
Gemerlap bintang masih bersahabat dengan gelapnya malam. Meski terkadang mendung menghalangi perjumpaan mereka, namun mereka tetap akan kembali bersama setelah langit kembali cerah.
Di bawah hamparan bintang itu, dua laki laki duduk di sebuah kursi. Dua laki laki yang mencintai gadis yang sama, dua laki laki yang bersahabat, dua laki laki yang sering bertengkar namun hanya sesaat.
"Mau sampe kapan gue harus sembunyi dari ibunya Andini Ndi? gue nggak bisa biarin masalah ini berlarut larut!"
"Gue tau Dim, tapi lo juga harus mikirin Dini, gimana sedihnya dia waktu ibunya sakit, dia cuma nggak mau ibunya drop lagi!"
"Apa dia udah bosen sama gue Ndi? apa dia...."
"Lo raguin Dini?"
"Nggak gitu, gue cuma mau masalah ini cepet selesai Ndi!"
"Kasih Dini waktu Dim, dia lagi capek, banyak tekanan dari tempat kerjanya dan lo tiba tiba bilang kayak gitu, itu bikin dia makin stres Dim!"
"Apa ada masalah besar di kantornya?"
"Lo tanyain sendiri sama dia, yang pasti sekarang dia lagi butuh semangat dan dukungan dari lo!"
Dimas mengangguk anggukkan kepalanya. Ia sadar apa yang sudah dilakukannya adalah sebuah kesalahan. Ia terlalu memaksakan keadaan dan kemauannya sendiri.
"kamu bener, aku egois, maafin aku sayang," ucap Dimas dalam hati.
Di tempat lain, setelah mandi, Dini merebahkan badannya di ranjangnya. Tak lama kemudian pintu rumahnya terbuka. Dinipun segera keluar dari kamarnya.
"Ibu dari mana?" tanya Dini pada ibunya yang baru saja datang.
"Dari tempat bu RT, kamu baru pulang?"
"Iya bu," jawab Dini.
"Di rumahnya Andi ada Dimas, kamu pulang sama dia?"
"Enggak bu, Dini pulang sama Andi," jawab Dini dengan bertopang dagu di atas meja.
"Tapi Dimas......"
"Tolong jangan bahas dia lagi ya bu, Dini males dengernya!"
Ibu Dini menganggukkan kepalanya. Ia merasa senang melihat hubungan Dini dan Dimas yang tampak tidak baik baik saja.
"Gimana tempat kerja kamu sekarang Din?" tanya ibu Dini.
"Nyaman bu, Dini juga punya posisi yang bagus di sana."
"Syukurlah kalau gitu."
"Ibu tadi ngapain ke rumah Bu RT?"
"Ibu ditawarin buat bantu bantu masak Din, lumayan gajinya bisa buat kebutuhan sehari hari."
"Ibu mau kerja lagi? Dini kan udah bilang jangan bu!"
"Kita nggak ada pemasukan sejak kamu nggak kerja Din, sedangkan tiap hari pasti ada pengeluaran, ibu nggak mau tabungan kamu habis cuma buat pengeluaran sehari hari, ini juga bentuk tanggung jawab ibu karena udah minta kamu resign!"
"Dini udah janji sama ibu, setelah Dini kuliah dan dapet kerja, Dini nggak mau ibu kerja, biar Dini yang kerja bu!"
"Tapi Din....."
"Enggak, ibu nggak boleh kerja, tabungan Dini masih cukup sampai Dini gajian nanti bu, Dini kan udah kerja sekarang, Dini bisa nabung lagi nanti!"
"Maafin ibu ya Din, ibu nggak bisa jadi ibu yang baik buat kamu!"
"Jangan minta maaf bu, ibu cuma harus jaga kesehatan ibu, biar Dini yang kerja," balas Dini sambil memeluk ibunya.
"aku butuh pekerjaan ini, aku nggak boleh nyerah cuma karena kemarahan Pak Adit, aku yakin aku bisa hadapin Pak Adit besok!" batin Dini dalam hati.
Malam semakin larut. Dini masih belum memejamkan matanya. Ia sengaja menonaktifkan ponselnya setelah berkali kali Dimas menghubunginya namun tidak satupun panggilan Dimas ia terima.
"kalau kamu nggak suka kerja di sana, resign aja sayang, jangan terlalu dipaksain!"
Ucapan Dimas kembali terngiang di telinganya. Sebuah respon yang sangat berbeda ketika ia menceritakan masalahnya pada Andi.
"jangan patah semangat dong Din, nggak semua orang seberuntung kamu loh, banyak yang mau dapetin posisi kamu sekarang, jadi kamu harus bersyukur dan jangan gampang nyerah!"
"Kamu bener Ndi, apapun masalah itu, aku nggak boleh nyerah, aku akan hadapin masalah itu!" ucap Dini penuh semangat.
**
Pagi telah datang. Dengan senyum mengembang Dini keluar dari rumahnya.
"Andi, kamu ngapain di sini?" tanya Dini yang melihat Andi sudah duduk di depan rumahnya.
"Nungguin kamu, ayo berangkat!"
Dini hanya tersenyum lalu melangkahkan kakinya ke arah halte bersama Andi. Tak perlu menunggu lama, bus mereka sudah tiba.
30 menit berlalu, mereka sudah tiba di sebrang tempat kerja Dini.
"Inget Din, kamu nggak boleh takut sama Pak Adit, masalah kamu sama Pak Adit itu masalah di luar pekerjaan jadi jangan bikin hal itu berpengaruh sama kerjaan kamu, oke?"
"Oke, aku duluan ya!"
Andi menganggukkan kepalanya, membiarkan Dini pergi ke arah tempat kerjanya. Setelah memastikan Dini sudah tak terlihat lagi, Andi segera berangkat ke home store.
Dini berjalan dengan senyum di wajahnya. Tak lupa ia selalu menyapa satpam dan dua resepsionis di sana. Ia berjalan ke arah ruangannya di penuh semangat.
__ADS_1
Sesampainya ia di ruangannya, ia begitu terkejut karena melihat Ana di sana.
"Mbak Ana di sini?"
"Iya, kamu keberatan?"
"Sama sekali enggak, saya seneng banget mbak Ana masih di sini, kalau bisa disini terus aja hehe...."
"Hmmmm, kamu ini!"
"Saya siapin minumnya Pak Adit dulu ya mbak!"
Ana hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Setelah meletakkan minuman Adit di meja kerja Adit, Dini segera kembali ke ruangannya.
"Mbak Ana lagi ngerjain apa?" tanya Dini.
"Saya cuma lihat jadwal yang kamu bikin kemarin, bagus, lebih rapi dari punya saya," jawab Ana.
"Mbak bisa aja, orang saya ikutin formatnya mbak Ana, tinggal diubah aja dikit."
Ana hanya tersenyum sambil memperhatikan Dini.
"Mbak Ana kenapa? apa ada yang salah sama saya?" tanya Dini yang merasa diperhatikan Ana.
"gue suka sama hasil kerjanya, gue cuma nggak suka karena dia selalu nunduk di depan gue, waktu dia presentasi juga dia keliatan percaya diri, tapi kenapa dia selalu bikin gue kesel karena sikapnya sama gue!" batin Ana mengingat ucapan Adit padanya.
"Nggak papa, kamu cantik loh Din, kamu juga pinter, kamu harus lebih percaya diri sama kemampuan kamu!"
"Iya mbak, mbak Ana tenang aja, saya akan berusaha buat bertahan di sini, walaupun saya belum ada pengalaman di bidang ini, tapi saya yakin saya bisa lakuin yang terbaik di sini!"
"Gitu dong, eh itu Pak Adit dateng!"
Dini menoleh ke arah ruangan Adit, lalu segera mengambil jadwal Adit dan berjalan ke arah ruangan Adit.
"Permisi Pak, ini jadwal Pak Adit hari ini, karena setelah jam makan siang jadwal Pak Adit kosong, meeting yang di pending kemarin saya masukkan setelah jam makan siang," ucap Dini sambil memberikan map yang ia bawa pada Adit.
Adit menerima map itu dan membawa pandangannya ke arah Dini. Melihat Adit yang menoleh ke arahnya, Dini memamerkan senyum manisnya membuat Adit sedikit terkejut dengan perubahan Dini yang tiba tiba.
"Kamu sudah konfirmasi klien kita tentang jadwal meeting nya?" tanya Adit.
"Sudah pak, mereka memberikan waktu dari jam makan siang sampai jam 4 sore."
"Oke, siapkan berkasnya kita berangkat setelah jam makan siang."
"Baik pak, saya permisi," ucap Dini lalu meninggalkan ruangan Adit.
Dini segera berlari ke kursinya dan menghempaskan tubuhnya di atas kursi. Ia memegang dadanya yang bergemuruh dengan hebat.
"Kenapa Din? dimarahin lagi?" tanya Ana.
Dini hanya menggeleng dengan senyum di wajahnya.
Jam makan siang telah tiba. Dini dan Ana makan siang bersama di kantin. Beberapa kali ponsel Dini bergetar, namun ia sama sekali tidak menghiraukannya karena ia tau itu adalah panggilan dari Dimas.
Setelah selesai makan siang, Dini segera kembali ke ruangannya, meninggalkan Ana yang masih berada di kantin.
Kriiing kriiiing
Telepon di hadapan Dini berdering ketika ia sedang fokus mempelajari materi meeting yang sudah ia selesaikan dari hari kemarin.
"5 menit lagi kita berangkat, siapkan semuanya jangan ada yang tertinggal!" ucap Adit.
"Baik pak."
Setelah memastikan semua yang dibutuhkan untuk meeting lengkap, Dini segera mengikuti Adit keluar. Ia berjalan di belakang Adit ke arah sebuah mobil yang sudah terparkir di depan kantor.
"Andini!"
Dini menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Dimas yang berlari ke arahnya.
"Aku nunggu kamu dari tadi, aku....."
"Aku masih kerja!" ucap Dini lalu kembali melangkahkan kakinya namun Dimas menahannya.
"Aku cuma mau minta maaf Andini, aku....."
Tiiinn Tiiiinnn Tiiinn
Suara klakson mobil Adit membuat Dimas menghentikan ucapannya. Dini segera menarik tangannya dan berlari ke arah mobil Adit.
"Maaf pak," ucap Dini pada Adit.
"Masuk!"
Dini lalu masuk dan duduk di sebalah Adit.
"Sekali lagi hal itu terjadi, saya tidak akan ragu melempar kamu keluar dari perusahaan ini!"
"Maaf pak."
Dini merasa semakin kesal pada Dimas. Mood yang sudah dibangunnya dengan baik dari pagi kini sudah rusak.
Tak lama kemudian mobil yang dikendarai supir pribadi Adit berhenti di sebuah perusahaan besar tempat mereka akan mengadakan meeting.
2 jam berlalu, meeting telah selesai dengan hasil yang memuaskan. Lagi lagi Adit dibuat terkesima oleh kemampuan Dini dalam menjelaskan materi dengan sangat baik. Semuanya sudah dijelaskan secara rinci dan semua pertanyaan bisa Dini jawab dengan baik. Adit hanya menambahkan beberapa poin pendukung dalam setiap jawaban yang Dini berikan.
__ADS_1
Saat Dini dan Adit sampai di lobby, terlihat Rudi, supir pribadi Adit yang tampak sedang menunggu kedatangan mereka.
"Ada apa Rud? tumben kamu disini?" tanya Adit.
"Maaf pak, istri saya melahirkan, sekarang lagi di rumah sakit, saya...."
"Kenapa kamu masih di sini? kamu nungguin saya?"
"Iya pak."
"Saya kan udah bilang, kalau ada yang urgent kamu bisa hubungi saya, sekarang kamu bawa aja mobilnya ke rumah sakit, setelah jam kantor selesai saya akan kesana."
"Saya naik taksi aja pak."
"Jangan sok kaya kamu, bawa aja mobilnya, biar saya sama Dini naik taksi."
"Tapi pak....."
"Udah sana pergi, temani istri kamu yang sedang berjuang!"
"Terima kasih banyak pak, saya permisi!"
Dini yang melihat hal itu begitu takjub pada sosok Adit yang tampak lain dari yang sebelumnya ia lihat.
"bener kata mbak Ana, Pak Adit emang baik banget, aku yakin Pak Adit pasti maafin aku kalau aku minta maaf soal kejadian itu," batin Dini dalam hati.
Aditpun mengajak Dini untuk kembali ke kantor menggunakan taksi.
"Kerja bagus Din, presentasi kamu sangat bagus," ucap Adit memuji Dini.
"Terima kasih pak," balas Dini yang merasa sedang di atas angin saat itu.
Dinipun mengumpulkan niatnya untuk mengatakan keresahannya pada Adit. Ia berharap Adit akan memberinya kesempatan untuk berbicara hal lain di luar pekerjaan.
"Maaf pak sebelumnya, apa setelah jam kerja selesai saya bisa bicarain hal lain selain pekerjaan sama Pak Adit?" tanya Dini dengan menahan seluruh kegugupan yang menyerang dirinya.
"Bisa," jawab Adit santai.
"haahh!! gitu doang? gampang banget ternyata," batin Dini dalam hati.
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, Dini sudah bersiap untuk pulang, namun ia masih menunggu Adit untuk keluar terlebih dahulu karena ia harus segera menjalankan misinya.
Ketika Dini sedang memperhatikan Adit yang masih sibuk dengan layar monitor di hadapannya, tiba tiba Adit menoleh ke arah Dini membuat seketika menutup wajahnya dengan buku yang ada di meja.
Adit hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat sikap Dini.
"emang kekanak kanakan banget!" batin Adit.
Ia lalu melihat ke arah jam tangannya. Ia baru sadar jika ia harus pergi ke rumah sakit untuk menjenguk istri supirnya. Ia pun segera menyambar jas hitamnya dan segera meninggalkan ruangannya.
Melihat Adit yang berjalan keluar, Dini segera mengikuti Adit.
"Pak Adit!" panggil Dini yang tidak bisa mengejar Adit.
"Kenapa kamu belum pulang?" tanya Adit setelah ia menghentikan langkahnya yang cepat.
"Ada yang harus saya bicarakan sama Pak Adit, tapi bukan tentang pekerjaan, boleh pak?"
"Oh iya, maaf saya lupa, kenapa nggak langsung masuk ke ruangan saya aja dari tadi?"
"ini beneran Pak Adit apa bukan sih? apa jangan jangan dia punya kembaran? kenapa beda banget sama Pak Adit yang biasanya!" batin Dini bertanya tanya.
"Saya takut ganggu Pak Adit," jawab Dini.
"Saya lagi buru buru ke rumah sakit sekarang, kalau kamu senggang kamu bisa ikut saya sambil bicarain apa yang mau kamu sampaikan sama saya!"
"Baik pak."
Dini lalu mengikuti Adit masuk ke sebuah taksi yang sudah dipesan oleh Adit.
"Kamu tau apa yang harus saya bawa kalau mau jenguk istrinya Rudi yang baru melahirkan?" tanya Adit pada Dini.
"Biasanya bedak bayi, baju bayi, kayak gitu pak."
"Pak, kita mampir ke mini market sebentar ya!" ucap Adit pada supir taksi.
Adit lalu mengajak Dini untuk membeli banyak keperluan bayi untuk diberikan pada istri Rudi.
Setelah semua terbeli mereka segera melanjutkan perjalanan ke rumah sakit.
1 jam berlalu, Dini dan Adit sudah keluar dari rumah sakit. Mereka duduk sambil menunggu taksi yang sudah Adit pesan.
"Apa yang mau kamu sampaikan Din?" tanya Adit.
"Saya minta maaf atas sikap saya dua hari yang lalu pak, maaf karena saya sudah lancang menampar Pak Adit," ucap Dini dengan menundukkan kepalanya. Ia sudah siap jika Adit akan memarahinya saat itu juga.
"Saya udah lupain itu."
Mendengar ucapan Adit, seketika Dini mengangkat wajahnya dan melihat laki laki di sampingnya.
"Itu cuma kesalahpahaman, kamu hampir terjatuh di depan saya dan saya reflek nahan kamu, tapi saya malah pegang dada kamu, saya juga minta maaf soal itu," lanjut Adit.
Dini menutup matanya rapat rapat, ia benar benar malu dengan apa yang Adit ucapkan.
"Itu taksinya, saya antar kamu pulang dulu!" ucap Adit lalu segera berdiri dan berjalan ke arah taksi.
"bener bener aneh," batin Dini dalam hati.
__ADS_1