Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Terungkapnya Fakta


__ADS_3

Jam masih menunjukkan pukul 9 pagi. Adit masih sibuk dengan pekerjaannya.


Biiiiiipppp biiiipppp biiiiippp


Panggilan dari ponselnya membuat Adit menghentikan gerak jarinya di atas keyboard.


Adit mengambil ponselnya dari saku dan melihat nama Candra di layar ponselnya. Adit segera menerima panggilan itu dengan panik karena jika Candra sudah menghubunginya itu artinya ada sesuatu yang terjadi di rumah Ana.


"Halo pak Adit, maaf menganggu, ini ada ibu ibu datang dan mengaku mamanya pak Adit," ucap Candra.


"Mama?"


"Bu, berhenti bu, jangan masuk!" ucap Candra dengan berteriak dan tampak sedang berlari.


"Biarkan Candra, itu mama saya, saya akan kesana sekarang!" ucap Adit lalu berdiri dari duduknya.


"Baik pak," balas Candra.


Panggilan berakhir. Adit memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya dan segera keluar dari ruangannya.


Adit masuk ke ruangan Dini sebelum ia meninggalkan kantor.


"Din, kakak harus pergi, kamu handle semuanya, kamu datang ke meeting yang penting sama Jaka, sisanya kamu pending aja!" ucap Adit lalu segera keluar dari ruangan Dini.


Dini masih terdiam bahkan belum sempat menjawab apapun saat Adit berbicara padanya.


"Pasti ada sesuatu yang genting, apa ini tentang mama Siska? atau mbak Ana?"


"Entahlah, aku nggak boleh ikut campur," ucap Dini pada dirinya sendiri.


Dini lalu menemui Jaka dan menyampaikan pesan Adit pada Jaka.


Di sisi lain, Adit yang sedang berjalan di lobby dengan terburu buru segera dihampiri oleh Rudi.


"Kamu pulang aja Rud, saya bawa mobil sendiri!" ucap Adit tanpa menoleh ke arah Rudi.


"Baik pak," balas Rudi lalu berhenti mengikuti Adit.


Baru saja Adit memasuki mobilnya, ponselnya kembali berdering, sebuah panggilan dari sang mama.


"Halo ma," ucap Adit ragu.


"Kamu pasti tau dimana mama sekarang kan? cepat ke sini!"


"Iya ma, Adit kesana sekarang!" balas Adit.


Panggilan berakhir, Adit segera menancap gas ke arah rumah Ana. Ia berharap agar sang mama bisa mengendalikan emosinya dan tidak menyakiti Ana.


**


Flashback sebelum mama Siska datang


Pagi itu Ana sedang mengerjakan artikel di kamarnya saat Bu Desi pergi ke pasar bersama Agus.


Sedangkan Lisa membersikan halaman belakang rumah.


Tooookkkk tooookk tooookkk


Suara ketukan pintu membuat Ana menghentikan kegiatannya beberapa saat untuk memastikan pendengarannya.


Tooookkk tooookkk tooookkk tooookkk tooookkk


Suara ketukan pintu semakin nyaring terdengar, membuat Ana segera keluar dari kamarnya.


"Tumben ada yang ngetuk pintu, siapa? Adit kan nggak pernah ngetuk pintu, Bu Desi? apa Lisa kunci pintunya?" batin Ana bertanya tanya sambil berjalan ke arah pintu.


Ana lalu membuka pintu dan begitu terkejut saat melihat seorang wanita berdiri di hadapannya.


Ana terdiam tak mampu berkata kata lagi, tenggorokannya seperti tercekat saat melihat mama Siska di hadapannya.


"Ana!" ucap mama Siska yang tak kalah terkejutnya dengan Ana.


Mereka masih saling diam dengan keterkejutan mereka masing masing.


Tak lama kemudian Bu Desi datang dan masuk ke dalam rumah.


"Permisi," ucap Bu Desi saat melewati Ana dan mama Siska yang masih terdiam di tempat mereka berdiri.


Dengan ragu Ana mempersilakan mama Siska untuk masuk.

__ADS_1


"Ss.... silakan masuk.... ma....," ucap Ana ragu.


Mama Siskapun melangkahkan kakinya memasuki rumah itu dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


Tak lama kemudian Bu Desi datang dengan membawa minuman untuk mama Siska. Meski Bu Desi tidak tau siapakah wanita yang bersama Ana, ia menganggap wanita itu adalah tamu Ana.


Ana dan mama Siska hanya diam dengan segala pikiran mereka masing masing. Mama Siska merasa hatinya hancur melihat Ana dengan perut besarnya duduk di hadapannya. Ia merasa gagal mendidik Adit sehingga membuat Adit melakukan hal yang diluar batas pada Ana.


Sedangkan Ana hanya diam menundukkan kepalanya. Ia tidak berani untuk sekedar mengangkat kepalanya apalagi menatap mama Siska dan berbicara pada mama Siska.


Mama Siska lalu menghubungi Adit dan meminta Adit untuk datang.


Setelah memastikan Adit datang, mama Siska kembali terdiam dengan amarah yang sudah memenuhi dirinya saat itu.


Ia tidak menyangka anak kebanggannya akan melakukan hal itu di belakangnya. Adit yang sudah berjanji untuk tidak mengecewakannya justru menjatuhkannya jauh ke dalam jurang kekecewaan karena apa yang sudah Adit lakukan dengan Ana.


Ia merasa gagal menjadi seorang ibu, ia gagal mendidik Adit dengan baik dan ia gagal menjaga harkat dan martabat sang suami yang sudah tiada.


Flashback off.


**


Setelah menunggu beberapa lama, suara mobil terdengar memasuki halaman rumah Ana. Aditpun melangkahkan kakinya masuk dan mendapati sang mama dan Ana yang duduk dalam kebisuan.


Mama Siska yang menyadari kedatangan Adit segera berdiri dari duduknya dan menghampiri Adit lalu melayangkan tamparannya dengan keras pada Adit.


"Kamu keterlaluan Adit!" ucap mama Siska dengan mata berkaca kaca menahan emosi dalam dirinya.


Ana yang melihat hal itu segera beranjak dari duduknya.


Saat mama Siska mengangkat tangannya bersiap untuk kembali menampar Adit, Ana segera berdiri di depan Adit, membuat tangan mama Siska tanpa sengaja menampar Ana dengan keras.


Adit dan sang mamapun begitu terkejut dengan apa yang Ana lakukan. Ana lalu menjatuhkan dirinya di hadapan mama Siska. Dengan perut besarnya, ia berusaha memohon dengan memegang kaki mama Siska.


"Ana mohon jangan marah sama Adit, ini semua salah Ana ma," ucap Ana dengan terisak.


Hatinya terasa perih saat melihat Adit ditampar oleh mama Siska. Ia tidak akan membiarkan laki laki yang telah menariknya dari jurang kesedihan itu tersakiti meski oleh siapapun, bahkan mama Siska sekalipun.


Saat itu juga ia akan merelakan Adit jika memang mereka tidak bisa bersatu. Ia tidak peduli bagaimana mama Siska akan menilai dirinya jika mama Siska tau seperti apa cerita yang sebenarnya. Baginya yang terpenting adalah tidak ada seorangpun yang boleh menyakiti Adit.


Adit lalu berjongkok dan memegang kedua bahu Ana untuk membawanya berdiri. Adit mengusap perut Ana dengan pelan seolah menenangkan bayi dalam kandungan Ana agar tidak terpengaruh dengan apa yang Ana rasakan saat itu.


"Ana minta maaf ma, Ana udah bawa Adit dalam masalah Ana, nggak seharusnya Adit terlibat sama apa yang terjadi sama Ana, ini semua salah Ana, mama boleh marah dan tampar Ana sepuas mama karena ini memang salah Ana," ucap Ana dengan menundukkan kepalanya.


"Kalian berdua sama saja!" ucap mama Siska lalu menghempaskan dirinya di sofa.


Adit lalu membawa Ana untuk duduk di sofa, ia kembali mengusap perut Ana karena khawatir pada keadaan sang bayi.


"Ini bukan salah kamu An, aku akan jelasin semuanya sama mama dan apapun yang terjadi nggak akan ada yang bisa pisahin kita, termasuk mama," ucap Adit dengan membawa pandangannya pada sang mama di akhir kalimatnya.


"Mama memang bukan mama yang baik buat kamu Adit, tapi mama nggak pernah mengajarkan kamu melakukan hal di luar batas seperti ini!" ucap mama Siska penuh emosi.


"Adit sayang dan cinta sama Ana ma, Adit....."


"Kalau kalian saling mencintai seharusnya kalian menikah, bukan menjalin hubungan diam diam dan.... dan melakukan hal yang tidak seharusnya kalian lakukan!" ucap mama Siska.


"Adit memang bohong sama mama, tapi Adit nggak pernah ngelakuin hal di luar batas yang mama maksud!" ucap Adit.


"Cukup Adit, mama kecewa sama kamu, mama juga kecewa sama kamu Ana, sebagai perempuan seharusnya kamu bisa jaga harga diri kamu dengan baik dan kamu Adit, kamu bukan laki laki yang pantas buat jadi penerus papa kamu di perusahaan, kamu sudah mencoreng nama baik keluarga dan perusahaan!"


"Ma, Adit....."


Adit menghentikan ucapannya saat Ana merintih dan memegangi perutnya.


"Kenapa An?" tanya Adit dengan ikut memegang perut Ana.


"Nggak papa, dia cuma lagi nendang nendang," jawab Ana.


Adit tersenyum tipis dan mengusap perut Ana dengan lembut.


"Tenang ya sayang, semuanya akan baik baik aja," ucap Adit dengan mendekatkan wajahnya di perut Ana.


Mama Siska yang melihat hal itu sedikit luruh hatinya. Itu adalah kali pertama dalam hidupnya melihat Adit yang tampak begitu tulus menyayangi Ana dan bayi dalam perut Ana.


Selama ini mama Siska hanya melihat cinta dan kasih sayang Adit untuknya, namun saat itu ia melihat cinta dan kasih sayang itu terpancar untuk perempuan lain selain dirinya.


"Adit akan ceritain semuanya sama mama, setelah mama tau kebenarannya, apapun keputusan mama Adit minta maaf karena Adit nggak akan lepasin Ana dan bayi dalam kandungan Ana," ucap Adit pada sang mama.


"Kebenaran apa yang kamu maksud?" tanya mama Siska tak mengerti.

__ADS_1


Aditpun menceritakan apa yang terjadi pada Ana dan Deva. Mulai dari pernikahan mereka yang gagal, Deva yang sudah memiliki istri dan Ana yang hamil saat Ana tau semua kebohongan Deva padanya.


Mama Siska mendengarkan cerita Adit dengan seksama. Sesekali ia tampak mengernyitkan dahinya mendengar bagaimana perlakuan Deva pada Ana yang sedang mengandung hasil dari perbuatan mereka.


Mama Siska tidak menyangka jika takdir pahit itu menimpa gadis di hadapannya.


"Apa semua itu benar An?" tanya mama Siska pada Ana.


"Iya ma, semua itu benar," jawab Ana yang masih menundukkan kepalanya.


"Selama ini sampai detik ini Adit nggak pernah ngelakuin apa yang mama pikirkan ma, Adit sayang dan cinta sama Ana, yang bisa Adit lakuin cuma jagain Ana dan kasih semua yang Adit bisa untuk kebahagiaan Ana, jadi tolong jangan paksa Adit buat ninggalin Ana," ucap Adit memohon pada sang mama.


Mama Siska lalu beranjak dari duduknya dan duduk di samping Ana. Matanya berkaca kaca memperhatikan perut besar Ana. Ia tidak bisa membayangkan bagiamana tersiksanya Ana dengan keadaannya selama ini.


Mama Siska lalu menggenggam tangan Ana dan satu tangannya lagi mengusap perut Ana, membuat Ana dan Adit begitu terkejut dengan apa yang mama Siska lakukan.


"Dia pasti akan jadi anak yang kuat, sekuat mamanya," ucap mama Siska dengan suara bergetar.


"Ma...."


"Semua ini pasti sulit buat kamu, tapi kamu tetap bertahan dengan keadaan yang tidak seharusnya terjadi ini, kamu perempuan yang hebat Ana," ucap mama Siska dengan membawa pandangannya pada Ana.


Ana hanya diam dengan mata yang berkaca kaca. Mama Siska lalu memeluk Ana. Hatinya terasa hancur saat ia mengetahui apa yang terjadi pada Ana.


Perempuan yang sudah dikenalnya dengan baik itu telah kehilangan masa depannya karena kesenangan sesaat bersama pria yang tidak bertanggung jawab. Kesalahan itu membuatnya harus menanggung beban hidupnya seorang diri tanpa suami yang seharusnya ada di sampingnya.


"Apa Adit memperlakukan kamu dengan baik selama ini? apa kamu bahagia tinggal di sini?" tanya mama Siska dengan membelai wajah Ana.


Ana hanya menganggukkan kepalanya tanpa bisa bersuara. Ia terlalu bahagia karena mama Siska bisa memahami keadaanya.


"Jangan menangis sayang, mama minta maaf karena sikap mama yang berlebihan, jangan menangis lagi sayang," ucap mama Siska dengan menghapus air mata di pipi Ana lalu kembali memeluk Ana.


Untuk beberapa saat mereka saling berpelukan dengan haru. Begitu juga Adit yang akhirnya bisa bernapas lega karena sang mama tidak membenci Ana dan memahami keadaan Ana.


"Kenapa kamu biarin dia tinggal di rumah kecil seperti ini Dit? kamu seharusnya bisa siapin rumah yang jauh lebih besar dari ini!"


"Ini cuma sementara ma, Adit udah siapin rumah di tempat lain yang lebih besar dari rumah ini," jawab Adit.


Ana kembali merintih saat bayi dalam perutnya menendang ke bagian ulu hatinya.


"Mama antar kamu ke kamar ya!" ucap mama Siska lalu membantu Ana berdiri.


Aditpun mengikuti sang mama dan Ana masuk ke dalam kamar.


"Mama nggak tega kalau harus biarin kamu di sini sendirian sayang, kamu ikut mama pulang ya!" ucap mama Siska pada Ana.


Ana lalu membawa pandangannya pada Adit seolah meminta Adit membantunya berbicara.


"Ma, Ana nggak bisa keluar kemana mana sekarang, di sini ada Bu Desi dan Lisa kok yang nemenin Ana," ucap Adit.


"Kamu nggak tau apa apa tentang ibu hamil Dit, perempuan yang hamil itu butuh perhatian khusus, dia akan jadi lebih manja dan harus selalu diperhatikan," ucap mama Siska.


"Ana baik baik aja kok ma di sini, Adit juga sering ke sini," ucap Ana.


"Tetep aja sayang, akan lebih baik kalau ada yang nemenin kamu setiap saat, apa lagi kandungan kamu sudah besar," ucap mama Siska.


"Kita bahas itu nanti ya ma, biar Ana istirahat dulu," ucap Adit.


"Iya, kamu istirahat ya, maaf atas sikap mama yang berlebihan tadi," ucap mama Siska pada Ana.


"Ana juga minta maaf ma," balas Ana.


"Kamu nggak boleh stres, kamu nggak boleh kecape'an, oke?"


Ana menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.


Mama Siska dan Aditpun keluar dari kamar Ana.


"Adit nggak bisa bawa Ana pulang ke rumah ma," ucap Adit pada sang mama.


"Kenapa? mama bisa jagain dia dengan baik kalau dia tinggal sama mama Dit!"


"Mama inget masalah kemarin kan? Adit nggak mau hal itu terjadi lagi dan sebelum Adit menikahi Ana, Adit nggak bisa izinin Ana buat keluar dari rumah ini."


"Tapi kamu berlebihan Adit, perempuan hamil nggak boleh stres, kalau Ana cuma diem aja di rumah dia pasti stres!"


"Adit ngelakuin ini juga demi Ana ma, demi mama dan perusahaan papa," ucap Adit.


Mama Siska terdiam mendengarkan ucapan Adit. Bagaimanapun juga ia tau bagaimana rasanya hamil dan melahirkan, ia tidak ingin Ana mengalami kesulitan seperti yang ia alami dulu.

__ADS_1


__ADS_2