Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Siapa A?


__ADS_3

Dimas dan Dini masih berada di gazebo taman, kesalahpahaman mereka sudah mereda dan Dini sudah memahami maksud Dimas meminta pak Yusman dan lainnya untuk diam diam mengawasinya.


Dimas juga sudah meredam kecemburuannya pada Andi yang ia lihat memeluk Dini saat ia baru saja sampai di rumah Andi.


Dimas dan Dini sama sama berusaha untuk menang dari ego mereka masing masing dan melihat apa yang terjadi dari sudut pandang yang berbeda.


Namun satu pertanyaan Dini membuat Dimas terkesiap. Ia telah mengatakan hal terbodoh yang pernah dikatakannya di depan Dini dan ia sangat menyesalinya.


"Tapi waktu itu kamu bilang kalau Andi suka sama aku, kenapa kamu bilang gitu?"


"Eee..... apa aku bilang gitu?" tanya Dimas berpura pura tidak mengingatnya.


"Iya, aku inget banget kata kata kamu, 'lo suka sama Andini? lo cinta sama sahabat lo sendiri'," ucap Dini menirukan ucapan Dimas.


"Aku pasti udah kelewat emosi dan cemburu waktu itu, sampe aku nggak bisa kontrol ucapanku," balas Dimas beralasan.


"Iya juga sih, Dokter juga bilang salah satu efek obat itu bikin Dimas nggak bisa kendaliin emosinya, pasti karena efek obat itu yang bikin Dimas bilang kayak itu!" batin Dini dalam hati.


"Iya mungkin, lagian aku sama Andi udah lama bersahabat, nggak mungkin dia punya perasaan kayak gitu," ucap Dini.


"Kalau kamu?" tanya Dimas.


"Aku? kenapa?"


"Apa mungkin kamu punya perasaan itu?" tanya Dimas yang membuat Dini seketika mengalihkan pandangannya dari Dimas.


"Aku......"


"Din!" panggil Andi yang tiba tiba datang menghampiri Dini dan Dimas.


"Aku harus ke home store sebentar, kamu mau aku anter pulang sekarang atau nanti aku jemput lagi?" ucap Andi sekaligus bertanya pada Dini.


"Aku pulang sekarang aja," jawab Dini cepat, entah kenapa ia ingin menghindar dari pertanyaan Dimas tadi.


"Kamu pulang sekarang?" tanya Dimas yang seolah keberatan jika Dini harus segera pulang.


"Iya, kamu harus istirahat, nanti aku ke sini lagi," jawab Dini.


"Ada supir yang bisa anter kamu pulang sayang, kamu bisa pulang nanti aja," cegah Dimas.


"Lo harus istirahat Dim, lo juga masih harus check up buat pastiin keadaan lo bener bener sehat supaya bisa keluar rumah!" sahut Andi.


"Andi bener, setelah kamu udah sehat lagi kita bisa liburan, aku bisa minta cuti ke kak Adit," ucap Dini yang akhirnya membuat Dimas pasrah.


"Ya udah, kamu hati hati ya!" ucap Dimas dengan membelai rambut Dini.


Dini menganggukkan kepalanya dan menggenggam tangan Dimas, seketika Dimas menarik tangan Dini membuat Dini mendekat dan kecupan singkat mendarat di kening Dini.


Andi tersenyum tipis lalu berbalik, meninggalkan Dini dan Dimas. Ia juga harus menjaga "kesehatan" hatinya yang terlalu sering terluka.


Setelah berpamitan pada mama dan papa Dimas, Andi dan Dinipun meninggalkan rumah Dimas.


Mama dan papa Dimas lalu masuk ke dalam kamar karena ada hal yang harus mereka bicarakan.


"Ada apa ma? pasti ada sesuatu yang mama pikirin kan dari tadi?" tanya papa Dimas pada sang istri.


"Pa, apa kita terlalu keras sama Dimas?" tanya mama Dimas pada sang suami.


"Maksud mama? kenapa mama tiba tiba tanyain hal itu?"


"Papa inget penjelasan Dokter waktu di rumah sakit kan? Dimas mengkonsumsi obat itu untuk menghilangkan pusingnya, tapi Dimas mengkonsumsi obat itu lebih dari dosis yang seharusnya karena tekanan dan stres yang dia alami selama ini," jawab mama Dimas mengingatkan sang suami.


"Maksud mama Dimas mengkonsumsi obat itu karena tekanan pekerjaannya dan dia stres karena hal itu?"


Mama Dimas menganggukkan kepalanya pelan menjawab pertanyaan sang suami.


"Papa tau keinginan Dimas dari dulu adalah punya bisnisnya sendiri yang dia bangun dari nol, tapi sekarang dia harus bekerja keras di perusahaan demi kelanjutan perusahaan kita, bukan demi masa depan yang diinginkannya," ucap mama Dimas.


"Bangun bisnis dari nol juga nggak mudah ma, mama tau gimana perjuangan Dimas yang naik turun dari dulu, dengan Dimas memutuskan buat masuk ke perusahaan itu adalah keputusan paling tepat, dia hanya harus fokus sama satu tujuan perusahaan dan....."


"Dan itu membuat dia terbebani pa, apa papa nggak pernah mikirin gimana Dimas menjalani hidupnya selama dia jauh dari kita? kita bahkan nggak tau keadaannya yang sebenarnya, kita nggak tau apa apa sampe Dimas mengkonsumsi obat itu dengan berlebihan!" ucap mama Dimas yang tampak emosi dengan respon sang suami.


"Mama tenang dulu, Dimas bisa denger suara mama nanti!" ucap papa Dimas memenangkan sang istri.

__ADS_1


"Dimas anak kita satu satunya pa, dia harapan mama satu satunya, mama nggak mau terjadi sesuatu yang buruk sama dia," ucap mama Dimas dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Papa tau ma, tapi melanjutkan apa yang sudah ada di depan Dimas itu adalah jalan takdir yang udah dipastikan buat Dimas jalani, dia nggak bisa menghindar dari jalan itu!"


"Papa egois," ucap mama Dimas pelan lalu berdiri dari duduknya.


"Papa juga sayang sama Dimas ma, mama jangan terlalu membesar besarkan kejadian ini, Dimas....."


"Apa papa bilang? membesar besarkan? papa tau efek obat itu apa? kerusakan jaringan otak, kalau Dimas nggak berhenti konsumsi obat itu, Dimas..... Dimas akan....."


"Ma, udah ma, jangan berpikiran terlalu jauh, Dimas baik baik aja sekarang," ucap papa Dimas yang berusaha menenangkan sang istri.


Tanpa mama dan papanya tau, Dimas mendengar semua percakapan mama dan papanya dari luar kamar.


Dalam hatinya ia membenarkan ucapan sang mama. Bekerja di perusahaan sang papa bukanlah mimpinya, mimpinya adalah memulai sendiri bisnisnya dari nol.


Namun perkataan sang papa juga benar, garis hidupnya telah ditentukan, ia hanya harus mengikuti arah garis yang membawanya sampai pada akhir takdirnya.


Ia adalah anak satu satunya pemilik perusahaan besar, maka mau tak mau ia adalah satu satunya harapan bagi sang papa untuk melanjutkan kepemimpinannya.


Karena perdebatan mama dan papanya semakin panas, Dimaspun memutuskan untuk masuk dan menengahi apa yang sedang mama dan papanya perdebatkan.


"Ma, pa!"


Seketika mama dan papa Dimas membawa pandangan mereka ke arah pintu kamar dan melihat Dimas yang berdiri di sana.


Mama Dimas segera menghapus air matanya dan menyinggungkan senyumnya pada Dimas. Mama Dimas tidak ingin Dimas mengetahui perdebatannya bersama sang suami karena tidak ingin keadaan Dimas memburuk karena hal itu.


"Ada apa sayang?" tanya mama Dimas yang berusaha untuk terlihat baik baik saja.


"Dimas udah denger semuanya," jawab Dimas lalu melangkah masuk dan duduk di tepi ranjang.


Dimas menarik tangan mama dan papanya, membuat mama dan papanya duduk di samping Dimas.


"Ma, pa, maaf karena udah bikin mama dan papa khawatir," ucap Dimas pada mama dan papanya.


Mama Dimas hanya diam dengan membelai rambut Dimas.


"Dimas nggak mau mama dan papa bertengkar karena hal ini, apa yang terjadi sama Dimas murni karena kesalahan Dimas sendiri, Dimas memilih jalan cepat buat menyelesaikan masalah Dimas tanpa cerita sama mama dan papa," ucap Dimas.


"Mama dan papa adalah orangtua terbaik bagi Dimas, Dimas bahagia bisa tumbuh dengan kasih sayang dan cinta mama papa, nggak ada yang bisa Dimas lakuin buat balas apa yang udah mama dan papa berikan sama Dimas selain bakti Dimas sama mama dan papa, karena itu Dimas memutuskan buat jalanin apa sudah papa dan mama siapkan untuk Dimas."


"Mama dan papa jangan khawatir, Dimas memutuskan buat masuk ke perusahaan bukan karena terpaksa, bukan cuma karena perjanjian Dimas sama papa, tapi karena Dimas tau pada akhirnya nanti Dimas yang akan melanjutkan perjuangan mama dan papa dalam mempertahankan perusahaan kita," lanjut Dimas.


"Apa kamu bahagia dengan pilihan kamu sayang?" tanya mama Dimas.


"Dimas bahagia ma, ini jalan yang mama dan papa udah siapkan buat Dimas, ini jalan yang udah ditakdirkan Tuhan buat Dimas, jadi Dimas akan menjalani dengan baik dan membuat papa dan mama bangga sama Dimas," jawab Dimas.


"Maafkan papa Dim, papa nggak pernah bermaksud buat merenggut mimpi kamu, kamu anak semata wayang papa dan mama, harapan kami ada pada kamu," ucap papa Dimas.


"Dimas mengerti pa, Dimas akan melakukan yang terbaik, buat mama dan papa, buat perusahaan kita dan tentunya buat masa depan Dimas sama Andini," balas Dimas.


"Tapi jangan jadikan semua ini beban buat kamu sayang, kapanpun kamu merasa semua ini terlalu berat buat kamu jalani, kamu bisa bilang mama dan papa," ucap mama Dimas.


"Iya ma, Dimas mengerti," balas Dimas.


Mama dan papa Dimas lalu kompak memeluk Dimas. Kasih sayang dan cinta dari mama dan papa Dimas membuat kehangatan keluarga semakin terasa.


**


Di tempat lain, Andi dan Dini masih dalam perjalanan dari rumah Dimas.


"Aku boleh ikut kamu ke home store?" tanya Dini pada Andi.


"Boleh banget dong," balas Andi yang membuat Dini bersorak senang.


Sesampainya di home store mereka segera turun dari mobil.


"Kamu naik aja ke balkon atau masuk ke ruanganku, aku harus ke tempat produksi bentar," ucap Andi pada Dini.


"Oke," balas Dini.


Saat Dini menaiki tangga, ia melihat beberapa laki laki sedang duduk di balkon, Dinipun kembali turun dan masuk ke ruangan Andi.

__ADS_1


"Sederhana, rapi dan bersih, nyaman buat kerja," ucap Dini sambil memperhatikan setiap detail ruangan kerja Andi.


Dini lalu duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Andi. Saat ia melihat buku di meja Andi, ia mengambilnya, berniat untuk membacanya.


Namun saat ia mengambil buku itu, sesuatu di bawahnya terjatuh. Dinipun mengambilnya.


Sebuah surat tanpa amplop kini ada di tangan Dini. Karena surat itu terbuka, tanpa sengaja sebagain isinya terbaca oleh Dini, membuat Dini semakin penasaran.


Dinipun membaca surat itu. Dini mengernyitkan dahinya saat ia selesai membaca surat itu karena tidak ada nama pengirim dalam surat itu.


"A? siapa? Anita? apa Aletta?"


Dini lalu membolak balik surat itu namun tidak menemukan tulisan lainnya. Dini kembali melipat surat itu, meletakkannya di tempat sebelumnya berserta buku yang hendak dibacanya.


"lama kita nggak ketemu. Maaf karena pergi gitu aja, aku butuh waktu buat menyembuhkan luka ku,"


Tulisan dalam surat itu terngiang di kepala Dini. Ia mencoba mencari kemungkinan tentang siapa pengirim surat itu.


"Anita dan Aletta sama sama pergi gitu aja, mereka sama sama tiba tiba nggak ada kabar, tapi yang menyembuhkan luka siapa? Aletta? luka karena dia dan Andi putus? atau Anita? karena dia diam diam suka sama Andi, bisa jadi kan? tapi......"


"Aku pikir kamu di atas," ucap Andi yang tiba tiba datang membuyarkan lamunan Dini.


"Eh, apa? kenapa?" tanya Dini yang terkejut dengan kedatangan Andi.


"Kamu ngelamun ya? mikirin apa? Dimas?" balas Andi bertanya.


Dini hanya tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaan Andi.


"Mau aku anter ke rumah Dimas lagi?" tanya Andi.


"Enggak, Dimas juga harus istirahat, kalau aku di sana yang ada dia nggak jadi istirahat," jawab Dini.


"Iya sih, jadi sekarang kamu mau kemana?"


"Kamu lagi sibuk?"


"Enggak, semuanya udah di handle sama anak anak," jawab Andi.


Tooookkk tooookkk tooookkk


Pintu ruangan Andi diketuk oleh seseorang, Rama lalu masuk dan dengan ragu memberikan sebuah surat pada Andi.


"Dari siapa?" tanya Andi.


"Nggak tau, tadi pagi udah di depan pintu dan sekarang baru inget kalau tadi pagi nemuin surat ini hehe......"


Andi hanya menganggukkan kepalanya lalu memasukkan surat itu ke dalam laci meja kerjanya.


"Surat dari siapa?" tanya Dini ketika Rama sudah keluar dari ruangan Andi.


"Nggak tau, nggak ada namanya," jawab Andi.


"Nggak kamu buka dulu?" tanya Dini.


"Nanti aja, ayo keluar, cari udara segar buat ngilangin stres!" ajak Andi.


Andi dan Dini lalu keluar dari home store. Andi mengendarai mobilnya berkeliling kota karena mereka belum ada tujuan.


"Temui aku di taman daerah X ya, aku tunggu kamu tiap sore sampai satu minggu ke depan"


Dini kembali mengingat isi surat milik Andi yang sudah ia baca. Ia pun mengajak Andi untuk pergi ke taman di daerah X itu.


"Gimana kalau kita ke taman?" usul Dini.


"Boleh, aku cari putar balik dulu!"


"Nggak perlu, kita ke taman di daerah X aja, tinggal lurus kan?"


"Taman di daerah X?" tanya Andi meyakinkan, karena ia ingat taman itu adalah tempat seseorang yang memberinya surat menunggunya.


"Iya, aku udah lama nggak kesana, kita kesana ya!"


"Oke," balas Andi dengan menganggukkan kepalanya ragu.

__ADS_1


"Apa dia ada di sana sekarang? dia bilang nunggu aku di sana sore, tapi aku nggak tau jam berapa tepatnya dia nunggu aku, karena setelah aku pulang kerja dia nggak pernah ada, bisa jadi dia di sana sebelum jam 4 kan? dan sekarang masih jam 3!" batin Andi dalam hati.


"Aku nggak tau apa Andi udah tau siapa pengirim surat itu atau belum, tapi kalau emang pengirim surat itu nunggu Andi di taman, harusnya aku bisa temuin dia di taman sore ini, aku cuma mau pastiin dia Aletta atau Anita?" batin Dini dalam hati.


__ADS_2