Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Menunggu


__ADS_3

Waktu berlalu, Andi masih duduk di tempat yang sama untuk menunggu Dini.


Sempat terbesit dalam benaknya jika ia akan melanjutkan pendidikannya di luar negri seperti saran mama Siska. Namun ia ragu, apakah ia bisa jauh dari Dini?


Tapi mengingat pernikahan Dini dan Dimas yang tinggal sebentar lagi, membuatnya bimbang. Ia tau setelah pernikahan itu terjadi semuanya akan berbeda.


Ia tidak ingin merusak momen bahagia Dini dengan kesedihannya, namun ia juga tidak yakin bisa menahan kehancuran hatinya saat pernikahan itu terjadi.


Andi menghembuskan napasnya kasar, kesal dengan keadaannya saat itu.


Tak lama kemudian Dini keluar bersama mama Dimas. Andi segera berdiri dari duduknya bersiap mengantar Dini.


"Kamu yakin nggak mau mama anter pulang?" tanya mama Dimas pada Dini.


"Iya ma, Andi udah nunggu Dini dari tadi," jawab Dini.


"Padahal mama mau ajak kamu makan malam loh Din, mama pingin quality time berdua sama kamu," ucap mama Dimas membujuk.


Dini lalu membawa pandangannya pada Andi. Ia merasa tidak enak jika harus menolak ajakan mama Dimas, tapi ia juga tidak ingin membuat Andi kecewa karena Andi sudah sabar menunggunya.


"Dini....."


"Nggak papa Din, kamu sama tante Angel aja," ucap Andi memotong ucapan Dini.


Andi tau jika Dini sedang di posisi yang sulit saat itu.


"Tapi Ndi....."


"Nggak papa, aku pergi dulu ya," ucap Andi dengan membelai rambut Dini dan tersenyum.


"Saya permisi tante," ucap Andi berpamitan pada mama Dimas.


Mama Dimas hanya menganggukkan kepalanya, sedangkan Dini hanya diam dengan perasaan bersalahnya pada Andi.


"Ayo sayang," ucap mama Dimas sambil menggandeng tangan Dini.


Dini menganggukkan kepalanya lalu mengikuti langkah mama Dimas. Merekapun pergi ke restoran yang tak jauh dari tempat itu.


Setelah sampai, mereka segera masuk dan memesan makanan.


"Mama perhatiin Andi perhatian banget ya sama kamu!" ucap mama Dimas.


"Kita udah lama bersahabat ma," balas Dini.


"Mama cuma khawatir kalau Dimas bisa cemburu liat kedekatan kalian," ucap mama Dimas.


"Dimas mengerti persahabatan kita kok ma, dia juga bersahabat sama Andi," balas Dini.


"Mama sangat tau bagaimana Dimas mencintai kamu Din, jadi mama harap kamu juga bisa memiliki cinta sebesar cinta Dimas buat kamu."


Dini hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Entah kenapa ia merasa jika mama Dimas tidak menyukai kedekatannya dengan Andi.


"Mama tau kamu dan Andi bersahabat sebelum kamu dan Dimas bersama, tapi sekarang kamu akan menikah dengan Dimas, mama harap kedekatan kamu dan Andi tidak menjadi masalah dalam kehidupan rumah tangga kamu dan Dimas nantinya," ucap mama Dimas yang membuat Dini sedikit terkejut.


Beruntung makanan datang di saat yang tepat. Mereka lalu menikmati makan malam mereka. Dalam hatinya, Dini merasa tidak nyaman dengan percakapannya bersama mama Dimas saat itu.


Namun ia tau apa yang dikatakan mama Dimas memang benar. Setelah dirinya sah menjadi istri Dimas, ia harus bisa menjaga jarak dengan Andi. Ia tidak ingin persahabatan dan pernikahan nya hancur, jadi ia harus bersikap dengan baik tanpa harus ada yang tersakiti.


"Din, apa ucapan mama tadi menyinggung perasaan kamu?" tanya mama Dimas yang melihat Dini hanya diam.


"Mama tenang aja, Dini tau harus bersikap seperti apa, persahabatan dan pernikahan Dini akan baik baik aja," jawab Dini dengan berusaha tersenyum.


Mama Dimas hanya membalas senyuman mendengar ucapan Dini. Dalam hatinya ia ingin Dini menjauhi Andi, namun ia tidak bisa mengatakan dengan terus terang keinginannya itu.


Ia tidak ingin hubungannya dengan Dini menjadi canggung jika ia mengatakan apa yang sebenarnya ia inginkan.


Setelah selesai makan malam, mama Dimas mengantarkan Dini pulang.


Sesampainya di rumah Dini, mama Dimas turun dari mobil untuk mampir bertemu ibu Dini.


Mama Dimas dan ibu Dinipun mengobrol di ruang tamu, sedangkan Dini masuk untuk mandi.


"Ada yang mau saya tanyakan tentang hubungan Dini dan Andi," ucap mama Dimas setelah beberapa lama berbasa basi.


"Dini dan Andi? ada apa?" tanya ibu Dini.


"Sebenarnya seperti apa hubungan mereka? karena saya lihat mereka sangat dekat!"


Ibu Dini tersenyum sebelum menjawab pertanyaan mama Dimas.


"Andi dan Dini bersahabat dari mereka kecil, mereka selalu berdua dan laki laki pertama yang dikenal Dini adalah Andi, jadi wajar kalau mereka terlihat dekat," jawab ibu Dini.


"Apa mereka nggak pernah punya hubungan lebih dari sahabat selama ini? karena jujur sejak pertama kali saya lihat mereka sampai saat ini saya rasa mereka memiliki hubungan khusus yang lebih dari sahabat!"


"Setau saya mereka cuma bersahabat, saya percaya Andi laki laki yang baik dan Dini juga sudah yakin dengan keputusannya untuk melanjutkan hidupnya bersama Dimas, jadi ibu Angel tidak perlu khawatir, persahabatan mereka tidak akan mengganggu pernikahan Dini dan Dimas," ucap ibu Dini menjelaskan.


"Tapi saya...."


"Maaf sebelumnya, apa ibu Angel belum percaya sama Dini?" tanya ibu Dini yang merasa mama Dimas meragukan Dini.

__ADS_1


"Bukan seperti itu Bu, saya percaya sama Dini, tapi Andi bisa jadi punya perasaan lebih untuk Dini kan? kita nggak pernah tau bagaimana hati orang lain loh!"


"Ibu Angel benar, kita tidak pernah tau bagaimana hati seseorang yang sebenarnya, tapi saya tau seperti apa Andi yang saya kenal, saya yakin dia tidak akan menghancurkan pernikahan sahabatnya, bukannya Dimas juga bersahabat dengan Andi?"


"Iya, mereka memang bersahabat, tapi....."


"Maaf menyela, ada baiknya ibu Angel bicarakan hal ini dengan anak anak, Andi, Dini dan Dimas, kalau memang ibu Angel meragukan persahabatan mereka, saya tidak ingin ibu Angel menerima Dini dengan ragu," ucap ibu Dini dengan tegas.


"Maaf Bu, saya hanya tidak ingin pernikahan anak saya hancur karena adanya orang ketiga," ucap mama Dimas.


"Begitupun saya, tidak ada orang tua yang menginginkan pernikahan anak anaknya hancur," balas ibu Dini.


Setelah berbicara panjang lebar dengan ibu Dini, mama Dimas berpamitan pergi.


"Loh mama udah pulang Bu?" tanya Dini yang baru saja selesai berganti pakaian.


"Iya, barusan," jawab ibu Dini.


Dini hanya menganggukkan kepalanya lalu duduk di samping sang ibu.


"Din, ada yang mau ibu tanyakan sama kamu," ucap ibu Dini dengan menatap tepat di mata Dini.


"Ada apa Bu?" tanya Dini.


"Apa kamu yakin dengan Dimas? kamu yakin dengan pernikahan kamu?"


"Kenapa ibu tiba tiba tanyain hal itu?" balas Dini bertanya.


"Jawab pertanyaan ibu Din, apa kamu benar benar mencintai Dimas?"


Dini menganggukkan kepalanya penuh keyakinan.


"Dini cinta sama Dimas Bu, banyak hal yang udah kita lewati bersama, udah berkali kali kita jatuh dan pada akhirnya kita kembali lagi, Dini yakin pernikahan ini adalah tujuan Dini dan Dimas, Dini percaya Dimas adalah masa depan Dini Bu," ucap Dini menjawab keraguan sang ibu.


"Lalu bagiamana dengan Andi? apa kamu siap melepaskannya dan jauh darinya?" tanya ibu Dini yang membuat Dini terkesiap.


Dini mengalihkan pandangannya dari sang ibu tanpa menjawab pertanyaan sang ibu.


"Kenapa Din? kamu nggak bisa jawab pertanyaan ibu?" tanya ibu Dini.


"Andi sahabat Dini Bu, Dini nggak mau jauh dari Andi, Dini nggak mungkin lepasin Andi buat pergi dari Dini, tapi Dini tau setelah pernikahan ini semuanya akan berubah dan mau nggak mau Dini harus bisa menjaga jarak dengan Andi, walaupun sebenarnya Dini nggak mau jauh dari Andi," batin Dini dalam hati.


Biiiipppp biiiiippp biiiipp


Dering ponsel Dini dari kamar membuat Dini tersadar dari lamunannya.


"Dini masuk dulu Bu," ucap Dini lalu masuk ke kamarnya.


"ibu tau kamu masih bimbang," batin ibu Dini dalam hati.


Dini mengambil ponselnya di ranjang dan melihat nama Dimas di layar ponselnya.


"Halo Dimas."


"Halo sayang, kamu udah nyampe rumah?"


"Udah, mama ngajak makan malam juga tadi," jawab Dini.


"Berdua aja sama mama?" tanya Dimas.


"Iya, berdua sama mama," jawab Dini.


"Andini berdua sama mama? aku harap mama nggak bilang sesuatu yang bikin Andini nggak nyaman," batin Dimas dalam hati.


"Halo Dimas!"


"Iya sayang, ya udah kamu istirahat aja, aku mau mandi dulu!"


"Oke bye!"


"Bye sayang!"


Dini menaruh ponselnya dan tanpa sadar tertidur.


**


Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, Dini sudah berada di tempat kerjanya. Setelah memberikan jadwal harian Adit, ia melanjutkan pekerjaannya sampai jam makan siang tiba.


Dini makan siang di kantin bersama teman temannya setelah itu kembali lagi ke ruangannya setelah selesai makan siang.


Dini kembali sibuk dengan pekerjaannya sampai jam sudah menunjukkan pukul 4 sore.


Setelah memastikan tidak ada yang harus ia kerjakan lagi, ia pun meninggalkan kantor.


Dini menaiki bus yang membawanya ke home store Andi. Ia ingin menemui Andi dan meminta maaf atas apa yang terjadi saat ia meninggalkannya untuk makan malam bersama mama Dimas semalam.


Namun sesampainya di home store, Andi tidak ada di sana.


"Dari jam 4 tadi udah pergi," ucap Rama pada Dini.

__ADS_1


"Kira kira dia balik lagi nggak ya?" tanya Dini.


"Kayaknya sih balik, soalnya tadi keluar nggak bawa apa apa, biasanya kalau udah nggak balik tab nya dibawa!" jawab Rama menjelaskan.


"Oh, aku boleh nunggu dia di atas nggak?"


"Boleh boleh," balas Rama.


Dini lalu naik ke lantai dua dan menunggu Andi di balkon.


**


Di sisi lain, Andi sedang berada di taman. Ia berharap bisa bertemu seseorang yang memberinya surat.


Sudah hampir 30 menit Andi berada di taman dan berkeliling namun tak ada siapapun yang ia kenal di sana.


"Dia nggak bilang jam berapa dia nunggu aku di sini, apa aku harus di sini sampe malem?" tanya Andi pada dirinya sendiri.


Biiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Andi berdering, sebuah panggilan masuk dari Rama.


"Halo, ada apa?"


"Mbak Dini di sini dari tadi, dia....."


"Di home store?" tanya Andi.


"Iya," jawab Rama.


Andi lalu mengakhiri panggilan dari Rama dan memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu segera keluar dari taman.


Andi mengendarai mobilnya meninggalkan taman tepat saat seorang perempuan berjalan ke dalam taman dengan rambut tergerai lurus, mengenakan atasan bermodel sabrina dan rok mini skater.


Sama seperti hari hari sebelumnya, gadis cantik itu berjalan anggun dan duduk di salah satu kursi yang ada di taman, menunggu seseorang yang belum tentu akan datang.


Di sisi lain, Andi yang baru saja sampai di home store segera masuk dan naik ke lantai dua untuk menemui Dini.


Andi menghentikan langkahnya saat melihat Dini berdiri di balkon dengan senyum manisnya.


"Akhirnya kamu dateng," ucap Dini.


Andi tersenyum tipis lalu berjalan pelan ke arah Dini dan memeluknya.


"Kenapa kamu nggak bilang kalau ke sini?" tanya Andi tanpa melepas pelukannya pada Dini.


"Aku sengaja nunggu kamu di sini, Rama bilang kamu pasti balik, jadi aku tunggu kamu di sini," jawab Dini.


Andi lalu melepaskan Dini dari pelukannya dan duduk di kursi yang ada di sana.


"Harusnya kamu bilang kalau mau ke sini, biar kamu nggak perlu nunggu aku selama ini," ucap Andi.


"Nggak papa, kamu kemarin juga udah nungguin aku lama," ucap Dini.


"Tante Angel anterin kamu pulang kan semalem?"


"Iya, aku ke sini mau minta maaf sama kamu, maaf karena udah bikin kamu nunggu lama tapi aku malah pergi sama mamanya Dimas!"


"Nggak papa, bukan masalah buat aku," balas Andi.


"Harusnya kamu marah sama aku, harusnya kamu kesel karena udah nunggu aku lama!"


"Aku kan udah bilang aku akan nunggu kamu, selama apapun itu, kalaupun kamu nggak bisa pulang sama aku nggak papa, asalkan kamu bisa pulang dengan selamat aku nggak masalah," balas Andi.


"gimana bisa aku lepasin kamu Ndi, sikap manis kamu ini kadang bikin aku ngerasa di atas awan, hal hal kecil yang kamu lakuin buat aku selalu bikin aku nyaman dan bahagia," batin Dini dalam hati.


"Udah nggak usah dipikirin, aku nggak papa kok," ucap Andi.


Dini hanya tersenyum tipis dengan menatap wajah sahabatnya itu.


"Lalu bagiamana dengan Andi? apa kamu siap melepaskannya dan jauh darinya?"


Pertanyaan sang ibu kembali terngiang di telinga Dini. Sampai detik itu ia tidak tau jawaban seperti apa yang terbaik baginya, untuk Andi dan juga Dimas.


"Mau aku anter pulang sekarang?" tanya Andi membuyarkan lamunan Dini.


"Aku masih mau di sini, apa kamu lagi sibuk?"


"Enggak kok," jawab Andi.


Mereka lalu mengobrolkan banyak hal. Tiba tiba Dini teringat saat ia melihat mama Dimas berbicara dengan Andi. Ia tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, namun melihat raut wajah Andi dan mama Dimas saat itu, ia yakin ada sesuatu yang terjadi diantara mereka.


"Ndi, apa mamanya Dimas kemarin bilang sesuatu sama kamu?" tanya Dini pada Andi.


"Enggak, kenapa?"


"Aku emang nggak tau kalian bicarain apa kemarin, tapi aku yakin kalian pasti bicarain sesuatu yang serius, iya kan?"


Andi hanya tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaan Dini, membuat Dini semakin penasaran.

__ADS_1


"aku nggak mungkin kasih tau yang sebenarnya Din, aku cuma bisa berharap kalau tante Angel nggak akan maksa kamu buat jauhin aku, karena kalau sampe itu terjadi aku yang akan mengalah," batin Andi dalam hati.


__ADS_2