Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Keputusan Anita


__ADS_3

Flashback sebelum Andi datang ke rumah sakit.


Hari masih sangat pagi, Anita terbangun dari tidurnya. Anita lalu memegang kakinya dengan pelan lalu menurunkannya dari ranjang.


Ia berharap tidak ada hal buruk yang terjadi pada kakinya. Ia pun menggeser duduknya agar bisa memegang sudut meja untuk membantunya berdiri.


Perlahan, Anita berusaha memperkuat pijakannya dan mencoba untuk berdiri, namun belum sampai badannya tegak berdiri ia sudah ambruk.


Anita kembali mencoba untuk berdiri namun lagi lagi ia terjatuh sebelum sempat berdiri tegak bahkan saat ia berpegangan pada meja di sampingnya.


"Kamu pasti bisa Anita, nggak ada yang nggak bisa kamu lakuin, ayo semangat!" ucap Anita memberi semangat dirinya sendiri.


Anita lalu kembali mencoba berdiri namun ia kembali terjatuh dan tanpa sengaja menyenggol gelas di mejanya.


PYAAAARRR


Suara gelas yang terjatuh dan pecah membuat bibi segera mendatangi ruangan Anita.


"Ya ampun, non Anita kenapa?"


Bibipun segera membantu Anita untuk kembali ke ranjangnya lalu membersihkan pecahan gelas di lantai.


"Non Anita mau minum? bibi ambilin dulu ya?"


Anita hanya diam dengan pandangan kosong. Ia tak percaya jika untuk berdiri saja ia tak mampu.


Perlahan, matanya memerah dan berkaca kaca. Ada ketakutan dalam dirinya jika ia akan kehilangan kemampuan berjalannya.


Biiiiippp biiiipp biiipp


Ponsel Anita berdering, sebuah pesan dari Andi.


Aku on the way ke rumah sakit 😉


Anita tersenyum tipis lalu segera membalasnya.


Take care


Perlahan air mata mulai membasahi pipinya. Beberapa hari yang ia lewati bersama Andi membuatnya begitu bahagia, membuatnya merasa menjadi seseorang yang berharga di mata orang lain.


Ia sadar, selama ini ia terlalu terpaku pada Dimas yang sama sekali tidak pernah menghargai perasaannya. Dimas bahkan sangat membencinya.


Cinta telah membutakan dirinya. Rasa egois karena ingin memiliki membuatnya tidak bisa merelakan kebahagiaan Dimas bersama Dini, membuatnya melakukan banyak hal yang hanya berakhir dengan sakit di hatinya.


"aku emang bodoh, tanpa sadar aku udah jadi budak dari cintaku sendiri, sekarang kamu harus sadar Anita, apa yang terjadi saat ini adalah balasan atas semua perbuatan buruk kamu," batin Anita dalam hati.


Anita lalu tersenyum tipis dan menghapus air matanya. Ia tidak akan menangis di hadapan siapapun, bahkan di hadapan Andi.


Baginya, Andi adalah sosok malaikat yang membawanya terbang menjauh dari masa lalu suramnya, malaikat yang menyadarkan nya akan arti kebahagiaan yang sesungguhnya.


"aku bahagia sama kamu Ndi, tapi mungkin aku nggak pantas buat dapetin kebahagiaan ini dari kamu karena apa yang udah aku lakuin sama sahabat kamu dan sekarang aku akan berhenti jadi beban buat kamu," batin Anita.


Tak lama kemudian bibi masuk dengan membawakan Anita air minum.


"Terima kasih Bi," ucap Anita menerima minuman dari bibi.


"Ada yang non Anita butuhkan lagi?" tanya bibi.


"Bibi udah kasih tau papa tentang keadaan Anita?" tanya Anita.


"Sudah non, bapak bilang nanti siang akan datang," jawab bibi.


"Tolong bibi masukin barang barang Anita ke koper sama tas ya Bi, nanti biar diambil papa," ucap Anita.


"Non Anita mau kemana?" tanya bibi.


"Anita mau ikut papa bi, sebelumnya Anita makasih banget karena bibi udah jagain Anita di sini, makasih udah sayang sama Anita," jawab Anita yang membuat bibi terharu.


"Non Anita udah bibi anggap anak sendiri non, tapi apa non Anita yakin mau ikut bapak?"


Anita menganggukkan kepalanya yakin.


"Anita akan bilang papa sendiri, tapi tolong bibi jangan bilang soal ini sama Andi ya, jangan bilang Andi juga kalau Anita abis jatuh," ucap Anita.


Bibi hanya menganggukan kepalanya lalu memeluk Anita.


"Oh ya Bi, setelah Anita pergi sama papa, tolong bibi ambil surat di meja kamar Anita dan bibi kasihkan ke Andi ya!"


"Baik non," balas bibi.


Anita lalu menghubungi sang papa dan memberi tahu sang papa jika ia ingin tinggal bersama sang papa.


Saat itu papa Anita sedang berada di luar pulau, karena mendengar kabar Anita yang terjatuh dari tangga, ia segera pulang untuk menemui anak semata wayangnya.


Ia pun semakin senang karena Anita memutuskan untuk tinggal bersamanya.


Flashback off

__ADS_1


**


Dimas, Andi dan Dini masih berada di rumah Anita. Dimas dan Dini hanya diam tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Sedangkan Andi segera berdiri dari duduknya dan menahan Anita agar tidak pergi.


"Maaf pak, sepertinya ada kesalahpahaman, saya boleh minta waktunya buat bicara sama Anita sebentar?" ucap Andi pada pak Sonny.


"Baiklah, saya tunggu kalian di depan," balas pak Sonny lalu meninggalkan Andi dan Anita.


Sepeninggalan pak Sonny, Andi segera berlutut di depan Anita. Ia tidak mengerti apa yang Anita pikirkan saat itu, ia tidak mengerti apa yang membuat Anita tiba tiba memutuskan untuk pergi begitu saja.


"Anita, jelasin sama aku apa yang sebenarnya kamu rencanain? kenapa kamu nggak bilang apa apa sama aku? apa aku berbuat salah sama kamu? apa aku...."


"Andi, dengerin aku baik baik, aku udah rencanain hal ini sebelum kamu datang ke rumah sakit, aku udah pikirin semuanya matang matang dan aku udah yakin buat ikut papa tinggal di luar pulau," ucap Anita.


"Kenapa tiba tiba? kenapa kamu nggak bilang aku sebelumnya?"


"Aku sengaja nggak bilang sama kamu karena aku tau kamu akan cegah aku buat pergi, aku nggak mau jadi beban kamu lagi Ndi, aku tau kamu selama ini kamu ada buat aku supaya aku bisa lupain Dimas dan sekarang aku udah lupain dia jadi tugas kamu udah selesai," jawab Anita.


"Maafin aku Nit, aku cuma mau kamu bahagia tanpa bayang bayang masa lalu dan cinta buta kamu," ucap Andi.


"Aku tau maksud kamu baik Ndi, aku sangat berterima kasih karena itu, jadi sekarang biarin aku pergi, aku akan mulai semuanya dari awal, aku akan jalani hidupku dari awal lagi, tanpa bayang bayang masa lalu, termasuk kamu," ucap Anita.


"Kamu yakin sama pilihan kamu?" tanya Andi.


Anita menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.


"Aku yakin Ndi, aku akan tinggal sama papa, aku akan sering latihan jalan, aku akan tetep ikut banyak kursus juga, aku akan baik baik aja, kamu nggak perlu khawatir," jawab Anita.


"Apa semua itu akan bikin kamu bahagia?" tanya Andi.


"Aku udah bahagia setelah aku berdamai dengan masa laluku Ndi, kamu yang udah buka pintu kebahagiaan di hidup ku jadi mulai saat ini aku akan jalani hidupku dengan bahagia, kamu harus percaya sama aku," jawab Anita.


Andi lalu tersenyum tipis dan menggenggam kedua tangan Anita.


"Aku tau kamu perempuan yang baik Nit, aku harap kamu selalu bahagia dimanapun kamu berada," ucap Andi dengan menundukkan pandangannya, menyembunyikan kesedihannya.


"Kamu juga harus bahagia Ndi dan aku harap kamu akan mendapatkan cinta sejati kamu suatu saat nanti," balas Anita.


Andi lalu memeluk Anita sebelum membiarkan Anita pergi bersama papanya.


"Hubungin aku setelah kamu sampai di sana," ucap Andi lalu melepaskan pelukannya pada Anita.


Anita hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya.


Andi lalu tersenyum tipis dan mendorong kursi roda Anita keluar dari rumah diikuti Dini dan Dimas.


Sebelum Anita masuk ke dalam mobil, Dini menghampiri Anita dan memeluknya beberapa saat.


"Kamu nggak harus pergi buat lupain masa lalu kamu Nit," ucap Dini.


"Aku pergi bukan buat lupain masa laluku Din, aku udah berdamai sama masa laluku sebelum aku memutuskan buat pergi dan aku harap kamu bisa maafin aku sebelum aku pergi," ucap Anita


"Aku udah maafin kamu Nit, aku juga minta maaf karena masih berpikir buruk tentang kamu, aku minta maaf," ucap Dini.


"Aku harap kamu bahagia dengan pilihan hati kamu Din, aku pergi dulu!" balas Anita dengan tersenyum.


Andi lalu menggendong Anita untuk membawanya masuk ke dalam mobil, lalu menaruh kursi rodanya ke dalam bagasi.


Pak Sonny lalu menyalakan mesin mobilnya, Anita dan sang papapun pergi meninggalkan rumah.


Andi hanya diam menatap mobil yang perlahan menghilang dari pandangannya. Ia tidak menyangka Anita akan memilih pergi dengan tiba tiba seperti itu.


Dimas lalu menghampiri Andi dan menepuk bahunya.


"Dia udah bahagia, tujuannya lo udah tercapai," ucap Dimas.


"Apa lo masih nggak bisa maafin dia?" tanya Andi tanpa menoleh ke arah Dimas.


"Entahlah, gue nggak tau, yang pasti gue nggak bisa lupain apa yang udah dia lakuin," jawab Dimas.


"Ayo pulang Ndi," ucap Dini yang sudah berdiri di samping Andi.


"Kamu duluan aja sama Dimas, aku masih mau di sini," ucap Andi lalu melangkah pergi dan kembali masuk ke rumah Anita.


Dini hanya diam dengan menatap sahabatnya yang tampak bersedih itu.


"Dia butuh waktu buat sendiri sayang," ucap Dimas lalu mengajak Dini untuk pergi.


Dimas dan Dinipun meninggalkan rumah Anita.


Sedangkan Andi masuk ke dalam rumah untuk menemui bibi.


"Bi, apa bibi tau kenapa Anita tiba tiba pergi?" tanya Andi pada bibi.


"Maaf den, bibi nggak tau apa apa, bibi juga kaget waktu tiba tiba non Anita minta bibi kemasi barang barang nya!" jawab bibi.

__ADS_1


"Apa Anita beberapa hari ini keliatan sedih bi?" tanya Andi.


"Justru beberapa hari ini non Anita keliatan bahagia den, dia juga selalu semangat buat ikut kursus," jawab bibi.


"apa yang sebenarnya bikin kamu tiba tiba pergi Nit?" tanya Andi dalam hati.


"Ya udah bi, Andi pamit pulang dulu, kalau ada kabar dari Anita tolong hubungi Andi ya Bi!" ucap Andi.


"Iya den," balas bibi.


Saat Andi hendak melangkahkan kakinya keluar dari rumah, bibi mengingat sesuatu dan segera memanggil Andi.


"Tunggu sebentar den!" ucap bibi yang membuat Andi menghentikan langkahnya.


Bibi lalu masuk ke kamar Anita dan mengambil sebuah surat di meja Anita lalu memberikannya pada Andi.


"Waktu di rumah sakit non Anita minta bibi buat kasih surat ini buat den Andi," ucap bibi.


"Makasih Bi," ucap Andi yang dibalas anggukan kepala bibi.


Andi lalu membawa surat itu dan pergi meninggalkan rumah Anita.


**


Di sisi lain, Anita dan sang papa sedang berada di tengah kemacetan jalan raya.


"Kamu yakin sama keputusan kamu Anita?" tanya sang papa.


"Anita yakin pa," jawab Anita dengan pandangan kosong ke arah jalan raya.


"Tapi papa nggak bisa liat keyakinan kamu itu," ucap papa Anita.


Anita lalu menoleh ke arah papanya dan tersenyum.


"Itu karena Anita dan papa nggak begitu dekat," ucap Anita.


"Kamu bener, papa memang bukan papa yang baik buat kamu Nit, tapi kamu harus tau kalau papa sangat menyayangi kamu," balas sang papa.


"Iya Anita tau," ucap Anita.


"Papa harap kamu nggak menyesali keputusan besar kamu ini Nit, papa tau kamu berat buat ninggalin Andi, papa juga bisa lihat kalau Andi berat buat biarin kamu pergi," ucap papa Anita.


"Anita nggak akan menyesal pa, selama ini Anita udah jahat sama mereka semua, termasuk Andi, tapi Andi selalu baik sama Anita dan selalu bisa bikin Anita bahagia, rasanya Anita nggak pantas buat bisa bahagia sama Andi setelah apa yang udah Anita lakuin," jelas Anita.


"Kamu berhak bahagia Anita, kamu harus bahagia," ucap sang papa dengan membelai rambut Anita.


"Anita akan bahagia dengan memulai jalan hidup Anita yang baru pa," balas Anita.


"Papa akan selalu dukung kamu selama itu hal yang baik," ucap sang papa.


Anita tersenyum tipis dengan menatap jalan raya di hadapannya.


"tokoh antagonis sudah pergi seperti yang diinginkan banyak orang, Dini dan Dimas akan bahagia tanpa ada aku jika memang mereka berjodoh, tapi kalau mereka nggak ditakdirkan buat berjodoh ada atau nggak adanya aku mereka tetap nggak akan bisa bersatu," batin Anita dalam hati.


**


Di tempat lain Dini sedang berada di rumah Dimas.


"Aku nggak nyangka Anita akan memilih pergi setelah dia lupain kamu," ucap Dini.


"Itu udah jadi pilihannya sayang, sekarang yang penting dia udah nggak ganggu kita lagi," balas Dimas.


"Kamu bener, tapi aku jadi sedih karena Andi keliatan sedih, apa menurut kamu mereka punya hubungan yang nggak kita tahu?"


"Aku juga nggak tau sayang, tapi mungkin Anita yang punya perasaan sama Andi, karena Andi cuma anggap dia teman, makanya dia pergi, mungkin begitu," jawab Dimas.


"Kamu tau dari mana kalau Andi cuma anggap dia teman?" tanya Dini.


"karena aku tau gimana perasaanya sama kamu, nggak mungkin ada orang lain di hatinya selain kamu Andini," jawab Dimas dalam hati.


"Aku.... cuma nebak aja," jawab Dimas sekenanya.


"Kamu mau temui Andi?" lanjut Dimas bertanya.


Dini menggeleng pelan dengan menatap nanar ke arah depan.


"kamu emang ada di sini Andini, tapi aku tau pikiran kamu lagi nggak di sini sekarang," ucap Dimas dalam hati.


"Dia butuh kamu sekarang," ucap Dimas pada Dini.


"Dia butuh waktu sendiri sekarang," balas Dini.


Dimas lalu berdiri dari duduknya dan menarik tangan Dini agar ikut berdiri.


"Kenapa?" tanya Dini.


"Kamu harus temui Andi, dia butuh kamu, sahabatnya," jawab Dimas.

__ADS_1


"Tapi kamu...."


"Jangan pikirin aku, aku baik baik aja," ucap Dimas memotong ucapan Dini.


__ADS_2