
Matahari bersinar sangat terik sebelum musim hujan tiba. Andi berjalan ke arah rumah Dini, mengetuk pintu beberapa kali sebelum ibu Dini membukakan pintu.
"Ada apa Ndi? kamu nggak kerja?" tanya ibu Dini.
"Andi libur bu, Andi bawa buah sama kue kesukaan Dini," jawab Andi.
"Dia kayaknya masih tidur, kamu masuk aja ke kamar, ibu masih masak buat makan siang."
Andi lalu masuk ke kamar Dini dengan perlahan, berjaga jaga jika saja Dini sedang tidur karena ia tidak ingin mengganggu waktu istirahat Dini.
Andi menaruh satu kantong apel merah dan satu box kue kesukaan Dini di meja lalu duduk di samping Dini.
"aku akan pastiin kamu selalu baik baik aja Din," ucap Andi dalam hati sambil membelai rambut Dini.
Tiba tiba tangan Andi ditarik oleh Dini dan digenggamnya.
"Makasih Ndi," ucap Dini lalu membuka matanya.
Andi hanya tersenyum lalu mengecek suhu badan Dini yang mulai turun.
"Demam kamu udah turun Din, aku bawa buah sama cup cake kesukaan kamu," ucap Andi.
Dini lalu duduk di samping Andi. Meski ia tidak ingin makan apapun saat itu, setidaknya ia harus menghargai pemberian Andi.
Andi mengambil satu cup cake lalu menyuapkannya pada Dini. Ketika Andi akan mengambil lagi, tangan Dini menahannya.
"Kenapa?" tanya Andi.
Dini hanya menggeleng lalu memeluk Andi.
"Kamu pingin makan apa Din? cup cake yang lain? buah? atau apa?"
"Aku nggak pingin makan apa apa Ndi, Dimas bener bener bikin aku kenyang sampe 2 hari aku belum makan apapun."
"Itu bukan kenyang, kamu aja yang males makan!" ucap Andi dengan mendorong kening Dini dengan jari telunjuknya.
"Iya sih, hehe.... kamu nggak kerja? libur?"
"Iya, aku mau nemenin kamu disini."
"Kenapa kamu selalu so sweet gini sih, takutnya nanti aku jatuh cinta sama kamu," balas Dini dengan masih memeluk manja sahabatnya.
"Kalau gitu kamu harus ekstra jaga hati kamu biar nggak goyah!" balas Andi yang berusaha keras menahan debaran dalam hatinya.
Ucapan Dini yang terdengar santai itu nyaris membuat jantungnya copot. Beruntung Andi sudah lebih bisa mengendalikan debaran yang sering membuatnya salah tingkah.
"Aku cinta banget sama Dimas Ndi, nggak tau kenapa aku selalu percaya sama dia, walaupun berkali kali dia kecewain aku, pada akhirnya aku tetep sama dia," ucap Dini dengan pandangan kosong.
"Aku tau, tapi apa yang kamu lakuin sekarang pasti bikin dia sedih Din!"
Dini menoleh cepat, ia tidak mengerti maksud dari ucapan Andi.
"Kamu harus bahagia Din, Dimas ngajak kamu pilih jalan ini bukan tanpa alasan, aku tau banyak yang udah kalian berdua korbankan jadi aku mohon sama kamu jalani hidup kamu dengan baik, aku yakin nggak akan ada yang sia sia dari perjuangan kalian berdua," ucap Andi dengan menatap kedua mata Dini.
Dini mengangguk dengan tersenyum tipis.
"Iya Ndi, kamu bener, aku nggak bisa kayak gini terus, entah apa alasan ibu ngelakuin semua ini tapi ini juga bikin ibu nggak bahagia, aku, Dimas ataupun ibu, nggak ada yang bahagia dengan situasi sekarang, iya kan?"
"Iya, aku juga nggak akan bisa bahagia liat kamu kayak gini Din."
Dini lalu beranjak dari ranjangnya dan berdiri di hadapan Andi. Ia menarik napasnya dalam dalam lalu menghembuskannya pelan.
"Waktu bersedih selesai, aku siap lanjutin hidup baruku, aku nggak akan sedih lagi karena aku masih punya kamu dan ibu, aku akan tetep nunggu Dimas, selama apapun waktu yang dia butuhkan," ucap Dini dengan senyum manisnya.
"Gadis pintar," balas Andi lalu memeluk Dini.
"iya, kamu emang harus nunggu Dimas, dia akan kembali, dia akan kasih kamu kebahagiaan yang selalu kamu impikan," ucap Andi dalam hati.
Toookkk Toookk Toookk
Pintu kamar Dini diketuk dari luar oleh seseorang.
"Din, ada tamu kamu nih," ucap ibu Dini dari luar kamar.
"Siapa bu?"
"Atasan kamu, kalau perut kamu masih sakit ibu minta mereka pulang aja ya!"
"Jangan bu, Dini udah nggak papa kok, Dini keluar sekarang."
"atasan Dini? Adit? kenapa aku yang jadi gugup?" batin Andi dalam hati.
"Kamu keluar dulu Ndi, aku mau ganti baju!" ucap Dini dengan mendorong Andi keluar dari kamarnya.
Andipun keluar dari kamar Dini dan berjalan ke arah ruang tamu. Dilihatnya seorang laki laki dan perempuan yang baru ia kenal beberapa hari terakhir.
__ADS_1
"Mbak Ana!" panggil Andi lalu duduk di sofa.
"Hai Ndi, kamu di sini?"
"Iya mbak, Dini demam dari pagi, perutnya juga sakit katanya," jawab Andi.
"Pasti karena dia nggak pernah makan siang beberapa hari ini," sahut Adit.
"Eh iya, kenalin Ndi, ini Adit atasan saya di kantor, tepatnya mantan atasan saya hehe...."
"Iya mbak, kita udah pernah ketemu sebelumnya," balas Andi.
"Tapi belum kenalan kan? kenalan dulu lah!" ucap Ana dengan menarik tangan Adit dan mengulurkannya pada Andi.
Adit hanya diam menuruti perintah Ana. Otaknya seakan membeku tiba tiba dan dadanya kembali terasa nyeri. Begitu juga Andi yang dengan ragu menerima uluran tangan Adit.
Mereka saling berjabat tangan tanpa ada satu katapun yang terucap. Degup jantung keduanya semakin memompa dengan cepat. Hingga tiba tiba Adit menarik tangannya dan memegangi dadanya yang semakin terasa nyeri karena degupan yang tak bisa ia kendalikan.
"Lo kenapa Dit?" tanya Ana khawatir melihat Adit yang memegangi dadanya dengan wajah yang pucat.
"Nggak papa An, gue cuma....."
"Pak Adit, mbak Ana!"
Adit menghentikan ucapannya ketika Dini menghampiri mereka di ruang tamu.
"Hai Din, gimana keadaan kamu?" balas Ana.
"Udah baikan kok mbak, tinggal demam aja dikit, " jawab Dini.
"Din, aku pulang dulu ya!" ucap Andi lalu segera berdiri dari duduknya, namun Dini menahan tangan Andi.
"Tangan kamu basah, kamu nggak papa?" tanya Dini yang menyadari tangan Andi berkeringat.
Ia sangat mengenal Andi, jika tangannya sudah berkeringat itu artinya dia sedang tidak baik baik saja. Ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya saat itu.
"Aku..... aku nggak papa, saya permisi mbak Ana, Pak Adit," ucap Andi sambil melepas tangan Dini lalu segera meninggalkan rumah Dini.
"Dia baik baik aja?" tanya Ana pada Dini.
"Mungkin," jawab Dini ragu. Ia yakin Andi sedang tidak baik baik saja.
"Pak Adit kenapa? Pak Adit sakit?" tanya Dini yang baru menyadari wajah Adit tampak pucat.
Adit menggeleng dengan tersenyum kaku.
"Kamu kalau ada masalah di kantor bisa cerita sama saya Din, jangan terlalu memaksakan untuk lembur setiap hari!" ucap Ana pada Dini.
"Iya mbak, saya cuma mau selesaiin kerjaan saya sebelum deadline aja kok," balas Dini.
"Kamu juga harus jaga kesehatan kamu Din, saya sangat kacau karena tidak ada kamu di kantor," sahut Adit.
"Maaf pak," balas Dini.
"Kalian bisa nggak sih ngobrol santai aja, ini kan bukan di kantor, kaku banget!" ucap Ana.
Dini dan Adit hanya saling pandang tanpa mengucapkan apapun.
30 menit sebelum jam makan siang selesai, Adit berpamitan untuk kembali ke kantor. Begitu juga Ana yang harus segera mencari gedung untuk pesta pernikahannya.
**
Mentari telah kembali ke peraduannya. Menarik malam yang datang bersama bulan dan bintang.
Di sebuah meja makan yang dikelilingi kursi kayu dengan kualitas terbaik, Dimas dan keluarganya sedang makan malam bersama Yoga dan Sintia.
Sejak lulus SMA, Sintia sudah tidak tinggal bersama keluarga Adhitama. Ia memilih tinggal di sebuah tempat kos yang tak jauh dari kampusnya.
Sedangkan Yoga, ia lebih fokus pada bisnisnya sendiri yang sedang berada di puncaknya.
Meski usia Yoga dan Sintia terpaut beberapa tahun, sikap dewasa Yoga selalu mampu mengimbangi sikap manja Sintia. Pertengkaran pun tak jarang terjadi, namun mereka masih bersama dan berkomitmen untuk segera menikah setelah Sintia lulus kuliah.
"Kenapa lo nggak ngajak Dini Dim?" tanya Yoga pada Dimas.
"Dia.... dia lagi sibuk," jawab Dimas sekenanya.
"Pasti lagi berantem ya!" sahut Sintia.
"Anak kecil jangan sok tau," balas Dimas lalu beranjak dari duduknya, meninggalkan meja makan.
"Loh nggak dihabisin? masakan mama nggak enak ya?" tanya mama Dimas.
"Dimas udah kenyang ma," jawab Dimas lalu naik ke lantai dua.
"Kak Dimas marah ya kak?" tanya Sintia pada Yoga.
__ADS_1
"Enggak, dia lagi diet kayaknya hehe..." balas Yoga.
Setelah selesai makan malam, Yoga segera menghampiri Dimas di kamarnya. Ia yakin sahabatnya itu sedang tidak baik baik saja.
"Dim, gue masuk ya!" ucap Yoga dari depan pintu kamar Dimas.
Tak ada jawaban, Yoga pun membuka pintu kamar Dimas dan masuk begitu saja.
Dilihatnya Dimas sedang duduk di jendela kamarnya dengan memandang kosong ke arah luar.
"Apa seberat itu masalah lo?" tanya Yoga.
"Gue nggak bisa mikir lagi Ga," jawab Dimas tanpa mengalihkan pandangannya dari kegelapan malam.
"Cerita dari awal biar gue bisa tau apa yang harus gue lakuin!"
Dimas lalu turun dan jendela dan duduk di ranjangnya. Tanpa ragu ia menceritakan semua masalahnya pada Yoga. Tentang penolakan ibu Dini yang begitu tiba tiba, tentang alasan yang disampaikan ibu Dini, tentang keputusannya bersama Dini dan semua hal yang meresahkan pikirannya beberapa hari terakhir.
"Lo udah cari tau yang sebenernya?" tanya Yoga.
"Buntu Ga, gue nggak tau harus cari tau dimana lagi, gue udah temuin identitas ayahnya Dini dan disitu bukan nama ibu Dini yang jadi istrinya, tapi anak dari manajer di perusahaan cabang, mereka menikah dan tinggal di luar pulau," jawab Dimas.
"Om Tama pasti punya alasan buat ngelakuin hal itu Dim, pasti ada sesuatu yang jadi alasan semua itu terjadi," ucap Yoga.
"Gue juga mikirin itu Ga, tapi apa? gimana gue bisa cari tau apa yang sebenarnya terjadi kalau sama sekali nggak ada petunjuk buat gue!"
"Apa om Tama sama tante Angel tau tentang hal ini?"
Dimas menggeleng pelan.
"Buat sementara mama sama papa nggak tau, tapi gue yakin nggak akan lama lagi papa pasti tau kalau gue sama Dini lagi break!"
"Sebelum om Tama cari tau lebih lanjut, lo harus jelasin keadaannya sama om Tama dan tante Angel Dim, kasih pengertian mereka dan yakinin mereka kalau lo bisa selesaiin ini sendiri, karena gue yakin masalahnya akan semakin rumit kalau om Tama dan tante Angel tau masalah lo sama ibunya Dini!"
"Lo tau papa Ga, papa nggak akan percaya gitu aja sama gue, papa pasti selidiki semuanya sendiri tanpa sepengetahuan gue!"
"Dan om Tama pasti percaya kalau lo bisa selesaiin ini sendiri."
Dimas menghela napasnya panjang. Ia tau, sehebat apapun ia menyimpan masalahnya, sang papa akan selalu tau. Tapi ia juga tau, papanya akan memberinya kesempatan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri sebelum sang papa turun tangan.
"Gue pasti bantuin lo Dim, lo tinggal yakinin om Tama aja buat percaya sama lo!" ucap Yoga.
Tepat jam 8 malam, Yoga dan Sintia sudah meninggalkan rumah Dimas.
Dimas pun mengajak mama dan papanya untuk berbicara di ruang kerja sang papa.
"Ada apa sayang? apa ada masalah di home store?" tanya mama Dimas.
Dimas menggeleng.
"Ma, Pa, ada sesuatu yang harus Dimas ceritain, Dimas harap mama sama papa bisa nerima keputusan ini dengan baik," ucap Dimas.
"Ada apa sayang? kamu jangan bikin mama takut."
"Ma, Pa, Dimas sama Andini udah mutusin buat break, ini cuma sementara, kita....."
"Dimas, kalian itu udah tunangan, nggak akan lama lagi kalian menikah dan sekarang kalian break? kalian bukan pacaran lagi Dimas, kalian...."
"Ma, dengerin dulu," ucap papa memotong protes sang istri.
"Dimas tau ma, tapi ini keputusan kita berdua, ada sesuatu yang maksa kita ngelakuin ini, tolong mama sama papa ngerti, ini juga berat buat Dimas dan Dini, tapi ini juga yang terbaik buat kita ma, Pa."
"Apa ada masalah besar diantara kalian?" tanya sang papa.
"Ini yang mau Dimas bicarain sama papa, tolong papa biarin Dimas selesaiin masalah ini sendiri, papa selalu ngajarin Dimas buat nggak bergantung sama mama dan papa, jadi Dimas mohon biarin Dimas selesaiin masalah ini tanpa papa turun tangan."
"Sayang, ada apa sih sebenernya? cerita yang jelas biar mama sama papa bisa bantu, mama....."
"Ma, anak kita sudah dewasa, biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri," ucap papa Dimas memotong ucapan istrinya.
"Tapi Pa....."
"Ma, Dimas pasti minta bantuan mama papa kalau emang Dimas udah nggak sanggup selesaiin masalah ini, Dimas janji."
"Mama bener bener nggak ngerti sama jalan pikiran kalian, anak bapak sama aja!" balas mama Dimas kesal.
Dimas dan papanya hanya tersenyum melihat perempuan tercantik mereka kesal.
"Tapi kamu sama Dini masih baik baik aja kan? kamu masih cinta kan sama dia? dia juga masih cinta kan sama kamu?" tanya mama Dimas pada Dimas.
"Nggak ada yang berubah ma, mama tenang aja, kita cuma take our time buat sendiri dulu," jawab Dimas.
"Oke, papa nggak akan ikut campur, tapi dengan satu syarat!" ucap papa Dimas.
"Syarat apa Pa?" tanya Dimas.
__ADS_1
"Setelah masalah kamu selesai, kamu harus masuk ke perusahaan, ini bukan paksaan, tapi penawaran, kamu setuju?"
Dimas diam beberapa saat. Mimpinya dari kecil adalah memiliki bisnis yang ia rintis dari bawah, meski ia tau jika pada akhirnya nanti ia tetap harus melanjutkan bisnis sang papa.