
Hari berganti, mentari pagi baru mengintip di ujung langit timur. Pagi pagi sekali Adit pulang ke rumahnya.
Ia segera memasukkan pakaian sang mama ke dalam tas besar dan meminta Lukman mengantarnya ke rumah Ana.
Setelah Lukman pergi, Aditpun mandi dan bersiap untuk ke kantor.
"Mama mana?" tanya Andi saat Adit baru saja keluar dari kamar.
"Mama di rumah Ana, gue kan udah bilang kalau mama mau tinggal di sana," jawab Adit.
"Lo serius?" tanya Andi yang masih tidak percaya.
Sambil berjalan ke arah meja makan, Adit menceritakan kejadian kemarin pada Andi. Mulai dari sang mama yang menghubunginya, sang mama yang salah paham dan akhirnya bisa mengerti dan menerima Ana dengan baik.
"Syukurlah kalau gitu, jadi lo nggak perlu bohong lagi sama mama," ucap Andi.
"Iya, gue nggak nyangka kalau mama bisa terima Ana dengan mudah," ucap Adit.
"Itu karena mama tau kalau mbak Ana emang perempuan yang baik dan mama percayain mbak Ana buat jadi masa depan lo," balas Andi.
"Iya lo bener," ucap Adit.
Merekapun sarapan berdua, setelah menyelesaikan sarapannya, mereka segera berangkat ke tempat kerja masing masing.
Andi berangkat ke home store, sedangkan Adit berangkat ke kantor.
Sesampainya Andi di home store, tampak Rama dan beberapa pegawainya sudah sibuk. Andi juga mengecek tempat produksi dan sudah ada beberapa pegawainya yang sedang mengerjakan pesanan klien.
Andi lalu masuk ke dalam ruangannya. Saat baru saja duduk, Andi melihat sebuah surat di meja kerjanya.
Andi membolak balik amplop surat itu mencari nama pengirim, namun tidak ada. Andipun membukanya dan membacanya.
Dear Andi,
Hai Ndi, apa kabar? lama kita nggak ketemu. Maaf karena pergi gitu aja, aku butuh waktu buat menyembuhkan luka ku, bukan karena kamu, tapi karena aku sendiri.
Aku seneng liat kehidupan baru kamu sekarang. Udah lama aku pingin temui kamu, tapi aku ragu.
Gimana hubungan kamu sama Dini sekarang? aku harap kamu dan Dini masih menjalin hubungan yang baik, entah sebagai sahabat ataupun lebih.
Aku udah beberapa bulan di sini, kalau bisa aku mau ketemu kamu sebelum aku pergi lagi.
Temui aku di taman daerah X ya, aku tunggu kamu tiap sore sampai satu minggu ke depan, setelah itu aku akan kembali pergi karena memang tempatku bukan di sini.
Miss you Ndi,
Andi mengernyitkan keningnya memikirkan siapa pengirim surat itu.
"Apa Anita?"
Andi lalu beranjak dari duduknya dan mencari Rama.
"Rama, surat yang di meja gue dari siapa?" tanya Andi pada Rama.
"Nggak tau bos, tadi pagi waktu baru buka udah ada di depan pintu," jawab Rama.
"Lo nggak liat siapa siapa tadi?"
"Enggak, nggak ada siapapun di sekitar sini," jawab Rama.
Andi lalu kembali masuk ke ruangannya dan mengecek CCTV yang berada di depan.
Setelah beberapa lama memperhatikan, akhirnya ia melihat seseorang datang dan menaruh surat itu depan pintu home store.
Namun sayangnya seseorang itu menggunakan tudung jaket untuk menutup kepalanya, masker dan kacamata hitam, membuat Andi tidak bisa mengenali siapa seseorang itu sebenarnya.
"Siapa dia sebenarnya? apa beneran Anita?"
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Andi baru saja menyelesaikan desainnya lalu keluar dari ruangannya.
Andi masuk ke mobilnya dan meninggalkan home store. Andi mengendarai mobilnya ke arah rumah Anita untuk memastikan dugaannya.
Seperti biasa, satpam yang sudah mengenal Andi membiarkan Andi masuk begitu saja.
Andi mengetuk pintu beberapa kali sebelum akhirnya seseorang membuka pintu.
"Bibi, Anita mana bi?" tanya Andi tanpa basa basi.
"Non Anita kan udah nggak tinggal di sini Den," balas bibi.
"Iya saya tau, tapi dia pulang ke sini kan sejak beberapa bulan yang lalu? bibi jangan bohong, dia kasih Andi surat dan ngasih tau Andi kalau dia udah pulang dan akan pergi lagi minggu depan," ucap Andi.
"Bibi nggak bohong den, bapak sendiri yang bilang kalau non Anita udah nggak mau tinggal di sini lagi," balas bibi.
"Tolong kasih tau Andi dimana Anita sekarang bi, Andi mau ketemu dia," ucap Andi memohon.
"Maaf den, bibi nggak bisa kasih tau, tapi yang pasti non Anita nggak ada di sini, kalau den Andi nggak percaya silakan masuk ke kamar non Anita, kalau memang non Anita sudah berbulan bulan di sini, pasti barang barangnya ada di sini!"
Tanpa ragu Andipun masuk dan membuka kamar Anita. Bersih, tak ada barang barang yang tertinggal di meja. Andi lalu membuka lemari Anita, hanya ada beberapa pakaian yang sama seperti saat terakhir kali Andi datang.
Andi duduk di ranjang Anita, memperhatikan setiap sudut kamar Anita. Andi merasakan kekosongan di ruangan itu.
Kamar yang menjadi tempat ternyaman bagi Anita kini tampak menyedihkan meski masih terlihat bersih.
Saat Andi melihat bantal Anita, ia mengingat sesuatu.
"dari dulu aku selalu taruh foto mama di sini!"
Andi lalu mengambil bantal di ranjang Anita namun tak ada apapun di bawahnya.
__ADS_1
Andi mengembalikan bantal itu ke tempatnya dan berjalan ke arah jendela kamar Anita. Ia tersenyum tipis saat mengingat Anita yang telah mencuri first kiss nya.
"Kamu emang nggak pulang Nit, aku bisa ngerasain kesepian ini, keheningan ini, aku tau ini nggak akan terasa sepi dan hening saat kamu ada di sini," ucap Andi.
Andi lalu keluar dari kamar Anita, menutup pintunya dan berpamitan pada bibi.
"Maaf udah ganggu waktu bibi," ucap Andi.
"Nggak papa den, bibi juga sering masuk kamar non Anita kalau lagi kangen," balas bibi.
"Tolong kabari Andi ya Bi kalau Anita pulang!"
"Baik den."
"Andi permisi bi," ucap Andi yang hanya dibalas anggukan kepala bibi.
Andi lalu masuk ke mobilnya dan meninggalkan rumah Anita.
"apa Anita tinggal di apartemen Dokter Dewi? atau emang bukan Anita yang kasih surat itu?" batin Andi bertanya tanya.
Andi lalu pulang ke rumah untuk makan siang, ia lupa jika sang mama tidak berada di rumah, alhasil ia pun makan siang sendirian.
Setelah menyelesaikan makan siangnya, Andi kembali ke home store.
Ia kembali sibuk di home store sampai tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 4 sore.
"Hai," sapa seseorang saat Andi baru saja keluar dari home store.
"Mbak cari saya?" tanya Andi.
"Enggak, saya mau ambil sisa barang saya," jawab seseorang itu.
Andi menganggukkan kepalanya lalu pergi begitu saja.
Seseorang itu lalu berlari mengikuti Andi.
"Bisa tolong antar saya?" tanyanya pada Andi.
Andi lalu memanggil Rama dengan melambaikan tangannya.
"Panggil bagian delivery, klien kita minta barangnya diantar!" ucap Andi pada Rama.
"Baik bos," balas Rama lalu segera memanggil temannya di bagian delivery.
Sedangkan Andi segera masuk ke mobilnya meninggalkan kliennya yang tampak kesal.
Andi mengendarai mobilnya ke arah tempat kerja Dini untuk menjemput Dini. Sebelum hari pernikahan Dini, Andi ingin banyak menghabiskan waktunya bersama Dini.
Andi menunggu Dini di lobby setelah memastikan Dini belum pulang.
Setelah lama menunggu, ia melihat Dini dan Adit keluar dari lift. Andipun beranjak dari duduknya dan menghampiri mereka.
"Ke rumah Ana aja gimana? ada mama juga di sana," ajak Adit memberi saran.
"Kita mau....."
"Ayo ayo, Dini udah lama nggak ketemu mbak Ana," sahut Dini cepat.
Andi yang sebenarnya ingin menolak pun akhirnya mengikuti keinginan Dini. Adit mengendarai mobilnya bersama Rudi sedangkan Andi bersama Dini.
Sebelumnya Adit sudah menjelaskan pada Rudi bagiamana hubungannya dengan Ana saat itu agar Rudi tidak terkejut saat ia melihat Ana.
Baginya Rudi tidak hanya seorang supir, dia seperti bagian dari keluarga bagi Adit.
Sesampainya di rumah Ana, mereka segera turun. Rudi berkumpul dengan Candra dan Agus, sedangkan Adit Dini dan Andi segera masuk ke dalam rumah.
Mama Siska yang saat itu sedang memijit kaki Ana tersenyum senang saat melihat Adit datang bersama Andi dan Dini.
"Mbak Ana apa kabar? Dini kangen banget sama mbak Ana!"
"Aku baik Din, kamu gimana?"
"Dini juga baik mbak," jawab Dini.
"Iiissshhh gemes banget sama perut mbak Ana, nggak sabar pingin gendong," ucap Dini gemas.
Ana hanya tersenyum senang mendengar ucapan Dini. Ia juga sudah tidak sabar menantikan kehadiran malaikat kecilnya.
"Mama tinggal disini sampai kapan ma?" tanya Andi pada sang mama.
"Sampai Ana melahirkan dan ada baby sitter yang bantuin Ana," jawab mama Siska.
Biiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Dini berdering, sebuah panggilan dari Dimas.
"Dini permisi angkat telepon sebentar," ucap Dini lalu keluar dari ruang tamu untuk menerima panggilan Dimas.
"Halo Dimas, kamu udah pulang?"
"Belum sayang, kamu di mana? masih di kantor?"
"Aku di rumah mbak Ana sekarang, ada kak Adit, Andi dan Mama Siska juga di sini," jawab Dini.
"Mbak Ana yang pernah kamu lihat di bandara sama Adit?"
"Iya bener, kamu masih ingat kan?"
"Iya aku ingat, jadi beneran mereka punya hubungan?"
__ADS_1
"Iya, ceritanya rumit nanti kalau ketemu aku jelasin," jawab Dini.
"Mama barusan hubungin aku katanya mama mau ngajak kamu buat ketemu sama WO, kamu bisa?"
"Sekarang?"
"Iya, mungkin bentar lagi mama hubungin kamu!"
"Bukannya nanti nunggu kamu ya buat ambil keputusan bersama?"
"Kita bisa sambil video call sayang, lagian aku juga ikutin apa aja yang kamu mau, semuanya aku serahin sama kamu!"
"Eh bentar ini ada pesan dari mama, aku tutup teleponnya dulu ya!" ucap dini yang melihat ada notifikasi pesan masuk dari mama Dimas.
"Oke, love you sayang!"
"Love you too."
Dini lalu membuka pesan dari mama Dimas.
Sayang, mama mau ajak kamu ketemu WO sekarang, kamu dimana? mau mama jemput?
Mama share lokasinya aja ma, Dini kesana sekarang
Setelah mama Dimas mengirim lokasinya, Dini kembali masuk berniat untuk berpamitan.
"Kenapa buru buru Din?" tanya Andi.
Dini lalu menarik tangan Andi dan berbisik.
"Mama ngajak aku ketemu WO," jawab Dini berbisik.
"Aku anterin kamu ya!" ucap Andi.
"Enggak, nggak perlu, aku bisa naik taksi," balas Dini.
Tanpa menunggu persetujuan dari Dini, Andipun berpamitan pada mama, Adit dan Ana untuk mengantarkan Dini.
Akhirnya Dini pergi ke tempat WO itu bersama Andi.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Andi dan Dini sampai.
"Kamu yakin ini tempatnya?" tanya Andi pada Dini.
"Iya, mama pasti udah di dalem," jawab Dini.
"Aku tungguin kamu di sini, kamu masuk aja!" ucap Andi.
"Aku nggak tau nanti berapa lama di dalem, kalau kamu mau pulang nggak papa," ucap Dini.
"Aku akan nunggu kamu, berapa lamapun aku akan tunggu kamu di sini," balas Andi dengan membelai rambut Dini.
Dari jauh mama Dimas melihat hal itu dan segera menghampiri Dini dan Andi.
"Kamu udah datang sayang? ayo masuk kita udah ditungguin!"
"Iya ma, aku masuk dulu yang Ndi!"
Dini lalu berjalan masuk sedangkan mama Dimas masih berada di sana menunggu Dini masuk ke dalam ruangan.
"Kenapa kamu masih di sini?" tanya mama Dimas pada Andi.
"Saya nungguin dini," jawab Andi.
"Saya akan antar Dini pulang jadi kamu pulang aja!"
"Enggak tante, saya udah janji buat nunggu Dini di sini!" ucap Andi menolak.
Mama Dimas tersenyum mengejek.
"Kamu lihat sendiri kan, Dimas dan Dini akan menikah, nggak akan lama lagi mereka akan jadi suami istri, jadi kamu jangan berharap lagi sama Dini!"
"Sebagai sahabat saya cuma bisa mendo'akan yang terbaik untuk Dini dan Dimas, tante nggak perlu khawatir!"
"Walaupun kamu sekarang adalah anak dari keluarga ternama tapi buat saya kamu bukan siapa-siapa, saya nggak akan biarin seseorang yang mengganggu kebahagiaan anak saya hidup dengan tenang!"
Andi tersenyum tipis mendengarkan ucapan mama Dimas, membuat mama Dimas kesal karena merasa diremehkan oleh Andi.
"Kenapa tante berbicara seperti itu sama saya? apa tante takut kalau Dini akan memilih saya daripada Dimas?"
"Hentikan omong kosong kamu Ndi, kamu nggak pantas buat Dini dan Dimas jauh lebih baik daripada kamu!"
"Tante jangan berlebihan, Dimas adalah sahabat saya begitupun juga Dini yang menganggap saya sebagai sahabatnya, saya nggak akan jadi orang jahat yang menghancurkan kebahagiaan sahabat saya, tapi satu yang harus tante ingat, kalau memang mereka ditakdirkan buat bersama nggak akan ada apapun yang bisa memisahkan mereka tapi kalau takdir tidak berpihak pada mereka sejauh apapun Dimas berusaha buat mendapatkan Dini, semua itu akan sia-sia!"
"Kamu......"
"Ma, mama kenapa masih di sini?" tanya Dini yang tiba-tiba datang.
"Iya mama masuk sekarang, ayo!" balas mama Dimas lalu menggandeng tangan Dini untuk masuk ke dalam.
Sedangkan Andi hanya diam dan duduk di bangku yang ada di sana.
"Iya, aku nggak pernah tahu kemana takdir membawaku, yang aku tahu sejauh ini aku masih mencintai kamu Din, dengan atau tanpa kamu disisiku aku yakin perasaan ini masih ada dalam hatiku aku, aku mencintai kamu lebih dari yang kamu tau," batin Andi dalam hati.
Tiba tiba Andi teringat ucapan sang mama saat ia belum lama tinggal bersama mama Siska.
"Kalau kamu mau, kamu bisa lanjut S2 sayang, kamu bisa kuliah di tempat Adit selesaiin S2 nya, di Amerika!"
"kuliah di Amerika?" tanya Andi dalam hati.
__ADS_1