Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Kecemburuan Ana


__ADS_3

Malam telah berlalu. Adit bangun pagi pagi sekali sebelum matahari menyapa.


Setelah membasuh wajahnya, Adit menulis pesan untuk Ana dan diletakkan di meja Ana sebelum ia pulang ke rumah mama Siska.


Tak lupa Adit mencium kening Ana sebelum ia meninggalkan kamar Ana. Setelah berpamitan pada Bu Desi, Adit pun meninggalkan rumah itu.


Sesampainya di rumah mama Siska, Adit segera mandi dan bersiap untuk ke kantor.


"Jadi kapan kamu kenalin mama sama pacar kamu?" tanya mama Siska saat Adit, Andi dan sang mama sedang berada di meja makan.


Adit lalu membawa pandangannya pada Andi, pandangan tajam yang seolah siap menerkam.


"Gue nggak tau apa apa, gue nggak bilang apa apa juga sama mama!" ucap Andi yang merasa mendapat tatapan mematikan dari Adit.


"Mama ini mama kamu Adit, mama pasti tau kalau kamu lagi jatuh cinta, iya kan?"


Adit hanya tersenyum kecil lalu melanjutkan sarapannya tanpa menjawab pertanyaan sang mama.


"Mama udah bilang kan kalau mama pasti setuju sama siapapun kamu berhubungan, asalkan dia perempuan baik baik," ucap mama Siska.


"Kita bahas itu lain kali ya ma," balas Adit lalu meneguk minuman di hadapannya.


"Adit berangkat dulu," ucap Adit lalu mencium kening sang mama dan segera meninggalkan meja makan.


Adit sengaja menghindar dari pembahasan yang diucapkan sang mama, bukan karena ia ingin selamanya menyembunyikan Ana, hanya saja ia masih ragu apakah mamanya bisa menerima Ana atau tidak.


"maafin Adit ma," ucap Adit dalam hati lalu segera mengendarai mobilnya ke arah tempat kerjanya.


Sesampainya di kantor, Adit segera masuk ke ruangannya dan seperti biasa sudah ada minuman hangat di meja kerjanya yang berarti Dini sudah kembali bekerja.


Tak lama kemudian Dini masuk ke ruangan Adit, memberikan jadwal harian Adit.


"Kamu sudah sehat?" tanya Adit.


"Sudah pak," jawab Dini.


"Bagus, karena hari ini kita harus lembur!" ucap Adit sambil memberikan sebuah map pada Dini.


"Revisi berkas ini secepatnya, saya tunggu!"


"Baik pak, saya permisi," balas Dini lalu keluar dari ruangan Adit dengan membawa map pemberian Adit.


"baru juga masuk kerja udah disuruh lembur aja, dasar bos nggak berperikemanusiaan," gerutu Dini dalam hati.


Dinipun segera mengerjakan perintah dari Adit.


Sebelum jam makan siang, mama Siska menghubungi Adit, meminta Adit untuk mengajak Dini makan siang bersama di rumah.


Biiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Adit kembali berdering, tepat pada jam 12. Bukan panggilan dari sang mama, melainkan dari perempuan kedua yang sangat ia cintai setelah mamanya.


"Halo An, ada apa?"


"Nggak papa, kamu nanti makan....."


"Kak Adit, nggak makan siang?" tanya Dini yang baru saja masuk ke ruangan Adit.


Mendengar suara perempuan lain, Ana mengentikan ucapannya.


"Mama ngajak kamu makan siang di rumah, kamu tunggu kakak di bawah, bentar lagi kakak turun!" ucap Adit pada Dini.


"Oke, jangan lama lama!" balas Dini lalu kembali keluar dari ruangan Adit.


Adit hanya menganggukkan kepalanya lalu kembali berbicara pada Ana.


"Halo An, maaf tadi ada Dini, kamu bilang apa tadi?"


"Nggak papa, kamu jangan lupa makan siang!" jawab Ana.


"Iya, kamu juga, jangan lupa minum susunya juga."


"Iya, ya udah kalau gitu, bye!"


"Bye An!"


Adit lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku dan keluar dari ruangannya.


Adit dan Dini lalu pulang ke rumah mama Siska untuk makan siang. Sesampainya di sana sudah ada Andi yang menunggu di meja makan.


"Kamu udah kerja lagi? Adit bilang kamu sakit!" tanya Andi pada Dini.


"Aku udah sehat kok, gimana hasil cek up kamu kemarin? kamu belum cerita sama aku!"


"Baik, beberapa bulan lagi aku udah bisa beraktivitas normal lagi," jawab Andi.


"Tapi tetep jangan terlalu sibuk Ndi!"


"Kenapa? kamu takut Andi nggak ada waktu buat kamu?" sahut Adit bertanya.


"Kak Adit jangan ikut campur deh!" balas Dini dengan memukul lengan Adit.


"Kakak emang suka ikut campur masalah bocah hehe..."


"Bocah gini juga bisa kerjain semua tugas dari kak Adit!"


"Iya iya, kamu emang bocah paling pinter," ucap Adit dengan mengacak acak rambut Dini, namun Andi segera berdiri dan memukul tangan Adit dengan sendok.


"Singkirin tangan lo!" ucap Andi yang tampak kesal.


"Kenapa? lo cemburu?" balas Adit dengan kembali mengacak acak rambut Dini, sengaja menggoda Andi.


PLAAAKKK


Dini lalu memukul kepala Adit dengan sendok di hadapannya, membuat Adit mengaduh kesakitan.


"Kalian kejam banget sih!" ucap Adit yang hanya dibalas tawa oleh Andi dan Dini.

__ADS_1


"Ini kenapa ribut ribut sih, ayo makan sebelum jam makan siang kalian selesai!" ucap mama Siska yang baru datang dengan membawa lauk.


"Mereka yang kejam sama Adit ma!" ucap Adit mengadu pada sang mama.


"Kak Adit yang ganggu Dini ma," sahut Dini.


"Iya ma, Adit yang duluan rese'!" sahut Andi menimpali.


"Udah udah, jangan berantem di depan makanan, kalian semua emang kayak anak kecil kalau lagi ngumpul!" balas mama Siska.


Mereka lalu menikmati makan siang mereka bersama.


"Udah dapet gedung baru nya?" tanya Adit pada Andi.


"Belum, udah liat beberapa pilihan, tapi belum ada yang cocok!" jawab Andi.


"Lo cari yang gimana?"


"Yang pasti bisa buat tempat produksi sekalian sama tempat buat temen gue tinggal di sana!"


"Gue ada temen yang bisa bantu lo, barangkali lo bisa dapat gedung yang lo mau dari dia!" ucap Adit sambil mengirimkan kontak temannya pada Andi.


"Thanks," balas Andi.


Adit hanya menganggukkan kepalanya lalu bersiap untuk kembali ke kantor bersama Dini.


"Adit sama Dini balik ke kantor dulu ya ma," ucap Adit lalu mencium kening sang mama.


"Iya sayang, hati hati," balas mama Siska.


"Aku balik dulu Ndi," ucap Dini pada Andi.


"Hati hati Din," balas Andi dengan memeluk Dini.


"Kalau bos kamu itu macem macem, kamu bisa hubungi aku," ucap Andi sebelum ia melepaskan Dini dari pelukannya.


Adit hanya menggelengkan kepalanya lalu menarik tangan Dini untuk diajak keluar meninggalkan meja makan, namun Andi segera melepas paksa tangan Adit yang menggandeng tangan Dini.


"Nggak usah digandeng, Dini bisa jalan sendiri!" ucap Andi ketus.


"Oke oke, kita jaga jarak Din, minimal 2 meter!" balas Adit lalu menjauh dari Dini.


Dini dan mama Siska hanya tertawa melihat sikap kakak beradik itu.


"Andi juga harus pergi lagi ma, cuma sebentar kok!" ucap Andi lalu mencium punggung tangan mamanya.


"Hati hati sayang," balas mama Siska.


Andi, Dini dan Aditpun meninggalkan rumah mama Siska. Mereka kembali sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing.


"Andi cemburuan banget ya!" ucap Adit pada Dini saat mereka sedang dalam perjalanan kembali ke kantor.


"Enggak, dia cuma jagain Dini aja," balas Dini.


"Apa dia juga kayak gitu waktu Dimas deketin kamu?"


"Kakak bisa liat kalau dia sayang banget sama kamu, apa kamu nggak tau?"


"Tau, kita udah sama sama dari kecil kak, kita saling menyayangi dan peduli satu sama lain, jadi kak Adit jangan heran kalau liat gimana kedekatan Dini sama Andi, kita emang sedekat itu!"


"Kasian Dimas!" ucap Adit yang membuat Dini segera menoleh ke arah Adit.


"Kenapa kakak bilang gitu?"


"Dia pasti cemburu liat kedekatan kamu sama Andi," jawab Adit.


"Iya, kak Adit bener, tapi Dini nggak bisa jauh dari Andi kak," balas Dini dengan raut wajah sedih.


Dalam hatinya ia merasa bersalah saat ia mengingat apa yang Dimas ucapkan padanya saat ia berada di apartemen Dimas.


"Aku merasa aku cuma orang ketiga diantara kamu dan Andi, aku merasa sebagai tokoh antagonis yang memisahkan kamu dan Andi, aku takut suatu saat nanti kamu akan lebih memilih Andi daripada aku, aku takut kamu akan pergi dari aku Andini, aku takut,"


"Udah jangan terlalu dipikirin," ucap Adit dengan menepuk bahu Dini.


Dini hanya tersenyum tipis, ia membawa pandangannya ke arah jalan raya di sampingnya.


Sesampainya di kantor, Dini dan Adit kembali disibukkan dengan pekerjaan mereka.


Sampai jam menunjukkan pukul 5 sore, mereka masih berada di kantor.


Biiiiipp biiiipppp biiiiippp


Ponsel Adit berdering, panggilan dari Ana.


"........."


Hening, tak ada suara dari siapapun, baik Adit maupun Ana.


"Halo An, kok diem?"


"Kamu sibuk?" tanya Ana.


"........."


Karena terlalu fokus pada pekerjaannya, Adit sempat mengabaikan pertanyaan Ana.


"Adit!"


"Eh, iya, maaf An, kenapa?"


"Kamu lagi ngapain? sibuk?"


"Maaf aku masih di kantor, masih banyak yang harus aku kerjain sama Dini," jawab Adit.


"Apa kamu......."


"Kak Adit, Dini selesai!" ucap Dini yang tiba tiba masuk, membuat Ana kembali mengentikan ucapannya.

__ADS_1


"Kamu cetak aja, jangan lupa kamu cek berkas yang tadi dikasih Jaka ya!" ucap Adit pada Dini.


"Oke, kak Adit mau kopi nggak? sekalian Dini bikinin!"


"Boleh boleh," balas Adit yang masih fokus pada pekerjaannya.


Ana yang merasa terabaikan pun mengakhiri panggilnya pada Adit, sedangkan Adit tidak menyadari hal itu.


Setelah lebih dari satu jam lamanya, Adit pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya dan saat itu lah ia ingat apa kesalahan nya. Adit lalu segera menghubungi Ana.


"Halo An, maaf aku tadi masih sibuk banget," ucap Adit yang merasa bersalah.


"Nggak papa, maaf udah ganggu kesibukan kamu sama Dini," balas Ana yang terdengar kesal.


"Ada sedikit masalah di kantor An, aku harus cepet selesaiin sebelum makin besar masalahnya."


"Iya, nggak papa."


"Kamu marah sama aku?" tanya Adit yang menyadari kekesalan Ana.


"Enggak, lanjutin aja kerjaan kamu, jangan sampe asisten pribadi kamu nanti kecape'an terus sakit!"


"Kamu cemburu?"


"Enggak, aku bukan anak kecil Dit, lanjutin aja, hubungi aku kalau udah selesai, bye!"


"Aku.... An.... halo....."


Tuuuuttt tuuuuttt tuuuuttt


Sambungan berkahir.


Adit hanya tertawa kecil melihat sikap Ana, ia merasa jika Ana memang mencintainya melihat bagaimana sikap yang baru saja Ana tunjukkan.


Adit lalu kembali ke ruangannya dan membereskan pekerjaannya. Ia lalu menghubungi Dini.


"Din, kita pulang sekarang!" ucap Adit.


"Kenapa kak? kan belum selesai?"


"Kita lanjutin besok, kakak harus cepet pulang," jawab Adit lalu segera keluar dari ruangannya.


Adit segera melajukan mobilnya ke arah rumah Ana, ia sudah tidak sabar ingin segera menemui perempuan yang sedang cemburu itu.


Sesampainya di sana, Adit segera masuk dan mendapati Ana yang sedang memasak bersama Bu Desi.


Adit lalu memberikan kode pada Bu Desi agar membiarkan dirinya berdua dengan Ana di dapur.


Bu Desi pun pergi meninggalkan Adit dan Ana.


"Ngapain ke sini? katanya sibuk!" tanya Ana dengan ketus.


"Aku mau liat istriku kalau lagi cemburu gimana sih!" jawab Adit sambil memperhatikan wajah Ana.


"Siapa istri kamu?"


"Kamu lah," jawab Adit sambil menekan pipi Ana dengan telunjuk nya.


Ana hanya tersenyum tipis sambil memotong sayuran di hadapannya.


"Aku mau makan malem sama kamu," ucap Adit.


"Kenapa nggak sama Dini aja!" balas Ana dengan tersenyum kecut.


"Tuh kan kamu cemburu ya sama Dini!"


"Enggak, kayaknya mama kamu suka sama Dini!"


"Yang penting aku sukanya kamu," balas Adit dengan memeluk Ana.


"Kenapa?"


"Jangan tanya kenapa, kan aku udah bilang kalau aku nggak tau," jawab Adit dengan memutar badan Ana agar menghadap ke arahnya.


"Aku sayang dan cinta sama kamu tanpa alasan An, aku emang nggak pernah pacaran sebelumnya, aku juga nggak tau gimana caranya bersikap romantis, yang aku tau aku harus selalu bahagiain kamu, itu aja," lanjut Adit.


"Banyak perempuan di luar sana yang lebih baik dari aku, mereka lebih pantas sama kamu, daripada aku," ucap Ana.


"Kamu bener, tapi aku tetep memilih kamu, buat aku yang paling penting bukan siapa yang lebih baik, tapi siapa yang ada di hati aku dan yang di hati aku cuma kamu," balas Adit.


"Kamu pasti belajar kata kata itu dari Andi ya!"


"Enggak, apa kata kata ku bikin kamu semakin cinta sama aku?"


"Enggak, aku geli dengernya," jawab Ana.


"Oke, aku nggak akan kayak gini lagi!" ucap Adit.


"Mungkin Dini suka sama kata kata kamu barusan, tapi aku enggak!"


"An, aku sama Dini cuma sebatas rekan kerja, di luar itu dia udah aku anggap adikku sendiri, lagian hidup Dini itu udah cukup rumit dengan adanya Dimas dan Andi," ucap Adit.


Ana hanya diam mendengarkan ucapan Adit.


Tanpa Ana dan Adit tau, Bu Desi dan Lisa sedang memperhatikan mereka dari luar dapur. Bukan karena iri dengan kebersamaan Adit dan Ana, tapi mereka mengkhawatirkan keadaan dapur.


Bau gosong sudah menyeruak ke seluruh ruangan sejak tadi dan air yang mendidih sudah siap untuk tumpah karena dipenuhi oleh sayuran.


"Ini gimana Bu, apa kita cuma diem aja di sini?" tanya Lisa berbisik pada sang ibu.


"Ibu juga bingung Lis, apa jangan jangan hidung kita yang bermasalah?"


"Enggak Bu, ini emang bau gosong, tuh wajannya mulai berasap!" jawab Lisa dengan menunjuk wajan yang tampak terabaikan di atas kompor yang menyala.


"Apa kita ke sana aja sebelum dapurnya kebakaran?"


"Ibu yakin? ibu nggak takut dimarahi mas Adit lagi? kalau sampe mas Adit marah, udah nggak ada kesempatan lagi buat kita Bu!"

__ADS_1


Bu Desi dan Lisa masih berusaha mencari keputusan yang tepat yang harus mereka pilih sebelum dapur itu benar benar terbakar.


__ADS_2