Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Rasa yang Tak Dimengerti


__ADS_3

Alarm pagi membangunkan Adit dari tidurnya. Matanya mengerjap dan meraba raba ponsel di meja dekat ranjangnya.


Saat ia membuka matanya, ia tak melihat Ana di sampingnya. Adit lalu menghubungi Ana, memastikan jika ana sudah kembali ke rumahnya.


"Halo An, lo udah pulang?" tanya Adit setelah Ana menerima panggilannya.


"Iya, gue udah siapain sandwich di meja buat lo sarapan!"


"Thanks An."


"Oke."


Klik. Sambungan berakhir.


Adit lalu mandi dan bersiap untuk pergi ke kantor, tak lupa ia memakan sandwich yang sudah disiapkan Ana untuknya.


Sebelum berangkat ke kantor, Adit menyempatkan waktunya untuk ke rumah sang mama. Di sana, dilihatnya sang mama sedang melukis di taman bunga depan rumahnya.


"Pagi ma," sapa Adit lalu mencium kening mamanya.


"Pagi sayang, kamu mau sarapan?"


"Udah kok ma, Adit cuma mampir bentar ke sini!"


"Mama baik baik aja Dit, kamu nggak perlu khawatirin mama."


"Adit seneng mama baik baik aja, gimana kalau nanti sore kita cari bunga?"


"Ide bagus tuh, nanti mama ke kantor kamu ya!"


"Mama tunggu aja di rumah, nanti Adit pulang cepet kok."


30 menit sebelum jam 7, Adit berpamitan pada sang mama untuk berangkat ke kantor.


Seperti biasa, selalu ada minuman hangat untuknya di meja kerjanya. Lalu tak lama setelah ia minum Dini akan datang dan memberinya jadwal harian.


Entah kenapa ia tiba tiba memikirkan Ana. Ia merasa sesuatu telah terjadi pada Ana, namun ia tak bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Adit tak ingin terlalu memikirkan hal itu, ia yakin Ana akan menceritakan padanya jika Ana sedang bermasalah. Ia pun kembali fokus pada pekerjaannya.


Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, Dini sudah bersiap untuk meninggalkan ruangannya karena Dimas sudah menunggunya di depan.


"Kak, Dini makan siang di luar ya!" ucap Dini pada Adit sebelum ia keluar.


Adit hanya mengangguk dengan masih fokus pada layar komputer di hadapannya.


Di luar kantor, seorang laki laki berdiri di samping mobilnya menunggu sang gadis datang. Ketika gadis yang ditunggunya datang, laki laki itu segera merentangkan tangannya bersiap memeluk sang gadis. Seperti biasa, kecupan manis di kening selalu ia berikan pada gadisnya.


Mereka lalu masuk ke dalam mobil dan menuju ke sebuah pusat perbelanjaan.


"Tumben kamu ngajak makan di sini!"


"Cari suasana yang beda aja sayang," balas Dimas.


Mereka berjalan dengan bergandengan tangan. Sesekali mereka tampak bercanda dan tertawa. Kebahagiaan tergambar dengan jelas di wajah mereka berdua.


**


Di tempat lain, Andi sedang berada di home store bersama Anita. Setelah kepergian Dimas siang itu, Anita datang dengan membawa makanan dan minuman.


"Aku pikir Dimas masih di sini," ucap Anita sambil membuka makanan dan memberikannya pada Andi.


"Kamu kesini mau ketemu aku apa Dimas?" tanya Andi.


"Kamu lah, Dimas mana mau ketemu aku!"


Mereka lalu makan siang bersama di home store.


"Ndi, apa menurut kamu Dimas nggak akan maafin aku selamanya?" tanya Anita pada Andi.


"Asal kamu bisa tunjukin ke Dimas kalau kamu beneran punya niat baik, Dimas pasti maafin kamu," jawab Andi.


"Tapi sampe sekarang dia nggak mau maafin aku, dia nggak mau ketemu aku lagi!"


"Kasih Dimas waktu Nit, dia pasti maafin kamu kok, kamu tau kan Dimas itu baik!"


"Iya, aku tau," balas Anita.


Tiba tiba ia mengingat kedekatannya dengan Dimas waktu SMA dulu. Bagaimana ia tidak jatuh cinta pada laki laki yang begitu perhatian padanya, laki laki yang selalu membantunya dan sangat peduli padanya.


Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia bertemu laki laki yang memberinya kenyamanan dan keindahan cinta dalam hatinya.


Meski ia tau Dimas tidak memiliki perasaan yang sama sepertinya, setidaknya ia sudah berusaha untuk menumbuhkan rasa itu di hati Dimas meski ia gagal.


"Kenapa senyum senyum sendiri sih, mikirin apa?" tanya Andi yang melihat Anita tersenyum tanpa sebab.


"Nggak papa, aku cuma inget kejadian kejadian waktu SMA aja, aku, kamu, Dini sama Dimas, kita dulu sering ngabisin waktu bareng kan!"


"Iya, tapi......"


"Semuanya berubah gara gara aku," ucap Anita memotong ucapan Andi.


"Yang penting sekarang kamu harus jadi pribadi yang lebih baik lagi Nit," balas Andi.


Anita mengangguk dengan senyum yang dipaksakan.


"Andi, kamu nggak punya rencana buat jujur sama Dini tentang perasaan kamu?"


Andi menggeleng pelan.


"Liat Dini bahagia kayak sekarang aja udah bikin aku bahagia Nit, jadi kenapa aku harus ungkapin perasaanku kalau pada akhirnya akan bikin Dini bingung."

__ADS_1


"Tapi kamu juga berhak bahagia Ndi, bahagia dengan pilihan hati kamu!"


"Apa kalau aku bahagia, Dini akan bahagia? aku terlalu egois kalau cuma mikirin kebahagiaan ku sendiri Nit, aku juga harus mikirin Dini dan Dimas."


"Aku nggak tau gimana caranya kamu bisa bertahan dengan perasaan itu selama ini, aku juga nggak tau seberapa besar hati kamu terluka karena perasaan itu. "


"Luka itu akan sembuh dengan sendirinya tiap aku liat senyum Dini, kebahagiaan Dini yang menguatkan aku buat bisa setegar ini!"


"Andai aku bisa kayak kamu Ndi."


"Semua orang punya caranya sendiri sendiri Nit, yang penting cara yang kamu pilih nggak nyakitin orang lain."


Anita mengangguk lalu memeluk Andi yang duduk di sampingnya.


"Dini beruntung banget ya punya sahabat kayak kamu," ucap Anita.


Andi hanya tersenyum dan melepas tangan Anita yang memeluk dirinya.


"Ndi, nanti ikut aku cari bunga yuk, aku pingin tanam bunga di halaman rumah!"


"Dimana?"


"Aku tau tempatnya, nggak terlalu jauh kok, bisa kan?"


"Oke."


**


Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Dini sudah bersiap untuk pulang setelah ia membereskan pekerjaannya. Setelah memastikan tidak ada lagi yang harus dikerjakan, Dini segera keluar dari kantor.


Di depan kantor sudah ada Dimas yang menunggunya. Seperti biasa, pelukan dan kecupan singkat selalu Dimas berikan pada gadis yang dicintainya itu.


Tanpa mereka tau, seseorang melihat apa yang Dimas dan Dini lakukan di depan kantor. Seseorang itu lalu masuk ke dalam kantor untuk menemui anak laki lakinya.


"Mama, ini Adit baru aja selesai, mama sama pak Lukman?" tanya Adit ketika ia menyadari kedatangan sang mama.


"Iya, tapi mama suruh dia pulang," jawab mama Adit lalu duduk di hadapan Adit.


"Dini udah pulang Dit?" tanya mama pada Adit.


"Udah barusan, mama nggak ketemu dia?"


"Mama liat dia sama cowok, mesra banget, pacarnya?"


"Oh iya, mereka udah tunangan," jawab Adit santai.


"Tunangan? tapi kamu....."


"Ma, mereka udah lama berhubungan, Adit juga baru tau kalau mereka udah tunangan."


"Jadi kamu bener bener nggak ada perasaan apa apa ya sama Dini?"


Mama Adit diam. Ia tau ia tidak bisa memaksakan kehendaknya agar Adit segera memiliki pacar.


"Mama jangan sedih dong," ucap Adit dengan menggenggam tangan mamanya.


Mama Siska menggeleng lalu tersenyum tipis. Merekapun keluar dari ruangan Adit dan berangkat untuk mencari bunga.


Sesampainya di toko bunga, Adit dan mamanya berkeliling mencari bunga yang cocok untuk sang mama. Tiba tiba Adit terduduk dengan memegangi dadanya yang terasa nyeri.


"kenapa aku ngerasa kayak gini lagi, ada apa sebenarnya?"


"Kamu kenapa sayang?" tanya mama Siska yang melihat Adit tampak kesakitan.


"Nggak papa ma, Adit nggak papa," jawab Adit berbohong.


Entah kenapa perasaannya menjadi tidak tenang.


"Kita pulang aja ya, kamu pasti kecape'an!" ajak sang mama.


"Adit nggak papa ma, mama lanjut cari bunga nya aja, Adit tunggu mama di sini."


"Kamu yakin?" tanya mama meyakinkan.


"Yakin ma, mama cari aja bunganya."


Mama Adit pun meninggalakan Adit yang masih duduk di dekat pintu masuk.


Tak lama kemudian, seseorang masuk dan berjalan di antara bunga bunga di sana. Adit segera bangun dari duduknya dan menarik tangan seseorang itu.


Andi yang terkejut karena Adit menarik tangannya dengan tiba tiba segera melawan dan hendak mengayunkan tinjunya pada Adit.


Namun begitu ia melihat itu adalah Adit, Andi mengurungkan niatnya untuk menyerang Adit. Ia lalu menarik tangannya dengan kasar.


"Maksud lo apa sih?" tanya Andi kesal.


"Lo ngapain di sini? mau ganggu mama lagi?"


"Gue nggak ada urusan lagi sama tante Siska, gue ke sini mau beli bunga, salah?"


"Lo beli bunga? lo pikir gue bodoh, lo......"


"Andi!" panggil Anita yang baru saja masuk.


Andi menoleh ke arah Anita dan melambaikan tangannya pada Anita.


"Gue nganterin dia beli bunga, apa gue dilarang beli bunga di sini?"


"Gue nggak mau mama ketemu lo lagi!"


"Bukan masalah gue!" ucap Andi lalu melangkah meninggalkan Adit.

__ADS_1


"Ndi tolong, pergi dari sini sebelum mama liat lo," ucap Adit memohon dengan menahan tangan Andi yang mulai basah.


Andi menarik tangannya dengan kasar lalu mengajak Anita untuk keluar dari tempat itu.


"Kita cari bunga di tempat lain aja!" ucap Andi pada Anita.


"Tapi Ndi....."


"Ayo Nit, aku nggak mau lama lama di sini!" ucap Andi lalu segera menarik tangan Anita untuk diajak keluar.


Entah kenapa Andi merasa hatinya begitu gelisah dan sedih saat itu.


"Ada apa Ndi? kamu kenal sama cowok tadi?" tanya Anita pada Andi.


Andi hanya diam tak menjawab pertanyaan Anita. Ia sebenarnya kesal pada Adit, tapi rasa kesal itu seolah beriringan dengan kegelisahan dan kesedihan dalam hatinya, membuatnya semakin tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.


"Andi, dia siapa?" tanya Anita setengah berteriak.


"Jangan ganggu aku Nit, aku lagi fokus nyetir," jawab Andi yang sedang mengendarai mobil Anita.


"Oke oke sorry," balas Anita.


Di sisi lain, Adit segera menghampiri mamanya begitu Andi pergi dari tempat itu. Ia harus memastikan sang mama tidak bertemu Andi lagi.


Sebenarnya Adit tidak membenci Andi, ia hanya tidak ingin Andi datang dengan memberikan harapan palsu pada mamanya yang akan berakhir dengan hal buruk yang menimpa sang mama.


"Udah dapet ma?" tanya Adit pada mamanya.


"Udah sayang, tinggal bayar aja."


Setelah mendapatkan bunga yang diinginkan sang mama, Adit dan mamanya pun pulang.


Sesampainya di rumah, mereka segera memindahkan bunga itu ke dalam sebuah pot yang sudah mama siapkan.


"Dit, kamu nggak pernah ketemu Andi?" tanya mama Siska pada Adit.


"Andi? enggak, Adit akhir akhir ini sibuk ma, jadi nggak pernah keluar," jawab Adit berbohong.


"Mama kangen sama dia," ucap sang mama dengan menatap kosong ke arah bunga yang baru saja dibelinya.


"Mama mau ketemu dia?"


Mama Adit menggeleng pelan.


"Mama bukan siapa siapanya Dit, mama juga baru kenal dia, mungkin karena namanya sama dan kita punya hobi yang sama, mama jadi merasa dekat sama dia."


"Dia cuma orang lain yang kebetulan nolongin mama waktu itu, cukup mama ingat kebaikannya aja, jangan berharap apapun sama dia ma."


"Iya Dit, mama tau itu."


**


Malam telah datang membawa bulan dan bintang. Dengan pakaian yang sama sama berwarna putih, Dini dan Dimas sudah siap untuk makan malam bersama mama dan papa Dimas.


"Aku gugup," ucap Dini pada Dimas.


"Kenapa? kan ini bukan yang pertama!"


"Iya sih, tapi aku udah lama nggak ke sini."


Tak lama kemudian mama dan papa Dimas keluar dari kamar. Merekapun memulai makan malam dengan tenang.


"Gimana kabar kamu sama ibu sayang?" tanya mama Dimas pada Dini.


"Baik ma, mama sama papa apa kabar?"


"Kita semua baik, selama hubungan kalian baik baik aja, kabar mama papa juga pasti baik."


Dini hanya tersenyum canggung menanggapi ucapan mama Dimas.


"Ikut mama ke kamar bentar sayang!" ajak mama Dimas pada Dini.


Dini mengangguk lalu mengikuti mama Dimas masuk ke dalam kamar. Sebuah kamar yang sangat besar bagi Dini jika dibandingkan dengan kamar di rumahnya.


"Duduk sayang!"


Dinipun duduk di tepi ranjang besar yang ada di ruangan itu. Mama Dimas lalu mengambil sebuah kotak dan memberikannya pada Dini.


"Buat kamu, semoga kamu suka," ucap mama Dimas.


"Makasih ma, Dini buka ya ma!"


Mama Dimas mengangguk. Dinipun membuka kotak itu dan begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Satu set perhiasan yang tampak mewah memenuhi kotak di tangannya.


"Ini semua buat Dini ma?" tanya Dini tak percaya.


"Iya sayang, anggap ini hadiah dari mama."


"Tapi ini....."


"Tolong kamu terima ya, kalau kamu nggak suka, mama bisa carikan model lain yang kamu suka."


"Dini suka kok ma, makasih ma!" ucap Dini sambil memeluk mama Dimas.


"Mama tau Dimas cinta banget sama kamu, Apapun akan dia lakukan buat kamu, begitu juga mama, mama akan menyayangi kamu seperti mama menyayangi Dimas."


Dini hanya diam, ia sudah kehilangan kata kata untuk mengungkapkan perasaannya saat itu. Rasa bahagia dan haru yang dirasakannya membuat matanya berkaca kaca.


"Jaga hubungan kalian baik baik ya, selesaikan masalah kalian dengan baik, mama sama papa cuma bisa bantu sebisa kita, kalian yang menjalani dan kalian yang memutuskan sendiri, tapi mama harap kamu sama Dimas bisa mencapai mimpi kalian berdua karena mama tau kalian saling mencintai," ucap mama Dimas dengan menggenggam tangan Dini.


Dini mengangguk lalu kembali memeluk mama Dimas. Air matanya sudah tumpah saat itu. Air mata bahagia yang semakin memenuhi setiap sudut ruang hatinya.

__ADS_1


__ADS_2