Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Dua Tahun Berlalu


__ADS_3

Waktu telah berlalu, bulan bulan berlalu berganti tahun demi tahun.


Langit malam tampak semakin gelap tanpa bulan dan bintang, hawa dingin semakin terasa karena hujan yang turun dengan semakin deras.


Namun hal itu tidak menyurutkan niat Anita untuk keluar dari rumah tempat ia dan bibi tinggal.


Dengan mengenakan jaket hitam, topi, kacamata dan masker, Anita membawa payung lalu berjalan ke suatu tempat untuk menemui seseorang.


Di jalan yang sempit dan minim cahaya itu Anita bertemu dengan seorang laki laki yang sudah menghubunginya beberapa waktu yang lalu.


"Lo makin serem aja sih!" ucap si laki laki pada Anita.


"Diem aja, lo cuma harus bantuin gue!" balas Anita lalu memberikan segepok uang pada laki laki itu setelah ia menerima papar bag dari si laki laki.


"Oke, lo bisa hubungi gue kapanpun lo butuh gue!" balas si laki laki.


Anita lalu segera pergi meninggalkan tempat itu, ia pulang dengan membawa paper bag kecil pemberian laki laki yang baru saja ditemuinya.


"Dari mana non?" tanya bibi saat Anita sudah sampai di rumah.


"Beli ini, buat bibi," jawab Anita sambil memberikan bibi satu bungkus nasi goreng yang Anita beli sebelum pulang.


"Makasih non, lain kali biar bibi aja yang beli, ini udah malam, bahaya kalau non Anita keluar sendirian," ucap bibi.


"Nggak papa bi, Anita juga bosen kalau kelamaan di rumah," balas Anita.


Anita lalu masuk ke kamarnya, ia mengeluarkan sesuatu dari paper bag dan menyimpannya dengan aman.


Dua tahun sudah berlalu sejak Anita meninggalkan rumahnya. Tak hanya rumah, Anita juga meninggalkan bayi mungil yang baru saja dilahirkannya.


Banyak kenangan yang sudah ia tinggalkan, namun memorinya masih menyimpan dengan jelas bayi mungil yang pernah ada dalam dekapannya.


Anita menjalani kehidupannya seperti dulu, ia menyibukkan dirinya dengan mengikuti berbagai macam kursus.


Meskipun sang papa selalu memberinya uang yang cukup untuknya, tapi sang papa tidak pernah benar benar mempedulikannya.


Itu kenapa Anita bisa menyimpan rahasianya dengan mudah dari papanya.


Tak jarang Anita harus melewatkan malamnya bersama kesedihan dalam hatinya, meski begitu ia tidak pernah sekalipun melihat bagaimana perkembangan anaknya.


Ia bahkan sudah memutus kontak dengan Andi dan semua orang dari masa lalunya.


"mama yakin kamu akan baik baik saja, kamu akan hidup dengan cinta yang berlimpah untuk kamu sayang," batin Anita dalam hati saat ia mulai merindukan anaknya.


Tooookkkk tooookk tooookkk


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Anita.


"Non Anita sudah tidur?" tanya bibi dari luar pintu.


"Belum bi, masuk aja!" jawab Anita.


Bibi lalu membuka pintu kamar Anita dan masuk.


"Non Anita menangis lagi?" tanya bibi yang melihat mata Anita merah.


Anita hanya menggelengkan kepalanya dengan tersenyum. Selama ini ia selalu menyembunyikan kesedihannya, ia berusaha untuk tetap terlihat bahagia dengan apa yang sudah terjadi padanya.


Meski begitu, bibi selalu tau apa yang sebenarnya Anita rasakan saat itu. Hanya bibi yang selalu menemani Anita dan menenangkannya saat ia sedih.


Tak jarang ia akan tertidur dalam pelukan bibi saat ia menangis dan esok harinya semuanya akan berjalan seperti biasa seolah tak ada hal menyedihkan yang sudah terjadi.


Begitu seterusnya, sampai 2 tahun berlalu ia masih saja menjalani hidupnya dengan rasa sedih yang sewaktu waktu menikamnya dengan begitu dalam.


**


Di sisi lain, Andi menjalani kehidupannya dengan penuh kebahagiaan bersama baby Alana.


Dalam waktu dua tahun yang sudah berlalu, Andi beberapa kali mendatangi rumah Anita, namun hasilnya selalu nihil.


Anita sudah meninggalkan rumah itu bersama bibi. Andi juga sudah mencarinya ke semua tempat kursus Anita, tapi ia hanya mendapati jika Anita sudah keluar dari tempat kursus itu.


Setelah semua yang sudah ia lakukan untuk mencari Anita, akhirnya Andi menyerah.


Ia berpikir jika Anita benar benar sudah pergi untuk melupakan apa yang sudah terjadi. Tidak ada yang bisa Andi lakukan selain membiarkan Anita memulai kembali kehidupan barunya.


Andipun melanjutkan hidupnya tanpa Anita, ia selalu disibukkan dengan tugas kuliahnya dan juga pekerjaannya di home store, namun ia tetap memberikan kasih sayang dan perhatiannya pada baby Alana tanpa berkurang sedikitpun.


Saat baby Alana baru tinggal di rumah mama Siska, Andi juga memberi tahu ibu dan ayahnya tentang baby Alana.


Tentu saja mereka sama terkejutnya dengan mama Siska, namun mereka bisa memahami bahwa apa yang Andi lakukan saat itu adalah hal terbaik dari semua hal buruk yang terjadi.


Merekapun menyayangi baby Alana sebagai cucu pertama mereka.


Baby Alana tumbuh dengan banyak kasih sayang, cinta dan perhatian dari orang orang di sekitarnya, membuat kebahagiaan Andi semakin lengkap meski tanpa seorang istri di sampingnya.


Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam saat Andi baru saja menginjakkan kaki di rumah. Tugas kampus dan pekerjaan di home store membuatnya pulang terlambat hari itu.


Dengan raut wajah yang lelah Andi melangkahkan kakinya memasuki rumah. Saat ia baru saja menaiki tangga, sebuah suara membuatnya segera membawa pandangannya ke arah sumber suara yang didengarnya.


"Papa!"


Suara kecil nan lucu itu membuat Andi segera menuruni tangga dan menghampiri gadis mungilnya yang baru saja keluar dari kamar mama Siska bersama mbak Asih.


"Papa!" ucapnya lagi sambil berlari kecil menghampiri Andi.


Andi lalu menjatuhkan dirinya di lantai dan meregangkan tangannya untuk menyambut gadis mungilnya.


Seketika rasa lelah dan penatnya hilang begitu saja saat baby Alana sudah berada dalam dekapannya.

__ADS_1


"Papa!"


"Iya sayang, kenapa Alana belum bobok?" tanya Andi sambil mencium dua pipi menggemaskan milik baby Alana.


"Papa!"


"Maaf mas, non Alana dari tadi nggak mau bobok, padahal biasanya jam segini sudah tidur," ucap mbak Asih pada Andi.


"Nggak papa mbak, mbak Asih istirahat aja, biar Alana tidur sama saya!" ucap Andi.


"Baik mas," balas mbak Asih.


"Dia nungguin kamu, karena kamu pulang telat," ucap mama Siska pada Andi.


"Banyak yang harus Andi kerjain di home store ma," balas Andi.


"Ya udah, kamu naik, istirahat!"


"Mama juga," ucap Andi yang hanya dibalas anggukan kepala mama Siska.


Andi lalu menggendong baby Alana untuk diajak masuk ke kamarnya.


"Sekarang, Alana bobok ya sayang, besok main lagi," ucap Andi setelah membaringkan Alana di tempat tidurnya.


"Papa!"


Andi tersenyum dengan membelai wajah cantik gadis mungilnya itu. Karena terlalu lelah, tak butuh waktu lama bagi Andi untuk terpejam.


"Papa mama!"


Seketika Andi membuka matanya saat mendengar ucapan baby Alana.


"Mama?" tanya Andi.


"Mama!" ucap baby Alana menirukan ucapan Andi.


"Kamu mau dengar cerita tentang mama?" tanya Andi pada baby Alana.


"Mama Anita adalah mama yang membawa kamu ke dunia ini sayang, mama Anita sayang banget sama kamu, tapi mama Anita harus pergi karena..... karena...."


"Mama," ucap baby Alana dengan suara yang semakin lirih dan mata terpejam.


Andi menghela napasnya lalu mencium gadis mungilnya dengan penuh kasih sayang.


"Kamu hanya perlu tau kalau mama kamu adalah perempuan yang baik, yang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan kamu," ucap Andi lalu memejamkan matanya.


Malam yang semakin larut membawa Andi dan baby Alana tertidur dengan nyenyak, menghampiri mimpi indah yang akan menemani tidur mereka setiap malam.


**


Hari telah berganti. Hari itu Dini menjemput Dimas di tempat kerja Dimas.


Saat ia baru saja turun dari mobil, seseorang memanggilnya, Dinipun segera menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namanya.


"Hai Din, lama kita nggak ketemu," ucap Anita dengan memeluk Dini.


"Kamu kemana aja Nit? kenapa kamu nggak ada kabar sama sekali?" tanya Dini yang terkejut dengan kedatangan Anita yang tiba tiba.


"Banyak yang udah terjadi Din, kita ngobrol di sana ya!" ucap Anita sambil menunjuk ke arah kafe yang tak jauh dari perusahaan Dimas.


Dini menganggukan kepalanya tanpa ragu lalu pergi ke kafe itu bersama Anita.


"Apa aku ganggu waktu kamu sekarang? apa Dimas udah nunggu kamu?" tanya Anita saat mereka sudah duduk di dalam kafe.


"Enggak kok, kita masih punya waktu satu jam, aku emang biasa jemput Dimas lebih awal," jawab Dini.


"Baguslah kalau gitu, gimana kabar kamu Din?" tanya Anita pada Dini.


"Aku baik, kamu gimana? banyak yang harus kamu ceritain sama aku!"


"Aku nggak tau apa aku baik baik aja atau enggak, Andi pasti udah cerita sama kamu kan?"


"Iya, dia udah cerita semuanya," jawab Dini.


"Kamu mungkin berpikir kalau aku perempuan jahat yang rela ninggalin anaknya, tapi buat aku sendiri itu bukan keputusan yang mudah, aku nggak akan jelasin apapun sama kamu, aku juga nggak keberatan kalau kamu tetep anggap aku perempuan yang nggak baik, tapi aku ingin tetep bersahabat sama kalian semua," ucap Anita.


"Aku emang kecewa sama sikap kamu Nit, sama apa yang udah terjadi diantara kamu dan Andi, tapi aku nggak bisa menilai kamu gitu aja, aku tau pasti sulit berada di posisi kamu saat itu," balas Dini berusaha memahami keadaan Anita.


"Kamu emang teman yang baik Din," ucap Anita senang.


"Kamu sekarang tinggal dimana? sama siapa? kamu udah temuin Andi dan baby Alana?" tanya Dini dengan pertanyaan beruntun.


"Hahaha... aku bingung jawab pertanyaan kamu Din, tapi yang pasti aku udah nggak tinggal di rumahku yang lama, aku tinggal sama bibi sekarang," jawab Anita.


"Tapi kamu udah temuin Andi dan baby Alana kan? mereka pasti seneng banget ketemu kamu!"


"Iya.... aku udah temuin mereka kok," jawab Anita berbohong karena tujuannya memang hanya untuk menemui Dini setelah beberapa lama ia memperhatikan gerak gerik Dini.


"Baby Alana mirip banget sama Andi ya, dia kayak Andi versi cewek," ucap Dini.


"Iya, kamu bener," balas Anita.


Biiiiiipppp biiiipppp biiiiippp


Ponsel Dini berdering, sebuah pesan dari Dimas.


"Maaf sayang, aku pulang telat hari ini, kamu belum jemput aku kan?"


Dini menghela napasnya lalu membalas pesan Dimas.

__ADS_1


"Aku udah di kafe depan kantor kamu, kamu jam berapa selesai?"


"Mungkin 2 atau 3 jam lagi, kamu pulang aja sayang, aku akan cepat pulang setelah semuanya selesai!"


"Oke!"


Dini lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas dengan kesal.


"Kenapa Din?" tanya Anita.


"Dimas bilang 2 atau 3 jam lagi dia baru bisa pulang," jawab Dini.


"Kamu bilang dia kalau kamu disini sama aku?"


"Enggak, aku belum bilang," jawab Dini.


"bagus!" batin Anita dalam hati.


"Gimana kalau kamu sekarang ikut ke rumahku?" tanya Anita pada Dini.


"Ke rumah kamu? dimana?"


"Ikut aja, kita bikin kue bareng lagi," ucap Anita tanpa menjawab pertanyaan Dini.


"Oke, kita ke rumah kamu sama supirku ya?"


"Supir?"


"Iya, Dimas nggak akan bolehin aku keluar tanpa supir kalau Dimas lagi kerja," jawab Dini.


"Oh, oke, nggak papa," balas Anita ragu.


Mereka lalu meninggalkan kafe dan pergi ke alamat yang Anita tuju bersama pak Yusman, supir Dini.


Dalam perjalanan, diam diam Anita mengirim pesan pada seseorang.


"Buruan berangkat, sekarang!"


Tak butuh waktu lama, seseorang itu membalas pesannya.


"Oke!"


Anita dan Dini membicarakan banyak hal sepanjang perjalanan sampai mobil mereka mulai memasuki jalan yang lebih sempit.


"Kamu tinggal di daerah ini?" tanya Dini pada Anita.


"Iya, aku udah bilang sama kamu kan kalau aku tinggal sama bibi?"


"Ini jalan ke rumah bibi kamu?"


"Iya," balas Anita singkat.


Anita lalu memberikan petunjuk agar berbelok ke arah rumah yang berada di dekat tanah kosong.


Tanpa ragu pak Yusman membelokkan mobilnya sesuai petunjuk Anita. Dini dan Anitapun keluar dari dalam mobil.


Rumah yang tidak terlalu besar itu tampak indah dengan bunga bunga yang tertanam di halaman kecilnya.


Meski tidak terlalu luas, halaman kecil itu muat untuk satu mobil yang dikendarai pak Yusman.


"Ayo masuk Din!" ajak Anita.


Dini hanya menganggukkan kepalanya lalu mengikuti langkah Anita yang berjalan masuk ke dalam rumah.


Tiba tiba.....


BRAAAKKKK


Suara hantaman keras membuat Dini segera membawa pandangannya ke arah mobilnya. Dilihatnya seorang laki laki dengan membawa balok kayu berdiri di dekat mobilnya.


Ia juga melihat pak Yusman yang tergeletak di dekat mobilnya.


Belum selesai keterkejutan Dini, tiba tiba ia dibekap dari belakang dengan menggunakan kain yang sudah diberi obat bius. Alhasil, Dinipun terjatuh tak sadarkan diri.


Sedangkan pak Yusman, setelah diikat, dimasukkan ke dalam bagasi mobil dan tak lupa disuntikkan obat bius dengan dosis yang cukup tinggi.


"Lo kenapa pukul dia sih, dikasih obat bius aja kan bisa!" ucap Anita pada si laki laki.


"Lebih aman kayak gitu hehehe...."


"Bantuin gue bawa dia masuk!"


Laki laki itu menganggukan kepalanya lalu membantu Anita untuk membawa Dini masuk ke dalam rumah.


Anita mendudukkan Dini di kursi lalu mengikat tangan dan kakinya.


"Cantik juga," ucap si laki laki dengan menyentuh pipi Dini, namun segera ditarik oleh Anita.


"Dia bukan mainan lo!" ucap Anita.


"Oke oke, lalu apa yang akan lo lakuin sekarang?"


Anita lalu menarik kursi lain dan duduk di hadapan Dini.


"Gue masih belum yakin," ucap Anita dengan menatap Dini.


"Lo gila? lo udah ngelakuin sejauh ini dan lo masih nggak yakin?"


"Lo pergi aja, gue akan selesaiin semua ini sendiri," ucap Anita tanpa menjawab pertanyaan si laki laki.

__ADS_1


Laki laki itupun pergi meninggalkan Anita dan Dini.


"Makasih udah mau jadi teman baikku Din," ucap Anita pada Dini yang masih pingsan di depannya.


__ADS_2