Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Bahagia dan Duka


__ADS_3

Saat Dini membuka pintu taksi, seseorang sudah duduk di sana.


Dinipun masuk dan duduk di samping Dimas.


"Apa kamu berharap aku jadi supir taksi lagi?" tanya Dimas berbisik.


Dini hanya diam dengan memandang ke arah luar jendela.


Sepanjang perjalanan, Dini hanya diam, begitu juga Dimas.


"Ini bukan arah ke rumah," ucap Dini.


"Aku mau ajak kamu ke suatu tempat," ucap Dimas.


"Aku mau pulang Dimas, aku......"


"Tolong mbak, saya bisa dipecat kalau nggak bawa mbak Dini ke sana," ucap si supir pada Dini.


Dini kembali diam dengan raut wajah kesal, namun dalam hatinya ia bertanya tanya kemana Dimas akan membawanya pergi.


Tak lama kemudian taksi berhenti. Dimas mengajak Dini keluar.


"taman deket sekolah? ngapain dia ngajak ke sini?" tanya Dini dalam hati.


Dimas menarik tangan Dini dan menggandengnya namun Dini menolak.


Mereka lalu berjalan bersebelahan. Mereka duduk di sebuah bangku kecil di bawah pohon.


"Kamu mau apa lagi?" tanya Dini dengan nada yang tak bersahabat.


"Aku minta maaf Andini, aku janji nggak akan kayak gitu lagi, apapun penjelasan kamu akan aku denger, apapun itu!"


"Nggak ada yang mau aku jelasin kok."


"Oke kalau gitu dengerin aku, apa yang kamu lihat di pantai waktu itu nggak seperti yang kamu pikirkan Andini, aku sama Anita....."


"Nggak usah bahas itu Dim, aku seneng kok kalau kalian berhubungan baik, cuma kecewa aja karena kamu bohong sama aku!"


"Aku nggak bohong Andini, tolong dengerin aku, aku sama sekali nggak ada hubungan apa apa sama Anita, aku sama dia ke pantai karena aku terikat perjanjian sama dia dan hari itu juga aku selesaiin semuanya, aku minta dia buat nggak temui aku lagi."


"Perjanjian apa?"


"Jadi malam itu dia ngasih tau aku kalau kamu di sana, dia ngasih tau aku alamat itu asal aku mau keluar sama dia dan aku setuju, jadi aku ke sana dan liat kamu sama Adit, aku terlalu cemburu sampe aku nggak bisa berpikir jernih, aku minta maaf Andini."


"Malem itu kamu sama Anita di mobil!"


"Iya, dia ngasih tau aku foto foto kamu sama Adit dan dari foto itu aku tau kamu sama Adit bukan sekedar partner kerja."


"Kamu marah?"


"Tentu aku marah Andini, aku cemburu dan aku merasa kamu khianati, tapi sekarang aku sadar, seberapa marahnya aku sama kamu, aku tetep cinta dan nggak mau kehilangan kamu."


Dini hanya diam. Ia pun merasakan hal yang sama dengan Dimas. Semarah dan seberapa besarpun rasa kecewanya, hatinya tetap memilih Dimas.


"Kasih aku kesempatan dan aku akan berusaha lebih baik lagi buat kamu, buat hubungan kita," ucap Dimas dengan menarik tangan Dini ke dalam genggamannya.


Dini masih terdiam, membiarkan Dimas menggenggam hangat tangannya.


"Aku nggak peduli gimana hubungan kamu sama Adit, kalau kamu nggak mau cerita nggak papa, aku yakin masih ada aku di hati kamu," lanjut Dimas.


"Aku pacaran sama kak Adit, pura pura."


"Pura pura?"


"Mamanya Pak Adit selalu desak pak Adit buat punya pacar dan Pak Adit ngenalin aku ke mamanya sebagai pacar, karena ada satu dan lain hal, Pak Adit belum bisa jujur sama mamanya."


"Kamu nggak keberatan sama hal itu?"


"Awalnya iya, tapi mama Pak Adit baik banget sama aku, sekarang aku tau ada hal lain yang terjadi sama mamanya pak Adit yang bikin aku nggak bisa lepas gitu aja dari pak Adit dan mamanya."


"Apa itu?"


"Aku nggak bisa cerita sama kamu Dimas, tapi yang pasti aku sama pak Adit nggak ada hubungan apa apa selain partner kerja dan di luar itu Pak Adit cuma anggap aku sebagai adiknya."


"Kamu suka sama Adit?"


Dini mengangguk, membuat Dimas sedikit terkejut.


"Pak Adit emang galak banget, semua hal di kantor harus dikerjakan dan dilakukan dengan detail, tapi di luar itu dia baik banget, aku seneng karena bisa ngerasain punya kakak sekarang," jelas Dini.


"Andini, aku......"


"Aku kangen sama kamu," ucap Dini cepat.


Dimas lalu menarik Dini ke dalam pelukannya. Mereka diam beberapa saat, membiarkan hati meluapkan kerinduan yang selama ini menyiksa.


Dimas lalu melepaskan Dini dari pelukannya dan menggenggam tangannya.


"Aku akan selesaiin masalah aku sama ibu kamu dan kita akan sama sama lagi, tunggu aku sayang!" ucap Dimas sambil membelai wajah Dini.


Dini mengangguk lalu mencium tangan Dimas yang memegang pipinya.


Malam itu, di bawah bulan bintang yang bersinar menembus malam, dua hati kembali menyatu. Menyingkirkan semua ego dan pikiran buruk yang sempat menghantui. Memupuk kembali rasa yang tertanam kuat dalam hati.


"Tapi kamu jahat!" ucap Dini kesal.


"Jahat kenapa?"


"Kamu mau bikin supir taksi itu dipecat kan kalau aku nggak nurut!"


"Hahaha..... kamu percaya?"


"Maksudnya? dia bohong? atau kamu yang bohong?"


"Dua duanya hehehe....."


"Iiiiihhh, dasar semua cowok sama aja!"


"Yakin sama aja? aku sama dong sama Cha Eun Woo hahaha....."


"Beda banget, dia nggak suka peluk peluk cewek!"


"Beda sih, kalau aku kan nyata, kalau dia cuma ada dalam imajinasi kamu hahaha...."


"Iiiiihhh ngeseliiiin!!!"


Merekapun berlarian dan berkejaran di dalam taman. Di bawah langit malam itu, mereka memancarkan sinar kebahagiaan dari kedua sudut mata mereka.


**


Di tempat lain, Adit yang baru saja keluar kantor mendapat panggilan dari Lukman.


"Ada apa pak?"


"Ibu kabur mas," jawab Lukman.


Tanpa banyak bertanya lagi, Adit segera berlari ke arah mobilnya yang sudah berada di depan.

__ADS_1


"Kita ke rumah Rud, cepet!" ucap Adit pada Rudi.


"Baik pak."


Adit lalu mengambil ponselnya dan kembali menghubungi Lukman.


"Halo pak, pak Lukman yakin mama kabur? udah cari di dalam rumah?"


"Saya lihat ibu naik taksi pak, waktu saya kejar saya kehilangan jejak."


"Pak Lukman sekarang dimana?"


"Saya di daerah X pak."


"Oke pak, terima kasih."


Adit lalu meminta Rudi untuk merubah tujuan mereka.


"Ke daerah X Rud!"


"Baik pak."


"apa mama beneran di sana?" tanya Adit dalam hati.


"Jalan pelan pelan Rud, mama mungkin di daerah sini!" ucap Adit ketika mereka sudah sampai di daerah X.


Setelah beberapa menit berlalu, Adit melihat sang mama duduk di teras sebuah ruko kecil.


"Stop Rud, itu mama!"


Rudi segera menghentikan mobilnya. Aditpun keluar dan berlari ke arah sang mama.


"Mama, mama kenapa di sini?" tanya Adit pelan. Ia berusaha menenangkan dirinya yang sangat cemas saat itu.


"Adit, kamu udah pulang?"


Adit mengangguk lalu duduk di samping mamanya. Ia melepas jasnya dan memakaikannya pada sang mama.


"Kita pulang ya ma!" ajak Adit.


"Mama mau nunggu Andi Dit!"


"Andi udah pulang ma, ini udah malem, besok pagi mama ke sini lagi sama Pak Lukman ya!"


"Enggak Dit, mama mau nunggu Andi di sini."


"Ya udah, Adit temenin mama ya!"


Mama Siska mengangguk. Adit lalu memeluk sang mama dan membawa sang mama bersandar padanya.


Hampir satu jam mereka duduk di sana. Mama Siska lalu tertidur. Adit lalu membopong sang mama ke arah mobil dengan pelan.


Rudi yang melihat hal itu segera membukakan pintu dan segera membawa mobilnya ke arah rumah mama Siska.


Sesampainya di rumah, Adit membawa mamanya ke dalam kamar.


"Mama udah minum obat mbak?"


"Sudah mas."


"Apa ada yang terluka?"


"Tidak mas."


"Ya udah kalau gitu saya pulang dulu ya mbak, kalau ada apa apa kabarin saya!"


"Baik mas."


"Kamu bisa pulang Rud, terima kasih untuk hari ini," ucap Adit pada Rudi.


"Baik pak, saya permisi."


Adit lalu membawa mobilnya kembali ke home store Andi dan Dimas. Adit lalu menyimpan contact person atas nama Andi di sana.


**


Hari telah berganti. Pagi pagi sekali Adit pergi ke rumah mamanya sebelum berangkat ke kantor.


"Mama udah bangun mbak?" tanya Adit pada ART yang bekerja di rumah mamanya.


"Ibu lagi masak mas."


Aditpun membawa langkahnya ke arah dapur.


"Pagi ma," sapa Adit dengan mencium pipi sang mama.


"Pagi sayang, tumben kamu datangnya pagi pagi banget!"


"Adit kangen sama mama," jawab Adit sambil mengaduk masakan sang mama.


"Tunggu di meja makan, bentar lagi selesai."


"Siap."


Aditpun menunggu di meja makan. Tak lama kemudian mamanya datang dengan membawa berbagai macam masakan bersama ART nya.


"Mama masak banyak banget!"


"Iya, mau mama bawa ke tempat kerjanya Andi," jawab mama Adit.


"Andi lagi," batin Adit kesal.


"Sayang, itu kening kamu kenapa?" tanya mama Adit yang baru menyadari bekas jahitan di kening Adit.


"Iniiii..... ini.... Adit kepleset di kamar mandi ma hehe..."


"Kamu yang hati hati dong Dit, apa kamu nggak sewa pembantu?"


"Ada kok ma, dia kerja pagi sampe siang buat beres beres aja!"


"Kenapa masih licin kamar mandi kamu? pasti dia kerjanya nggak bener kan?"


"Adit yang nggak hati hati ma, udah jangan dibahas, keburu dingin masakan mama."


Setelah selesai sarapan, Adit mengajak sang mama mengobrol di taman sebelum berangkat ke kantor.


"Dit, apa kamu ngerasain apa yang mama rasain?" tanya mama pada Adit.


"Apa ma?"


"Mama merasa sangat tenang waktu lagi sama Andi, mama merasa dia itu......"


"Ma, dia bukan siapa siapa, mama merasa kayak gitu karena mama lagi kangen dan kebetulan dia datang dan nolong mama."


"Namanya Andi, dari semua nama kenapa harus nama itu?"


"Itu cuma kebetulan ma, dia tetangganya Dini, dia tinggal di rumahnya sama ayah dan ibunya."

__ADS_1


"Siapapun dia, mama nggak mau jauh dari dia, dia selalu bikin mama tenang Dit."


"Apa Adit nggak bisa bikin mama tenang?"


"Jangan bilang gitu Dit, kalian sama sama anak mama, kalian....."


"Ma, Andi bukan anak mama, dia orang lain yang tiba tiba datang dalam hidup mama."


"Maafin mama Dit, maafin mama," ucap mama Adit dengan air mata yang membasahi pipinya.


"Jangan minta maaf ma, Adit berangkat ke kantor dulu, mama jaga diri baik baik, jangan keluar tanpa Pak Lukman lagi ya ma!"


"Iya sayang."


Adit lalu keluar dari rumah mamanya dan menuju ke kantor. Sesampainya di kantor, ia segera menghubungi Rudi.


"Kamu datang ke kantor sebelum jam makan siang aja Rud!"


"Baik pak."


Seperti biasa, ia selalu minum air putih hangat yang sudah ada di meja kerjanya.


Pagi itu pikirannya kacau. Ia memikirkan mamanya dan Andi.


**


Di tempat lain, Andi sedang berdiskusi dengan klien nya di home store nya. Tak lama kemudian seseorang datang.


"Ada yang bisa saya bantu tante?" tanya Dimas.


"Tante mau ketemu Andi, dia ada?"


"Maaf, Andinya lagi sibuk tante, ada klien penting."


"Oh, ya udah kalau begitu, tante tunggu dia di sini nggak papa ya!"


"Iya tante."


1 jam berlalu. Andi selesai berdiskusi dengan kliennya dan mendapat beberapa kesepakatan.


"Beres Ndi?" tanya Dimas.


"Beres," jawab Andi penuh semangat.


"Eh lo dicariin tuh sama tante yang kemarin!"


"Kapan?"


"Tadi, katanya sih mau nunggu, liat aja di depan!"


Andi lalu keluar dan melihat mobil yang tak asing di matanya. Seorang wanita lalu turun dengan membawa 1 tas yang berisi bermacam macam masakan.


"Akhirnya tante ketemu kamu lagi, kamu udah sarapan? tante bawain kamu....."


"Maaf tante, Andi udah sarapan di rumah."


"Oh, ya udah ini buat makan siang aja, tinggal kamu masukin microwave!"


"Terima kasih tante, tapi....."


"Ini tante bawa banyak alat lukis juga, kamu pasti suka."


"Tante, tolong jangan berlebihan," ucap Andi setelah mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan hal itu.


"Maksud kamu?"


"Tante nggak perlu bawa semua ini, terima kasih karena sudah sangat baik sama Andi, tapi ini semua berlebihan tante, Andi nggak nyaman sama semua ini, tolong tante mengerti, Andi permisi," jelas Andi lalu masuk dan meninggalkan mama Siska begitu saja.


Entah kenapa Andi merasa sedih, sangat sedih hingga membuatnya ingin menangis. Begitu juga mama Siska yang sudah menumpahkan air matanya di tempatnya berdiri.


Lukman lalu membawa sang majikan kembali ke mobil dan pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, mama Siska segera berlari ke arah ruangan lukisan dan membanting semua lukisannya dengan berteriak.


Beberapa penjaga dan Lukman segera masuk dan mendapati majikan mereka terduduk di sudut ruangan dengan luka di tangannya.


Lukman segera membopong mama Siska keluar dari ruangan dan membawanya ke rumah sakit. Tak lupa ia juga menghubungi Adit.


Adit yang sedang sibuk dengan pekerjaanya segera menerima panggilan Lukman karena firasatnya yang tidak baik pagi itu.


"Ibu di rumah sakit mas."


Tanpa banyak bertanya lagi. Adit segera berlari keluar dari ruangannya. Aditpun melajukan mobilnya ke arah rumah sakit.


"Mama kenapa pak?" tanya Adit pada Lukman ketika ia sampai di rumah sakit.


Lukman pun menjelaskan pada Adit apa yang terjadi pada sang majikan dan Andi beberapa waktu yang lalu.


"Gimana keadaan mama Dok?" tanya Adit pada Dokter yang baru saja keluar dari ruangan sang mama.


"Secara fisik beliau baik baik saja, luka di tangan tidak sampai mengenai nadinya, tapi sepertinya kesehatan mental beliau terganggu, saya akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikannya."


"Tidak perlu Dok, kita punya Dokter pribadi untuk mama saya, kebetulan hari ini beliau sedang berada di luar negri."


Dokter menganggukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan Adit dan Lukman.


Aditpun masuk dan duduk di samping ranjang sang mama.


"kenapa mama ngelakuin ini ma, apa sebegitu pentingnya Andi buat mama?"


Tak lama kemudian mama terbangun.


"Adit!" panggil mama pelan.


"Iya ma, Adit di sini," jawab Adit sambil menggenggam tangan sang mama.


"Andi marah sama mama Dit, Andi nggak mau ketemu mama lagi," ucap mama Adit dengan air mata berlinang.


"jangan menangis karena orang lain ma, jangan!"


Hari itu, untuk pertama kalinya Adit meninggalkan pekerjaannya. Dini dan Jaka menggantikan posisi Adit dengan baik di kantor.


**


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Adit masih berada di rumah sakit menemani sang mama.


"Pak, tolong jaga mama ya, ada yang harus saya selesaikan!" ucap Adit pada Lukman.


"Baik mas."


Adit lalu pergi ke home store dan menghubungi Andi.


"Andi?" tanya Adit memastikan.


"Iya, ini siapa ya?"


"Adit, saya tunggu di home store sekarang!"

__ADS_1


Klik. Adit mengakhiri panggilannya begitu saja.


__ADS_2