
Mentari datang menyambut dengan kehangatannya. 10 menit lagi jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, itu artinya Dini harus menyiapkan minuman Adit.
Biiiippp Biiippp Biiippp
Ponsel Dini berdering ketika ia baru saja keluar dari ruangan Adit.
"Halo Dimas, ada apa?"
"Aku nanti nggak bisa jemput kamu sayang, banyak kerjaan yang harus aku selesaiin di home store."
"Oh, iya nggak papa."
Tiba tiba seseorang datang dan berdehem dengan cukup keras di dekat Dini, membuat Dini begitu terkejut.
"Eheemmm!!"
Melihat kedatangan Adit, Dini segera melihat jam di ponselnya dan beruntung masih ada waktu 3 menit sebelum jam kantor dimulai.
"3 menit lagi kak," ucap Dini dengan menunjukkan deretan giginya.
Adit hanya mengangguk lalu masuk ke dalam ruangannya.
"Halo Dimas, kamu masih di sana?"
"Iya, kenapa? ada atasan kamu?"
"Iya, aku tutup dulu ya, bye!"
"Bye sayang."
Dini lalu masuk ke dalam ruangannya. Seperti biasa, ia akan memberikan jadwal harian Adit ke ruangan Adit.
"Kamu ikut saya makan siang di kafe X, ada seseorang yang harus saya temui di sana!"
"Baik pak, apa ada yang harus saya persiapkan?"
"Persiapkan mental kamu saja."
"Baik.... pak..." balas Dini ragu karena ia tidak mengerti maksud ucapan Adit.
Dini lalu keluar dari ruangan Adit dan mulai mengerjakan pekerjaannya di ruangannya.
Jam makan siang tiba. Dini mengikuti Adit keluar dari kantor.
"Pak Rudi nggak masuk kak?" tanya Dini karena Adit mengendarai mobilnya tanpa supir.
"Anaknya sakit, kakak kasih dia izin libur," jawab Adit.
"Kak Adit mau ketemu siapa di kafe X?"
"Kamu pasti seneng, liat aja nanti!"
"tadi katanya disuruh persiapin mental, sekarang katanya aku pasti seneng, nggak ngerti lagi deh sama laki laki satu ini!"
Tak lama kemudian mereka sampai. Adit dan Dini segera berjalan memasuki kafe. Adit berjalan ke arah bangku yang berada di sudut kafe.
Tampak seorang perempuan yang sangat Dini kenal duduk di sana.
"Mbak Ana!"
"Hai Din, gimana kabar kamu?" sapa Ana sambil memeluk Dini.
"Baik mbak, mbak Ana apa kabar?"
"Baik juga."
Mereka bertiga lalu duduk mengelilingi meja.
"Lo diet?" tanya Adit pada Ana.
"Iya, gimana? berhasil kan gue?"
"Ngapain sih diet segala, yang kemarin kemarin juga udah bagus kok!" protes Adit.
"Iya bener, tapi mbak Ana tetep cantik kok," sahut Dini.
"Kamu juga makin cantik," balas Ana pada Dini.
"Mbak Ana kok belum kasih undangan sih, apa jangan jangan Dini aja ya yang nggak diundang?"
Ana diam beberapa saat, ia membawa pandangannya ke arah Adit.
"Sebenernya......."
Tiba tiba makanan dan minuman yang sudah dipesan Ana datang, membuat Ana menghentikan ucapannya.
"Gue udah pesen duluan nggak papa kan?" tanya Ana.
Adit mengangguk dengan masih memperhatikan raut wajah Ana yang tampak menyembunyikan sesuatu dari Adit.
"Lo nggak mau bilang apa apa?" tanya Adit pada Ana.
"Mmmm.... enggak..... gue ke sini cuma mau ketemu kalian aja," jawab Ana berbohong.
Ia mengira Adit akan datang sendirian. Karena Adit datang bersama Dini, ia mengurungkan niatnya untuk memberi tahu Adit apa yang sebenarnya terjadi padanya.
"Gue balik dulu ya, next time kita ketemu lagi!" ucap Ana pada Dini dan Adit.
"Loh kok cepet banget sih mbak, kita kan baru nyampe'!"
"Maaf ya Din, saya buru buru!" ucap Ana lalu segera pergi.
Kini hanya ada Dini dan Adit di meja itu.
"Makanannya masih banyak lagi, sayang banget ditinggal gitu aja, kak Adit mau?" tanya Dini sambil memberikan satu potong dim sum pada Adit.
Adit membuka mulutnya dan mengunyahnya sampai habis.
15 menit sebelum jam makan siang selesai, Dini dan Adit kembali ke kantor.
Merekapun melanjutkan pekerjaan mereka. Tiba tiba Adit merasa lidahnya gatal, namun ia mengabaikannya dan tetap melanjutkan pekerjaannya.
Sampai jam 4 sore, Adit merasa sesuatu yang buruk terjadi pada tubuhnya. Ia merasa mual dan pusing.
Seperti biasa, sebelum pulang, Dini menghampiri ruangan Adit.
"Ada yang harus Dini lakukan lagi kak?" tanya Dini pada Adit.
Adit menggeleng dengan memegang dadanya yang terasa sesak.
Melihat wajah Adit yang tampak pucat, Dini segera mendekati Adit.
__ADS_1
"Kak Adit kenapa kak?" tanya Dini khawatir.
Adit lalu berlari ke toilet dan memuntahkan isi perutnya di sana. Ia baru menyadari apa yang membuatnya seperti itu.
"aku tadi siang cuma makan dim sum di kafe itu, apa isinya seafood?"
Ya, Adit alergi seafood. Karena ia terlalu memikirkan Ana, ia tidak sadar apa yang ia makan adalah seafood.
Adit lalu membasuh wajahnya sebelum ia keluar dari toilet.
"Kak Adit kenapa?" tanya Dini yang menunggu Adit di luar toilet.
"Kamu makan dim sum yang di kafe tadi?" balas Adit bertanya.
"Iya, kenapa?"
"Isinya seafood?"
"Ada beberapa yang seafood ada yang enggak, jangan bilang kak Adit alergi seafood!"
Adit mengangguk pelan dengan wajah yang masih pucat.
"Kak Adit alergi seafood? kenapa kak Adit nggak bilang? kenapa dimakan? kenapa......"
"Sssttttt.... kakak pusing banget Din," ucap Adit yang merasa dirinya akan ambruk saat itu juga.
"Dini ambil barang barang kak Adit bentar, kita ke rumah sakit sekarang!"
Setelah Dini mengambil barang barang Adit, Dini membantu Adit untuk keluar dan menuju ke tempat parkir.
Belum sampai di tempat parkir, Adit sudah kehilangan tenaganya. Setiap alerginya kambuh ia selalu merasa mual, pusing dan sesak napas. Hal itu membuatnya sangat lemah jika alergi sudah menyerang tubuhnya.
"Kak Adit, tahan kak, bentar lagi kita ke rumah sakit!"
"oh iya, pak Rudi kan nggak ada, gimana dong?"
Biiippp Biiippp Biiippp
Ponsel Dini berdering, sebuah panggilan dari Andi. Tanpa pikir panjang, Dini segera menerima panggilan Andi dan meminta tolong Andi untuk membantunya membawa Adit ke rumah sakit.
"Halo Ndi, kamu dimana?"
"Aku udah di halte dari tadi, kamu dimana?"
"Aku masih di kantor Ndi, cepetan ke sini bantuin aku bawa pak Adit ke rumah sakit Ndi, buruan!"
"Kamu dimana sekarang?"
"Aku di depan tempat parkir sekarang, buruan ya!"
Tuuuuttt Tuuuuttt Tuuuuttt
Sambungan terputus.
"Loh kok malah terputus sih!" gerutu Dini kesal.
Dengan susah payah, Dini membantu Adit berjalan ke arah tempat Adit memarkir mobilnya.
Tak lama kemudian Andi datang dan menggantikan posisi Dini.
"Buka pintunya Din!" perintah Andi.
Dinipun membuka pintu mobil Adit. Setelah Dini dan Adit masuk ke dalam mobil, Andi segera duduk di belakang kemudi dan melajukan mobil ke arah rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit, Adit segera di bawa ke ruang UGD.
"Dia kenapa Din?" tanya Andi pada Adit.
"Kayaknya alergi seafood," jawab Dini.
Setelah beberapa menit memeriksa keadaan Adit, Dokter keluar dan menjelaskan jika keadaan Adit baik baik saja. Ia hanya perlu istirahat dan banyak minum air putih.
Adit lalu dipindahkan ke ruang rawat sebelum ia diperbolehkan pulang. Dini dan Andipun menemani Adit di dalam ruangannya.
Karena terlalu lelah, tanpa sadar Dini tertidur dengan bersandar di pundak Andi.
Setelah beberapa menit berlalu, Adit terbangun.
Adit hanya diam memperhatikan Andi dan Dini yang duduk di dekat ranjangnya. Tangan mereka tampak saling menggenggam dengan mata tertutup.
Saat Adit masih memperhatikan mereka, Andi membuka matanya.
"Gue kesini karena Dini yang minta, jangan salah paham!" ucap Andi tanpa merubah posisi duduknya.
"Thanks," balas Adit.
Untuk beberapa saat ruangan itu hening sampai Dini terbangun dari tidurnya. Melihat Adit yang sudah membuka matanya, Dini segera menghampiri Adit.
"Gimana keadaan Adit? masih pusing? mual? sesak napas?"
"Enggak Din, kakak baik baik aja, makasih udah anter kakak ke rumah sakit," balas Adit.
"Kak Adit kenapa nggak bilang kalau alergi seafood? apa mbak Ana nggak tau kalau kak Adit alergi seafood parah kayak gini?"
"Dia nggak tau, kakak juga nggak tau kalau yang kakak makan tadi seafood."
"Rasanya aja udah jelas udang!"
"Kamu pulang aja sama Andi, kakak juga mau pulang sekarang."
"Sekalian kita antar kak Adit pulang ya!"
"Jangan Din, kalian pulang dulu aja, kakak bisa pulang sendiri kok!"
"Enggak, pokoknya Dini sama Andi anter kak Adit pulang, ke rumah mama atau ke apartemen?"
"Ya udah anter kakak ke apartemen aja."
"Oke, Ndi, kita anter kak Adit pulang ke apartemennya dulu ya!" ucap Dini yang hanya dibalas anggukan kepala Andi.
Andi dan Dinipun mengantar Adit pulang ke apartemennya.
"Kak Adit beneran udah nggak papa?" tanya Dini memastikan sebelum ia meninggalkan Adit.
"Iya Din, kakak nggak papa, ini udah biasa kok."
"Ya udah kalau gitu Dini sama Andi pulang ya kak!"
"Iya, hati hati."
Dini dan Andipun pulang meninggalkan Adit.
__ADS_1
"Kita pake taksi aja ya, aku capek banget pingin cepet pulang!" ucap Dini pada Andi.
"Terserah kamu aja," balas Andi.
Merekapun pulang dengan menggunakan taksi.
"Adit tinggal di apartemen sendirian Din?" tanya Andi pada Dini.
"Iya, kenapa?"
"Kenapa dia nggak tinggal sama mamanya?"
"Kalau kamu mau tau, tanya aja sama kak Adit, aku mana tau masalah pribadinya."
"Kamu kan deket sama dia!"
"Kamu khawatir sama kak Adit?"
"Enggak, ngapain aku khawatir sama dia!"
"Keliatan loh Ndi, dari kamu dateng sampe kita di rumah sakit tadi tangan kamu basah, kenapa?"
"Aku..... aku.... gara gara kurang olahraga aja," jawab Andi beralasan.
"Kalau dilihat lihat, kamu ini mirip loh sama kak Adit secara fisik, bentuk mata, hidung, bibir, kamu....."
"Jadi selama ini kamu perhatiin Adit sedetail itu?"
"Enggak gitu, aku cuma....."
"Udah ah nggak usah dibahas, kamu mau Dimas cemburu karena denger cerita kamu ini?"
"Jangan bawa bawa Dimas dong, dia sensitif banget soal kak Adit!"
Andi hanya terkekeh mendengar ucapan Dini.
Sesampainya mereka di depan rumah, Dini segera pulang ke rumahnya, begitu juga Andi yang pulang ke rumahnya.
"Baru pulang Ndi?" tanya ayah Andi yang sedang duduk di depan rumah.
"Iya yah, abis jemput Dini," jawab Andi lalu duduk di samping ayahnya.
"Yah, ada yang mau Andi tanyain sama ayah, tentang saudara ayah," ucap Andi pada ayahnya.
"Siapa?"
"Namanya Siska, dia siapa yah?"
Ayah Andi diam beberapa saat. Ia tau, cepat atau lambat Andi akan menanyakan hal itu padanya.
"Ayah sama ibu selalu kasih tau Andi saudara saudara yang deket ataupun jauh, tapi kenapa Andi nggak pernah denger yang namanya Siska?"
"Dia saudara jauh ayah, karena udah lama nggak komunikasi jadi hubungan kita renggang," jawab ayah Andi.
"Apa ayah tau dia tinggal dimana?"
Ayah Andi menggeleng.
"Kita udah lama nggak komunikasi Ndi, jadi ayah nggak tau dimana dia tinggal, saudara yang lain juga nggak ada yang tau keberadaannya."
Andi lalu masuk ke kamarnya. Ia mengambil kain merah dari dalam lemarinya dan membawanya berbaring dalam genggamannya.
"apa yang dibilang ayah bener? kenapa aku merasa ayah sama ibu sembunyiin sesuatu dari aku," batin Andi dalam hati.
**
Di tempat lain.
Seseorang menekan bel apartemen Adit. Aditpun membuka pintu dan tampak Ana yang berdiri di depannya.
"Ana, ada apa An?" tanya Adit yang melihat sisa air mata di kedua sudut mata Ana.
"Lo emang bodoh, bodoh banget!" ucap Ana dengan memukul Adit menggunakan tasnya.
"Masuk dulu, masuk dulu!"
Adit lalu membawa Ana masuk dan ia tetap saja mendapat pukulan bertubi tubi dari Ana.
"Kenapa lo nggak bilang kalau lo alergi seafood? kenapa gue harus tau dari Dini kalau lo alergi seafood?"
"Gimana gue mau bilang, lo kan suka seafood, siapa lagi yang nemenin lo makan seafood selain gue? nggak ada kan?"
"Kalau gue tau lo alergi seafood, gue nggak akan ngajak lo makan seafood Dit!"
"Udah, nggak usah dibahas, gue baik baik aja kok, alergi doang nggak bikin gue mati!"
PLAAKK
Satu tamparan mendarat dengan keras di pipi Adit.
"Kok lo nampar gue?" protes Adit.
"Biar lo sadar kalau lo itu emang bodoh!"
Adit hanya tersenyum kecil lalu memeluk Ana yang masih tampak emosi.
"Gue nggak papa An, gue baik baik aja," ucap Adit yang masih memeluk Ana.
"Gue emang bodoh banget karena selama ini gue nggak tau kalau lo alergi seafood," ucap Ana.
"Efek alerginya emang baru keliatan 2 atau 3 jam setelah gue makan, itu kenapa gue nggak pernah anter lo pulang setelah gue makan seafood sama lo!"
Adit lalu melepaskan pelukannya pada Ana dan mengacak acak rambut Ana.
"Gue anter lo pulang ya, calon suami lo bisa salah paham kalau tau lo di sini sama gue!"
"Gue mau nemenin lo, malem ini aja, ya!"
"Tapi An....."
"Please Dit, boleh ya!"
"Gue cuma takut calon suami lo marah nanti!"
"Enggak, gue mau nemenin lo, sampe besok pagi aja kok!"
"Ya udah terserah lo aja."
Alhasil malam itu Ana tidur di apartemen Adit. Sama seperti sebelumnya, mereka tidur satu ranjang dengan tenang.
Ana melakukan hal itu karena ia merasa bersalah pada Adit.
__ADS_1
**
Di tempat lain, Dini sedang melakukan panggilan video dengan Dimas. Meski sama sama lelah dan ingin cepat terlelap, mereka menyempatkan waktu untuk sekedar bercengkerama melalui panggilan video sampai mereka berdua tertidur.