Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Dibalik Senyum


__ADS_3

Di bawah langit malam di salah satu sudut kota, seorang perempuan sedang berdiri dengan gelisah.


Sudah hampir 15 menit dia berdiri di sana, menunggu seseorang yang seharusnya sudah datang 15 menit yang lalu.


Dengan rambut panjang yang diikat, perempuan itu memakai topi, kacamata hitam dan masker yang membuatnya sulit untuk dikenali.


Tempat gelap dan sepi itu sengaja ia pilih untuk pertemuannya dengan seseorang agar tidak ada orang lain yang melihatnya.


Saat dia baru saja mengambil ponsel dari dalam tasnya, tampak seorang laki laki berjalan mendekatinya.


"Kenapa lama banget sih!"


"Iya maaf, lagian lo cari obat kayak gini buat apa sih?" tanya si laki laki.


"Nggak usah banyak nanya, nih bayaran lo!" balas si perempuan sambil memberikan segepok uang pada laki laki yang memberinya obat yang diinginkannya.


"Oke, kalau butuh apa apa lagi hubungi gue!"


Perempuan itu hanya menganggukkan kepalanya lalu pergi dari tempat itu dengan menggunakan taksi.


"tinggal nunggu waktu yang tepat buat aku bisa pake obat ini," batin perempuan itu dengan senyum tipisnya yang tertutup masker.


**


Pagi telah datang.


Pagi pagi sekali mama Dimas sudah berada di rumah Dimas. Ia merindukan anak semata wayangnya dan tentu saja menantunya yang sedang mengandung cucu pertamanya.


"Apa Dimas memperlakukan kamu dengan baik sayang?" tanya mama Dimas sambil mengusap perut Dini yang mulai terlihat membuncit.


"Iya ma, walaupun kadang Dini bikin Dimas kesel hehe...."


"Nggak papa, mama yakin Dimas nggak akan marah sama kamu," balas mama Dimas.


"Mama tumben pagi pagi kesini, sendirian?" tanya Dimas saat ia baru keluar dari kamar.


"Mama abis nganter papa ke bandara, sengaja mampir ke sini karena kangen sama kalian," jawab mama Dimas.


"Papa jadi pergi ke Singapura?" tanya Dimas.


"Iya, kamu jadi berangkat lusa kan?" jawab mama Dimas sekaligus bertanya.


"Berangkat lusa? kemana?" tanya Dini dengan membawa pandangannya pada Dimas dan mamanya bergantian.


"Dimas, kamu belum bilang Dini?" tanya mama Dimas pada Dimas.


Dimas menghembuskan napasnya pelan lalu duduk di samping Dini.


"Apa yang kamu sembunyiin dari aku?" tanya Dini pada Dimas.


"Aku nggak bermaksud buat sembunyiin apapun dari kamu sayang, aku cuma...."


"Kamu mau berangkat kemana Dimas?" tanya Dini memotong ucapan Dimas.


"Sayang, Dimas harus ke Singapura sama papanya buat tanda tangan kontrak, karena ini penting banget dan nggak bisa diwakilkan jadi Dimas harus datang sendiri," ucap mama Dimas menjawab pertanyaan Dini.


"Kenapa kamu nggak bilang apa apa sama aku?" tanya Dini pada Dimas.


"Aku minta maaf Andini," ucap Dimas dengan menarik tangan Dini ke dalam genggamannya, namun Dini menolaknya dan berdiri dari duduknya.


"Maaf ma, Dini ke kamar dulu," ucap Dini pada mama Dimas lalu berjalan masuk ke kamarnya.


Dimas mengacak acak rambutnya kasar karena lupa memberi tahu Dini tentang hal itu.


"Kamu belum kasih tau Dini sayang?" tanya mama Dimas.


"Belum ma, Dimas masih cari cara biar Dimas nggak pergi kesana," jawab Dimas.


"Itu kontrak penting yang harus kamu dan papa kamu tanda tangani sendiri Dimas, klien kita juga perlu ketemu kamu secara langsung!" ucap mama Dimas.


"Dimas nggak mungkin ninggalin Andini ma, Dimas juga nggak bisa ngajak dia ikut," ucap Dimas.


"Tapi Dimas, papa kamu udah....."


"Ma, Dimas akan lakukan yang terbaik buat perusahaan tanpa harus ninggalin Andini, mama percaya sama Dimas!" ucap Dimas meyakinkan.


"Ya sudah kalau itu mau kamu, ingat Dimas 2 hari lagi kamu sudah harus ada di sana!"


Dimas hanya diam lalu berdiri dari duduknya.


"Maaf ma, Dimas harus nyusul Andini," ucap Dimas.

__ADS_1


"Mama juga mau pulang, pikirkan baik baik keputusan kamu Dimas!"


Dimas menganggukan kepalanya lalu memeluk sang mama.


Setelah kepergian sang mama, Dimas segera masuk ke kamarnya. Dilihatnya sang istri yang sedang duduk di tepi jendela dengan raut wajah yang sedih.


Dimas lalu menghampirinya dan duduk di sebelahnya.


"Maafin aku sayang," ucap Dimas dengan menggenggam tangan Dini.


"Apa kamu mau pergi gitu aja tanpa kasih tau aku?" tanya Dini.


"Aku nggak mungkin kayak gitu Andini, justru sebenarnya aku nggak mau pergi!" jawab Dimas.


"Tapi dua hari lagi kamu harus tetep pergi kan? dan kalau mama nggak bicarain hal itu tadi, mungkin sampai saat ini aku nggak akan tau!"


"Papa emang udah kasih tau aku hal ini dari satu Minggu yang lalu, tapi aku berusaha cari cara biar aku nggak ikut kesana," ucap Dimas.


"Tapi mama bilang kamu harus kesana, tanda tangan kontrak itu nggak bisa diwakilkan bahkan sama papa sekalipun!"


"Pasti ada cara Andini, aku udah bicarain hal ini sama papa, itu kenapa papa berangkat lebih dulu buat liat keadaan disana!" ucap Dimas.


"Kalau ternyata kamu tetep harus pergi?"


"Jangan berpikir negatif dulu sayang, besok papa akan kasih tau aku gimana hasilnya, apa aku harus tetep pergi atau enggak," jawab Dimas.


"Harusnya kamu bilang sama aku lebih awal Dimas, aku juga perlu tau apa yang terjadi sama kamu dan pekerjaan kamu," ucap Dini.


"Iya sayang aku minta maaf, aku nggak kasih tau kamu karena aku nggak mau jadiin hal ini beban buat kamu," balas Dimas dengan membawa Dini ke dalam pelukannya.


"Aku istri kamu Dimas, aku harus tau apa yang jadi masalah buat kamu walaupun mungkin aku nggak bisa bantu kamu, setidaknya kamu bisa sedikit meringankan beban kamu dengan cerita sama aku," ucap Dimas.


"Iya sayang, ini nggak akan terjadi lagi, aku minta maaf," ucap Dimas lalu memberikan kecupan singkatnya di kening Dini.


Dini hanya menganggukkan kepalanya dalam pelukan Dimas.


Sebelumnya Dimas berpikir jika ia akan menyelesaikan masalah itu bersama sang papa tanpa harus diketahui oleh Dini.


Dimas hanya tidak ingin membuat Dini terbebani dengan masalahnya yang nantinya akan berakibat buruk pada kandungan Dini.


Namun ternyata sang papa tidak memberi tahu mama Dimas tentang rencananya bersama Dimas, membuat mama Dimas menanyakan hal itu di depan Dini.


Beruntung Dimas bisa menjelaskannya dengan baik pada Dini sehingga tidak menjadi masalah yang lebih besar.


Jika Dimas memang diharuskan untuk pergi, maka ia akan membiarkan Dimas pergi meski jauh dalam hatinya ia tidak ingin Dimas berada jauh darinya.


Namun Dini mengerti, ia tidak akan menjadi istri yang egois dengan membuat Dimas selalu berada di sampingnya.


Bagaimanapun juga Dimas memiliki tanggung jawabnya sendiri di perusahaan sang papa dan Dini harus bisa memahami hal itu.


**


Di tempat lain, Andi sedang berada di gedung home store yang baru.


Bangunan 5 lantai itu lebih tinggi dan jauh lebih luas dari gedung home store yang pertama. Hal itu cukup membuktikan bahwa selama ini Andi bisa mengelola clothing arts dengan baik.


Andi berkeliling memperhatikan setiap sudut gedung barunya. Ia tak percaya bisa memiliki gedung itu dengan jerih payahnya sendiri.


Bermula di sebuah bangunan satu petak yang ia tempati bersama Dimas, berlanjut ke sebuah bangunan 2 lantai dengan bantuan Adit dan akhirnya ia bisa memiliki cabang clothing arts nya di gedung yang lebih besar lagi.


Semua itu memang tidak ada apa apanya jika dibandingkan dengan perusahaan besar milik Adit, namun itu cukup untuk membuat semangatnya semakin berkobar agar bisa mengelola clothing arts nya dengan lebih baik lagi.


Perlahan tapi pasti, Andi sudah menjajaki jalan masa depannya dengan baik. Ia percaya takdir hidupnya telah tergariskan, jadi ia tidak akan memikirkannya terlalu jauh.


Ia akan menikmati setiap langkah yang ia pijak, melewatinya dengan senyum dan rasa bahagia.


Hari itu akan ada opening yang sengaja ia lakukan malam hari. Akan ada pesta sederhana yang memperlihatkan beberapa desain yang baru ia buat, yang rencananya akan ia pasarkan esok hari.


Karena kesibukannya, tak terasa matahari telah kembali ke peraduannya. Semburat jingga telah terlukis di langit barat.


Andi menjatuhkan dirinya di kursi yang ada di ruangan kerjanya yang baru. Matanya menatap bola lampu hias yang ada di mejanya.


Terlihat aurora yang indah di atas hamparan salju yang putih di dalam bola lampu hias itu. Andi lalu menekan salah satu tombol yang membuat bola lampu hias itu menjadi mode siang dan memperlihatkan salju yang turun menutupi atap rumah.


Kamu bisa taruh di meja kerja kamu, katanya sih bisa buat ngilangin stres kalau kamu liat gerakan auroranya, di sini juga ada tombol buat ganti ke mode siang, nanti akan muncul salju yang turun di dalem sini


Ucapan Dini kembali terngiang di telinga Andi. Entah sudah berada lama ia berada jauh dari Dini.


Persahabatan yang menyatukan mereka kini telah memberikan jarak yang begitu jauh diantara mereka.


Meski begitu, ia yakin jika dirinya masih menjadi bagian dari hidup Dini meski hanya setipis benang.

__ADS_1


"aku kangen sama kamu Din, bahkan saat kamu ada di depanku sekalipun, apa kamu juga ngerasain hal yang sama? atau cuma aku yang ngerasain hal ini?" batin Andi dalam hati.


Andi lalu menyandarkan kepalanya di kursi, menutup matanya rapat rapat, menikmati setiap perih yang masih tersisa di hatinya.


**


Waktu berlalu, bulan sudah berada di atas hamparan gelap bersama bintang. Sinarnya memberikan cahaya kebahagiaan pada siapapun yang melihatnya.


Andi, Adit, Ana dan mama Siska sedang berbincang bersama rekan kerja Adit yang sengaja diundang diacara opening itu.


Tak lama kemudian Dini dan Dimas datang disusul dengan Anita yang datang dengan menggunakan taksi.


Mereka semua memberi selamat dan do'a terbaik mereka untuk Andi. Mereka lalu mengobrol dan sesekali tertawa bersama.


Biiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Andi berdering, sebuah pesan masuk dari seseorang yang saat itu berada jauh darinya.


Andi tersenyum tipis lalu berjalan menjauh dari keramaian.


Selamat dan sukses buat cabang clothing arts kamu Ndi, aku bangga banget sama kamu. Aku yakin kamu bisa lebih dari ini. Semangat dan selalu bahagia ya ^_^


Makasih Ta, aku harap kamu ada di sini sekarang


Andi lalu menghubungi Aletta yang sudah lama tidak pernah bisa ia hubungi. Namun malam itupun tetap sama, setelah ia membalas pesan Aletta, ia tetap tidak bisa menghubungi Aletta lagi.


"aku nggak tau apa yang terjadi sama kamu Ta, tapi aku harap kamu baik baik aja dan bahagia dengan jalan hidup kamu!" batin Andi dalam hati.


Sebelum Andi kembali berkumpul dengan yang lainnya, ia memperhatikan Dini dan Dimas dari kejauhan.


"kamu makin cantik Din, aku yakin Dimas pasti memperlakukan kamu dengan baik selama ini, karena aku tau dia memang benar benar mencintai kamu," batin Andi dalam hati.


"Kenapa disini?" tanya Anita yang tiba tiba berada di dekat Andi.


"Aku.... aku cari sinyal," jawab Andi beralasan.


"Kamu pikir aku anak kecil bisa dibohongin kayak gitu!" balas Anita yang membuat Andi terkekeh.


"Seperti yang kamu lihat, mereka udah bahagia, apa lagi sebentar lagi akan ada bayi mungil yang akan memperkuat cinta mereka," ucap Anita.


"Iya kamu bener, mereka akan jadi keluarga bahagia yang saling menyayangi," balas Andi.


Malam semakin larut, satu per satu tamu mulai meninggalkan gedung home store, termasuk Adit, Ana dan mama Siska.


Kini hanya ada Andi, Anita, Dini, Dimas dan beberapa karyawan home store.


Andi mengajak Anita, Dini dan Dimas untuk naik ke lantai paling atas. Di sana ada satu ruangan yang atapnya dibuat transparan.


Mereka bisa melihat keindahan langit malam dari dalam ruangan itu.


"Bisa bisanya lo kepikiran ruangan kayak gini!" ucap Dimas.


"Ini cuma buat healing aja sih biar nggak perlu jauh jauh keluar, sekalian bisa kerja dari sini juga, cuma itu pintunya masih eror jadi jangan ditutup," ucap Andi menjelaskan.


"Emang kenapa kalau ditutup?" tanya Anita.


"Kalau kita semua ada di dalam dan pintu tertutup, kita nggak akan bisa keluar sampai orang lain buka dari luar," jawab Andi.


Mereka semuapun menganggukan kepalanya mendengar ucapan Andi.


"Aku ke toilet bentar ya!" ucap Dini tiba tiba.


"Toiletnya ada di ujung kanan Din," ucap Andi yang dibalas anggukan kepala Dini.


"Aku anterin ya, sekalian aku mau ambil minum!" sahut Anita lalu ikut keluar bersama Dini.


Anita menyiapkan empat gelas minuman dengan satu gelas yang isinya sedikit lebih banyak.


Ia lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan memasukkannya ke dalam gelas yang berisi minuman yang lebih banyak.


"aku nggak tau seberapa banyak yang harus aku masukin, tapi mungkin lebih banyak lebih baik," batin Anita dalam hati dengan senyum penuh kemenangan.


Setelah menyiapkan empat gelas minuman itu, Anita pergi ke toilet dan memberi tahu Dini jika Dimas menunggunya di mobil.


Anita lalu masuk ke ruangan dimana Andi dan Dimas berada.


"Tadi ada yang cari kamu Ndi, aku lupa nanya namanya siapa," ucap Anita yang membuat Andi segera meninggalkan ruangan itu.


Kini hanya ada Anita dan Dimas di ruangan itu. Anita lalu memberikan minuman yang sudah diberinya obat kepada Dimas.


Tanpa ragu Dimas menerima minuman pemberian Anita.

__ADS_1


"maaf Din, tapi Dimas terlalu sempurna buat kamu miliki sendiri, sekarang aku tinggal tutup pintu dan setelah Dimas minum minuman itu dia nggak punya pilihan lain selain melampiaskannya sama aku," batin Anita dengan tersenyum licik.


__ADS_2