Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Gaun


__ADS_3

Andi yang masih berada di kantor Adit segera beranjak dari duduknya setelah Dini pergi. Sebenarnya ia tidak ingin menemui Adit, ia hanya beralasan pada Dini agar bisa berlama lama bersama Dini.


Andi lalu keluar dari kantor dan mengendarai mobilnya ke arah home store.


Sesampainya di home store ia fokus pada pekerjaannya dan memastikan semuanya berjalan dengan baik.


Saat Andi membuka laci mejanya, ia melihat dua surat yang ada di sana, mengingatkannya pada seseorang yang berinisial A yang pasti sangat kecewa padanya.


Andi lalu mengambil buku catatannya di laci dan mengabaikan surat itu. Ia tidak terlalu memikirkan surat itu lagi.


Entah itu Aletta ataupun Anita, ia yakin jika memang mereka ditakdirkan untuk bertemu lagi, mereka akan kembali bertemu sesuai dengan alur yang sudah tertulis.


Untuk saat itu Andi hanya ingin menghabiskan sisa waktunya bersama Dini yang semakin sedikit sejak kedatangan Dimas.


Setiap ia mengingat pernikahan Dini dan Dimas yang tidak akan lama lagi terjadi membuatnya ragu pada dirinya sendiri.


Ia tidak yakin apakah ia bisa menerima hal itu atau tidak. Ia memang mengharapkan kebahagiaan bagi Dini, tapi melihat pernikahan Dini dengan laki laki lain pasti akan sangat menyakitkan baginya.


Dadanya terasa sesak dan perih setiap ia membayangkan hal itu terjadi. Berkali kali ia coba menyadarkan dirinya jika pernikahan itu adalah kebahagiaan bagi Dini dan sudah seharusnya ia pun ikut berbahagia.


Namun hatinya seolah enggan untuk merasa bahagia di atas rasa sakit yang menusuk jauh ke dalam hatinya.


**


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang namun Dini masih sibuk di ruangannya.


Adit lalu menghampiri Dini dan memberikannya file yang harus Dini kerjakan setelah makan siang.


"Kamu kerjain abis makan siang aja!" ucap Adit.


"Dikerjain sekarang juga nggak papa," balas Dini.


"Tapi kamu harus makan siang Din!"


"Males ah kak, temen temen pada ngeselin," balas Dini.


Adit hanya tersenyum tipis lalu keluar dari ruangan Dini dan tak lama kemudian kembali dengan membawa dua kotak makanan dan minuman.


"Setidaknya kamu harus makan walaupun nggak di kantin," ucap Adit sambil memberikan satu kotak makanan pada Dini.


"Waaahh, makasih kak!" balas Dini.


Dini dan Aditpun menikmati makan siang mereka berdua di ruangan Adit.


"Kak Adit udah ketemu Andi tadi?" tanya Dini.


"Dari bangun tidur juga ketemu Din, emang kenapa?"


"Bukannya kak Adit semalem nggak pulang?" tanya Dini.


"Siapa bilang? kakak pulang kok!"


"Tapi Andi bilang kak Adit nggak pulang, makanya Andi nganterin Dini dan nungguin kak Adit di lobby tadi," ucap Dini yang membuat Adit tersenyum tipis.


"Kenapa kak Adit senyum? kak Adit emang nggak pulang kan? tidur di rumah mbak Ana kan?"


Adit hanya tersenyum dan menahan tawanya melihat sikap Dini.


"Iiiihhh, kak Adit kenapa sih!"


"Kamu emang nggak peka banget Din," ucap Adit yang membuat Dini mengernyitkan dahinya.


Adit mengerti maksud Andi berbohong pada Dini adalah agar Andi bisa berlama lama bersama Dini, sayangnya Dini tidak pernah menyadari hal itu.


"Kok nggak peka? maksudnya gimana?" tanya Dini tak mengerti.


"Udah udah, lanjutin makannya," ucap Adit tanpa menjawab pertanyaan Dini lalu keluar dari ruangan Dini.


"Dasar bos aneh!" ucap Dini kesal.


Dini kembali melanjutkan pekerjaannya setelah selesai makan siang.


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan lewat dari pukul 4. Dini membereskan meja kerjanya dan keluar dari ruangannya.


Setelah memastikan tidak ada lagi pekerjaan yang harus ia kerjakan, Dinipun turun ke lobby.


Dini tersenyum senang saat melihat sahabatnya yang sudah menunggunya di lobby.


"Ciiiieee ditungguin, dijemput lagi nih!" goda Ica yang tiba tiba muncul di hadapan Dini.


"Kamu mau ikut juga?" balas Dini bertanya.


"Enggak ah, aku nggak mau ganggu hehehe...."


"Nggak usah didengerin Din, sakit emang nih anak, kamu harus tetep setia sama pacar kamu!" sahut Aca yang tiba tiba datang.


"Andi itu tipe masa depan yang sempurna Din, kalau kamu nggak mau, buat aku aja hehehe...." ucap Ica.


Dini hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat sikap Ica dan Aca.


"Kenalin dong Din, sekedar kenal aja nggak papa kan? aku nggak akan rebut dia dari kamu kok hehehe...." ucap Ica dengan menggandeng tangan Dini.


"Lo kegatelan banget sih!" sahut Aca.


"Tapi lo juga mau kenalan kan?" tanya Ica pada Aca.


"Iya sih, hehehe...."

__ADS_1


"Kalian emang sama aja," balas Dini dengan membawa pandangannya pada Aca dan Ica yang saat itu sudah menggandeng tangan kanan dan kirinya.


"Kita kan kembar," sahut Aca dan Ica bersamaan membuat mereka bertiga tertawa.


Dini, Ica dan Acapun berjalan ke arah Andi. Andi segera beranjak dari duduknya saat melihat Dini datang bersama teman temannya.


"Kamu udah dari tadi?" tanya Dini berbasa basi.


"Barusan kok," jawab Andi dengan senyumnya yang membuat Ica dan Aca meleleh.


"Ini temen temenku mau kenalan sama kamu, ini....."


"Ica, teman baiknya Dini yang paling cantik," ucap Ica memotong ucapan Dini dan mengulurkan tangannya pada Andi dengan senyum manisnya.


"Andi," balas Andi dengan membalas uluran tangan Ica.


Untuk beberapa saat Ica hanya tersenyum dengan menatap wajah Andi, tangannya menggenggam tangan Andi dengan erat membuat Andi sedikit kesusahan untuk melepaskannya.


Aca lalu memukul tangan Ica, membuat Ica melepaskan tangan Andi dengan kesal.


"Aku Aca, temen Dini juga, kita biasa makan siang bareng," ucap Aca dengan mengulurkan tangannya.


"Andi," balas Andi dengan membalas uluran tangan Aca.


"Ganteng banget jodoh orang," ucap Ica yang masih fokus menatap wajah Andi.


"Udah udah, aku pulang dulu, kalian juga cepetan pulang!" ucap Dini dengan menarik tangan Andi dan mengajaknya pergi dari Ica dan Aca.


"Eeehh.... eehhh.... loh.... kok buru buru sih... aaaahhhh Dini nggak seru!" rengek Ica yang melihat Andi pergi bersama Dini.


"Dasar cewek genit!" ucap Aca lalu meninggalkan Ica begitu saja.


Icapun berlari mengejar Aca dan memukul kepalanya lalu berlari mendahului Aca.


Di sisi lain, Andi mengajak Dini untuk pergi ke kafe yang tak jauh dari kantor Dini. Ia sudah beberapa kali mengajak Dini ke kafe itu hanya untuk membeli ice cream.


"Maafin temen temenku tadi ya!" ucap Dini pada Andi saat mereka sudah berada di kafe.


"Nggak papa, mereka seru," balas Andi dengan tersenyum.


Dini lalu mengambil tasnya dan menutup wajah Andi menggunakan tasnya.


"Kenapa?" tanya Andi dengan mengalihkan tas Dini dari hadapannya.


"Lain kali kamu nggak boleh senyum kayak gitu lagi!" ucap Dini dengan tatapan tajam.


"Kenapa?"


"Kenapa? kamu nggak sadar kalau senyum kamu itu bikin cewek jatuh cinta sama kamu, jadi jaga senyum kamu itu cuma buat aku!"


Andi lalu tersenyum tipis, menopang dagunya di meja dan menatap Dini dengan senyum manisnya.


Dini menelan ludahnya melihat apa yang Andi lakukan. Seketika ia teringat kejadian di bukit saat terakhir kali ia berada di sana bersama Andi.


"Permisi, ini pesanan kakak," ucap waiters yang datang dengan membawa ice cream pesanan Dini dan Andi.


Dini seketika tersadar dan mengalihkan pandangannya dari Andi. Ia lalu menyendok ice cream di hadapannya.


Saat Dini menyeka ice cream di bibirnya, ia kembali teringat saat tanpa sengaja Dini menjilat jari Andi, membuat Dini seketika menutup matanya rapat rapat berusaha menghilangkan pikiran pikiran nakal itu.


"Kenapa Din?" tanya Andi.


"Ice cream nya dingin," jawab Dini sekenanya yang membuat Andi tidak bisa menahan tawanya.


"Hahaha.... namanya ice cream ya pasti dingin dong Din, ada ada aja kamu!"


Dini hanya tersenyum canggung, malu atas jawaban konyolnya.


Biiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Dini berdering, sebuah panggilan dari Dimas.


"Halo Dimas."


"Halo sayang, kamu masih di kantor nggak? aku mau jemput kamu kalau kamu masih di kantor!"


"Jemput aku? aku..... aku....."


Andipun menganggukkan kepalanya pada Dini saat ia mendengar Dimas akan menjemput Dini.


"Nggak papa," ucap Andi tanpa bersuara.


"Iya aku masih di kantor," ucap Dini.


"Oke, 10 menit lagi aku sampai," ucap Dimas.


Panggilan berakhir. Dini membawa pandangannya pada Andi dengan rasa bersalah.


"Aku anter kamu balik sekarang!" ucap Andi yang hanya dibalas anggukan kepala Dini.


Selama perjalanan kembali ke kantor, Andi hanya diam tanpa berbicara apapun pada Dini.


"Kamu marah sama aku?" tanya Dini saat mereka sudah sampai di depan kantor.


"Enggak, kenapa aku harus marah?"


"Karena aku harus pergi tiba tiba," jawab Dini.

__ADS_1


"Nggak papa, aku ngerti," ucap Andi dengan membelai rambut Dini.


Dini lalu turun dari mobil Andi. Ia berdiri di tepi jalan raya melihat mobil Andi yang semakin jauh dari pandangannya.


"maafin aku Ndi, setelah aku menikah, apa semuanya akan baik baik aja? pasti ada yang berubah dari hubungan kita," batin Dini dalam hati.


Dini lalu menunggu Dimas di kursi yang ada di dekat pos satpam.


Tak lama kemudian Dimas sampai. Setelah Dini duduk di sampingnya, Dimas mengendarai mobilnya ke arah butik tempat sang mama menunggu.


"Kita mau kemana?" tanya Dini pada Dimas.


"Ke butik, mama udah nunggu di sana," jawab Dimas.


"Ke butik? ngapain?"


"Fitting," jawab Dimas dengan senyum manisnya.


"Fitting?" tanya Dini yang hanya dibalas anggukan kepala Dimas.


"fitting?"


Ucapan Dimas membuat Dini tersadar jika pernikahannya dengan Dimas tinggal sebentar lagi. Keputusan terbesar dalam hidupnya sudah ia pilih.


Apapun resiko yang akan ia terima, ia harus siap menghadapinya, termasuk menjadi lebih berjarak dengan Andi.


"Sayang, are you okay?" tanya Dimas yang melihat Dini tiba tiba diam.


"Iya, aku cuma.... aku nggak nyangka aja pernikahan kita semakin dekat," jawab Dini dengan memaksakan senyumnya.


"Apa kamu masih ragu?" tanya Dimas dengan menggenggam tangan Dini.


"Enggak, aku yakin sama pilihanku," jawab Dini dengan tersenyum pada Dimas.


Entah kenapa ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya saat ia mengatakan hal itu.


Sesampainya mereka di butik, Dimas tidak segera turun dari mobil. Ia mencegah tangan Dini yang akan membuka pintu mobil.


"Kenapa?" tanya Dini.


"Jangan lakuin kalau kamu ragu," ucap Dimas dengan menatap ke dalam mata Dini.


Dini hanya diam tanpa berkata apapun.


"Kamu adalah tujuan hidupku Andini, menikah sama kamu adalah impian terbesarku, tapi kalau kamu belum siap dan ragu aku nggak akan maksa kamu, aku akan nunggu sampai kamu siap," lanjut Dimas.


"Aku.... aku bukannya ragu Dimas, aku cuma...."


"Andi? apa kamu takut kehilangan Andi setelah kita menikah?" tanya Dimas yang tidak mendapat jawaban apapun dari Dini.


Namun Dimas bisa mendapat jawaban dengan diamnya Dini.


"Aku tau Andi sahabat kamu Andini, sampai kapanpun aku nggak akan ngelarang kamu buat tetap bersahabat sama Andi bahkan setelah kita menikah, aku yakin kamu tau apa yang boleh dan nggak boleh kamu lakukan setelah kamu jadi istri aku," ucap Dimas.


"Aku nggak mau nyakitin kamu Dimas, tapi aku juga.... aku...."


"aku udah lama lewati semua hidupku sama Andi, aku takut kalau harus jalani hidupku tanpa Andi, maaf karena aku harus merasa seperti ini," lanjut Dini dalam hati.


"Aku akan berusaha buat nggak nyakitin siapapun, kamu ataupun Andi, aku akan mengerti posisi ku sebagai istri kamu dan sebagai sahabat Andi aku akan kasih batasan yang lebih dari sebelumnya," lanjut Dini.


Dimas tersenyum lalu memeluk Dini.


"Aku tau kamu masa depan yang terbaik buat aku Andini, aku selalu percaya sama kamu," ucap Dimas.


"Terima kasih Dimas," balas Dini dengan memeluk Dimas erat.


Dini tau bagaimana Dimas sangat mencintainya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyakiti laki laki dalam pelukannya itu.


Sebagai pasangannya, Dimas sangat mengerti dirinya, memberinya kebebasan dan kepercayaan yang tidak akan Dini sia siakan.


Ia akan berusaha untuk menjadi pasangan yang layak untuk Dimas, yang mengerti dan memahami Dimas dengan sepenuhnya.


Ia akan memberikan seluruh cinta dalam hatinya hanya untuk Dimas, laki laki yang ia tau sangat mencintainya melebihi dirinya sendiri.


"Ayo kita masuk, mama udah nunggu kan?"


Dimas menganggukkan kepalanya lalu turun dari mobil dan masuk ke dalam butik bersama Dini.


"Akhirnya kalian datang juga, ini katalog gaun pernikahannya, kalian bisa pilih pilih dulu," ucap mama Dimas sambil memberikan katalog pada Dini.


Dini dan Dimaspun melihat satu per satu gaun yang ada dalam katalog itu.


"Aku nggak mau kamu pake gaun yang terlalu terbuka," ucap Dimas pada Dini.


"Iya, aku juga nggak suka kok kalau terlalu terbuka," balas Dini.


"Gimana kalau ini?" tanya Dimas sambil menunjuk salah satu gambar gaun.


"Apa nggak terlalu terbuka di bagian dadanya?"


"Hmmmm.... iya sih," balas Dimas.


Setelah beberapa lama memilih, Dini belum mendapatkan gaun yang diinginkannya.


"Kalau kamu punya desainnya sendiri, kamu bisa kasih tau mama sayang, teman mama akan buatkan sesuai desain kamu!" ucap mama Dimas.


"Dini belum tau gaun seperti apa yang Dini pingin ma, gimana kalau cari buat mama dan papa aja dulu?"

__ADS_1


"Buat mama, papa dan ibu kamu sudah mama siapin sayang," jawab mama Dimas.


Dimas lalu ingat, ia pernah membuka file yang ada di laptop Andi dan ia melihat sebuah gaun pengantin di sana.


__ADS_2