Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Ucapan Mama Siska


__ADS_3

Pagi telah datang. Dini sudah berada di belakang meja kerjanya melakukan kesibukannya seperti biasa.


Saat jam makan siang tiba, Adit masuk ke ruangan Dini dan mengajak Dini untuk makan siang bersama di rumahnya.


Dini dan Aditpun meninggalkan kantor dan pergi ke rumah mama Siska bersama Rudi sebagai supir. Sesampainya di sana sudah ada Andi dan mama Siska yang menunggu di meja makan.


Setelah sedikit berbasa basi merekapun menikmati makan siang mereka.


"Gimana keadaan kantor Dit? everything okay?" tanya mama Siska pada Adit.


"Everything okay ma, nggak ada yang perlu mama khawatirkan," jawab Adit.


"Kalau clothing arts kamu gimana?" tanya mama Siska pada Andi.


"Baik baik aja ma, Andi baru nambah pegawai juga," jawab Andi.


"Mama seneng liat kalian sukses sama bisnis kalian masing masing," ucap mama Siska.


"Kamu gimana Din? masih betah kerja sama Adit?" lanjut mama Siska bertanya pada Dini.


"Dini suka kerja sama kak Adit ma," jawab Dini dengan senyum manisnya.


"Kalau boleh mama tau, kenapa kamu kerja di perusahaan Adit? bukannya calon mertua kamu pemilik perusahaan terbesar?"


Dini lalu membawa pandangannya pada Andi, seolah meminta bantuan karena ia tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya pada mama Siska tentang permintaan ibu Dini saat terjadi salah paham dengan Dimas.


"Dini nggak mau orang orang berpikir kalau Dini bisa kerja di sana karena Dini tunangan Dimas ma, mama kan tau kualifikasi buat kerja di sana sangat tinggi," ucap Andi menjawab pertanyaan sang mama untuk Dini.


"Tapi kemampuan kamu emang layak kok buat ada di perusahaan om Tama," sahut Adit.


"Dini agak kurang nyaman aja kak," ucap Dini memberi alasan.


"Tapi bagus juga sih kamu keluar dari sana, karena berkat kamu kakak bisa dapet personal assistan yang sesuai sama kriteria kakak," balas Adit.


"Bukannya lo nolak dia dulu?" tanya Andi pada Adit.


"Ya itu sebelum gue tau gimana hasil kerjanya, ternyata di balik sikapnya yang pemalu dia hebat banget," jawab Adit dengan mengacak acak rambut Dini namun Andi segera memukul tangan Adit.


"Tuh ma, liat kan? Andi protektif banget sama Dini hahaha...." ucap Adit pada sang mama.


"Kamu protektif apa cemburu?" tanya mama Siska menggoda sang anak.


"Adit kebiasaan sentuh orang sembarangan ma," jawab Andi.


"Kakaknya mana?" tanya Adit yang mendengar Andi hanya memanggil namanya.


"Lupa," balas Andi singkat.


Tiba tiba salah satu asisten rumah tangga mama Siska datang dan memberi tau jika ada tamu.


"Permisi, ada tamu mas Adit dan mas Andi di luar."


"Tamu saya? saya nggak ada janji sama siapa siapa kok," balas Andi.


"Ada, ayo!" ucap Adit lalu menarik tangan Andi.


Tamu yang dimaksud oleh asisten rumah tangga mama Siska itu adalah seorang arsitek kenalan Adit yang akan membantu Adit dan Andi memulai membangun ruang baca mereka.


Andi dan Aditpun meninggalkan meja makan dan pergi ke ruang tamu.


Tinggal Dini dan mama Siska yang ada di meja makan.


"Gimana hubungan kamu sama Dimas Din?" tanya mama Siska pada Dini


"Baik ma," jawab Dini.


"Kamu inget nggak waktu pertama kali kamu temui mama?"


"Waktu di rumah sakit ya ma?" balas Dini bertanya.


"Iya, waktu Adit kenalin kamu sebagai pacarnya, mama seneng banget waktu itu, akhirnya Adit punya pacar dan mama bisa buktiin kalau ucapan temen arisan mama tentang Adit itu nggak bener," jawab mama Siska.


"Maaf karena udah berbohong sama mama siska waktu itu," ucap Dini yang merasa bersalah.


"Justru mama yang harus minta maaf karena udah libatin kamu dalam masalah keluarga mama," ucap mama Siska.


"Tapi Dini seneng karena bisa kenal mama."


"Mama juga seneng karena bisa kenal kamu, mama seneng banget sampe mama berharap kalau kamu dan Adit akan beneran pacaran karena mama tau kalian berbohong waktu itu," ucap mama Siska.


Dini hanya tersenyum canggung mendengarkan ucapan mama Siska.


"Mama suka kamu karena kepribadian kamu yang baik Din, kalau memang kamu nggak berjodoh sama Adit, mama sangat berharap kamu bisa berjodoh sama anak mama yang lain," ucap mama Siska yang membuat Dini begitu terkejut.


"anak mama Siska yang lain? Andi?" batin Dini dalam hati.


"Maaf, nggak seharusnya mama bilang kayak gini, kamu kan udah punya tunangan," ucap mama Siska.

__ADS_1


Lagi lagi Dini hanya bisa tersenyum canggung menanggapi ucapan mama Siska.


"Mama liat kamu sama Andi deket banget, kalian saling memahami satu sama lain, kalian saling peduli dan saling menyayangi, mama jadi berharap lebih sama hubungan kalian," ucap mama Siska.


"Andi sama Dini bersahabat dari kecil ma, kita sekolah dan kuliah di tempat yang sama, hampir seluruh hidup Dini selalu Dini jalani sama Andi sampai saat ini dan sampai sekarangpun hubungan kita nggak berubah, kita masih bersahabat seperti dulu," ucap Dini yang pada akhirnya membuka suara.


"Persahabatan anak SD, SMP, SMA, kuliah sampai dunia kerja nggak ada yang sama Din, setelah perjalanan kalian berdua yang sangat lama, mama yakin hubungan yang kamu sebut sahabat itu sudah berbeda, entah kamu yang belum sadar atau kamu yang nggak mau menyadarinya," ucap mama Siska.


"Dini yakin sampai detik ini kita masih jadi sahabat ma, kalau mama bilang berbeda mungkin iya, kita semakin dekat, semakin dewasa dalam menentukan sikap dan semakin saling menyayangi satu sama lain, tapi semua itu tetap berada di lingkaran yang Dini dan Andi sebut sahabat," ucap Dini.


Mama Siska tersenyum tipis mendengar ucapan Dini.


Tak lama kemudian Andi dan Adit datang.


"Kamu kenapa Din?" tanya Andi yang menyadari raut wajah Dini tampak tertekan.


"Enggak, nggak papa," jawab Dini dengan berusaha tersenyum, namun Andi yakin jika Dini tidak sedang baik baik saja.


Andi dan Adit lalu kompak membawa pandangan mereka ke arah mama Siska, namun mama Siska hanya diam dan menyeruput minuman di hadapannya.


"Kamu balik ke kantor sama aku ya?" ucap Andi pada Dini.


Dini hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Andi.


"Andi sama Dini duluan kak, ma!" ucap Andi lalu menarik tangan Dini agar mengikutinya.


"Dini permisi kak, ma, terima kasih makan siangnya," ucap Dini berpamitan pada mama Siska dan Adit.


"Sebelum jam 1 udah ada di kantor ya Din!" ucap Adit pada Dini.


"Iya kak," balas Dini lalu keluar dari rumah itu bersama Andi.


Adit yang masih bersama sang mama segera bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi ketika Adit dan Andi pergi ke ruang tamu.


"Nggak ada apa apa Dit, mama cuma nanya nanya aja!" ucap mama Siska.


"Mama tau Andi selalu sensitif tentang Dini, dia nggak mungkin tanyain keadaan Dini kalau dia nggak liat sesuatu yang beda dari Dini," ucap Adit.


"Kamu bener, Andi memang sangat sensitif kalau berhubungan sama Dini, menurut kamu kenapa?"


"Karena mereka udah sama sama dari kecil ma," jawab Adit.


"Atau karena Andi udah nggak anggap Dini sahabatnya," ucap mama Siska.


"Maksud mama?"


Adit laju tertawa kecil mendengar ucapan sang mama.


"Kenapa kamu tertawa? bagian mana yang lucu?" tanya mama Siska.


"Mama bukan orang pertama yang bilang kayak gitu, jauh sebelum mama kenal mereka, banyak orang yang udah salah paham sama hubungan mereka, dari mereka sekolah mereka udah kayak pacaran, sikap mereka, kedekatan mereka bikin banyak orang salah paham," jawab Adit menjelaskan.


"Tapi....."


"Ma, Andi udah dewasa, walaupun mama baru ketemu dia sekarang tapi dia bukan anak kecil lagi ma, biarkan dia selesaiin masalah pribadinya sendiri, biarin dia jalanin apa yang udah dia pilih, kalau dia butuh mama buat gandeng tangannya, dia akan datangin mama tanpa mama harus selalu ikutin dia dan ngatur semuanya tentang hidupnya," ucap Adit berusaha menasihati sang mama.


Mama Siska terdiam mendengar ucapan Adit. Ia hanya ingin Andi bahagia dan ia yakin kebahagiaan nya hanyalah Dini.


Dini, perempuan baik yang juga ia sayangi seperti anaknya sendiri. Ia ingin Andi bisa bersama Dini selamanya, namun Dini sudah mempunyai pilihan. Dini sudah bersama seseorang yang memiliki hatinya saat itu dan seseorang itu adalah teman baik Andi sendiri.


"Kasih Andi kebebasan buat tentuin pilihannya sendiri ma, dia yang paling tau apa yang bikin dia bahagia," ucap Adit.


Mama Siska hanya menganggukkan kepalanya lalu meninggalkan meja makan.


Di tempat lain, Dini dan Andi dalam perjalanan kembali ke kantor Adit.


"Ada apa Din? apa mama ngomong sesuatu yang mengganggu kamu?" tanya Andi pada Dini.


Dini hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Jangan bohong Din, kita udah lama deket, aku tau kamu lagi nggak baik baik aja," ucap Andi.


"Aku seneng kenal mama Siska Ndi, aku jadi punya keluarga baru selain ibu dan mama papanya Dimas, mama Siska juga baik banget sama aku," ucap Dini.


"Jadi yang bikin kamu sedih apa?" tanya Andi.


Dini lalu menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan.


"Nggak ada," jawab Dini dengan tersenyum, senyum manis yang ia paksakan.


"Cerita sama aku Din, aku pasti percaya sama kamu," ucap Andi dengan membelai rambut Dini


"Nggak ada apa apa Ndi, aku baik baik aja kok," balas Dini.


"Oke kalau kamu nggak mau cerita sekarang nggak papa, aku akan nunggu sampai kamu siap buat cerita sama aku," ucap Andi.


"aku nggak mungkin cerita sama kamu Ndi, aku nggak mau ada kesalahpahaman antara kamu dan mama Siska," batin zdini dalam hati.

__ADS_1


"Kita mau kemana? aku harus balik ke kantor Ndi!" tanya Dini yang baru menyadari jika Andi sudah melewati kantor Adit.


Andi hanya tertawa lalu membelokkan mobilnya ke arah sebuah kafe. Setelah memarkirkan mobilnya ia turun bersama Dini.


"Kamu nggak akan telat, tenang aja," ucap Andi lalu menggandeng tangan Dini dan mengajaknya masuk ke dalam kafe.


Andi lalu memesan beberapa ice cream untuk Dini.


"Kamu emang paling bisa balikin mood ku," ucap Dini yang tampak senang dengan ice cream di hadapannya.


"Aku mau kamu bener bener bahagia Din, bukan pura pura bahagia, jadi lupain sebentar masalah kamu dan ceritain ke aku kalau kamu udah siap buat cerita," ucap Andi.


Dini hanya menganggukkan kepalanya lalu menyuapi Andi ice cream miliknya.


Lokasi kafe yang dekat dengan tempat kerja Dini membuatnya tidak terburu buru untuk segera kembali ke kantor.


Setelah menghabiskan ice cream di meja, Dini lalu kembali ke kantor bersama Andi.


"Nanti sore aku jemput kamu ya, kabari aku!" ucap Andi sebelum meninggalkan Dini.


Dini hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu melambaikan tangannya pada Andi yang sudah bersiap untuk pergi.


Setelah kepergian Andi, Dini segera masuk dan kembali ke meja kerjanya.


**


Di tempat lain, Dimas sedang makan siang di kantin bersama temannya.


Tiba tiba salah satu temannya yang lain menghampiri nya dan memberi tahunya jika ada perempuan yang mencarinya.


"Siapa?" tanya Dimas.


"Gue nggak tanya namanya, tapi yang jelas cewek cantik!" jawab teman Dimas.


"Lo yakin dia cari gue? bukan Dimas yang lain?"


"Yakin lah, dia cari Dimas Raditya Adhitama, siapa lagi yang pake nama belakang Adhitama kalau bukan lo," jawab teman Dimas dengan yakin.


"Tunangan lo mungkin," sahut teman Dimas yang lain.


"Andini? nggak mungkin," batin Dimas lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Dini.


"Halo sayang, kamu dimana?" tanya Dimas saat Dini sudah menerima panggilannya.


"Aku di kantor, kenapa?" jawab Dini sekaligus bertanya.


"Sama Adit?" tanya Dimas memastikan.


"Enggak, kak Adit masih on the way kayaknya, ada apa sih?"


"Ada yang cari aku di kantor, aku pikir kamu."


"Nggak mungkin aku kesana sekarang Dimas, kamu tau aku nggak mungkin ninggalin kerjaan ku di sini!" ucap Dimas.


"Berarti yang cari aku....."


"Anita? atau Chelsea?"


"Aku juga nggak tau sayang, tapi aku nggak akan temui dia kok," jawab Dimas.


Setelah panggilannya dengan Dini berakhir. Tiba tiba seseorang memanggil namanya, namun Dimas hanya diam karena ia mengenali suara itu.


"Nih cewek yang cariin lo, gue sengaja bawa dia ke sini, kasian kalau nunggu lama di depan," ucap teman Dimas.


Dimas hanya tersenyum tipis membiarkan perempuan itu duduk di sampingnya.


"Kamu ada perlu apa?" tanya Dimas dingin.


"Aku bawain kamu bekal makan siang," ucap Anita dengan mengeluarkan beberapa kotak dari dalam tas yang ia bawa.


"Kamu nggak perlu......"


"Aku kursus memasak Dimas dan ini salah satu hasil dari kursus ku, cobain deh!" ucap Anita memotong ucapan Anita.


"Maaf Nit aku udah makan siang, aku juga harus balik ke atas, jam makan siangku udah habis!" ucap Dimas lalu berdiri dari duduknya, namun Anita menahan tangan Dimas, membuat beberapa teman Dimas membulatkan mulutnya melihat apa yang terjadi di hadapan mereka.


"Kamu menghindar lagi?" tanya Anita tanpa melepas tangan Dimas.


Dimas lalu menarik tangan Anita pelan agar melepaskan tangannya.


"Kamu liat jam berapa sekarang? jam makan siangku udah habis Anita," ucap Dimas yang berusaha bersabar pada Anita.


"Tapi aku udah masak ini khusus buat kamu loh!" ucap Anita yang tampak kecewa.


Dimas lalu mengambil kotak makan milik Anita dan berterima kasih lalu berlalu pergi.


Sebelum keluar dari kantin, Dimas memberikan kotak makanan itu pada temannya, membuat Anita kesal karenanya.

__ADS_1


__ADS_2