
Waktu berlalu. Sinar mentari mulai merangkak kembali ke peraduan.
"Aku anter kamu pulang ya Nit!" ucap Andi pada Anita.
"Aku bisa pulang sendiri kok, makasih udah izinin aku ikut kamu seharian ini," balas Anita.
Andi hanya tersenyum lalu menarik tangan Anita untuk diajak masuk ke mobilnya.
"Kita antar Anita pulang ya pak, nanti saya tunjukin jalannya," ucap Andi pada Rudi.
"Baik mas," balas Rudi.
Akhirnya Anita pun pulang bersama Andi. Sesampainya di rumah Anita, Andi segera berpamitan pulang.
"Kita mampir ke rumah ibu sebentar ya pak!" ucap Andi pada Rudi.
"Baik mas," balas Rudi.
Rudi lalu melajukan mobil ke arah rumah ibu Andi. Sesampainya di sana Andi segera menemui ibunya yang sedang menjahit.
Tak lupa ia memberikan makanan kesukaan sang ibu yang sudah ia beli sebelumnya.
"Ibu seneng kamu ke sini, tapi apa kamu udah boleh sibuk di luar sekarang?" tanya ibu Andi.
"Andi baik baik aja kok Bu, Andi mulai berkegiatan dikit dikit," jawab Andi.
"Gimana kabar mama dan kakak kamu?"
"Baik bu, mama dan Adit baik baik aja," jawab Andi yang langsung mendapat pukulan dari sang ibu.
"Kok Andi di pukul sih Bu?"
"Kamu harus biasain panggil 'kakak', kamu lebih muda dari Adit, tunjukin sopan santun kamu Ndi!"
"Andi udah kenal Adit sebelum kejadian ini Bu, jadi aneh rasanya kalau tiba tiba Andi panggil dia 'kakak'!"
"Tapi dia memang kakak kamu, jangan bikin ibu malu sama mama kamu karena dianggap nggak bisa ngajarin kamu sopan santun!"
"Ibu itu yang terbaik buat Andi, ibu ngajarin Andi semua hal baik, jadi ibu nggak perlu malu," balas Andi dengan memeluk ibunya.
"Makanya kamu panggil dia 'kakak'!"
"Hmmmmm... iya, Andi usahain, tapi Andi nggak bisa janji ya Bu, Andi coba dulu heheh...."
"Terserah kamu aja, kamu mau menginap apa langsung balik?"
"Andi langsung balik Bu, mama butuh waktu buat percaya sama Andi, ibu nggak keberatan kan?"
"Nggak papa, ibu mengerti, ibu masak dulu ya, nanti kamu bawa buat makan malem di sana!"
"Andi bantuin Bu," balas Andi lalu mengikuti ibunya ke dapur.
**
Di tempat lain, Dimas sedang dalam perjalanan mengantarkan Dini pulang.
Sebelum matahari tenggelam, mereka sudah sampai di rumah Dini. Saat baru saja keluar dari mobil, Dini dan Dimas melihat mobil yang terparkir di depan rumah Andi.
"Andi?" tanya Dimas pada Dini.
"Iya, ayo masuk!" jawab Dini lalu menarik tangan Dimas untuk diajak masuk ke rumah.
"Sepi banget, ibu nggak di rumah ya?" tanya Dimas pada Dini.
"Mungkin di rumah Bu RT, aku ganti baju bentar ya, kamu tunggu dulu!" jawab Dini lalu masuk ke kamarnya.
Sebelum Dini keluar dari kamar, Dimas membuka pintu kamar Dini pelan lalu masuk dan menutup pintunya.
"Aku bentar lagi selesai kok," ucap Dini sambil merapikan rambutnya.
"Aku cuma mau peluk kamu," ucap Dimas sambil memeluk Dini dari belakang.
"Kenapa kamu suka peluk aku?"
"Karena bikin nyaman dan tenang," jawab Dimas sambil mencium tengkuk Dini.
"Geli Dimas," ucap Dini lalu membalik badannya, menghadap Dimas.
"Apa pernikahan kita nggak bisa dipercepat sayang? aku pingin miliki kamu seutuhnya."
"Kamu harus selesaiin dulu ujian dari papa, jadi kamu harus lebih sabar lagi," jawab Dini dengan mengalungkan tangannya di leher Dimas.
"Aku pasti selesaiin semuanya dengan cepat Andini, tapi sebelum kita menikah, apa ada yang kamu pingin?"
"Mmmm.... apa? kayaknya nggak ada!"
"Kamu yakin?"
"Apa aku boleh tetep kerja setelah kita menikah?"
"Kenapa kamu harus kerja Andini? kamu bisa santai di rumah, kumpul sama temen temen kamu, ikut arisan ibu ibu sosialita, liburan, shopping, kamu....."
"Apa aku cewek yang kayak gitu?"
"Hehe.... enggak, itu bukan Andini yang aku kenal, jangan khawatir sayang, setelah kita menikah kamu bebas menentukan pilihan kamu, aku nggak akan maksa kamu buat tetap di rumah atau bekerja," jawab Dimas.
"Kamu memang suami yang baik," ucap Dini lalu mencium pipi Dimas.
"Aku akan jadi satu satunya yang terbaik buat kamu," balas Dimas lalu mencium bibir Dini singkat.
"Tapi kamu nggak akan kerja sama Adit kan setelah kita menikah?" tanya Dimas.
"Kenapa? kamu cemburu?"
"Lebih dari itu Andini, apa kamu nggak tau selama ini perusahaan papa dan Adit selalu rebutan posisi pertama? kan aneh rasanya kalau kamu kerja sama rival perusahaan suami kamu!"
"Kamu harus bersaing secara sehat Dimas, sama seperti papa, kamu nggak bisa melibatkan masalah pribadi dalam bisnis kamu!"
__ADS_1
"Jadi kamu beneran kerja sama Adit setelah kita menikah?"
"Mmmm.... aku belum ambil keputusan sih, tapi....."
Dimas lalu menggelitiki Dini, memaksa Dini untuk tidak bekerja dengan Adit setelah mereka menikah.
"Oke oke, aku akan resign, aku nggak akan kerja sama kak Adit lagi, aku menyerah!" ucap Dini menyerah.
Dimas hanya tertawa kecil lalu menarik Dini ke dalam pelukannya dan menjatuhkan dirinya di ranjang Dini.
Merekapun terjatuh dengan posisi berpelukan di ranjang.
"Kamu curang, curang, curang!" ucap Dini dengan memukul dada Dimas di bawahnya.
Dimas hanya terkekeh lalu menarik pinggang Dini agar semakin dekat dengannya. Mereka saling menatap dengan senyum bahagia di wajah mereka.
"Aku nggak akan menghalangi impian kamu Andini, semua pilihan ada di tangan kamu, selama itu baik buat kamu, aku akan selalu dukung kamu," ucap Dimas.
"Makasih Dimas, makasih," balas Dini lalu membaringkan kepalanya di dada Dimas.
Mereka masih dalam posisi itu selama beberapa menit, sebelum suara ibu Dini memanggil.
"Dini, kamu udah pulang?" tanya ibu Dini yang baru saja masuk ke dalam rumah.
Seketika Dini segera bangun dari posisinya, begitu juga Dimas yang segera merapikan pakaiannya.
Mereka lalu keluar dari kamar.
"Ibu, ibu dari mana?" tanya Dini pada ibunya.
"Ibu dari rumah Bu RT, kalian udah dari tadi?"
"Barusan kok Bu, Dimas capek nyetir, jadi Dini minta dia istirahat di kamar," jawab Dini beralasan.
Ibu Dini hanya menganggukkan kepalanya lalu berjalan ke arah dapur.
"Kalian udah makan malem?" tanya ibu Dini.
"Belum Bu," jawab Dini.
"Ibu siapin makan malem bentar ya, kita makan sama sama, kamu nggak buru buru kan Dimas?"
"Enggak Bu, tapi Dimas mau ke rumah Andi sebentar," jawab Dimas.
"Oh ya udah, nanti biar Dini panggil kamu kalau makan malam udah siap," balas ibu Dini.
"Terima kasih Bu, Dimas permisi."
Sebelum Dimas keluar, Dini menarik tangan Dimas.
"Kenapa sayang?" tanya Dimas.
"Kamu mau ketemu Andi?" balas Dini bertanya.
"Iya, cuma bentar!" jawab Dimas.
"Enggak lah, kenapa aku harus berantem sama dia? dia juga sahabat aku Andini!"
"Tapi....."
"Kamu masuk aja, bantuin ibu kamu masak!"
Dini menganggukkan kepalanya lalu membiarkan Dimas pergi ke rumah Andi.
Di rumah Andi, Andi sedang menyiapkan makanan yang akan ia bawa pulang ke rumah mama Siska. Ia sedang memasukkannya ke dalam mobil dan bersiap untuk meninggalkan rumah ibunya.
"Bentar pak, ada temen saya," ucap Andi pada Rudi yang sudah siap untuk berangkat.
Andi lalu turun dari mobil saat Dimas menghampirinya.
"Gimana keadaan Dini?" tanya Andi tanpa basa basi.
"Gue baru nyampe', nggak disuruh duduk dulu?" balas Dimas bertanya lalu duduk di depan rumah Andi.
Andipun mengikuti Dimas dan duduk di sampingnya.
"Andini baik baik aja, dia cuma demam dan....."
"Itu pasti karena dia terlalu mikirin lo yang marah dan cemburu, iya kan?"
"Gue tau gue salah dan gue menyesal Ndi, gue cuma.... cuma....."
"Dim, Dini udah milih lo, apa lagi yang bikin lo ragu, keputusan dia buat mau tunangan dan nikah sama lo itu bukan keputusan mudah buat dia, gue emang dari kecil sama dia, tapi dia cuma anggap gue sahabatnya dan untuk masa depannya dia udah pilih lo!"
"Sorry Ndi, kadang gue emang masih egois."
"Gue juga minta maaf Dim, maaf kalau keberadaan gue bikin masalah buat lo sama Dini!"
"Enggak Ndi, justru dengan adanya lo diantara kita, lo bisa jadi penengah yang baik buat kita, gue ke sini karena gue mau minta maaf atas sikap gue kemarin."
"It's okay Dim, yang penting lo sama Dini baik baik aja, gue nggak mau liat dia sedih lagi dan gue bosen liat lo minta maaf sama Dini!"
Dimas hanya tertawa kecil mendengar ucapan Andi.
"Gue nggak bisa lama lama Dim, mama udah nunggu gue!" ucap Andi lalu berdiri dari duduknya.
"Oh oke, take care!"
Andi menganggukkan kepalanya lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah ibunya.
**
Di tempat lain, Adit dan sang mama sedang menunggu Andi di depan meja makan.
"Emang Andi beli apa sih buat mama, kenapa lama banget?" tanya Adit pada sang mama.
"Mama juga nggak tau, dia cuma minta mama buat nggak masak karena dia mau bawa banyak makanan pulang," jawab mama Siska.
__ADS_1
Tak lama kemudian Andi sampai, ia segera masuk dan berjalan ke dapur.
"Bentar ma, Andi siapin dulu!" ucap Andi yang sedang memindahkan makanan dari sang ibu ke wadah lain.
Andi dengan dibantu asisten rumah tangga lalu membawa makanan itu ke meja makan.
"Gue kelaparan gara gara nunggu lo, awas aja kalau makanannya nggak enak!" ucap Adit kesal.
"Hehe sorry, maaf ma, tadi Andi mampir ke rumah ibu, ibu masakin semua ini buat mama sama Adit," ucap Andi.
"Ini semua masakan ibu kamu?" tanya mama Siska.
"Iya ma, mudah mudahan mama suka," jawab Andi.
Mereka lalu menikmati makan malam dengan tenang.
"Nanti mama akan hubungi ibu kamu buat berterima kasih, makanannya enak semua, mama suka," ucap mama Siska pada Andi.
"Syukurlah kalau mama suka," balas Andi.
"Ma, malem ini Adit nggak tidur di rumah ya, Adit....."
"Lo mau pacaran sampe pagi?" sahut Andi bertanya.
"Anak kecil jangan sok tau!" balas Adit kesal.
"Kalian udah sama sama dewasa, mama yakin kalian tau mana yang baik dan buruk, terutama kamu Adit, apapun yang kamu lakukan akan berpengaruh besar pada perusahaan, jadi jaga tanggung jawab dan kepercayaan dari papa kamu dengan baik!"
"Iya ma, Adit mengerti, Adit nggak akan mengecewakan mama dan papa," ucap Adit lalu berdiri dari duduknya.
"Adit berangkat ma," ucap Adit lalu mencium kening mamanya.
"Hati hati sayang," balas mama Siska.
"Jagain mama Ndi, gue pulang besok pagi," ucap Adit sebelum ia meninggalkan meja makan.
Andi hanya mengacungkan ibu jarinya pada Adit.
Adit mengendarai mobilnya menuju ke rumah Ana, tak lupa ia membeli banyak makanan untuk para pekerja yang hampir ia pecat.
Sesampainya di rumah Ana, Adit segera memberikan bingkisannya pada Bu Desi.
"Bagi sama yang lainnya ya Bu Desi!" ucap Adit.
"Baik mas," balas Bu Desi.
Adit lalu melangkah ke kamar Ana, mengetuk pintunya beberapa kali ia sebelum ia masuk.
Saat ia masuk, dilihatnya Ana yang sedang tertidur sambil duduk di hadapan laptopnya.
Dengan perlahan, Adit mengambil laptop Ana dan memindahkan Ana ke atas ranjang.
"Kenapa kamu harus bekerja segiat ini An," ucap Adit dengan membelai rambut Ana.
Selama beberapa lama Adit hanya diam memperhatikan Ana yang terpejam di hadapannya.
Entah sejak kapan ia begitu mencintai perempuan di hadapannya itu. Adit lalu menempelkan kepalanya di perut Ana dengan hati hati.
"Kenapa dia diem aja An? apa dia juga tidur?" tanya Adit dengan berusaha menajamkan pendengarannya untuk mendengarkan gerakan janin dalam rahim Ana.
"Belum waktunya Dit," ucap Ana yang membuat Adit segera mengangkat kepalanya.
"Apa aku bangunin kamu?" tanya Adit dengan membelai wajah Ana.
"Hmmmm...." jawab Ana dengan menganggukkan kepalanya.
"Kamu udah makan malem?"
"Udah kok," jawab Ana.
"Ya udah lanjutin tidurnya, aku nggak akan ganggu," ucap Adit.
"Kamu mau pulang?" tanya Ana.
"Enggak, aku tidur di sini malam ini," jawab Adit.
Ana lalu beranjak dari tidurnya, ia duduk di ranjangnya, bersebelahan dengan Adit.
"Sekarang kamu harus cerita sama aku tentang adik kamu," ucap Ana sambil menyadarkan kepalanya di bahu Adit.
"Apa yang harus aku ceritain An, kamu udah kenal dia kok."
"Aku kenal dari mana? apa dia sekantor sama kita? teman kuliah? teman SMA? atau apa?"
"Kamu pernah cerita sama aku kalau kamu kenal dia di jalan," jawab Adit.
"Namanya siapa?" tanya Ana.
"Andi, namanya tetap Andi," jawab Adit.
Ana lalu terdiam, memutar otaknya beberapa saat.
"Jangan bilang Andi yang kamu maksud itu........"
Ana mengentikan ucapannya, ia menutup mulutnya tak percaya.
"Iya, dia adik aku An, Andi yang kamu kenal itu adik yang selama ini aku cari," ucap Adit memperjelas.
"Dunia emang sempit banget ya Dit, aku kenalin Dini ke kamu sebagai asisten pribadi kamu, tapi kamu malah ketemu adik kamu dari Dini!"
"Iya, walaupun aku baru ketemu dia sekarang, aku akan berusaha jadi kakak yang baik buat dia!" ucap Adit.
"Aku yakin kamu bisa jadi kakak yang baik, sekarang kamu harus ceritain semuanya sama aku, dari awal sampe akhir!"
Adit lalu menceritakan pada Ana bagaimana ia bisa mengetahui jika Andi adalah adik yang selama ini ia cari.
Namun sebelum Adit menyelesaikan ceritanya, Ana sudah tertidur. Aditpun kembali membaringkan Ana di ranjang dan Adit juga ikut berbaring di samping Ana.
__ADS_1