Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Andi dan Dimas


__ADS_3

Dini masih berada di dalam mobil bersama Dimas. Ia merasa bersalah pada Dimas karena pemikiran bodohnya beberapa hari yang lalu.


Hanya karena keadaan Andi yang sedang down, hatinya mengartikan lain ucapan Andi malam itu. Ia merutuki dirinya sendiri yang merasa sangat kacau karena hal itu.


"Andini, aku mohon jangan pernah ragu, tentang perasaan ku, juga perasaan kamu," ucap Dimas lalu mencium kening Dini.


Dini hanya diam, ia membiarkan hatinya yang berbicara tanpa Dimas bisa mendengarnya.


"Selama aku jauh dari kamu, yakinin hati kamu kalau kita akan selalu sama sama setelah ini, aku pilih pilihan yang berat ini demi kamu, demi hubungan kita," ucap Dimas pada Dini.


"Aku minta maaf Dimas, maaf karena beberapa hari ini aku terlalu fokus sama Andi dan mengabaikan kamu, aku minta maaf Dimas, aku... aku cuma...."


"Jangan minta maaf sayang, aku tau kamu terpukul sama keadaan ini, aku juga, tapi aku bersyukur banget karena Andi udah sadar sekarang," ucap Dimas.


"aku minta maaf Dimas," batin Dini dalam hati.


Biiippp Biiippp Biiippp


Ponsel Dini berdering, sebuah panggilan dari ibu Andi.


"Halo Din, kamu dimana? Andi udah bangun."


"Dini sama Dimas ke sana sekarang bu," balas Dini.


Sambungan berakhir, Dini lalu mengajak Dimas untuk menemui Andi.


"Andi udah bangun, kamu mau ketemu dia kan?"


"Iya, ayo!" balas Dimas penuh semangat.


Dini dan Dimas lalu meninggalkan tempat parkir dan segera berjalan ke arah ruangan Andi. Sesampainya di sana, Dimas segera masuk untuk menemui Andi.


Dimas membuka pintu ruangan Andi dan mendapati sahabatnya itu masih tampak pucat meski wajahnya sudah tersenyum.


Dimas lalu duduk di samping ranjang Andi.


"Gimana keadaan lo? kalau lo mau, papa bisa pindahin lo ke rumah sakit yang lebih baik dari ini."


"Gue udah baik baik aja Dim, sampe'in terima kasih gue sama om Tama," ucap Andi yang dibalas anggukan kepala Dimas.


"Andini khawatir banget sama lo, dia cuekin gue beberapa hari karena terlalu fokus sama lo!" ucap Dimas dengan nada kesal namun Andi hanya terkekeh.


"Jadi cepetan sembuh biar gue nggak kehilangan perhatian Andini," lanjut Dimas.


"Gue akan cepet keluar dari sini Dim, gue nggak mau terlalu lama bikin banyak orang khawatir," ucap Andi.


"Bagus, tapi lo harus istirahat dulu di rumah, nggak usah ke home store dulu sampe lo bener bener sehat," ucap Dimas.


"Oh iya, home store, apa home store tutup selama gue di sini?"


"Enggak, tenang aja, home store masih jalan, papa udah minta seseorang buat handle home store sementara sampe lo bisa balik lagi ke home store," jawab Dimas.


"Rama gimana?"


"Dia juga masih di sana, lo emang pinter pilih teman kerja, dia cepet belajar, rajin juga anaknya!"


"Gue banyak belajar dari lo!"


Mereka lalu mengobrol banyak hal dan sesekali tertawa. Dini yang melihat hal itu dari luar pintu merasa senang melihat kebersamaan dan kedekatan mereka.


"mereka emang deket banget, kamu sahabat aku Ndi, sampe kapanpun nggak akan ada yang berubah, aku nggak perlu penjelasan kamu lagi, aku udah tau jawabannya sekarang," ucap Dini dalam hati.


"Gue liat Adit sering di sini nungguin lo, gue baru tau kalau kalian deket," ucap Dimas pada Andi.


"Panjang ceritanya Dim, gue juga masih nggak percaya kalau apa yang gue alami ini nyata," balas Andi.


"Gue juga nggak nyangka kalau ibu ibu yang suka nyamperin lo itu care banget sama lo!"


"Ibu ibu siapa?"


"Mamanya Adit, apa kecelakaan lo ada hubungannya sama keluarga Adit?"


"Enggak, apa nggak ada berita tentang kecelakaan kemarin?"


"Ada, katanya sih kecelakaan tunggal karena supir busnya ngantuk, tapi gue nggak nyangka aja mamanya Adit sampe donorin ginjalnya buat lo!"


"Apa? donorin ginjal?"


"Iya, lo nggak tau? apa seharusnya gue nggak boleh kasih tau lo?"

__ADS_1


"Ceritain sama gue apa yang sebenarnya terjadi Dim, gue nggak tau apa apa!"


"Mending lo tanya ibu atau ayah lo aja deh kayaknya, gue takut salah ngomong."


"Ibu nggak cerita apa apa sama gue, Andini juga, Please Dim, cerita sama gue!"


"Gue nggak tau banyak Ndi, yang jelas waktu gue pertama dateng ke sini lo lagi operasi transplantasi ginjal dan pendonornya mamanya Adit, cuma itu yang gue tau!"


"Apa Adit masih di sini? gue mau ngomong sama dia Dim!"


"Nggak ada, mungkin di ruangan mamanya, mamanya juga masih dirawat di sini."


"Apa keadaannya baik baik aja?"


"Gue nggak tau, lo mau gue panggil Andini ke sini? kayaknya dia yang lebih tau," tanya Dimas yang menyadari raut wajah Andi tampak sedih.


Ia memang tidak mengerti apa yang sedang terjadi, namun sedikit banyak ia bisa membaca kemungkinan yang terjadi. Tapi ia tidak akan gegabah, karena ia hanya bisa berasumsi saat itu. Ia tidak ingin asumsinya yang bisa jadi salah malah membuat situasi semakin rumit.


Andi hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Dimas. Matanya memandang nanar ke arah depan. Ia tidak mengerti apa yang ia alami setelah kecelakaan itu. Ia tidak menyangka jika apa yang terjadi padanya membuat mama Siska harus mendonorkan ginjalnya untuk Andi.


Dimas lalu meninggalkan ruangan Andi begitu saja, ia menghampiri Dini dan memintanya untuk menemui Andi.


"Kayaknya kamu harus masuk, dia butuh kamu sekarang," ucap Dimas pada Dini.


"Kenapa? ada apa?"


"Sssttt.... pelanin suara kamu, jangan bikin orangtua Andi khawatir," ucap Dimas berbisik.


"Emang kenapa? ada apa Dimas?" tanya Dini berbisik.


"Kayaknya aku salah ngomong, aku cerita sama dia tentang mamanya Adit yang donorin ginjalnya buat dia," ucap Dimas dengan senyum yang menunjukkan deretan giginya.


"Dimas, kamu......"


"Sssttt.... aku nggak tau kalau dia belum tau, aku pikir dia udah tau," ucap Dimas.


Dini memandang Dimas dengan raut wajah kesal lalu segera masuk ke ruangan Andi.


Dilihatnya Andi yang sedang duduk di ranjangnya dengan tatapan kosong, Dini lalu duduk di samping ranjang Andi dan menggenggam tangan Andi.


"Kamu udah tau semua itu Din? dan kamu nggak cerita apa apa sama aku?" tanya Andi tanpa menoleh ke arah Dini.


"Maaf Ndi, Dokter minta buat nggak nambah beban pikiran kamu, jadi aku....."


"Aku minta maaf Ndi."


"Kamu sama mereka sama aja, kalian selalu bohongin aku, ibu, ayah, tante Siska dan Adit, sekarang kamu juga ikut bohongin aku?"


"Enggak Ndi, aku nggak bermaksud bohong sama kamu, aku cuma nunggu waktu yang tepat, kita semua khawatir sama kamu, kita nggak mau terjadi hal hal yang buruk kalau kamu tau tentang hal itu sekarang," jelas Dini berusaha membela diri.


"Ceritain semuanya sama aku Din, jangan ada yang kamu sembunyiin lagi, aku tau ibu nggak akan mau cerita sama aku, jadi harapan aku sekarang cuma kamu," pinta Andi.


"Ginjal kamu bermasalah karena kecelakaan kemarin, kalau aku nggak salah inget, trauma ginjal, itu karena ginjal kamu cedera parah waktu kecelakaan, waktu Dokter bilang kalau kamu harus transplantasi ginjal, mama Siska sama kak Adit langsung ngajuin diri buat donorin ginjal mereka, tapi ternyata cuma ginjal mama yang cocok," jelas Dini.


"Jadi.... ginjal tante Siska ada di sini?" tanya Andi dengan memegang bagian samping perutnya.


Dini hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Andi.


"Gimana keadaan tante Siska sekarang Din?"


"Mama Siska baik baik aja, keadaannya udah stabil tapi baru boleh keluar 2 hari lagi," jawab Dini.


"Apa aku boleh liat keadaanya Din?"


"Enggak, Dokter masih ngelarang kamu buat ninggalin ruangan kamu, aku sama kak Adit juga sengaja nggak kasih tau mama kalau kamu udah sadar, karena kalau mama tau, pasti mama langsung minta ketemu kamu!"


"Cuma bentar aja Din, aku....."


"Enggak Ndi, kalau kamu mau cepet sembuh ikuti perintah Dokter!" ucap Dini tegas.


"Tapi tante Siska baik baik aja kan?"


"Iya, kamu tenang aja, mama Siska baik baik aja kok!"


Andi lalu mengusap kasar wajahnya. Ia ingat apa yang terkahir kali ia katakan pada mama Siska sebelum ia mengalami kecelakaan saat itu.


"Mama? orang tua macam apa yang buang anaknya saat bayi? apa pantas orang tua seperti itu dipanggil mama?"


"Ndi, kamu kenapa?" tanya Dini yang melihat mata Andi berkaca kaca.

__ADS_1


"Ada sesuatu yang aku baru tau Din, sesuatu yang aku nggak pernah pikirkan sebelumnya," jawab Andi.


"Kamu mau cerita sama aku?"


"Aku nggak tau harus cerita dari mana, karena aku sendiri masih nggak yakin sama semua ini, aku bahkan nggak tau ini mimpi indah atau mimpi buruk buat aku."


Dini lalu kembali menggengam tangan Andi.


"Entah itu indah atau buruk, aku yakin kamu bisa hadapi semua itu," ucap Dini berusaha menguatkan Andi.


"Din, aku bukan anak kandung ayah dan ibu," ucap Andi pelan dengan air mata yang sudah memenuhi kedua sudut matanya.


Seketika Dini begitu terkejut dengan apa yang Andi katakan, namun ia berusaha untuk tetap bisa menguasai keadaan saat itu. Ia tidak ingin membuat Andi semakin tertekan.


"Apa mama Siska dan kak Adit itu keluarga kandung kamu?"


Andi mengangguk lemah menjawab pertanyaan Dini.


"Ini terlalu tiba tiba buat aku Din, aku marah dan aku kecewa sama mereka, bertahun tahun aku hidup dalam kebohongan ayah dan ibu, bertahun tahun aku dibuang sama ibu yang melahirkanku, aku marah, aku Kecewa, aku sedih dan semua perasaan itu nyakitin aku Din!"


Dini lalu berdiri dari duduknya dan menarik Andi ke dalam pelukannya. Andi lalu menceritakan semua kejadian yang terjadi malam itu, mulai dari saat ia mendengar percakapan orangtuanya dengan Adit dan mamanya, sampai ia berakhir di bawah sebuah bus dengan sesuatu yang menusuk perutnya.


"Aku tau ini bukan hal yang mudah buat kamu terima, tapi kamu harus dengerin penjelasan mereka, aku yakin mama dan kak Adit nggak akan memaksakan kehendak kamu," ucap Dini.


"Aku nggak tau Din, aku nggak tau harus gimana setelah ini, aku sayang sama ayah dan ibu, mereka orang tua yang aku kenal, mereka orangtua yang kasih perhatian dan kasih sayangnya buat aku selama ini."


"Dan mama adalah ibu yang melahirkan kamu, kamu harus liat dari banyak sisi Ndi, apapun keputusan kamu, aku akan selalu ada buat kamu, aku akan selalu jadi sahabat yang selalu siap buat nemenin kamu."


Di sisi lain, Dimas yang berada di depan pintu melihat hal itu. Ia melihat saat Dini memeluk Andi. Ada sebuah sesak dalam hatinya, namun ia berusaha untuk menepisnya. Ia hanya tersenyum kecil lalu meninggalkan tempat itu begitu saja.


Saat Dimas baru saja melangkah pergi, Adit datang dan melihat ke dalam ruangan Andi lalu berbalik mengikuti Dimas.


"Ngapain lo ikutin gue?" tanya Dimas yang menyadari Adit sedang mengikutinya.


"Lo cemburu?" balas Adit bertanya namun tak dijawab oleh Dimas.


Adit hanya terkekeh lalu memukul lengan tangan Dimas.


"Lo apa apaan sih!"


"Kayak anak kecil lo," balas Adit.


Mereka lalu duduk di salah satu bangku kantin rumah sakit.


"Cowok yang nggak pernah pacaran kayak lo, nggak akan ngerti!" ucap Dimas.


"Gue nggak pernah pacaran karena gue fokus kerja, fokus bangun bisnis keluarga, bukan malah sok sok'an jalani bisnis sendiri tapi nggak ada hasil," balas Adit yang tak mau kalah.


"Lo tau apa tentang gue? lo nggak tau apa apa!"


"Gue tau Dim, walaupun lo jarang muncul di media dan keluarga lo jagain lo dari media, tapi gue tau banyak tentang lo, tentang kecelakaan yang bikin lo lupa ingatan, tentang kafe lo yang terpaksa lo tutup, gue tau!"


"Lo sebenernya siapa sih?"


"Hahaha..... kita dulu sering ketemu waktu ada pertemuan bisnis Dim, lo nggak inget?"


"Enggak," jawab Dimas cepat.


"Inget inget dulu lah, gue tau lo sering dipuji sama orang orang karena pengetahuan lo tentang bisnis cukup luas di usia lo waktu itu, gue yang sebenarnya lebih tau daripada lo cuma diem aja perhatiin lo!"


Dimas hanya diam mendengar ucapan Adit yang panjang itu.


"Gue juga tau kalau Andi suka sama Dini," ucap Adit yang berhasil menarik perhatian Dimas.


"Nggak usah sok tau, lo baru kenal mereka!"


"Walaupun gue baru kenal mereka, tapi gue yakin kalau ada apa apa diantara mereka," balas Adit yang sengaja menggoda Dimas.


"Mereka sahabat dari kecil, wajar kalau banyak yang salah paham tentang hubungan mereka, apa lagi orang sok kenal kayak lo!"


"Kalaupun nggak ada apa apa diantara mereka berdua, gue yakin kalau salah satu diantara mereka berdua ada yang punya perasaan lebih!"


"Apa lo ngerasa saingan lo bertambah?"


"Saingan apa maksud lo?"


"Aditya Putra, CEO sukses yang masih muda, tampan dan galak nggak pernah deket sama cewek, tapi kenapa lo bisa jadi deket sama Andini kalau bukan karena lo punya perasaan sama dia?"


"Lo masih nggak percaya sama gue? dia udah gue anggap adik gue sendiri Dim, gue punya adik yang nggak bisa gue kasih perhatian selama ini, jadi gue....."

__ADS_1


"Apa adik yang lo maksud itu Andi?" tanya Dimas memotong ucapan Adit.


Seketika Adit terdiam. Pertanyaan Dimas membuatnya tersentak. Ia tidak menyangka jika Dimas akan mengetahuinya secepat itu.


__ADS_2