit keberatan Pak Adit bisa langsung menghubungi mbak Ana, saya....."
BRAAKKKK
Dini memejamkan matanya mendengar Adit menggebrak meja dengan keras. Sebelumnya ia sudah menyiapkan dirinya jika Adit akan marah dengan keputusannya untuk mengikuti permintaan Ana.
Meski begitu, ia harus tetap mengikuti permintaan Ana mengingat keadaan Adit yang sedang tidak baik baik saja.
"Kamu di sini bekerja sama saya Din, kamu bekerja untuk perusahaan, bukan untuk satu orang apa lagi Ana yang sudah tidak ada hubungan lagi dengan perusahaan ini!"
"Maaf pak," ucap Dini dengan menundukkan kepalanya lalu kembali ditegakkan dan menatap Adit tanpa rasa takut. Bukan, bukan tanpa rasa takut tapi menyembunyikan rasa takutnya.
Adit lalu duduk di kursinya dan memijit kepalanya yang terasa pusing. Dini lalu menaruh satu botol kecil obat di meja Adit.
"Ini obat Pak Adit, mbak Ana bilang Pak Adit pasti lupa bawa obat," ucap Dini.
Adit lalu mengambil obat itu dan membuangnya ke tempat sampah.
Dengan sabar Dini mengambil obat itu dan kembali meletakkannya di meja Adit.
"Ini, obat, Pak Adit," ucap Dini penuh penekanan dan tatapan tajam pada mata Adit.
"Saya, tidak, peduli," balas Adit lalu kembali membuang obat itu ke tempat sampah.
Dini kembali mengambil obat itu dan menaruhnya di meja Adit.
"Saya permisi," ucap Dini lalu segera keluar dari ruangan Adit dan masuk ke ruangannya sendiri.
Ia memegangi dadanya yang bergejolak hebat. Untuk pertama kalinya ia berani menentang Adit, CEO tampan yang terkenal galak.
"aku nggak boleh takut, selagi aku bener aku nggak akan bisa dikalahkan, baik itu pegawai lain ataupun Pak Adit sekalipun, semangat Dini, semangaatttt," batin Dini dalam hati.
Krriiiiing Krriiiiing Krriiiiing
Telepon di hadapannya berdering. Dini lalu segera mengangkatnya.
"Ke ruangan saya sekarang!" ucap Adit.
"Baik pak," balas Dini.
"Duuuhhh gimana nih, apa aku dipecat? apa aku tadi keterlaluan? enggak, aku udah bener, mbak Ana sendiri yang minta aku ngelakuin itu, aku nggak boleh lemah, aku nggak boleh keliatan takut di depan Pak Adit, mbak Ana pasti bantuin aku kalau terjadi apa apa sama aku," ucap Dini dalam hati ketika ia berjalan ke ruangan Adit.
"Permisi pak, saya......"
"Kamu diundang makan siang di rumah mama," ucap Adit tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor komputer di hadapannya.
"Baik pak," balas Dini.
Adit lalu meminta Dini pergi dengan isyarat tangannya. Dinipun keluar dari ruangan Adit dengan kesal.
"kan bisa dibicarain lewat telfon, seneng banget bikin orang susah," batin Dini dalam hati.
Saat jam makan siang tiba. Dini mengikuti Adit yang keluar dari ruangannya.
Mereka lalu menaiki mobil Adit yang dikendarai oleh Rudi.
"Kita harus selesaikan ini Din!" ucap Adit pada Dini.
"Maksud Pak Adit?"
"Hubungan palsu kita," jawab Adit.
"Kenapa? apa Pak Adit marah karena kejadian tadi pagi?" balas Dini bertanya.
Adit menggeleng.
"Sepertinya permintaan saya sudah kamu tolak," ucap Adit yang membuat Dini semakin tidak mengerti.
"Maksud Pak Adit?"
"Apa kamu ingat permintaan saya untuk menjadi teman? selama beberapa hari ini saya bimbang, apa keputusan saya ini tepat atau tidak, tapi melihat kamu yang selalu menganggap saya sebagai atasan kamu saya rasa tidak akan mudah untuk membuat mama percaya dengan hubungan kita."
"bukannya Pak Adit sendiri yang bikin hubungan ini terlalu kaku?" tanya Dini dalam hati.
"Maaf Din, beberapa hari ini pikiran saya kacau, maaf sudah melibatkan kamu dalam masalah keluarga saya, saya akui saya susah berteman dengan perempuan lain selain Ana dan mungkin itu yang membuat kamu kurang nyaman berteman dengan saya," lanjut Adit.
"ini orang kenapa sih, abis sakit jadi aneh gini," batin Dini dalam hati.
Sepanjang perjalanan Dini hanya diam, ia hanya merespon ucapan Adit dalam hatinya sampai mereka tiba di depan rumah mama Adit.
Adit dan Dini lalu keluar dari dalam mobil. Sebelum masuk ke dalam rumah, Dini menarik tangan Adit dan menggenggamnya, membuat Adit seketika membawa pandangannya ke arah Dini.
"Halo sayang, ayo masuk masuk!" ucap mama Adit yang sudah menghampiri mereka.
Adit dan Dini lalu duduk bersama sang mama di depan meja makan.
"Kak Adit mau sayur?" tanya Dini pada Adit.
Adit masih diam, akal sehatnya masih belum menerima perubahan sikap Dini yang begitu tiba tiba.
__ADS_1
"Dit, kok diem aja?" tanya sang mama.
"Eh iya.... iya ma," jawab Adit gelagapan.
"Ya udah kalau nggak suka, Dini ambilin ayamnya aja ya!" ucap Dini sambil menaruh potongan ayam di piring Adit.
Merekapun menghabiskan makan siang dengan tenang. Mereka bertiga lalu duduk di halaman depan, di tengah bunga bunga yang bermekaran.
"Mama seneng liat kalian baik baik aja," ucap mama Adit pada Dini dan Adit.
"Apa Adit memperlakukan kamu dengan baik?" tanya mama Adit pada Dini.
"Kak Adit selalu bantuin Dini di kantor ma," jawab Dini dengan senyum manisnya.
Sebelum jam makan siang selesai, Adit dan Dini kembali ke kantor.
"Din, saya....."
"Kita lagi di luar kantor, di luar jam kerja, apa mode teman kita nggak bisa aktif, kakak Adit?"
Adit tersenyum dengan menganggukkan kepalanya.
"Saya....."
Dini menutup kedua telinganya begitu ia mendengar Adit mengucapkan kata "saya".
"Kenapa Din?" tanya Adit.
"Nggak ada teman yang pake kata kata 'saya' KAK!" jawab Dini dengan menekankan kata "kak".
"Aku kamu?"
"Itu lebih baik, " jawab Dini dengan menganggukkan kepalanya.
"Oke, aku.... aaarrgghhh nggak enak Din, saya....."
"Itu dia, Pak Adit sendiri yang memang tidak mau berteman dengan saya, apa mungkin saya bisa panggil Pak Adit kakak kalau Pak Adit sendiri selalu berbicara formal sama saya?"
"Din saya....."
"Saya sudah mencoba sabar pak, dari awal saya masuk perusahaan Pak Adit saya sudah menguatkan kesabaran saya setiap menghadapi Pak Adit dan sekarang saya harus jadi pacar pura pura Pak Adit padahal hubungan kita cuma sebatas rekan kerja, kita bahkan tidak berteman, bagaimana saya bisa melakukannya dengan baik Pak? apa saya yang menolak ajakan berteman Pak Adit? atau Pak Adit sendiri yang memberi jarak pada hubungan 'pertemanan' yang Pak Adit maksud ini?"
Dini segera menutup mulutnya dengan kedua tangan begitu menyadari apa saja yang sudah terlontar dari mulutnya. Ia memejamkan matanya erat erat, takut menghadapi kemarahan Adit yang akan meledak karena sikap bodoh yang baru saja ia lakukan.
"Maaf," ucap Adit dengan mengusap rambut Dini.
Seketika Dini membuka matanya dan membawa pandangannya ke arah Adit.
"Jadi adik yang baik ya," ucap Pak Adit dengan tersenyum.
Dini hanya mengangguk dengan tersenyum canggung. Ia benar benar tidak memahami situasi yang terjadi saat itu.
"Kenapa kamu nggak mau mengakui hubungan kita yang sebenernya tadi?" tanya Adit.
"Ada seseorang yang pernah bilang sama Dini 'jangan ambil keputusan apapun kalau kamu lagi emosi' dan Dini tau kak Adit tadi cuma kebawa emosi, Dini nggak tau masalah apa yang kak Adit hadapi tapi kak Adit harus ingat satu hal itu, jangan ambil keputusan saat kak Adit emosi," jelas Dini.
"Kakak?"
Adit mengangguk.
"Kamu keberatan?"
Dini menggeleng dengan tersenyum.
Sesampainya di kantor, mereka segera masuk ke ruangan masing masing.
Mereka melanjutkan pekerjaan mereka sampai jam pulang tiba.
Dini melihat ke arah ruangan Adit, tampak Adit yang masih sibuk dengan berkas berkas di mejanya.
Dini lalu mengetuk pintu ruangan Adit sebelum ia masuk.
"Jam kerja sudah selesai Pak, izin mengaktifkan mode 'adik'," ucap Dini dengan senyum manisnya.
Adit hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya.
"Apa selama ini kak Adit nggak pernah pulang tepat waktu?" tanya Dini.
"Percuma Din, pulangpun kakak tetep kerja dari rumah," jawab Adit yang mulai nyaman dengan panggilan barunya.
"Mau Dini temenin?"
"Kamu pulang aja, Andi pasti udah nunggu kamu kan?"
"Enggak kok, mulai sekarang Dini berangkat dan pulang sendiri," jawab Dini.
"Kenapa? berantem?"
"Enggak dong, kita kan......"
"Permisi permisi......"
Adit dan Dini kompak menoleh ke arah sumber suara.
"Mbak Ana!"
"Lo ngapain kesini?"
"Cuma mau mastiin lo baik baik aja, ayo pulang besok kerja lagi!" jawab Ana.
"Ajakin Dini aja, gue masih ada kerjaan!" ucap Adit.
"Gue kasih waktu sampe jam 5, lo harus pulang, oke?"
__ADS_1
"Iya bawel!"
Anapun mengajak Dini untuk pulang dan mengantar Dini sampai ke depan rumah.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 5, Ana kembali ke kantor untuk menemui Adit.
"Gue tau lo masih di sini!" ucap Ana dengan membereskan beberapa map di meja Adit.
"Bentar lagi An," balas Adit yang masih fokus dengan komputer di hadapannya.
"Gimana lo sama Dini? kayaknya makin hangat nih!" tanya Ana.
"Seperti yang lo liat," balas Adit.
"Lo beneran nggak suka sama dia?"
Adit lalu menghentikan ketikannya, ia membawa pandangannya ke arah Ana.
"Gue udah anggap dia adik gue mulai sekarang, jadi gue akan bersikap sebagai kakak yang baik buat dia," ucap Adit serius.
"Apa dia adik yang selama ini lo cari?"
PLAAAKKK
Pukulan keras dari sebuah buku mendarat di kepala Ana.
"Hahaha.... iya iya bukan, adik lo kan cowok," ucap Ana.
"Anggap aja gue lagi latihan jadi kakak," ucap Adit dengan tertawa kecil.
"Udah udah, ayo pulang pulang!"
Adit dan Anapun meninggalkan kantor.
**
Di tempat lain Dimas sedang bersama Yoga di home store.
"Gue nggak bisa nemuin apapun lagi Dim!" ucap Yoga pada Dimas.
"Lo udah banyak bantu gue Ga, thanks!"
"Rencana lo sekarang apa Dim?"
"Ga, apa data pegawai di kantor selalu update setiap saat?" balas Dimas bertanya.
"Tergantung masing masing perusahaan Dim, mereka punya kebijakannya masing masing," jawab Yoga.
"Oke, gue tau apa yang harus gue lakuin sekarang, ayo pulang!" ucap Dimas lalu menyambar kunci mobilnya dan segera pulang.
"Mama sama papa dimana Bi?" tanya Dimas pada ART nya.
"Ibu sama bapak barusan berangkat mas, ibu bilang ada pertemuan sampai nanti malam."
Dimas mengangguk anggukkan kepalanya lalu segera naik ke lantai dua menuju ke ruang kerja papanya.
Ia melangkahkan kakinya tanpa ragu ke arah perpustakaan mini yang berada di sana. Dimas mencari sebuah buku yang berisi data data pegawai sang papa dari 25 tahun yang lalu.
Hampir satu jam Dimas mencarinya namun tidak ada. Dimas pun menghubungi Yoga dan menanyakannya pada Yoga.
"25 tahun itu terlalu lama Dim, kalau lo mau tau lengkapnya biasanya ada di komputer HRD perusahaan pusat," jawab Yoga.
"Lo bisa bantuin gue Ga?"
"Mmmmm.... bisa, lo butuh data tahun berapa?"
"Gue butuh data 25 sampai 26 tahun yang lalu Ga, gue udah cek data data di sini dan mereka update setiap satu bulan sekali kecuali kalau nggak ada perubahan sama sekali di bulan itu."
"Jadi gue harus cari 24 data?"
"Iya, lo bisa?"
"Gue usahain, besok gue hubungin lo!"
"Oke, thanks Ga!"
Dimas lalu keluar dari ruang kerja papanya. Ia hanya bisa berharap akan ada petunjuk yang bisa ia temukan entah pada data 25 atau 26 tahun yang lalu.
"tunggu aku sayang, aku akan kembali," ucap Dimas dalam hati.
Dimas lalu merebahkan badannya di ranjang dan menghubungi Andi.
"Halo Ndi, gimana keadaan lo? udah baikan?"
"Udah, besok gue udah bisa kerja."
"Kalau emang masih harus bed rest, istirahat aja di rumah, gue masih bisa handle sendiri kok!"
"Thanks Dim, tapi gue udah nggak papa."
"Oke, Andini gimana Ndi? dia berangkat kerja sendiri? pulang sendiri?"
"Tenang aja Dim, dia bukan anak kecil yang harus selalu diawasi, dia pasti bisa jaga diri kok!"
"Iya gue tau, gue cuma mau mastiin kalau dia selalu baik baik aja, gue nggak mau kejadian yang dulu dulu terulang lagi."
"Dia berangkat sendiri tapi pulang sama mbak Ana, gimana sama rencana lo? lancar?"
"Gue masih berusaha Ndi, gue yakin akan ada jalan buat gue bisa balik sama Andini," jawab Dini.
"Gue tau lo nggak akan mudah menyerah!"
__ADS_1
"Pasti."
Setelah mengakhiri panggilannya, Dimas menaruh ponselnya di meja lalu membenamkan kepalanya di dalam selimut.